Losing Us

Losing Us
All For The Baby



Sejak mengetahui jenis kelamin calon anak mereka adalah perempuan, Arsenio jadi exited sekali berbelanja baju bayi dan berbagai aksesoris lucu warna-warni. Hampir setiap hari, lelaki itu pulang dari kantor sambil membawa belanjaan baru. Ditimbun di dalam kamar Anara yang rencananya akan diubah menjadi kamar bayi.


Anara sendiri sudah lelah meminta Arsenio untuk berhenti. Setiap ditegur, lelaki itu akan kekeuh mengatakan bahwa tidak ada salahnya untuk menghamburkan uang demi calon anak pertama mereka.


Seperti malam ini, lelaki itu datang membawa dua paper bag berukuran besar. Isinya adalah beberapa setel baju new born merek mahal, beberapa pasang sepatu dan aksesoris rambut khusus bayi.


Dengan semangat yang menggebu-gebu, lelaki itu mulai menjelaskan alasan kenapa dia membeli barang-barang itu. Setiap item memiliki filosofi, yang pada akhirnya membuat Anara hanya bisa mendengarkan sambil sesekali menghela napas pelan.


Maksudnya, apa yang begitu spesial dari setiap potong baju yang bahkan hanya akan dipakai beberapa kali?


“Omong-omong,” Arsenio menghentikan ocehannya soal filosofi baju. Sejenak, lelaki itu menyerongkan tubuhnya agar bisa menatap Anara yang berdiri di sisi kasur. “Kita udah harus siapin nama buat baby.”


Ah, nama. Anara belum kepikiran sama sekali. Fokusnya sejauh ini hanya tercurah pada bagaimana agar bayi di dalam kandungannya bisa tumbuh dengan baik dan sehat. Lagi pula, baru satu kali USG, bukan tidak mungkin hasilnya salah, kan?


“Kalau lo belum ada nama, biar gue aja yang kasih nama buat baby kita. Gimana?” tawar Arsenio. Antusiasme lelaki itu terpancar melalui kedua bola matanya yang berbinar bagai lampu pijar.


“Terserah kamu aja. Aku emang belum kepikiran buat cari nama.” Pasrah Anara. Melihat Arsenio yang sepertinya sudah cukup yakin dengan pilihan nama yang dimiliki membuatnya tak tega untuk menolak. Toh anak ini juga darah daging Arsenio, jadi setidaknya biarkan lelaki itu berkontribusi.


“Oke!” sahut Arsenio dengan semangat.


Lelaki itu kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana, mengecek catatan yang dia tinggalkan di sana beberapa hari sebelumnya. Di dalam catatan itu, dia telah menyiapkan beberapa pilihan nama. Senyumnya merekah saat menilik kembali nama-nama cantik itu.


“Gue punya beberapa nama, coba lo denger dan nilai mana yang sekiranya lebih cocok buat nama baby kita.” Ucapnya.


Anara mengangguk, pertanda sudah siap mendengarkan.


“Yang pertama, Eclessia Noel Galandra. Yang kedua, Neul Audrey Galandra. Yang ketiga Elana Miriam Galandra.” Tiga nama selesai tersuguh dengan senyum lebar Arsenio sebagai penutupnya. “Bagusan yang mana?”


Anara terdiam sejenak untuk berpikir. Ketiganya kedengaran cantik. Arsenio sepertinya telah menghabiskan banyak waktu untuk memikirkannya.


“The first one sounds the best.” Ucapnya setelah berpikir dengan serius.


Arsenio menjentikkan jari sambil berseru girang. “Kita sehati! Gue juga lebih sreg sama yang pertama.” Ujarnya.


Hanya senyum tipis yang bisa Anara berikan sebagai tanggapan. Well, sebenarnya, dia sedikit terkesan. Sebab ini adalah pertama kalinya memiliki pemikiran yang sama dengan Arsenio. Biasanya, mereka lebih banyak berdebat bahkan untuk hal-hal sepele sekalipun.


Oh, apakah menjadi orang tua bisa membuat dua orang yang tadinya berada di kubu berlawanan akhirnya berubah menjadi kawan?


Kalau iya, bagus juga.


“Eclessia Noel Galandra.” Arsenio kembali menggumamkan nama calon anak mereka. Lalu tiba-tiba, senyumnya merekah seperti kuncup pertama bunga mawar merah.


Itu adalah senyum terlebar yang pernah Anara lihat selama mengenal Arsenio, jadi malam itu, ia mengabadikan momen itu di kepalanya. Menyimpannya untuk dia kenang meski masa depan masih terlihat abu-abu di matanya.


