Losing Us

Losing Us
Sisi Lain



Bagaimana sosok Arsenio di kantor selama ini sangat jauh dari bayangan Anara. Melihat betapa galaknya lelaki itu kepada dirinya sewaktu awal menikah dulu, dia pikir Arsenio juga merupakan sosok pemimpin yang arogan dan ditakuti para karyawan. Tapi nyatanya, alih-alih merasa takut, mereka malah terlihat hormat dan segan pada suaminya itu.


Sedari mereka baru masuk saja, beberapa karyawan yang berpapasan sudah menyapa mereka dengan begitu ramah dan hangat. Bukan jenis sapaan basa-basi atau sekadar formalitas, tetapi betulan jenis sapaan yang akan kalian berikan kepada seseorang yang kalian segani, entah di mana pun kalian berada.


Bukan hanya para karyawan, tak jarang Anara juga menemukan Arsenio menyapa mereka terlebih dahulu. Sepenuhnya menyingkirkan peraturan tak tertulis bahwa bos dan karyawan memiliki jarak yang jauh.


“Pagi, Pak Arsen.” Sapa seroang perempuan muda berambut pendek sebahu. Warna cokelat tua, senada dengan warna bola mata sang empunya.


“Pagi, Cleo.” Arsenio menyapa balik. Dan sebelum langkahnya berlanjut ke ruang kerja, dia berhenti sebentar di depan meja perempuan itu. “Hari ini saya bawa istri saya, jadi kalau bisa tolong minimalisir orang yang lalu-lalang ke ruangan saya, ya.” Pintanya.


“Baik, Pak.” Cleo, sang sekretaris, mengangguk paham. Tak lupa juga memberikan senyum terbaiknya kepada Anara, yang dibalas senyum serupa oleh istri bosnya itu.


Kemudian, mereka melanjutkan langkah.


Arsenio mendorong pintu berwarna hitam di hadapan, membukanya lebar-lebar agar Anara bisa masuk lebih dulu. Sedangkan yang dibukakan pintu malah termenung cukup lama memandangi segala sisi di dalam ruang kerjanya itu.


“An,” tegurnya. Karena sepertinya, Anara sedang melamun.


Tak menjawab, Anara hanya melanjutkan langkah. Pandangannya masih berkeliling. Menyapu setiap sudut dan memastikan tidak ada yang terlewat.


Ini adalah kali pertama Anara menginjakkan kaki di kantor Arsenio sejak resmi menjadi istrinya, jadi dia ingin memindai seperti apa ruangan tempat suaminya bekerja selama ini, untuk kemudian dia simpan di dalam kepala.


“Kamu duduk aja di sofa itu,” tunjuk Arsenio, pada sebuah sofa panjang di sisi kanan meja kerjanya. Sofa berwarna cokelat gelap itu biasanya dia pakai untuk rebahan ketika sedang lelah bekerja. Atau ketika dia malas makan dan lebih memilih untuk tidur siang.


Anara menurut. Segera mendudukkan diri di sofa empuk itu meski pandangannya masih belum selesai berkeliling.


“Berhubung ini adalah hari Senin, kerjaan aku udah pasti bakal banyak. Jadi, kalau kamu bosan, kamu bisa main game atau nonton film dari sini.” Kata Arsenio seraya menyodorkan sebuah tab keluaran terbaru.


Anara menerima tab itu, terpaksa mengakhiri kegiatannya mengamati sekitar karena tiba-tiba saja dia merasa penasaran akan satu hal. Sebenarnya tidak penting-penting amat untuk ditanyakan, tetapi agaknya bakal mubazir juga kalu hanya dia simpan di dalam kepala.


“Arsenio,” maka dia memanggil sebelum suaminya kembali ke mejanya dan mulai sibuk bekerja.


“Apa?”


“Kamu emang selalu ramah begitu ya sama semua karyawan?”


Tampak Arsenio menaikkan sebelas alisnya, meski tidak terlalu tinggi. “Iya, kenapa emangnya?” jawab lelaki itu, sekaligus memberikan pertanyaan balik.


“Nggak apa-apa, sih. Nggak nyangka aja.”


Nah, sekarang, alis Arsenio terangkat semakin tinggi. “Nggak nyangka kenapa?”


“Ya nggak nyangka. Kamu kan dulu galak banget sama aku, baiknya cuma sama Bunda dan Olin, jadi aku pikir kamu emang orangnya galak selain ke mereka.”


“Enggak, aku galak cuma sama kamu doang.” Aku Arsenio.


Sekarang, giliran Anara yang tampak kebingungan. “Kenapa?”


“Karena aku marah sama keadaan kita waktu itu.” Jawab Arsenio. Masih ada rasa perih ketika dia ingat lagi seberapa buruk dia memperlakukan Anara dulu. “Aku marah karena kita nggak bisa berbuat apa-apa untuk keluar dari situasi itu, dan kebetulan cuma ada kamu yang bisa jadi sasaran kemarahan aku.”


