
Seperti cuaca yang labil, begitu juga dengan mood Arsenio yang sama sekali tidak bisa ditebak. Setelah bertingkah usil sejak pagi, lelaki itu kini berubah menjadi super-duper galak. Anara bahkan tidak diperbolehkan masuk ke dalam kamarnya. Teriakan demi teriakan dia gaungkan meski tahu ibunya masih ada di satu atap yang sama dengan mereka.
“Jangan ganggu gue!” serunya lagi, entah sudah ke berapa kali.
Asal kalian tahu, Anara tidak sedang melakukan apa pun ketika Arsenio mengatakan itu. Anara hanya sedang berdiri di ambang pintu, menatap Arsenio yang duduk bersila di atas kasur dengan wajah yang ditekuk.
“Lo jahat.” Tuduhnya tiba-tiba. Entah apa alasannya, Anara pun tidak tahu. Seingatnya, dia tidak melakukan apa pun kepada Arsenio sejak pagi. Malahan Arsenio kan yang selalu mengganggu Anara tanpa henti?
“Kamu ini lagi kesambet atau gimana sebenernya?” tanya Anara pada akhirnya. Capek juga kalau hanya menjadi pendengar untuk ocehan tidak masuk akal yang Arsenio lontarkan sejak hampir setengah jam yang lalu.
“Lo jahat, Anara.” Ulangnya, alih-alih menjawab pertanyaan Anara.
“Aku ngapain? Aku enggak ada ngapa-ngapain kamu.”
“Ada!” sergahnya. Raut wajahnya makin tidak enak saja dilihat. Matanya yang sipit melotot, Anara sampai khawatir bola matanya yang berwarna legam itu akan copot.
“Apa? Aku ada ngapain kamu emangnya?”
“Lo nolak ajakan gue buat ke Jogja.”
Speechless. Anara sampai harus mengambil jeda selama hampir tiga menit penuh hanya untuk menerima alasan tidak masuk akal itu—dan dia berakhir tetap tidak bisa menerimanya sama sekali.
“Yang kayak gitu kamu bilang jahat?” tanya Anara tidak habis pikir. Jika dibandingkan dengan kelakuan Arsenio selama ini, bukankah penolakan yang Anara berikan tidak ada artinya sama sekali? Lagi pula, sejak kapan menolak permintaan orang lain menjadi sebuah kejahatan?
Dasarnya Arsenio itu selain menyebalkan juga aneh, lelaki itu malah mengangguk mengiyakan pertanyaan Anara.
“Kenapa itu bisa dibilang jahat?”
“Karena lo tahu gue pengin banget ke sana, dan cuma lo yang bisa gue ajak ke sana bareng, dan lo malah nolak.” Cerocosnya. Persis petasan renceng yang tidak ada ujung berhentinya.
“Kamu bisa ajak Olin.”
“Dia enggak akan mau!” Arsenio masih kekeuh. Sudah begitu, dia malah melompat turun dari ranjang, berjalan cepat menghampiri Anara seraya menghujani istrinya dengan tatapan menghakimi. “Gue udah bilang, cuma bisa perginya sama lo.” Sambungnya setelah berhenti sekitar tiga langkah di depan Anara.
Aduh, Anara pusing sekali. Ini seperti dia disuruh untuk bernegosiasi dengan bocah TK yang ngotot minta pergi ke supermarket naik motor sendirian. Tentu jawabannya adalah tidak, namun dia tidak bisa dengan gamblang mengatakannya karena si bocah hanya akan semakin mengamuk.
Akhirnya, yang bisa Anara lakukan sebagai gantinya adalah meminta Arsenio untuk memberikan satu alasan kenapa dia harus mau menemani lelaki itu pergi ke Jogja.
“Pertama, lo bisa liburan. Hitung-hitung healing tipis, enggak, sih? Emangnya lo enggak sumpek cuma di rumah doang selama berbulan-bulan? Kedua, perjalanan itu semuanya gue yang tanggung biayanya. Tiket pesawat, hotel, makan, akomodasi selama di Jogja, biaya belanja, semuanya. Dan yang terakhir, ini kesempatan bagus buat meyakinkan Bunda kalau kita baik-baik aja.” Terangnya.
Sekilas, deretan alsan itu kedengaran menggiurkan. Tetapi kemudian Anara menemukan sesuatu yang janggal. Pertama, healing tipis-tipis yang Arsenio bilang itu hanyalah alibi. Anara tahu, ketika dia setuju untuk ikut, Arsenio hanya akan menjadikan dirinya sebagai 'babu' untuk membantu mengurus segala keperluan lelaki itu. Kedua, memang sudah kewajiban Arsenio untuk meng-cover semua biaya karena agenda ini adalah miliknya. Dan yang terakhir, tidak ada untungnya bagi Anara, entah Bunda berpikir hubungan mereka baik-baik saja atau tidak. Anara tahu Bunda tidak akan pernah menyalahkan dirinya, sekalipun perempuan itu tahu kondisi rumah tangga mereka yang sebenarnya.
