Losing Us

Losing Us
Apology



Waktu terus bergulir dengan Anara yang masih berusaha memulihkan hati dari perkataan jahat yang Arsenio katakan lebih dari seminggu yang lalu. Sejak hari itu, mereka belum bertemu muka lagi. Anara sengaja menghindar karena takut tidak akan bisa menahan luapan emosi jika di dalam pertemuan mereka Arsenio akan kembali melontarkan kalimat pedas lain yang mengingatkan dirinya pada kejadian malam itu lagi.


“Hah, udah habis lagi.” Keluh Anara tatkala menemukan botol air minum miliknya sudah kosong.


Mau tak mau, ia harus mengisinya sekarang. Karena kalau menunggu besok pagi, Anara bisa saja bertemu dengan Arsenio mengingat besok adalah hari Sabtu dan jadwalnya Arsenio libur. Bunda sudah kembali, jadi kemungkinan untuk Olin bisa menginap di sini lagi sangat kecil. Untuk yang itu, Anara bisa sedikit menghela napas lega. Meskipun begitu, dia masih enggan untuk berpapasan dengan Arsenio.


Kondisi rumah yang gelap membuat Anara harus melangkah ekstra hati-hati. Satu tangannya mendekap erat botol air minum, satunya lagi berpegang pada pegangan tangga untuk menghindari adegan jatuh yang dramatis.


Anara sama sekali tidak memiliki firasat apa pun ketika berjalan turun. Sampai kemudian, dia menemukan Arsenio sedang duduk sendiri di meja makan dengan pencahayaan yang minim. Di depan lelaki itu, ada sebotol anggur dan sebuah gelas yang sudah kosong. Anara menduga, Arsenio sudah menghabiskan waktu cukup lama untuk menikmati alkohol itu sendirian.


Mulanya, Anara berpikir untuk putar balik. Biarlah dirinya menahan haus semalaman daripada harus bersinggungan dengan Arsenio yang sedang mabuk. Namun, ketika mata Arsenio lebih dulu menangkap keberadaannya, Anara tidak punya pilihan selain meneruskan langkah. Dia memang sedang menghindari Arsenio, namun entah kenapa, Anara tidak ingin itu terlihat terlalu kentara.


Dengan usaha keras untuk tidak menghiraukan keberadaan Arsenio, Anara mulai mengisi botol air minum dari dispenser. Dari ekor mata, dia masih bisa melihat bahwa Arsenio sedang mengamati setiap pergerakannya. Memang tidak jelas seperti apa ekspresi wajah lelaki itu, tapi dari sudut di mana ia memandang, Anara yakin Arsenio memang sedang memperhatikan dirinya.


Selesai memenuhi botol, Anara memasangkan penutup dan segera memeluk botol itu erat-erat. Berniat untuk kabur secepat mungkin sebelum akhirnya suara serak Arsenio yang memanggil namanya membuat langkah Anara terpaksa berhenti.


“Kenapa?” tanya Anara.


“Duduk.” Titah Arsenio.


Anara bisa saja menolak, namun kakinya malah melangkah mendekat. Dia menarik kursi yang berseberangan, duduk di atasnya dan meletakkan botol air minum ke atas meja lalu menatap Arsenio lekat-lekat. Mata Arsenio yang memerah dan tampak sayu adalah indikasi kuat bahwa kadar alkohol di dalam tubuh lelaki itu sudah cukup banyak. Dua atau tiga gelas lagi ditenggak, maka Arsenio bisa jatuh pingsan.


“Lo bisa minum?” tanya Arsenio seraya menuangkan anggur ke dalam gelas.


“Bisa, tapi aku enggak mau minum sekarang.” Jawab Anara. Toleransinya terhadap alkohol lumayan tinggi, itu sebabnya Anara memilih untuk tidak minum karena dia tidak akan berhenti sebelum benar-benar teler. Dan untuk bisa membuat dirinya teler, Anara harus menghabiskan setidaknya 2 botol anggur untuk dirinya sendiri.


