Losing Us

Losing Us
Haruskah Merasa Senang?



Anara tersentak kala lengannya ditarik secara tiba-tiba dari arah belakang. Ponsel yang dia pegang pun terjatuh ke lantai, berbenturan dengan pecahan gelas sehingga menimbulkan bunyi bising di tengah heningnya malam.


“Minggir.” Suara berat Arsenio yang terdengar serak membuat bulu kuduk Anara meremang. Takut-takut, ia melirik ke arah Arsenio yang berdiri tegak di sampingnya, masih setia mencengkeram lengannya.


Waktu serasa berjalan lambat saat Anara diam-diam mengamati paras rupawan Arsenio yang masih tampak jelas di bawah penerangan yang minim. Saat tadi turun ke dapur untuk mengambil segelas air, Anara memang sengaja tidak menyalakan lampu karena menurutnya itu terlalu merepotkan. Namun, ia malah berakhir membuat keributan karena tidak sengaja menyenggol gelas yang ada di meja makan karena penglihatan yang terbatas.


“Besok-besok sediain air minum di kamar, biar lo nggak perlu turun ke dapur tengah malam begini.” Kata Arsenio sebelum melepaskan tangannya dari lengan Anara.


Ada perasaan aneh saat kontak fisik itu berakhir. Anara seperti merasakan kekosongan yang asing. Padahal, sebelum ini, ia baik-baik saja. Lagi pula, bagaimana bisa kontak fisik sederhana seperti itu membuat jantungnya berdebar tak keruan? Bukankah terlalu tidak masuk akal?


Anara melihat Arsenio membereskan pecahan gelas dengan cekatan. Laki-laki itu tampak begitu teliti memunguti serpihan yang kecil, memastikan tidak ada yang tertinggal. Setelah itu, Arsenio bangkit. Ia bawa serta pecahan gelas yang sudah berhasil dia kumpulkan dalam sebuah kantong kresek menuju tempat sampah dekat wastafel cuci piring. Anara hanya bisa diam mengamati setiap pergerakan laki-laki itu.


“Ada yang luka enggak?” tanya Arsenio setelah kembali berdiri di depan Anara.


Perlu sedikit mendongak agar Anara bisa menyejajarkan pandangan. Lalu tubuhnya mendadak terasa kaku saat matanya bersirobok dengan manik kelam Arsenio yang terasa menyesatkan.


Napas Anara terasa sulit. Tenggorokannya terasa tercekat dan jantungnya serasa berhenti berdetak selama beberapa detik saat tangan kecilnya tiba-tiba ditarik oleh Arsenio. Dan hal yang selanjutnya dilakukan oleh laki-laki itu sukses membuat Anara kehilangan stok kosakata di dalam kepala.


Perlahan, Arsenio membolak-balik tangan Anara. Menelisik dengan teliti kalau-kalau ada bagian tangan gadis itu yang terluka. Lelaki itu berdecak ketika menemukan sebuah luka gores yang lumayan panjang di dekat jari kelingking Anara. Walau tak mengeluarkan darah dengan heboh, namun luka itu tetap saja meninggalkan rasa perih yang lumayan.


Tanpa berkata apa-apa, Arsenio menarik lengan Anara lalu semena-mena menarik kursi dan mendudukkan gadis itu di sana. Lelaki itu kemudian berlari ke ruang tengah, untuk kembali tak lama kemudian dengan membawa sebuah kotak P3K. Arsenio berjongkok sembari mengeluarkan obat merah dan plester luka dari dalam kotak P3K yang ia letakkan di lantai.


Anara bisa merasakan bagaimana telatennya Arsenio saat mengoleskan obat merah ke luka di tangannya. Luka seperti itu sudah sering ia dapatkan ketika dulu merecoki Mama di dapur. Luka sekecil ini benar-benar tidak berarti banyak.


Akan tetapi, kenapa Arsenio tampak begitu peduli? Pada luka sekecil ini?


“Cuma luka kecil, Arsenio. Enggak perlu pakai plester.” Anara menarik tangannya saat Arsenio hendak menempelkan plester luka dengan motif bunga-bunga warna kuning.


Namun, Arsenio dengan cepat menahan tangannya. Pada akhirnya, Anara hanya bisa pasrah saat laki-laki itu melanjutkan kegiatannya.


“Enggak ada yang namanya luka kecil atau besar. Yang namanya luka, tetap harus dirawat supaya enggak infeksi.” Kata Arsenio. Usai mengatakan itu, dia berlalu membawa kotak P3K.


