Losing Us

Losing Us
That's Okay



Seakan tidak puas mengerjai Anara seharian, Olin sepertinya masih ingin bertindak lebih dengan keputusannya untuk menginap.


Ketika Anara sedang membalurkan krim malam ke wajahnya untuk menghindari datangnya kerutan, pintu kamarnya dibuka dari luar dan Olin dengan tidak sopannya langsung menyelonong masuk. Gadis itu bilang, dia datang ke kamar Anara untuk meminjam baju tidur. Namun dari gerak-gerik yang dia tunjukkan sedari tadi, Anara tahu Olin sebenarnya sedang mencari sesuatu yang lain.


Tidak ada satu titik pun bagian di kamar Anara yang luput dari pengamatan Olin. Bahkan setelah perempuan itu berhasil mendapatkan satu set baju tidur berbahan satin berwarna abu-abu tua, gadis itu masih berdiri di depan lemari pakaian Anara yang pintunya dibiarkan terbuka lebar.


Anara tidak punya energi untuk menegur atau sekadar bertanya apa lagi yang Olin butuhkan dari dalam kamarnya, karena energinya sudah terkuras habis oleh gadis itu dengan berbagai macam keinginan tidak masuk akal yang dilontarkan tanpa henti sejak pagi.


“Gala beneran enggak tidur sama lo, kan?” tahu-tahu, Olin berbalik. Manik hazelnya menatap Anara dengan sorot kebencian yang kentara. Sementara bibirnya yang merah merona tampak membentuk garis lurus yang sama sekali tidak ramah. Antagonis sekali.


“Enggak.” Anara menjawab jujur.


Sebetulnya, sempat terbersit di kepala Anara untuk mengerjai Olin sebagai bentuk aksi balas dendam. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Olin kalau tahu kekasih yang dia cintai itu tidur dengan perempuan lain.


Namun, Anara urung melakukannya karena ia sadar, dirinya tidak serendahan itu untuk berbohong demi membalaskan sebuah sakit hati yang tidak seberapa. Well, Anara pun tidak yakin bahwa perlakuan Olin sampai membuatnya merasa sakit hati. Anara hanya sedikit merasa kesal.


Mendengar jawaban Anara, Olin tidak langsung bereaksi. Gadis itu masih terus menatap Anara secara intens, hingga pada detik ke berapa puluh, dia akhirnya mengembuskan napas pelan dan mengangguk.


“Bagus.” Ucapnya. Pintu lemari akhirnya dia tutup dengan gerakan yang kasar, lalu dia berjalan mendekat ke arah Anara, menyisakan hanya dua langkah yang terbentang. “Lo harus ingat kalau Gala itu punya gue. Selamanya akan tetap begitu. Jadi gue harap, lo sadar diri dan enggak berusaha buat deketin Gala. Karena lo tahu, itu semua akan percuma.”


Ya, ya. Silakan bicara dengan pintu lemari yang barusan kamu banting itu, Olin. Karena Anara sama sekali tidak peduli. Lagian, siapa juga yang bernafsu untuk merebut Arsenio dari kamu? Dilihat dari segi mana pun, Anara sadar diri bahwa ia tidak akan cukup mampu untuk menyaingi eksistensi seorang Flora Calantha Orlin.


Alih-alih segerombolan kalimat itu, yang Anara katakan kepada Olin adalah, “Kamu tenang aja, aku enggak akan ngelakuin itu.” Yang justru membuat ia berakhir merasa seperti seorang pecundang.


“Good girl.” Olin berkata dengan nada mengejek, lalu berjalan keluar meninggalkan kamar Anara tanpa sepatah pun ucapan terima kasih untuk satu set piama yang telah ia pinjamkan.


“Padahal itu piama kesayangan aku.” Keluh Anara dengan suara pelan setelah Olin menghilang dari pandangan—tanpa menutup kembali pintu kamar.


Ha... Menyebalkan. Kenapa orang-orang selalu gemar membuka pintu, tapi enggan untuk menutupnya kembali? Tidakkah mereka sadar bahwa itu menyebalkan dan sekaligus merepotkan? Tentu, mereka tidak kepikiran soal itu. Kalau mereka kepikiran, mereka tidak akan melakukannya secara terus-menerus, benar?


“Sabar, An. Orang sabar disayang Tuhan.” Sembari menutup pintu, Anara mencoba menghibur dirinya sendiri.


Tubuh Anara lelah, matanya memerah, dan ia sudah berkali-kali menguap. Namun, sampai sekarang, ketika jam di ponsel miliknya sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari, Anara masih tidak bisa memejamkan mata.


