
Di tengah-tengah acara makan malam, Arsenio tiba-tiba saja pamit undur diri setelah beberapa kali terlihat mengecek ponselnya yang berdenting. Tanpa penjelasan lebih lanjut, lelaki itu berlarian tunggang-langgang meninggalkan cafe beserta dengan Anara dan Bunda yang dibuat bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya terjadi.
Arsenio hanya bilang dia harus pergi karena ada sesuatu yang urgent, namun lelaki itu tidak mengatakan secara jelas sesuatu yang urgent itu soal apa. Apakah soal pekerjaan atau hal-hal yang lainnya? Itu tentu saja membuat beragam spekulasi muncul di kepala dua wanita yang dia tinggalkan begitu saja. Dan jelas, nama Olin tidak bisa dihilangkan dari dalam daftar kecurigaan, melihat betapa paniknya raut wajah Arsenio sebelum pamit undur diri.
“Kita terusin aja makannya, ya, Bun? Nanti kita cari tahu kalau Arsenio udah balik.” Anara berusaha menenangkan Bunda yang tampak gelisah.
Bunda mengembuskan napas pasrah, mengangguk patuh lantas melanjutkan kembali kegiatan makan malam meski rasanya sudah tidak semenarik sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, mereka selesai. Bunda pun lekas meminta kepada Anara untuk mengikutinya pergi keluar dari restoran setelah selesai melakukan pembayaran.
Di area parkir, sopir mereka sudah menunggu di sisi mobil. Ketika melihat kedatangan Bunda dan Anara, pria berusia akhir 30-an itu langsung dengan sigap membukakan pintu. Namun, Bunda menahannya. Dengan gelengan kepala, Bunda memberikan isyarat bahwa mereka belum akan pulang.
Walaupun kebingungan, si sopir tetap menurut. Pintu mobil dia tutup kembali, kemudian dia berjalan memutar ke sisi mobil yang lain karena sepertinya bosnya perlu berbicara hanya dengan menantunya saja.
“Kita tunggu Arsenio balik dulu.” Tutur Bunda, seraya menempelkan ponsel ke telinga. Posisinya, ponsel itu sedang digunakan untuk menelepon Arsenio yang entah sedang berada di mana.
Panggilanmu sedang dialihkan, mohon cobalah beberapa saat lagi.
Sambil berdecak kesal, Bunda menjauhkan ponsel dari telinga. Telepon pertamanya tidak diangkat sama sekali oleh Arsenio, namun dia tetap mencoba hingga beberapa kali lagi setelahnya.
Akan tetapi, hasilnya tetap saja sama. Arsenio tetap tidak mengangkat telepon, dan pesan-pesan yang Bunda kirimkan hanya berakhir dengan centang dua berwarna abu-abu.
“Pergi ke mana, sih, dia? Urusan apa sih yang begitu urgent sampai dia ninggalin kita gini?” emosi Bunda mulai naik, tapi di depan Anara, perempuan itu tetap berusaha untuk memelankan nada bicaranya. Dia tahu Anara tidak terbiasa mendengar suara keras, sebab sedari kecil kedua orang tuanya selalu mendidiknya dengan lembut. Ia tentu tidak ingin membuat menantunya itu menjadi trauma. Tidak tahu saja dia kalau selama menikah dengan Arsenio, putranya itu kerap berbicara menggunakan nada tinggi kepada Anara.
“Mending Bunda pulang aja, udah malam. Biar An yang coba hubungin Arsenio lagi nanti.” Anara membujuk. Meskipun masih kelihatan prima, tapi Anara tahu di umur-umur Bunda yang sekarang ini sudah tidak boleh terlalu sering terkena angin malam.
“Enggak bisa, An. Bunda harus pastiin dulu dia balik.” Bunda kekeuh dengan pendiriannya.
