Losing Us

Losing Us
Still No



Kali ini, izinkan Anara bertanya satu hal. Jika ada seseorang yang tak kunjung melepaskan pandangan bahkan setelah beberapa menit, apa yang akan kalian lakukan? Memutus kontak lebih dulu agar tatapannya usai? Pergi dari tempat kalian berada agar sepasang netra itu tak lagi bisa menguliti kalian bagai mangsa yang siap disantap dalam sekali hap? Atau pasrah saja membiarkan diri kalian menjadi ‘objek’ penilaian yang entah akan berada di mana ujungnya?


Karena jujur saja, kali ini Anara benar-benar tidak tahu harus bagaimana ketika Arsenio terus saja menatapnya sejak mereka berdua duduk di meja makan. Selama mulut lelaki itu mengunyah makanan pun, tatapannya masih tidak beralih dari dirinya. Seakan kalau lengah sedikit saja, dia bisa menghilang seperti butiran debu yang tertiup angin ribut.


“Can you stop it?”


“What?”


“The way you staring at me, it’s so creepy.” Anara menunjukkan gestur bergidik ngeri. Dan tidak bohong, dia betulan merinding sekarang. Takut-takut barangkali ada makhluk halus yang nemplok ke tubuh Arsenio hingga membuat lelaki itu bertingkah tak biasa sejak pulang dari airport siang tadi.


“I’m staring at my wife, salahnya di mana?”


“Nggak ada yang salah, kalau kamu natapnya biasa aja dan dalam waktu singkat. But it’s been a few minutes, and you’re giving me goosebumps.” Terang Anara. Sebagai bukti, dia sampai menunjukkan lengannya, di mana bulu-bulu halus di sana sudah tegak berdiri.


“Kamu kira aku hantu?”


“Lebih dari itu, you look like a psychopath.” Cetus Anara jujur. Dia jadi terbayang potongan adegan dari drama thriller yang pernah dia tonton. Di sana, cara si psikopat menatap calon korbannya sama persis dengan yang sekarang ini Arsenio lakukan. Ugh! Merinding betul!


“Kalau aku psikopat, udah aku makan kamu dari kemarin-kemarin.” Dengus Arsenio. Piringnya sudah kosong sejak tadi, tapi bahkan sambil beradu argumen dengan Anara, tatapannya masih tak lepas dari sosok sang istri.


“There is a difference between a psychopath and a cannibal,” sanggah Anara.


“They’re the same, sama-sama nggak punya hati nurani.” Arsenio dengan argumennya yang... nilai saja sendiri.


Jika argumen itu dia dengar dari sosok Arsenio yang dulu, Anara mungkin akan langsung menjawab, “Emang kamu punya hati nurani?” dengan lantang dan berani. Tetapi karena sosok Arsenio yang sekarang sudah berubah menjadi sedikit lebih baik, maka pertanyaan itu sudah tidak bisa lagi dijadikan senjata pamungkas untuk memotong perdebatan soal psikopat ataupun kanibal kali ini.


Maka sebagai langkah satu-satunya yang bisa Anara ambil, dia lebih memilih untuk melarikan diri. Mencuci piring dia jadikan alibi, cepat-cepat dia usung piring-piring kotor meninggalkan meja makan dan Arsenio yang—masih saja enggan menarik tatapannya.


Gemercik air yang mengalir dari keran di wastafel menjadi distraksi untuk pikiran-pikiran acak yang mulai muncul di kepala Anara. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena saat tangannya mulai sibuk membasuh piring-piring kotor penuh busa sabun, dirinya malah dibuat membeku di tempat saat sepasang lengan tahu-tahu melingkar di perut buncitnya.


Bukan hanya sepasang tangan, Anara juga kemudian menemukan kepala Arsenio sudah bersandar begitu nyaman di bahunya. Tidak ada rasa sungkan sama sekali, seolah hubungan mereka memang sudah berjalan senormal itu dari dulu.


“Stay away,” Anara memperingatkan.


“Why should I?” dan Arsenio tampak tidak peduli.