Sudah berkali-kali ia mencoba untuk tertidur. Berbagai macam cara juga sudah dia lakukan untuk mengundang kantuk agar segera datang, namun tidak satu pun dari cara itu yang berhasil.


Akhirnya, Anara menyerah. Ia bangkit dari posisi rebahan yang sudah dia ubah berkali-kali. Terduduk sebentar di atas kasur sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan mendekati pintu kaca menuju balkon. Gorden ia sibakkan hingga paling ujung. Melalui kaca yang tembus pandang, Anara disuguhkan pemandangan gelapnya malam di luaran. Pepohonan tinggi di seberang jalan tampak bergoyang ke kanan dan ke kiri, mengikuti irama simfoni malam yang hanya mereka-mereka saja yang bisa mendengarnya.


Anara menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata dalam hitungan satu sampai delapan sebagai upaya untuk menenangkan gejolak tidak nyaman di dalam diri. Ini bukan soal Arsenio yang masih mencintai Olin. Ini soal dirinya, yang sedang berusaha untuk tidak hanyut pada perasaannya sendiri. Demi menjaga agar mereka bertiga tetap aman di tempat mereka masing-masing.


Setelah merasa lebih baik, Anara kembali membuka mata. Tapi bukan berarti kantuk lantas datang menyambang begitu saja. Tidak. Ia masih tidak merasakan apa pun menggelayut di kelopak matanya. Anara sepenuhnya tersadar, badannya yang lelah menolak untuk beristirahat karena kepalanya masih cukup berisik dengan berbagai macam hal.


“Mama sama Papa pasti lihat semuanya dari atas sana, kan?” tanya Anara, pada pantulan wajah kedua orang tuanya yang tampak samar di kejauhan langit malam. “Jangan marah, ini semua bukan salah Arsenio atau Olin.” Sambung gadis itu.


“An yang datang ke dalam hidup mereka, dan yang seperti ini juga bukan apa-apa.” Anara mengambil jeda untuk menarik napas, memenuhi dadanya hingga menggembung. “Kalau ada yang paling terluka di sini, orangnya justru adalah Olin, Ma, Pa. Jadi tolong, jangan benci mereka.” Ia melanjutkan.


Sebagai manusia, Anara tentu memiliki sisi egois yang liar di dalam kepala. Ada kalanya ia ingin bertindak semaunya, demi mendapatkan kenyamanan di dalam hidup yang singkat ini. Namun, karena ia tumbuh dan besar di dalam lingkungan yang tidak pernah mengajari untuk menjadi jahat terhadap orang lain, maka keegoisan itu hanya ia biarkan meliar di kepala, tidak ia loloskan sama sekali karena Anara tahu, ketika ia melakukannya, ia akan menyakiti banyak orang.


“Pokoknya, Mama sama Papa tenang aja, oke? Everything will be alright, kayak yang selalu An bilang ke kalian.” Entah pukul berapa, Anara mengakhiri sesi curhat itu dengan bayangan kedua orang tuanya yang tidak pernah menanggapi apa-apa.


Kemudian, setelah menarik napas sekali lagi, Anara kembali ke ranjang. Mau tidak mau, bisa tidak bisa, ia harus tetap tidur. Sebab menghadapi hari esok yang masih penuh misteri selalu membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.


Untuk berjaga-jaga, takut berbaringnya ia tidak akan menghasilkan apa-apa, Anara memutar musik melalui ponsel. Suara lembut milik penyanyi Korea, Do Kyung Soo, atau yang lebih akrab disapa D.O mengalun di telinga.


Anara mulai memejamkan mata dan mencoba meresapi lirik yang D.O nyanyikan. Meski tidak fasih, ia bisa sedikit berbahasa Korea. Jadi, tidak sulit untuk menerjemahkan bait demi bait ke dalam bahasa Indonesia, untuk lebih ia pahami artinya.


Dan sama seperti sepenggal lirik yang kurang lebih artinya seperti ini; “Kekhawatiran yang tak terucapkan, menjadi luka yang kian dalam. Namun waktu selalu berjalan dengan kecepatan yang sama, dan ia akan menghapuskan segala kekhawatiran itu nantinya. Meski hidup berjalan begitu, tidak apa-apa.” Anara juga berharap bahwa kehidupan mereka—Anara, Olin, dan Arsenio—akan baik-baik saja ke depannya. Ia harap, mereka akan terus bisa berjalan di jalan masing-masing tanpa harus banyak melukai satu sama lain.


Bersambung