
Anara tak kuasa mengalihkan pandangan dari Arsenio yang tampak gelisah sejak beberapa saat lalu. Berkali-kali lelaki itu kedapatan melirik gusar pada layar ponselnya yang sempat menyala selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali padam. Sepertinya, ada pesan penting yang masuk, namun Arsenio terlalu ragu untuk memeriksanya atau tidak.
“Kenapa?” tanyanya, selembut mungkin agar tidak semakin membuat Arsenio kelabakan.
Yang ditanya menoleh dengan cepat. Raut wajahnya yang berantakan sama sekali tidak bisa disembunyikan. Well, Arsenio memang sepertinya tidak ingin berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
Tarikan napas yang terdengar begitu berat menjadi sesuatu yang pertama kali Anara dapatkan, sebelum netranya menangkap gerakan Arsenio yang ragu-ragu meraih ponsel dan mengirimkan benda pipih itu ke hadapannya setelah layarnya terbuka.
Anara mengambil alih ponsel itu, untuk kemudian dibuat mengerti kenapa Arsenio terlihat galau sekali.
Pada room chat yang menampakkan nama kontak Zein itu, Anara menemukan sang lelaki menyodorkan ajakan untuk bertemu dengan Olin. Untuk yang terakhir kali, sebelum gadis itu terbang ke New York jam 11 siang nanti.
Anara mengerti kenapa Arsenio harus merasa segundah ini. Karena meski mereka telah sepakat untuk memulai segalanya dari awal, Anara tahu sekali bahwa melupakan seseorang yang telah berada cukup lama di sisi kita bukanlah sesuatu yang mudah. Pasti masih ada dorongan dari dalam diri Arsenio untuk mengiyakan ajakan Zein, namun di sisi lain, lelaki itu juga tidak ingin mengingkari janji kepada Noel untuk melepaskan semua masa lalunya dan meninggalkan mereka di belakang.
Paham bahwasanya hanya keyakinan dan izin dari dirinya yang akan membuat Arsenio lebih tenang, Anara pun mengembalikan ponsel milik lelaki itu diiringi senyuman.
“Pergi aja,” ucapnya. Tak ada keragu-raguan, sebab dia memberikan izin itu secara sadar dan penuh keikhlasan.
“Tapi—“
“Untuk berpamitan,” sela Anara.
“Kamu ... nggak apa-apa?” tanya Arsenio masih tampak ragu-ragu.
Anara mengangguk yakin, “Cuma untuk berpamitan, kan? Aku yakin kamu nggak akan gila dengan tiba-tiba beli tiket dadakan biar bisa kabur sama dia.” Gurau Anara disusul kekehan ringan.
Niatnya untuk bercanda, bukan sedang menyindir atau ada maksud terselubung yang lainnya. Namun, dia malah mendapati Arsenio terdiam dengan raut wajah yang suram.
Karena reaksi Arsenio yang begitu, jadi muncul ide jahil di kepala Anara. Kapan lagi dia bisa mengerjai ‘mantan’ manusia minim akhlak itu, kan? Mumpung ada kesempatan, lebih baik dia manfaatkan.
Maka sok-sokan terkejut, Anara menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Kamu beneran bakal bertindak gila kalau aku izinin ke sana?” tanyanya dibuat-buat sedramatis mungkin.
Aktingnya yang jauh dari kata natural berhasil membuat Arsenio mendelik tajam. “Annnnn....” desis lelaki itu penuh penekanan.
Karenanya, Anara terkekeh pelan. “Aku percaya kamu nggak akan ingkar janji sama Noel,” ucapnya, perlahan-lahan mengubah kekehan menjadi senyum hangat. Usapan pelan dia labuhkan ke bahu Arsenio, sebelum berlalu meninggalkan meja makan dengan perutnya yang semakin buncit dan berat.
...****************...
Sepasang mata terus mengawasi ke mana Zein bergerak. Tak sedetik pun ia lolos, seakan dirinya adalah tawanan perang yang tidak boleh memiliki celah untuk kabur sama sekali.
Di atas ranjang besarnya yang kali ini berbalut seprai warna biru bermotif antariksa, Olin duduk bersila dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Sepasang netra gadis itulah yang sejak tadi mengawasinya, menyegel pergerakannya hingga menjadi minim dan terbatas.
“Nggak bisa.” Sahut Zein. Walaupun ngeri-ngeri sedap, dia tetap memutuskan untuk tidak membatalkan rencananya.
Beberapa saat lalu, dia telah menerima balasan dari Arsenio atas pesan yang dia kirimkan subuh tadi. Lelaki itu menyetujui ajakan untuk bertemu bertiga dengan Olin, sebagai momen perpisahan sebelum mereka berpisah dan entah kapan bisa berkumpul bertiga lagi.