“Kalau gitu, duduk aja di situ, temenin gue minum.” Lalu Arsenio menenggak anggur di dalam gelas setelah membauinya selama beberapa saat.


Sesuai permintaan Arsenio, Anara menemani lelaki itu minum tanpa bicara apa-apa. Yang dia lakukan hanya memperhatikan bagaimana Arsenio menuang anggur secara terus menerus ke dalam gelas. Membauinya sebentar dan langsung menenggaknya seperti sedang menenggak air putih.


Walaupun tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka, Anara tetap bisa membaca bahwa saat ini Arsenio sedang tidak dalam keadaan baik. Banyak sekali kekhawatiran yang lelaki itu simpan sendirian di balik manik kelamnya yang sekarang tampak lemah tak berdaya. Namun, Anara memutuskan untuk tetap diam, tidak bertanya apa pun. Tidak peduli meski sebenarnya dia sangat peduli dan berharap bisa membantu mengurai beban yang sedang Arsenio tanggung sendirian.


Anara tidak membenci Arsenio atas apa yang lelaki itu ucapkan kepadanya tempo hari. Manusia memang begitu. Mereka bisa dengan leluasa mengatakan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu, dan Anara akan berusaha memakluminya karena dia mungkin juga pernah berbuat seperti itu kepada orang lain. Hanya saja, Anara sadar bahwa dirinya butuh waktu untuk bisa melupakan rasa sakit yang dia derita atas kelakuan Arsenio.


Dan diam adalah cara Anara untuk melakukannya.


“Kalau kamu udah selesai, boleh aku balik ke kamar? Udah malam, aku mau tidur.”


Jangan ke mana-mana, katanya?


“Udah malam, aku enggak biasa bergadang.”


“Sebentar lagi.” Dia menyela. “Tunggu gue habisin wine ini dulu.”


“Kamu udah mabuk, Arsenio. Better stop karena aku enggak akan kuat buat bawa kamu ke kamar seandainya kamu pingsan.”


“Gue enggak akan pingsan.” Lalu dengan keras kepalanya, Arsenio kembali menenggak minumannya.


Anara hanya bisa pasrah. Satu gelas lagi, anggur di dalam botol akan habis dan Anara bisa kembali ke kamar. Maka dia akan bersabar sedikit lagi. Dan mari kita lihat, apakah Arsenio benar-benar tidak akan pingsan setelah menghabiskan semuanya.


Tak!


Gelas terakhir berhasil Arsenio tandaskan, dan Anara menghela napas lega. Itu artinya, dia bisa cepat-cepat kembali ke kamar, kan?


“Sorry.”


“Hmm?” Anara menaikkan sebelah alis dalam kebingungan yang melanda. Kenapa tiba-tiba minta maaf? Dan, maaf untuk apa? Lebih tepatnya, untuk kesalahan yang mana? Untuk telah menuduhnya sengaja meracuni Olin, atau untuk kalimat jahat yang lelaki itu ucapkan kepadanya terakhir kali?


“Sorry, An.”


“Maaf buat apa?”


“Sorry.”


“Ar—“


“Sorry... sorry.” Arsenio terus mengulanginya. Berkali-kali, hingga kesadarannya perlahan habis dan kepalanya jatuh terkulai ke atas meja makan.


Bahkan untuk sebuah kata maaf pun, Anara harus menerka sendiri ia datang untuk apa. Melelahkan sekali.


“Aku udah bilang, Arsenio, aku enggak akan kuat buat angkat kamu ke kamar.” Kendati demikian, Anara tetap mengupayakan agar tubuh lunglai Arsenio bisa beristirahat dengan nyaman di dalam kamarnya. Susah payah dia papah tubuh yang lebih besar darinya itu. Melupakan kenyamanan dirinya sendiri dan ribut di kepala yang semakin menjadi.


Bersambung