“Masih perlu mikir apa lagi, sih?” tuntutnya, memancing Anara meloloskan decakan kesal.
“Semua alasan yang kamu kasih enggak ada satu pun yang masuk akal di kepala aku.”
“Itu karena otak lo emang kecil.” Cibirnya.
Anara pun mendelik, “Udah tahu otak aku kecil, kenapa repot-repot ngajakin aku buat pergi? Yang ada nanti kamu bakal repot sendiri.”
Kali ini, malah giliran Arsenio yang berdecak. “Kita tetap pergi, titik.” Setelah mengambil keputusan secara sepihak, dia berjalan cepat menuju ranjang. Secepat kilat melompat naik ke atas ranjang, membungkus tubuhnya dengan selimut tebal hingga menutupi sampai ke bagian leher.
Sudah kepalang pusing, Anara memutuskan untuk balik badan. Namun, baru saja langkahnya hendak terayun, Arsenio kembali berteriak.
“Apa lagi?” tanya Anara dengan rahang mengeras. Sungguh gemas sekali ia pada laki-laki itu.
“Tutup pintunya!”
Demi Tuhan... bisakah Anara memutar balik waktu agar dia tidak harus menikah dengan laki-laki aneh bin menyebalkan bin kekanakan seperti ini?
Sambil mendumal, Anara menutup pintu kamar Arsenio dengan gerakan membanting. Masa bodoh. Dia tahu Arsenio sedang mengoceh dari atas tempat tidurnya, memaki-maki dirinya meski tidak satu pun dari makiannya yang sampai ke telinganya.
Malam sudah cukup tua. Pukul 10 lewat 15. Mulanya, Anara mau tidur di ruang tengah saja, namun urung setelah sadar dirinya keluar dari kamar Arsenio tanpa membawa perlengkapan tidur apa pun. Bahkan sekalipun Anara mematikan air conditioner di ruang tengah, dia tetap akan bangun dalam keadaan menggigil kedinginan keesokan harinya.
Berpikir sebentar, Anara akhirnya memberanikan diri memutar arah. Pelan-pelan berjalan mendekati kamar tamu, berdiri cukup lama di depan pintu sebelum akhirnya mengetuknya beberapa kali.
Bunda muncul untuk membukakan pintu. Senyumnya merekah ketika mendapati Anara lah pelaku pengetukan tidak sopan yang dilakukan malam-malam.
“Hai, An. Butuh sesuatu?” tanya Bunda lembut.
“Eung...” sejenak, Anara ragu-ragu untuk menyampaikan niat. Masalahnya, ini adalah plan tak terduga yang datang begitu saja ke kepalanya, jadi dia tidak menyiapkan alasan kalau-kalau Bunda bertanya mengapa harus mengungsi ke kamar tamu.
“An?”
Anara mengembuskan napas pelan. Yah, mau tidak mau, dia harus pandai-pandai mencari alasan. Daripada harus tidur di ruang tamu dan berakhir menjadi es batu?
“An boleh enggak, tidur sama Bunda malam ini?” tanya Anara hati-hati.
Ada sesuatu yang langsung menarik perhatian Anara ketika mereka sampai di sisi ranjang. Itu adalah sebuah album foto berukuran tebal yang posisinya sedang terbuka, menampilkan beberapa deret foto dari bocah laki-laki menggemaskan.
“Bunda lagi lihat-lihat album foto sewaktu Arsenio masih kecil.” Jelas Bunda, barangkali sadar kalau sedari tadi Anara terpaku cukup lama pada album foto tersebut.
Anara hanya mengulas senyum tipis. Habisnya, tidak tahu juga harus bereaksi seperti apa pada penjelasan Bunda itu.
“Kalau kamu enggak pengin langsung tidur, mau enggak nemenin Bunda nostalgia? Sekalian nanti Bunda ceritain behind story dari setiap foto-foto itu.” Tawar Bunda.
Berhubung Anara memang belum mengantuk, dan mengumpulkan informasi tentang masa kecil Arsenio mungkin akan mendatangkan keuntungan supaya dia bisa melawan ketengilan Arsenio besok hari, dia pun mengiyakan.
Mereka kemudian naik ke atas ranjang. Bunda meminta Anara untuk duduk bersandar di headboard ranjang, menaikkan selimut hingga sebatas pinggang lalu mulai membuka album foto dari halaman paling awal.
Foto pertama yang Bunda tunjukkan kepada Anara adalah foto seorang bayi berambut hitam lebat dengan pipi gembul yang tumpah-tumpah. Sedang tengkurap di atas kasur dan tubuh mungilnya berbalut selimut tebal.
