Losing Us

Losing Us
Damai



Ketika pintu kamarnya diketuk beberapa kali, Anara sudah tahu kalau pelakunya adalah Arsenio. Namun, ketika lelaki itu menyodorkan kantong berisi makan siang kepadanya, Anara masih tidak bisa menemukan alasan yang masuk akal mengapa Arsenio melakukannya.


Perlu diingat bahwa hubungan mereka masih tidak baik-baik saja, jadi mendapatkan perlakuan sekecil itu dari Arsenio malah membuat perasaan Anara tidak enak. Biasanya, jika ada hal-hal tak lazim yang terjadi, hal-hal buruk akan datang mengikuti setelahnya. Anara tidak bisa mematahkan teori itu dengan segala pemikiran positif yang dia miliki karena hubungannya dan Arsenio memang selalu berjalan seperti itu; tidak baik.


“Enggak usah menghindar lagi.” Ujarnya, seraya memaksa Anara menerima kantong berisi makan siang yang masih enggan untuk Anara sentuh. “Jangan menyusahkan diri sendiri.” Ia menyambung, kemudian lekas berbalik pergi sebelum Anara sempat mengatakan apa pun.


Kepergian Arsenio tak lantas membuat Anara beranjak. Cukup lama dia berdiri di ambang pintu seraya menatapi makan siang yang didaratkan paksa ke atas kedua tangannya yang menengadah. Jika ini Arsenio lakukan untuk penebusan dosa atas percakapan mereka semalam, maka Anara pikir lelaki itu tidak perlu melakukannya.


Semalam, ketika Anara pikir Arsenio sudah sepenuhnya pingsan dan dia harus bersusah payah memapah tubuh bongsornya sampai ke kamar, lelaki itu justru membuatnya mati kutu ketika tangan kekarnya menahan lengan Anara untuk tidak pergi ke mana-mana.


Dengan aroma alkohol yang menguar begitu kuat dan mata yang perlahan-lahan dipaksa untuk kembali terbuka, lelaki itu meminta Anara untuk tetap tinggal menemaninya di dalam kamar yang lampunya bahkan belum sempat dinyalakan.


“Jangan ke mana-mana, gue enggak mau sendirian.” Ujarnya. Kabut bening tampak melingkupi matanya yang memerah. Anara tidak tahu mengapa Arsenio kelihatan sedih sekali. Mungkin telah terjadi sesuatu yang buruk antara dirinya dengan Olin sebelum lelaki itu kembali ke rumah.


“Soal Olin—“


“Aku enggak jahatin Olin. Aku enggak serendahan itu, Arsenio.”


“Gue tahu, Anara. Gue tahu.”


Tahu apa? Sampai sekarang pun, Anara masih tidak mengerti apa yang Arsenio maksud dengan dia tahu. Sebab setelah kalimat itu, Arsenio malah meracau lebih banyak.


“Gue minta maaf, An. Maaf karena udah ngomong sesuatu yang nyakitin lo.” Dengan suara yang mulai bergetar, Arsenio kembali berbicara.


Anara tidak mengatakan apa-apa. Pun tidak berusaha untuk melepaskan tangan Arsenio yang masih memegang erat lengannya agar dia tidak beranjak dari tepian kasur. Dalam jeda yang tercipta, Anara memandangi wajah mabuk Arsenio cukup lama. Rasa bersalah terpancar jelas dari kedua bola mata lelaki itu, namun alih-alih merasa lega karena Arsenio akhirnya sadar di mana letak salahnya, Anara justru ikutan merasa sedih.


“Kamu benar, Arsenio. Aku mungkin udah berlaku jahat sama orang lain, makanya Tuhan hukum aku dengan ambil kedua orang tua aku sekaligus. Tapi, demi Tuhan, aku enggak pernah punya niat buat jahatin Olin.” Dan itu menjadi kalimat pamungkas yang Anara ucapkan kepada Arsenio sebelum melepaskan paksa genggaman lelaki itu.