Yang Anara bisa lakukan hanya memandangi punggung tegap Arsenio yang bergerak menjauh dan perlahan-lahan menghilang di balik belokan, lalu menghela napas kemudian.


Arsenio masih terlihat terlalu jauh untuk bisa dia gapai. Jangankan berharap untuk bisa dicintai oleh laki-laki itu, untuk sekadar berteman saja tampaknya masih terlalu sulit. Bahkan setelah beberapa kali mereka berinteraksi belakangan ini.


Salah Anara sendiri. Kenapa ia setuju untuk menikah dengan laki-laki yang sudah memiliki kekasih? Bukankah keterlaluan kalau ia masih berani protes tentang sikap Arsenio yang dingin kepada dirinya? Anara harus sadar akan posisinya, kan? Karena sampai kapan pun, yang ada di hati Arsenio tetap bukan dia, melainkan Olin sang kekasih tercinta.


Anara baru akan mendudukkan diri di kasur saat pintu kamarnya diketuk pelan. Akhirnya, ia bangkit lagi, berjalan menuju pintu dengan hela napas yang diembuskan beberapa kali.


Saat pintu terbuka, Anara mendapati Arsenio berdiri di sana. Menatap datar selama beberapa detik sebelum akhirnya menyodorkan sebuah botol air minum berukuran 2 liter ke arahnya.


Alis Anara bertaut bingung. Untuk apa Arsenio memberinya botol air minum sebesar ini? Kalau ini dilakukan hanya agar Anara tidak berkeliaran di dapur pada tengah malam dan bisa saja memecahkan gelas hingga mengganggu tidurnya, agaknya terlalu berlebihan. Memangnya, Arsenio pikir Anara ini semacam sapi gelonggongan yang perlu minum banyak air dalam waktu satu malam?


“Biar enggak perlu turun ke dapur.” Kata Arsenio. Nada suaranya sedatar raut wajah yang dia suguhkan.


“Makasih.” Meskipun demikian, Anara tetap menerima botol minum berwarna biru muda dengan tempelan stiker lucu yang memenuhi seluruh body botol.


Anara agak tidak siap ketika Arsenio mengalihkan botol ke tangannya sepenuhnya. Karena ternyata, botol minum itu lumayan berat. Ah, ia sejenak lupa kalau kapasitasnya 2 liter. Tapi, kenapa Arsenio harus mengisinya sampai penuh?


“Berat.” Ia refleks merengek, namun Arsenio tampak tidak peduli. “Kalau cuma buat semalam mah enggak perlu air sebanyak ini, Arsenio.” Ucap Anara lagi, masih memasang ekspresi melas.


Dan sekali lagi, Arsenio tampak tidak peduli. Raut wajahnya masih saja datar. Hanya saja, sekarang sudah ditambah dengan kedua tangan yang bersilang di depan dada. Membuat Anara merasa seperti seorang murid TK yang sedang dimarahi oleh gurunya karena berebut mainan dengan teman.


“Buat seharian. Kalau gue lihat-lihat, lo ini anaknya emang ceroboh, jadi gue harus antisipasi.” Tutur lelaki itu. “Lo bisa mecahin gelas kapan aja, enggak melulu malam hari doang. Kalau sehari lo mecahin satu gelas, lama-lama gelas di rumah kita bakal habis.”


Anara melongo mendengar penuturan Arsenio yang terdengar berlebihan, tapi juga masuk akal di saat yang bersamaan. Harus Anara akui, ia memang ceroboh. Dan Arsenio benar soal kemungkinan dirinya yang akan sering memecahkan gelas.


“Ngapain bengong di situ? Balik tidur sana!” ketus Arsenio, membuat Anara sampai mengerjap cepat saking terkejutnya.


“Ya kamunya masih berdiri di situ.” Anara mendumal pelan.


“Ini gue mau pergi. Sana, tutup pintu!” ucap Arsenio lagi masih dengan nada ketusnya. Lalu lelaki itu ngeloyor begitu saja seperti seseorang yang tidak punya dosa. Meninggalkan Anara yang melongo seperti orang bodoh.


Tapi, belum sampai Anara menutup pintu, Arsenio tahu-tahu menghentikan langkah dan kembali bersuara sehingga membuatnya mau tidak mau kembali membuka lebar pintu kamarnya.


“Makasih makanannya tadi siang. Enak.” Sudah. Hanya begitu saja dan Arsenio kembali berlalu.


Sementara Anara dibiarkan berkutat dengan pikiran saya sendiri, untuk sekadar memutuskan; apakah ia harus merasa senang atas ucapan terakhir Arsenio barusan?


Bersambung