“Ini waktu Arsen umur 5 atau 6 bulan, Bunda enggak terlalu ingat. Habis mandi, mau diajak jalan-jalan sama ayahnya ke taman kompleks.”
“Gemas.” Komentar Anara.
Bunda hanya tersenyum, lalu lanjut pada foto berikutnya. Foto di mana Arsenio kecil (Bunda bilang umurnya baru 3 atau 4 tahun) sedang berendam di dalam bathtub. Tubuh dan kepalanya penuh busa sabun, dan dia kelihatan anteng.
“Kamu tahu, enggak, kenapa dia bisa anteng dan enggak rewel sama sekali?” tanya Bunda.
Anara menggeleng, karena dia memang tidak tahu apa alasannya. Dan bukankah anak-anak kebanyakan malah cenderung rewel dan susah saat disuruh mandi?
“Itu karena dia semangat banget mau pergi sama ayahnya ke pasar malam. Dulu kondisi ekonomi kami belum sebagus sekarang, jadi yang ayahnya Arsen bisa kasih buat nyenengin anaknya ya cuma dengan diajak jalan ke pasar malam.”
Anara masih serius mendengarkan, tidak memberikan komentar apa-apa hingga Bunda menunjukkan foto yang lainnya. Di foto itu, Arsenio sudah terlihat lebih besar. Dia kelihatan murung, di depan makanan yang tersaji apik di atas meja makan.
“Ini dia lagi ngambek, soalnya ayahnya pulang telat padahal sebelumnya udah janji bakal main bareng sama dia. Kalau udah ngambek gini, An, susaaaah banget dibujuknya. Waktu itu Bunda sama Ayah sampai harus beliin dia sekardus cokelat baru dia mau berhenti ngambek.”
Tidak heran kenapa Arsenio yang sekarang sangat menyebalkan. Ternyata memang sudah drama sejak kecil.
“Nah, kalau yang ini...” Bunda menjeda kalimatnya untuk sekadar membetulkan posisi duduk. Telunjuknya mengarah pada satu foto dan Anara pun turut mencurahkan perhatian pada foto tersebut. Sebuah foto di mana Arsenio tersenyum tipis di depan kamera, dan kedua mata sipitnya menghilang.
“Ini foto waktu dia pergi berdua sama ayahnya ke Korea. Ini waktu kondisi ekonomi kami udah mulai membaik dan ayahnya Arsen dapat reward pergi jalan-jalan ke Korea dari kantor. Karena cuma dapat dua tiket, mereka akhirnya pergi berdua aja tanpa Bunda.”
“Sedih.” Komentar Anara. Merujuk pada ketidakikutsertaan Bunda pada perjalanan liburan kala itu.
Berbanding terbalik dengan reaksi Anara, Bunda malah tertawa. “Kenapa sedih? Wong habis itu kami malah bisa keliling Eropa bertiga, pakai uang sendiri pula.”
“Tapi itu kan momen langka, Bun. Liburan pertama ke luar negeri, kan pasti?”
Bunda tersenyum lembut. “Emang. Tapi enggak apa-apa, kan setelah itu Bunda bisa selalu ikut serta dalam setiap liburan kami.”
Seakan tidak ingin melihat Anara yang masih menaruh prihatin, Bunda pun kembali membalikkan halaman album. Satu demi satu foto dari setiap momen tumbuh kembang Arsenio diperlihatkan kepada menantunya, dan Bunda dengan detail menceritakan apa saja yang melatarbelakangi foto-foto tersebut.
Anara masih terus mendengarkan dengan senang hati. Katanya, kenangan itu abadi, ia tidak berubah meski waktu terus berlalu dan orang-orang di dalamnya mulai silih berganti. Menemani Bunda menilik kembali kenangannya bersama Arsenio kecil membuat Anara merasa seperti masuk ke dalam bagian cerita dari sebuah film yang awalnya hanya bisa dia saksikan melalui layar kaca. Bersama narasi dan alunan lembut suara Bunda, Anara seperti ikut merasakan kehadiran dirinya di dalam cerita mereka. Seolah dia memang telah ada di sana sejak awal.
Hampir sampai pada di akhir halaman, fokus Anara tercuri pada sebuah foto yang terpajang sendirian. Tidak seperti foto-foto lain yang berjejer dengan setidaknya tiga foto lain, foto itu berada di sana sendirian—meskipun tempat di sampingnya masih kosong tak bertuan.
“Bun,” Anara menginterupsi ketika Bunda sedang menunjuk foto yang lain. Atas interupsi itu, Bunda menghentikan cerita dan beralih menatapnya serius.
“Kenapa, An?”
“Ini...” Anara menunjuk foto yang mencuri perhatiannya, dan Bunda turut mengikuti arah jari telunjuknya. “Kenapa ada An di sini?”
🥀
🥀
🥀
Bersambung
Hayooooloh, kok bisa ada An bareng Arsenio??? Mana nemplok bener itu, kan jadi gemessss