“Itu dulu,” sambung Arsenio lagi, sebelum pikiran Anara melayang ke mana-mana. “Sekarang, aku udah enggak marah pada apa pun. Aku udah menerima segala hal yang terjadi sebagai sebuah ketentuan, jadi aku enggak akan meluapkan kemarahan kepada siapa pun, apalagi ke kamu.”


“Aku mau hidup, dengan mencintai takdir Tuhan.”


...****************...


Hari Senin memang betulan sibuk. Baru saja selesai makan siang, Arsenio sudah mendapatkan panggilan untuk menghadiri meeting dengan seorang klien dari luar kota. Segala hal sudah dipersiapkan oleh Cleo, dia hanya perlu melangkahkan kaki ke ruang meeting dan bersiap menumpahkan buah pikirannya selama pertemuan itu berlangsung.


“Aku tinggal dulu, kamu di sini aja, jangan ke mana-mana.” Pesannya sebelum pergi meninggalkan ruangan. Cleo sudah menunggu di depan pintu, setia menahan pintu berat itu agar sang bos bisa lewat tanpa hambatan.


“Iya.” Anara mengangguk patuh.


Arsenio mengangguk sekilas, lalu balik badan dan mulai melangkah. Namun, baru tiga langkah, dia berbalik cepat dan kembali ke hadapan Anara.


“Apa?” tanya Anara kebingungan.


“Kiss dulu, biar lebih semangat.” Pintanya seraya menunjuk pipi kiri dan tubuh yang sedikit membungkuk ke arah Anara.


“Nggak usah aneh-aneh,” Anara berdesis. Netranya melirik tak enak ke arah Cleo yang sudah menunggu cukup lama. Tapi perempuan itu malah kelihatan mengulum senyum.


“Kiss.” Pinta Arsenio lagi.


Anara menghela napas jengah. Lagi-lagi, dia harus mengalah. Satu kecupan dia daratkan ke pipi kiri Arsenio, satu lagi ke pipi kanannya karena lelaki itu minta nambah.


“Thank you,” dan sialnya, lelaki itu malah mencuri satu kecupan dari bibirnya sebelum kabur dengan langkah seribu. Meninggalkan dirinya yang mematung dan menahan malu karena apa yang Arsenio perbuat disaksikan oleh Cleo.


“Sabar, An ... sabar....” ucapnya kepada diri sendiri, seraya mengusap dadanya berkali-kali. Cukup ingat saja bahwa Arsenio memang absurd, supaya dia tidak terus-menerus terkejut dengan tingkahnya yang di luar nalar.


Beberapa menit pertama setelah ditinggalkan, Anara hanya duduk diam di atas sofa. Sambil scroll sosial media untuk melihat berita terbaru dari dalam maupun luar negeri. Sampai ujung-ujungnya, dia bosan juga. Sebab berita yang beredar semuanya sama. Hanya soal kasus pembunuhan yang kembali ramai diperbincangkan dan menimbulkan banyak sekali spekulasi perihal keanehan dalam jalannya persidangan.


Muak, Anara meninggalkan ponselnya di atas sofa. Berjalan menuju meja kerja Arsenio yang membelakangi jendela kaca. Dari jendela kaca itu, dia bisa melihat ke arah jalanan. Di mana terik matahari tak menyurutkan niat untuk orang-orang di luar sana tetap bergelut mencari rezeki.


Berdiam diri sejenak, Anara akhirnya duduk di kursi kerja Arsenio. Jemarinya bergerak iseng, menyentuh satu demi satu benda yang ada di meja kerja lelaki itu. Merasakan setiap tekstur yang berbeda dan meresapinya dengan kedua mata terpejam.


Tak banyak yang bisa Anara rasakan. Itu hanya seputar tekstur kertas dan kayu, sampai kemudian dia merasakan ada satu lembar kertas yang teksturnya terasa lebih tebal dan tajam ketimbang yang lainnya.


Anara membuka mata. Menemukan jemarinya berhenti pada selembar foto yang terselip di antara tumpukan berkas.


Biasanya, Anara tidak pernah sekepo itu pada benda milik orang lain. Orang tuanya selalu mengajarkan untuk tidak menyentuh milik siapa pun tanpa seizin sang empunya. Tetapi kali ini, entah kenapa dia ingin sekali menarik selembar foto itu.


Dan, dia melakukannya.


Dengan ringan, jemarinya bergerak menarik lembaran yang cukup tebal. Pelan-pelan membawa lembaran itu ke hadapan. Hanya untuk dibuat termenung ketika tahu bahwa lembaran foto itu berisi potret seorang wanita. Berambut panjang, dan sangat dia kenal.


“Ini kan....”


Bersambung....