Anara bergerak sebisanya, mempercepat proses cuci piring agar bisa sesegera mungkin lepas dari kungkungan Arsenio yang sedang bertingkah tak biasa. Piring-piring yang telah dia bersihkan dengan kecepatan kilat kemudian dia oper ke rak, dan di detik setelah dia selesai, Anara langsung membalikkan tubuhnya lalu menarik jarak.


“Nggak mau.” Arsenio menggeleng ribut. “Kamu istri aku, dan yang lagi ada di perut kamu itu adalah anak aku. Jadi, kenapa aku harus jauh-jauh dari kamu?”


“Stop using my baby as an excuse,” Anara memicing tidak suka. Noel selalu hadir di tengah argumen, membuatnya semakin yakin bahwa lelaki di depannya itu memang cuma mencintai anaknya.


“Our baby,” Arsenio mengoreksi. “And you, stop negative thinking sama aku.”


“Aku nggak negative thinking, tapi emang itu kenyataannya. Kalau bukan karena Noel, kamu nggak akan bersikap begini sama aku.” Muntah juga akhirnya apa yang selama ini Anara pendam sendirian. Tidak ada salahnya sih, bagus juga kok kalau Arsenio bersikap baik. Tapi masalahnya, kalau terlalu bar-bar melanggar batas yang ada, Anara takut dia akan terbawa perasaan dan akhirnya malah sakit sendirian. Big no, yang lalu itu sudah cukup menyakitkan, dia tidak mau lagi hidup menderita mulai sekarang.


“The fxck!” Arsenio kelepasan mengumpat. Sejenak, dia lupa kalau Anara ini hobi overthinking, jadi wajar saja kalau perempuan itu masih bersikap waspada meski dia sudah mengatakan untuk mereka memulai semuanya dari awal.


Tapi pertanyaannya, mau sampai kapan?


“Gini,” bibirnya terbuka lagi setelah beberapa lama. “Kenapa pola pikirnya nggak diubah? Dari yang awalnya, “Oh, Arsenio bersikap baik sama aku karena ada Noel,” jadi “Oh, Noel hadir memang buat jadi jalan supaya Arsenio bisa mulai sayang sama aku. So that we can live our married life like other couples.” Dengan berubahnya pola pikir kamu, segala sesuatunya juga bakal berjalan dengan cara yang berbeda.” Ocehnya panjang lebar.


Tetapi seharusnya Arsenio tahu, bahwa segala hal yang telah terjadi membuat Anara tidak semudah itu untuk mengubah cara pandang terhadap dirinya. Luka-luka yang perempuan itu derita dan bayang-bayang Olin yang masih jelas di pelupuk mata tidak bisa diabaikan begitu saja.


“I just want to protect myself.” Maka itu adalah pengakuan paling jujur yang Anara bisa berikan untuk mempertahankan keteguhan hatinya.


“From what?”


“From you.”


“There’s no reason for me to harm you, Anara.” Arsenio setengah kesal. He’s a bastard in the past, tapi bukankah dia sudah berusaha semampunya untuk menjadi seseorang yang lebih baik sekarang? Bukan hanya sebagai calon ayah, tetapi juga sebagai suami?


“Well, we never know.” Anara mengedik. Jarak yang dia bentangkan masih konsisten. Tak ada niat sedikit pun untuk mendekat.


Arsenio mendesah, “Aku harus ngapain biar kamu percaya?” tanyanya. Barangkali memang ada cara jitu untuk membuat Anara bisa menaruh percaya dan berhenti bersikap waspada, kan? Well, kalau ada, dia tidak keberatan untuk mencoba.


Namun lagi-lagi, endikan bahu yang dia terima membuat lenguhan panjang lolos dari bibirnya. Sudah begitu, Anara berlalu. Meninggalkan obrolan serius mereka hanya seperti kulit kacang yang tak penting.


“Kita belum selesai, An.” Cegahnya, namun Anara sudah kadung melangkah cukup jauh. Tentu saja dia tidak akan berharap Anara akan balik badan dan seketika berubah pikiran. Sebab semakin ke sini, Arsenio semakin paham kalau kepala Anara terlalu rumit dan tembok pembatas yang perempuan itu bangun terlalu tinggi untuk bisa dia terobos dengan paksa.


Bersambung....