“Bun,” Anara menyentuh tangan ibu mertuanya. “Kita enggak tahu se-urgent apa urusan yang lagi Arsenio urus sekarang, dan kita juga enggak tahu sampai kapan bakal selesai. Kalau Bunda maksa buat nungguin dia, kasihan badan Bunda. Jadi Bunda dengerin aja apa kata An, ya, pulang.”
Akhirnya karena terus dibujuk, Bunda pun luluh dan mengangguk. “Bunda anterin kamu, kamu juga harus pulang.” Ucapnya.
Anara pun setuju untuk diantarkan pulang. Mereka akhirnya pulang tanpa tahu di mana keberadaan Arsenio dan apa yang sebetulnya sedang dilakukan oleh lelaki itu.
Di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, Anara masih melihat Bunda tampak duduk tidak tenang di sebelahnya. Perempuan itu masih berusaha menelepon Arsenio dan terlihat mengecek lagi pesan-pesan yang dia kirimkan sebelumnya, apakah sudah berubah menjadi centang biru atau masih saja abu-abu seperti terakhir kali.
“Simpan aja hapenya, Bun. Percuma dilihatin terus kalau emang Arsenio belum ada waktu buat ngecek.” Bujuk Anara.
Lagi-lagi, ucapan Anara terdengar seperti mantra paling ajaib di muka bumi, di mana Bunda langsung menurut dan memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan miliknya yang berada di atas pangkuan.
Sekitar 30 menit berkendara, mereka sampai di kediaman Arsenio dan Anara. Saat Bunda hendak ikut turun dari mobil, Anara dengan cepat mencegahnya.
“Bunda langsung pulang aja.” Kata perempuan itu.
“Enggak, An. Bunda mau nemenin kamu sampai Arsenio pulang. Mana mungkin Bunda tinggalin kamu sendirian, apalagi ini udah malam.”
Anara kembali tersenyum, “Justru karena ini udah malam, makanya Bunda sebaiknya segera pulang dan istirahat di rumah. An enggak apa-apa, kok, lagian di depan kan ada satpam yang standby 24 jam, enggak perlu khawatir.” Anara berusaha menenangkan.
Bukannya dia keberatan akan ide ibu mertuanya untuk menginap. Dia hanya tidak ingin agenda menginap dadakan akan muncul setelahnya kalau-kalau Arsenio ternyata tidak pulang malam ini. Tidak boleh. Nanti yang ada Bunda akan tahu kalau dia dan Arsenio sebenarnya tidur terpisah. Bisa sia-sia sandiwara mereka bulan lalu.
“Tapi, An—“
“Udah, Bunda pulang aja. An standby di hape deh buat kabarin Bunda terus sampai Arsenio pulang.”
“Janji?”
“Iya, janji.” Untuk meneguhkan janji itu, Anara sampai mengeluarkan jari kelingking, yang kemudian disambut oleh ibu mertuanya.
“Ya udah, Bunda pulang. Tapi kalau kamu butuh apa-apa, please jangan ragu-ragu buat call Bunda, oke? Bunda enggak mau kamu kenapa-kenapa.”
“Iya, Bunda sayang.”
Sesudah itu, Anara membiarkan mobil Bunda kembali melaju meninggalkan kediamannya.
Beberapa menit setelah kepergian Bunda, Anara masih berdiri di depan gerbang. Dia juga berusaha menelepon Arsenio lagi, barangkali lelaki itu sudah bisa dihubungi. Namun karena sampai percobaan ke-delapan masih tidak ada jawaban juga, dan dia tahu Arsenio tidak akan suka jika dia terlalu mengganggu, Anara pun menyerah. Dia akhirnya hanya mengirimkan pesan singkat kepada Arsenio, lalu masuk ke dalam rumah tanpa niatan untuk betul-betul menunggu Arsenio pulang.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Sebuah pub kecil yang berdiri di tengah-tengah bangunan elit lain menjadi tempat di mana Arsenio melarikan dari acara makan malam yang berlangsung dengan ibu dan istrinya.