...****************...


Entah sudah berapa kali Arsenio menyebut nama calon anak mereka sejak pertama kali duduk di atas kasur. Sesekali lelaki itu juga terlihat sibuk menekuri ponselnya, yang ketika Anara intip ternyata sedang mencari ide dekorasi untuk kamar bayi.


Laki-laki yang awalnya tidak menghendaki kehadiran anak di dalam kandungannya, kini malah terlihat begitu antusias untuk menyambut kelahiran makhluk kecil itu ke dunia. Rasanya seperti mimpi, seperti ia sedang hidup di negeri dongeng yang segala sesuatunya berjalan dengan cara yang tidak masuk akal.


Sejak menikah dengan Arsenio, Anara sudah tidak berani lagi untuk banyak berharap pada apa pun. Maka ketika ia merasakan antusiasme lelaki itu mulai sedikit berlebihan, ia jadi ketakutan.


Pernah ada yang mengatakan kepada dirinya bahwa badai terkadang bisa datang di hari yang cerah sekalipun. Ia tidak memberikan tanda-tanda. Hanya datang secara tiba-tiba untuk memorak-porandakan semuanya.


Anara khawatir akan ada badai besar yang datang jika dia lengah sedikit saja. Apalagi, sudah beberapa hari ini dia tidak lagi mendapatkan teror dari Olin. Rasanya cukup janggal menemukan gadis keras kepala itu menyerah begitu saja.


“Bagusan warna pink atau biru laut ya kira-kira?” pertanyaan itu membuat Anara kembali menoleh ke samping.


Kepadanya, Arsenio menunjukkan dia contoh kamar bayi dengan dekorasi yang berbeda. Yang pertama penuh warna merah muda dengan segala aksesoris lucu seperti boneka Hello Kitty, Barbie dan lain sebagainya. Sementara yang kedua berwarna biru muda dengan hiasan bergambar laut dan berbagai satwanya di bagian dinding.


Berhubung Anara bukan 100 persen wanita feminin, warna merah muda langsung dia eliminasi. Aksesori boneka yang ada juga rasanya terlalu berlebihan. Membuat kamar yang aslinya luas malah jadi kelihatan sempit dan pengap.


“Biru muda aja, lebih netral.” Sarannya.


Sekali lagi, Anara dibuat terkesima saat Arsenio menganggukkan kepala. Dalam satu hari, mereka sudah dua kali sependapat. Sungguh sebuah rekor.


“Lusa gue panggil tukang buat cat ulang. Boks bayi juga udah gue beli sih, gue titip di Bunda. Rencana baru mau gue bawa ke sini kalau kamarnya udah selesai didekor.” Tutur Arsenio.


Anara iya-iya saja. Toh dia tinggal menerima hasilnya tanpa perlu bersusah payah mengeluarkan tenaga. Apa pun itu, asalkan yang terbaik untuk anaknya, Anara akan menurut saja.


“Udah malam, mending kamu simpan hapenya terus kita tidur. Kamu bilang besok ada early meeting sama klien yang dari Jepang, kan? Bakal repot urusan kalau sampai kamu telat.” Kata Anara.


Arsenio melirik bagian atas ponselnya untuk melihat jam. Benar saja, waktu sudah menunjukkan pukul 11 lewat 25 menit. Ternyata dia terlalu asyik scroll sampai tidak sadar waktu telah berlalu cukup lama.


Menyingkirkan ponselnya, Arsenio memulai ritual rutin sebelum tidur. Mengusap perut Anara beberapa kali, mengucapkan selamat malam kepada si bayi, lalu melabuhkan kecupan sayang di perut Anara sebagai sentuhan terakhir.


Namun malam ini, ada sedikit perubahan pada ritualnya. Alih-alih langsung berbaring setelah mencium perut Anara, Arsenio malah beringsut untuk memberikan kecupan lain di kening perempuan itu.


Yang perempuan jelas tidak siap. Tubuhnya seketika menegang merasakan hangat bibir Arsenio berdiam cukup lama di keningnya. Ritme detak jantungnya meningkat pesat, pun dengan aliran darah yang secepat kilat membuat pipinya memerah.


“Good night, Mami.” Ucap Arsenio setelah menjauhkan diri.


“O-oh, ya ... good night, Papi.” Balas Anara penuh kikuk dan salah tingkah.


Aduh! Tidak boleh begini! Ayo hanya pikirkan bayinya! Seru Anara di dalam hati. Sedangkan Arsenio sudah berbaring di posisinya, memejamkan mata, dengan senyum yang masih merekah.


Bersambung....