“Lo tahu gue masih muak banget sama dia.” Olin menekankan kata ‘dia’, enggan menyebut nama Arsenio yang padahal semat menjadi nama favorit dan selalu dia sebut-sebut di setiap kesempatan.
“Sama, gue juga muak sama dia.” Zein tidak mau kalah. Sedari tadi hanya bersandar di sisi pintu kamar, dia akhirnya berjalan mendekat. Untuk kemudian berhenti persis di sisi ranjang hingga dirinya bisa berhadapan langsung dengan Olin. “Tapi, ini adalah kesempatan terakhir buat kia bisa kumpul bertiga sebelum lo pergi. As a friends, bukan sebagai mantan kekasih atau apalah itu.”
Olin mendesah kasar. Tangannya yang bersilang lepas dari tautan, beralih mengacak-acak rambut panjangnya dengan gerakan kasar. Jujur saja, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Zein. Lelaki itu jelas tahu bahwa dirinya memutuskan pergi karena sudah muak sekali dengan nasib percintaannya yang sialan, tetapi bukannya membantu agar dia cepat melupakan sang mantan pacar, Zein malah meminta mereka untuk bertemu kembali.
“Lo better siap-siap sekarang. Arsenio tadi ngabarin mau on the way 15 menit lagi. Nanti kita jalan dulu cari sarapan sambil ngopi, habis itu langsung cus ke airport.” Zein mengatakannya dalam satu kali tarikan napas. Lalu sebelum kena amuk, dia bergegas pergi. Putar balik dan tancap gas. Meninggalkan Olin yang kemudian hanya bisa uring-uringan sendiri di atas kasur sampai membuat seprai yang semula rapi menjadi kusut tak berbentuk.
“Zein anak setan!”
...****************...
Apa yang kalian harapkan dari pertemuan sepasang mantan kekasih yang putus dengan cara yang tidak baik-baik? Perbincangan hangat mengingat masa lalu? Kalimat-kalimat baik dan saling mendoakan demi kebaikan masa depan bersama pasangan masing-masing? Well, siap-siap saja untuk kecewa karena pertemuan Olin dengan Arsenio jelas tidak akan menghasilkan hal-hal sepositif itu.
Yang satu masih marah, satu lagi masih merasa bersalah. Maka yang bisa kalian saksikan hanyalah interaksi serba salah. Zein selaku penggagas ide pertemuan terakhir ini juga tidak banyak membantu. Alih-alih berusaha membuat suasana mencair, lelaki itu malah sibuk dengan dunianya sendiri.
Bibirnya sibuk bergerak, suaranya mengalun begitu lancar mengikuti irama lagu yang terputar dari tape mobil. Sesekali akan kedengaran suara siulan, dengan euforia cerah yang berbanding terbalik dengan suasana suram di kursi penumpang belakang.
Mobil melaju cukup kencang karena jalanan lumayan lengang. Banyaknya perkantoran yang tutup di hari Sabtu dan Minggu membuat tidak banyak kendaraan yang berjubel di jalan seperti hari-hari lain ketika para karyawan berjibaku untuk sampai tepat waktu ke tujuan.
Setelah melewati beberapa belokan, Zein melakukan mobilnya menuju salah satu restoran yang cukup terkenal dengan menu-menu western dan racikan kopinya yang mantap.
Tanpa meminta persetujuan lebih dahulu dari dua penumpang yang dia bawa, lelaki yang warna rambutnya sudah berubah lagi menjadi hitam legam itu memarkirkan mobil di slot yang tersedia dan langsung melompat turun setelah melepaskan seatbelt dari tubuhnya.
Masih dengan semaunya sendiri, Zein melangkah meninggalkan mobilnya. Sambil bersiul dan iseng memutar-mutar kunci di jari telunjuknya yang panjang.
Sementara di dalam mobil yang dia tinggalkan, Olin dan Arsenio masih tak bergerak barang sejengkal. Tatapan keduanya sama-sama tertuju pada Zein yang sudah hampir mencapai pintu masuk restoran. Dan ketika pada akhirnya Zein meraih kenop pintu, Olin mendesah kasar.
“Emang bener-bener anak setan!” serunya. Lantas pada detik setelah itu, Olin langsung menyusul Zein dengan langkah yang mengentak-entak.
Tinggallah Arsenio sendirian di dalam mobil. Di mana kepalanya mulai kembali ribut dan dia sekali lagi bertanya; sudahkah keputusannya untuk datang ke sini adalah tepat?
Bersambung....