Betul, dia ke sini karena Olin. Karena Olin terus mengiriminya pesan tidak masuk akal yang mau tak mau membuatnya berlarian tunggang-langgang untuk sampai ke pub yang ramai dikunjungi dan didominasi oleh turis-turis asing yang entah datang dari negara bagian mana.
Lampu-lampu gantung berwarna kemuning yang dipasang di atas kepala mereka menjadi satu-satunya penerangan, menyinari setiap meja yang setidaknya diisi oleh tiga sampai empat orang. Laki-laki, perempuan, banci. Semuanya berkumpul di meja-meja sesuai dengan keinginan mereka. Beberapa menyalakan rokok tanpa ragu, membuat asap-asap berbau apak tembakau menyebar ke seluruh penjuru ruangan yang tidak seberapa besar namun diisi oleh banyak sekali orang.
Di satu meja yang lain, yang letaknya paling ujung dekat rak-rak berisi koleksi bir murahan di pajang, empat orang (terdiri dari 3 laki-laki dan 1 perempuan) terlihat bermain kartu. Botol bir dan seloki yang berada di tengah-tengah mereka adalah hukuman bagi dia yang kalah. Menurut pendengaran Arsenio yang terhitung masih baik (atau mungkin karena meja mereka tidak berjarak cukup jauh), pilihannya hanya ada dua: minum, atau mencium seseorang yang duduk di sebelah kiri.
Sialnya, seorang pria berwajah kaukasia lebih memilih untuk mencium bibir pria lain berwajah oriental yang duduk di sebelahnya. Seketika itu juga, Arsenio merasakan perutnya mual. Seperti ada ribuan tangan yang bekerja sama untuk mengaduk-aduk isi di dalam lambungnya hingga dia tidak tahan dan rasanya ingin sekali muntah. Sungguh tidak terbayangkan olehnya, apa yang akan terjadi pada Olin jika dia tidak menyanggupi keinginan perempuan itu untuk menyusul ke sini. Mungkin Olin juga akan berakhir bergabung di meja yang sama dengan orang-orang aneh itu.
“Kita pulang.” Ajaknya, setelah menyaksikan tiga gelar bir murahan ditenggak begitu saja oleh Olin dengan tanpa keraguan.
“Aku masih mau di sini.” Kekeuh Olin. Perempuan itu malah melambaikan tangan, meminta seorang pelayan agar datang memberikannya satu gelas bir lagi untuk menggantikan gelasnya yang sudah kosong.
Dengan senang hati, si pelayan menyanggupi. Tidak ada penolakan jika itu berarti dia bisa mendapatkan penghasilan lebih. Karena jika diperhatikan lebih teliti, penampilan Olin memang jauh lebih ‘layak’ jika dibandingkan dengan pengunjung yang lain.
“Kamu udah mabuk.” Arsenio merebut gelas bir yang baru diantarkan, membawanya menjauh sebelum tangan Olin sempat meraihnya.
“Aku mau minum sampai pingsan.” Kata Olin, masih berusaha menggapai gelas bir yang disembunyikan oleh Arsenio di ujung meja.
“Enggak ada, Olin. Kita pulang sekarang.”
“Fck!” tiba-tiba saja, Olin mengumpat, membuat Arsenio tersentak karena sejujurnya baru pertama kali dia melihat Olin berbicara kasar. Jangan lupa bahwa Olin lahir dari keluarga kaya yang menuntut anak-anaknya agar bisa bersikap anggun dan tidak mencoreng nama keluarga. Jangankan mengumpat, Arsenio juga heran kenapa Olin bisa nyasar ke pub kecil seperti ini.
“Lin,”
“Aku kayak gini karena kamu, Gal. Karena kamu udah enggak sayang aku.” Setelah mengumpat, Olin malah menampakkan raut sedih yang membuat dada Arsenio seperti diiris. “Kamu udah mulai care sama Anara, dan itu bikin aku sakit.”
