
Suara mesin cuci yang tengah menggiling pakaian kotor menjadi satu-satunya suara yang terdengar di area cuci, padahal di sana ada dua orang yang turut memperhatikan bagaimana pakaian-pakaian kotor itu berputar-putar di dalam mesin cuci. Di depan perangkat elektronik tersebut, ada Anara yang berdiri seraya melipat lengan di depan dada, matanya terus menyaksikan perputaran mesin cuci seakan tidak ingin terlewatkan satu momen pun.
Sementara Aesenio, lelaki itu lebih memilih untuk berdiri di depan pintu, menyandarkan bahu lebarnya ke sisi pintu sambil bersedekap memperhatikan Anara berkutat dengan cucian. Setelah memutuskan untuk berteman sebelumnya, mereka memang sepakat untuk bergantian melakukan tugas rumah tangga.
Memasak, mencuci piring, mencuci baju. Semuanya akan mereka lakukan sesuai dengan jadwal yang sudah mereka buat bersama. Dan hari ini adalah jadwal Anara, jadi Arsenio hanya berdiri menyaksikan tanpa berniat untuk bergerak lebih dekat dan berinisiatif membantu.
Tepat hari ini, sudah sebelas hari berlalu sejak kejadian malam itu. Malam di mana Arsenio secara impulsif menyerang Anara dalam keadaan setengah mabuk. Dan sejak hari itu, sesuai apa yang Anara katakan pada keesokan harinya, perempuan itu benar-benar bersikap seperti biasa. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Yang mana hal tersebut malah membuat Arsenio merasa semakin serba salah.
Tujuan Arsenio malam itu adalah untuk membuat Anara tidak lagi merasa sendirian. Bahwa ia bisa menjadi suami yang baik—yang bisa diandalkan. Namun, Anara malah membuat Arsenio terlihat seperti laki-laki bajingan yang hanya memanfaatkan status pernikahan mereka untuk mendapatkan tubuh perempuan itu secara legal.
“Kalau kamu punya waktu luang, mending coba cek tuh kolam ikan di belakang. Kemarin aku lihat ada dua ikan yang mati, siapa tahu aja memang ada masalah sama air atau makanannya.” Anara bergerak lebih dekat ke arah mesin cuci yang sudah berhenti berputar.
“Enggak ada yang bilang gue punya waktu luang.” Sahut Arsenio. Lelaki itu masih enggan beranjak dari posisinya. Matanya juga masih mengikuti ke mana saja langkah kaki Anara pergi.
“Kamu dari tadi cuma berdiri di situ, apanya yang bukan waktu luang kalau kayak gitu?” sambil mengomel, Anara memindahkan pakaian yang masih setengah basah ke bak pengering. “Atau kalau kamu enggak mau meriksa ikan, coba kamu buang-buangin taneman yang udah mati itu dari dalam pot, biar aku bisa isi taneman yang baru.”
“Males.”
Helaan napas panjang terdengar kemudian. Lalu, setelah memastikan semua baju sudah masuk ke dalam bak pengering, Anara berbalik dan melangkah cepat menghampiri Arsenio.
Anara berhenti tiga langkah di depan Arsenio, bersedekap sambil menatap tajam ke arah lelaki itu. “Terus mau kamu apa?” tanyanya.
“Enggak ada, cuma mau di sini aja, ngeliatin lo nyuci.”
“Dasar enggak jelas.” Cibirnya, lalu dia hendak kabur lagi. Namun Arsenio dengan cepat menarik lengannya agar Anara tidak bisa pergi ke mana-mana. “Kenapa, sih, Arsenio? Jangan gangguin aku, deh.”
“Lo kenapa kayak gini?” tanya Arsenio.
Mendengar itu, Antara mengernyit—tanda tidak mengerti. “Kayak gini gimana? Perasaan aku biasa-biasa aja, deh.”
“Ya justru itu!” sergah Arsenio. “Kenapa lo bisa bersikap biasa aja padahal gue udah jelas-jelas bilang kalau malam itu terjadi bukan semata-mata karena gue lagi mabuk? Kenapa lo enggak mau dengerin gue, dan malah mutusin secara sepihak dengan bilang enggak ada yang terjadi? Kenapa?” entah kenapa, Arsenio tiba-tiba merasa marah. Entah kepada Anara yang seenak jidatnya memutuskan bagaimana mereka harus bersikap dan melupakan kejadian malam itu, atau justru kepada dirinya sendiri yang sepertinya telah salah mengambil keputusan.
“Terus aku harus bersikap kayak gimana?” tidak seperti Arsenio yang sudah kalut, Anara masih mampu mempertahankan ketenangannya. “Kamu mau aku nuntut kamu untuk jadi suami yang baik, karena kamu udah ambil hak kamu? Kamu mau aku jadi cerewet, larang kamu ini itu atas dasar status aku sebagai istri kamu yang sah secara hukum dan agama? Memangnya kamu bisa? Memangnya kamu mampu buat ninggalin Olin demi jadi suami aku sepenuhnya?”
Diberondong begitu, Arsenio kicep. Meninggalkan Olin tidak pernah ada di dalam rencananya. Dia hanya ingin membuat Anara juga merasa aman sebagai istrinya. Dia hanya ingin... Memikul tanggung jawab atas dua perempuan itu. Tidak bolehkah demikian?
“Enggak bisa, kan?” Anara memberikan jawaban untuk pertanyaan yang dia lontarkan sendiri. “Selamanya, kamu enggak akan bisa lakuin itu, Arsenio. Kenapa? Karena sejak awal, Olin memang prioritas kamu, dan aku ini cuma orang asing yang kebetulan datang ke hidup kalian.”