Setelah dipikir-pikir, apa yang Arsenio katakan memang tidak sepenuhnya salah. Anara merasa dengan segala ketololan yang dia pelihara sejak kecil, dia mungkin sudah dengan tidak sengaja melukai orang lain dengan begitu kejamnya, sehingga kepergian kedua orang tuanya adalah balasan yang setimpal.


Usai mengatakan itu, Anara merasa lebih lega. Dia merasa lebih bisa menerima dan tidak lagi memikirkan bahwa dia ada di posisi yang menderita.


Semua orang memiliki lukanya masing-masing. Mereka hanya terlalu pandai untuk menyembunyikan keadaan mereka yang sekarat sehingga kita tidak tahu bahwa mereka juga sebenarnya sedang butuh pertolongan.


Dan sama seperti perkataan itu, Anara juga mulai berpikir bahwa mungkin saja, di balik sikap Olin yang menyebalkan, gadis itu memiliki luka yang teramat dalam. Anara hanya kebetulan datang dan mengganggu hidupnya, jadi menjahili dirinya mungkin adalah sebuah penghiburan bagi Olin untuk sejenak lupa pada luka yang dia derita.


Sementara Arsenio, lelaki itu pasti sangat mencintai Olin sehingga tidak mampu berbuat banyak meski tahu apa yang kekasihnya lakukan adalah tindakan yang merugikan orang lain.


Semalam, setelah keluar dari kamar Arsenio dan membiarkan lelaki itu sendirian, Anara telah memutuskan untuk tidak lagi merasa sakit hati pada apa pun. Dia memutuskan untuk tidak lagi menempatkan diri pada posisi korban, karena itu ternyata sangat menyedihkan.


Teringat bahwa dirinya belum mengucapkan terima kasih untuk makan siang yang Arsenio berikan, Anara pun beranjak. Pintu kamar ditutup kembali lalu dia berjalan menuju kasur. Anara mengambil ponsel, lalu mengetikkan kata terima kasih yang langsung dia kirimkan kepada Arsenio tanpa embel-embel apa pun lagi di belakangnya.


Anara tunggu-tunggu selama beberapa menit, balasan tidak kunjung datang dari Arsenio. Pesan yang dia kirimkan berujung pada tanda delivered dan tidak kunjung berubah menjadi read. Sehingga akhirnya Anara menyerah. Membiarkan pesan yang dia kirim menggantung di room chat mereka yang nyaris kosong kemudian beralih kepada makan siang di atas pangkuan.


Jujur, Anara tidak terlalu suka makan menu cepat saji seperti ini. Terlalu banyak minyak dan daging. Dia lebih suka menu masakan rumahan yang lebih beraneka ragam dan cita rasanya lebih akrab di lidah. Namun, karena Arsenio sudah mau berbaik hati membelikannya, Anara pun tetap menikmati apa yang sudah suaminya berikan dengan penuh rasa syukur.


Tidak semua menu bisa Anara lahap karena memang dasarnya kapasitas perutnya terbilang kecil. Dia hanya berhasil menghabiskan cheeseburger dan es krim, sementara apple pie dan nasi ayam masih utuh, begitu pula dengan coke yang sama sekali tidak dia sentuh. Anara tidak suka soda, rasanya yang tajam tidak nyaman di lidah dan lambungnya.


Sudah merasa kenyang, Anara menyimpan sisa makanan untuk dia lahap lagi sore hari nanti. Dan untuk membantu perutnya mencerna lebih baik, Anara menyambar buku bacaan yang baru dia beli via online beberapa hari lalu. Membawanya ke balkon dan membacanya di sana. Hari ini matahari tidak bersinar terlalu ganas, jadi dia masih bisa membaca buku dengan nyaman.