“Salah paham kamu bilang? Nama Olin dan Anara itu beda jauh, Gal. Enggak mungkin kami salah sebut nama Anara kalau bukan karena kamu lagi mikirin dia, pas lagi sama aku!” suara Olin yang semakin meninggi membuat mereka dengan cepat menjadi pusat perhatian. Beberapa pengunjung yang sudah high menoleh secara serempak, menatap tidak suka pada dirinya dan Olin yang dianggap sebagai perusak suasana.
“Kita pulang, kita omongin di rumah, oke?” bujuk Arsenio, dengan suara yang selembut mungkin.
Namun, hal itu masih tidak bisa menenangkan Olin yang sudah kadung tersulut emosi. Kondisinya yang high juga membuat perempuan itu semakin sulit mengendalikan diri.
“Mau ngomongin soal apa? Soal kamu yang udah mulai jatuh cinta sama Anara, iya?!”
“Lin.” Arsenio menekankan suaranya. Tak punya lagi batas kesabaran untuk bernegosiasi, Arsenio pun akhirnya bangkit dari kursi. Lalu dia menggotong paksa tubuh Olin agar mereka bisa meninggalkan pub yang kualitas udaranya semakin buruk semenjak ada lebih banyak orang yang menyalakan rokok.
“Turunin aku!” Olin meronta, memukul-mukul punggung Arsenio yang berhadapan dengan mukanya, namun Arsenio sama sekali tidak peduli. Dia terus melangkah menghampiri seorang perempuan yang berjaga di belakang meja kasir, membayar tagihan lalu pergi membawa serta Olin yang masih saja memberontak.
“Turunin aku, Gala!” pukulan demi pukulan terus dilayangkan, namun Arsenio masih tidak menggubrisnya.
Dengan Olin yang jungkir balik di dalam gendongan, Arsenio memesan taksi online. Dia juga tidak berusaha menenangkan Olin agar perempuan itu berhenti meronta. Menurutnya, itu hanya akan berakhir sia-sia karena Olin ketika mabuk sama sekali tidak bisa dikendalikan.
Tidak sampai sepuluh menit menunggu, taksi online yang dia pesan pun akhirnya tiba. Cepat-cepat dia masuk ke dalam taksi, mendudukkan Olin di kursi sebelah kanan sementara ia menyusul duduk di sebelah kiri.
“Lepas! Aku enggak mau ikut sama kamu!” bukannya semakin tenang, Olin malah semakin menjadi-jadi. Perempuan itu bahkan secara serabutan menarik handle pintu, berusaha untuk keluar ketika mobil sudah melaju.
Akhirnya, karena tidak ingin keadaan semakin kacau apalagi sampai membahayakan Olin, Arsenio pun mengangkat tubuh Olin lalu membawanya ke atas pangkuan. Ia dekap erat-erat tubuh yang masih berontak itu, sekuat tenaga menahan diri karena gerakan heboh Olin telah membuat sesuatu terusik di bawah sana.
“Tolong lebih cepat, Pak. Pacar saya memang suka rese kalau lagi mabuk.” Pintanya kepada sang sopir taksi yang berkali-kali melirik dari kaca spion tengah.
Si sopir hanya mengangguk, kemudian memperdalam injakan pedal gas agar mereka segera sampai di tujuan. Ngeri juga melihat seorang perempuan mabuk yang terus meronta seperti orang kesurupan.
“Calm down, Baby. Teriak-teriak kayak gitu cuma akan bikin tenggorokan kamu sakit.” Bisik Arsenio untuk terakhir kali, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk masa bodoh atas apa pun yang Olin lakukan di atas pangkuannya. Dia hanya perlu memastikan bahwa Olin aman sampai mereka tiba di tujuan.
Bersambung
Kelakuan si Olin biar disamperin Arsenio nih 😌