“Dan sebagai orang yang cuma numpang lewat, I’m just trying my best for us. For me, for you, for Olin. Aku enggak pernah minta posisi aku dipindah ke mana pun, apalagi kalau hal itu harus sampai bikin Olin terluka. So, Arsenio, let’s make it easy. Kamu jelas tahu siapa yang bakal kena masalah paling banyak kalau hubungan kamu sama Olin sampai kenapa-kenapa.”
“Aku enggak mau kita bahas soal ini. Lagi pula, it’s just my body. Ini juga enggak sepenuhnya salah kamu, karena malam itu kamu udah kasih aku opsi buat kabur, tapi enggak aku lakuin. Jadi kalau kamu bersikap kayak gini karena ngerasa enggak enak, kamu bisa berhenti.” Lagi-lagi, ucapan Anara itu membuat Arsenio terpukul mundur. Harus seperti apa lagi dia meyakinkan Anara bahwa mabuk bukanlah alasan mengapa semua ini bisa terjadi?
Mungkin, hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaan yang mengerubungi kepala Arsenio itu.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Ini terasa tidak benar. Arsenio yang terus mengungkit perihal kejadian malam itu membuat Anara semakin kesulitan untuk melupakan semuanya. Padahal sudah susah payah dia berusaha agar tidak ada batas-batas lain yang dia langgar, agar keadaan tidak menjadi semakin buruk.
“Damn, it’s not just about the body.” Di depan cermin besar di pojok kamarnya, Anara meratapi penampilan dirinya yang kelihatan lebih kurus dari sebulan yang lalu. Jemari kurusnya bergerak, meraba lekukan lehernya yang sampai dua hari setelah malam itu masih terdapat bercak kemerahan akibat ulah Arsenio. Gara-gara hal itu, Anara jadi harus mengenakan baju dengan model turtle neck agar bercak-bercak itu tidak tertangkap oleh matanya sendiri, juga mata Arsenio ketika mereka tidak sengaja berpapasan di rumah.
Tidak ada yang salah dengan hubungan suami istri bagi mereka yang sudah sah menikah. Tapi masalahnya, pernikahan mereka sama sekali tidak normal. Lelaki yang dia nikahi masih memiliki kekasih, dan sekalipun sekarang lelaki itu berniat untuk memangkas jarak, Anara tetap tidak bisa menerimanya dengan tangan terbuka karena dia tahu, sampai kapan pun Olin akan tetap menjadi pemenangnya.
“Seharusnya, waktu Arsenio kasih kesempatan buat kabur, kamu langsung kabur, An. Bukan malah menyerahkan diri dan bikin posisi kamu malah semakin serba salah kayak gini.” Gerutunya, mengomeli diri sendiri yang bisa-bisanya terbawa suasana dan membiarkan bencana ini terjadi.
“Bukan semata-mata karena gue mabuk.”
“Aku tahu.” Sahutnya, untuk suara fana yang kembali terdengar di kepalanya. “You clearly said my name, that night. Kamu enggak salah mengenali aku, itu artinya kamu memang enggak benar-benar mabuk.” Tapi sekali lagi, masalahnya tidak terletak pada Arsenio mabuk atau tidak. Inti dari permasalahan ini adalah, Anara tidak ingin menyeret dirinya ke dalam masalah yang lebih besar.
Sedari awal, dia adalah ancaman bagi Olin. Bahkan ketika dia tidak melakukan apa pun, perempuan itu tetap tidak menyukai kehadirannya. Apalagi kalau perempuan itu sampai tahu kekasih yang dia puja-puja setengah mati sudah tidur dengannya? Bisa-bisa, Olin akan langsung menarik dirinya, menenggelamkannya ke dasar laut paling dalam agar ia hilang tak berbekas.
Tapi lebih dari itu, Anara benar-benar tidak ingin menyakiti Olin. Dia tidak berniat untuk mengambil Arsenio dari dekapan Olin. Anara cukup tahu diri untuk tidak menuntut apa pun karena dia memang tidak berhak.
“Bunda udah sampai, lagi nunggu di mobil.” Arsenio yang tiba-tiba datang menginterupsi membuat Anara tersentak. Secepat kilat, perempuan membalikkan badan ke arah pintu. Hanya untuk menemukan Arsenio yang hanya menyembulkan kepalanya saja. “Kalau udah kelar, buruan turun.”
“Iya,” Anara menjawab sekenanya. Sekali lagi ia mematut diri di cermin, merapikan dress warna salem yang dia kenakan agar tidak ada bagian-bagian yang kusut. Malam ini, dia dan Arsenio akan pergi dinner bersama Bunda, jadi penampilannya tidak boleh sembarangan.
Setelah dirasa semuanya aman, Anara pun menyambar tas tangan dan ponsel miliknya dari atas nakas
“Ayo.” Ajaknya pada Arsenio yang masih menunggu di depan pintu kamar.
Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Arsenio, lelaki itu hanya mengangguk lalu mulai berjalan mendahului Anara.
Sementara di belakang, Anara kembali mengatur sikap agar tidak ada gerak-gerik dari dirinya yang membuat Bunda curiga. Sebab ini adalah kali pertama mereka bertemu muka lagi setelah kejadian malam itu, jadi sejujurnya dia agak gugup.
“Nothing to worry about, Anara.” Batinnya menyemangati diri sendiri, lalu langkahnya terayun dengan lebih percaya diri.
Bersambung