Halaman demi halaman Anara balikkan dengan perasaan yang terlalu sulit untuk dideskripsikan. Dalam beberapa bagian yang dia baca, Anara merasa seperti sedang menyelami kehidupannya sendiri. Buku bersampul biru tua dengan gambar dua karakter yang saling mengulurkan tangan untuk sampai ke permukaan itu seperti perwujudan nyata antara dirinya dengan dirinya yang lain. Di mana satu sisi sedang berjuang agar tidak tenggelam dalam kesedihan, dan satu sisi yang lain membantu untuk naik kembali ke permukaan.


Pemilihan kata yang menarik membuat Anara betah berlama-lama membaca buku itu. Rekor. Dalam sekali duduk, dia bisa menghabiskan hampir 200 halaman dari total 436 halaman yang ada. Jika bukan karena matanya sudah terasa kering dan pegal, Anara mungkin akan melanjutkan kegiatan membaca ini sampai matahari terbenam.


“Oke, enough for today, An.” Bisik Anara kepada diri sendiri. Dia lalu kembali ke kamar. Memastikan pintu akses ke balkon tertutup rapat-rapat dan sedikit menyibakkan gorden agar cahaya matahari masih bisa menembus masuk.


Kemudian, Anara menyimpan buku bacaan kembali ke dalam laci, menaruhnya bersama beberapa buku lain yang dia bawa dari rumah lama. Setelah itu, dia membaringkan tubuh ke atas ranjang. Baru pukul setengah dua siang, masih ada waktu untuk take a nap, hitung-hitungan untuk mengisi ulang energi.


“Sleep well, Anara. Semoga pas bangun nanti, hati kamu bisa jauh lebih ikhlas buat nerima semuanya.”


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Sudah yakin rasa mulas itu hilang, Arsenio baru beranjak keluar dari kamar mandi. Dia kemudian kembali ke ranjang. Hari ini, dia hanya ingin menghabiskan waktu untuk rebahan seharian demi mengisi ulang energi yang dibuang-buang karena mabuk semalam.


Saat Arsenio menyambar ponsel untuk menilik jam, ternyata ada satu pesan masuk dari Anara. Sudah lebih dari 20 menit yang lalu. Dia pun membuka pesan itu, yang ternyata isinya adalah ucapan terima kasih. Benar-benar hanya terima kasih tanpa embel-embel apa pun di belakangnya. Padahal biasanya, Anara cukup spesifik dalam mengatakan sesuatu. Jika otak Arsenio adalah otak udang, dia pasti akan kesusahan untuk menerka ucapan terima kasih itu datang untuk apa.


Tadinya, Arsenio tidak mau membalas. Toh juga sudah lewat lama sejak pesan itu dikirimkan. Anara pasti juga sudah kembali sibuk dengan dunianya sendiri dan tidak akan peduli juga apakah dia membalas pesannya atau tidak. Bukankah di mata gadis itu, Arsenio ini adalah pria berhati dingin yang tidak punya belas kasih?


Namun, ujung-ujungnya, Arsenio tetap mengetikkan no prob lalu mengirimkannya kepada Anara.


Tanpa diduga, pesan yang Arsenio kirimkan langsung berubah menjadi read, hanya sedetik setelah ia terkirim. Itu berarti, Anara sedang memainkan ponselnya.


Entah kenapa, Arsenio jadi antusias untuk menunggu balasan darinya. Namun sekali lagi, dia malah dibuat kebingungan karena balasan yang ditunggu tidak juga kunjung datang.


Tiba-tiba saja, Arsenio menjadi overthinking. Apakah Anara masih sebegitu kesalnya kepada dirinya sehingga tidak mau menanggapi pesan yang dia kirimkan meskipun gadia itu sudah membacanya?


“Gue coba cek ke kamarnya?” tanya Arsenio kepada diri sendiri.


Cukup lama berdebat, dia akhirnya melesat keluar dari kamar, masih sambil menggenggam ponsel di satu tangan.


Setibanya di depan pintu kamar Anara, Arsenio tidak langsung mengetuk. Malahan, dia sibuk mondar-mandir sebanyak belasan kali di depan itu yang bisu itu. Ragu-ragu.


Arsenio tidak tahu alasan apa yang harus dia berikan kepada Anara jika gadis itu membukakan pintu dan bertanya apakah dia butuh sesuatu. Arsenio juga tidak mungkin bertanya dengan gamblang mengapa Anara tidak membalas pesan yang dia kirimkan, benar? Sebab itu hanya akan membuat berakhir memandang dirinya seperti orang aneh jika dia betulan nekat melakukannya.


“Ah, masa bodo.” Ujar Arsenio pada akhirnya. Dia tetap mengetuk pintu, pelan-pelan karena sejujurnya dia masih ragu.


Sekali diketuk, tidak ada sahutan. Oke, Arsenio masih positif thinking karena mungkin saja Anara tidak mendengar ketukan yang teramat pelan. Jadi, dia mengulangi ketukan dengan sedikit lebih kuat.


Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Masih tidak ada sahutan juga.


“Masa dia semarah itu sih sama gue, sampai enggak mau bukain pintu? Tapi tadi pas gue ngetuk buat ngasih makan siang, dia mau bukain, tuh?”


Sekarang, masalahnya bukan lagi apakah Anara enggan membukakan pintu karena terlalu marah pada Arsenio. Tetapi pada keadaan di mana Arsenio mulai takut telah terjadi sesuatu dengan Anara di dalam kamarnya.


Bisa saja Anara pingsan, atau jatuh di kamar mandi, atau apa pun itu, di mana gadis itu membutuhkan pertolongan, bukan? Bisa saja asmanya sedang kambuh dan Anara tidak bisa menemukan di mana dia menyimpan inhaler.


Berbekal pemikiran itu, Arsenio nekat membuka pintu kamar Anara—yang ternyata tidak dikunci.


“An—“ Arsenio mengatupkan kembali bibirnya, saat dirinya justru menemukan Anara sedang tertidur pulas di atas kasurnya dengan posisi miring ke kanan, menghadap ke pintu.


Wajah polosnya menjadi pemandangan pertama yang menyambut Arsenio ketika pintu pertama kali terbuka. Lalu, ponsel dan makan siang yang teronggok di atas nakas menjadi hal lain yang mendistraksi, membuatnya bergerak mendekat.


Ponsel yang Anara tinggalkan masih dalam keadaan menyala, pas di dalam room chat mereka. Dari situ, Arsenio jadi tahu alasan kenapa Anara tidak membalas pesan meski sudah muncul tanda read di sana. Tanpa berniat untuk lancang, Arsenio menekan tombol power agar layar ponselnya meredup. Kasihan juga kalau dibiarkan terus menyala, nanti baterainya habis.


Kemudian, Arsenio beralih pada makan siang yang Anara tinggalkan. Di sana masih tersisa porsi nasi ayam, apple pie dan coke yang sama sekali tidak tersentuh. Entah karena Anara tidak suka atau bagaimana.


“Pantesan badan lo enggak gede-gede, makan lo sedikit.” Arsenio mencerca. Tidak sungguh-sungguh, hanya sebagai lelucon yang akhirnya dia tertawakan sendirian karena Anara pun tidak bisa mendengarnya.


“Lo kalau tidur gini anteng, ya? Enggak nyebelin.” Ucap Arsenio lagi. Ini kali pertama dia melihat Anara tertidur, dan dia merasa gadis itu benar-benar terlihat seperti bayi. Wajah polosnya yang tidak pernah tersentuh make up semakin kelihatan lugu di mata Arsenio pada saat seperti ini. Dan anehnya, Arsenio merasa tenang.


Waktu terasa berhenti berputar selama beberapa saat ketika Arsenio menemukan dirinya mulai tenggelam dalam kegiatan memandangi wajah polos Anara. Hingga kemudian, ponsel di dalam genggaman bergetar dan membuat Arsenio harus melepaskan diri.


Olin is calling....


Itu yang tertera di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, dia bergegas keluar dari kamar Anara untuk mengangkat panggilan itu.


“Halo, Sayang?”


Bersambung