Losing Us

Losing Us
Sakit



Baru saja hendak mencari posisi nyaman untuk tidur, ponsel Anara berdering, membuatnya harus bangun dan mengangkat telepon yang masuk.


Nama kontak Arsenio yang sudah dia tambahi emotikon wajah orang mengamuk di belakang terpampang di layar, membuat Anara memutar bola mata kesal.


“Halo.” Sapanya agak ketus. Malas sekali dia sebenarnya harus berbincang dengan Arsenio sekarang. Tapi daripada nanti mereka ribut, ya mau tak mau tetap dia angkat.


“Lo di mana?” tanya lelaki itu tidak kalah ketusnya.


“Hotel.” Jawab Anara singkat. Pikirnya, tumben sekali suami cueknya itu peduli dia ada di mana. Bukankah biasanya lelaki itu bahkan tidak peduli apakah dia masih bernapas atau tidak? Aneh sekali.


“Ngapain? Kenapa enggak bilang dulu sama gue?”


Anara menjauhkan ponsel sejenak, memaki Arsenio dengan bibir yang komat-kamit tanpa suara. Setelah puas, barulah dia tempelkan lagi ponsel itu ke telinga dan dia menjawab pertanyaan Arsenio. “Mau staycation, bosan di rumah. Kamu juga biasanya enggak peduli aku mau ngapain, jadi buat apa juga aku minta izin?”


“Enggak bisa seenaknya gitu, lah. Ini rumah gue, lo harus izin kalau mau keluar masuk!”


Oh, hanya karena dia menumpang, makanya Arsenio merasa punya hak untuk melarang. Begitu? “Yang penting kan sekarang udah tahu. Lagian kamu kenapa deh tiba-tiba peduli banget?”


Bukannya menjawab soal pertanyaan tentang mengapa ia tiba-tiba peduli, Arsenio malah kembali mengomel. “Gue enggak mau tahu, besok pagi lo langsung pulang! Jangan mentang-mentang Bunda lagi enggak ada, terus lo bisa seenaknya, ya.” Kemudian telepon dimatikan.


Anara menghela napas panjang. Dipandanginya layar ponsel yang redup itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mematikan ponselnya agar Arsenio tidak bisa lagi menghubungi.


“Enak aja main nyuruh aku pulang, ini aku udah bayar buat staycation tiga hari, tahu!” Anara mengomel seorang diri, lalu ponsel yang sudah mati dia masukkan ke dalam laci nakas di samping ranjang.


Tak mau ambil pusing soal omelan Arsenio yang tidak penting, Anara kembali membaringkan tubuhnya. Selimut dia tarik hingga ke batas leher, lalu dia memejamkan mata dan mulai membayangkan hal-hal indah sebagai rutinitas yang dia gemari akhir-akhir ini sebelum dia masuk ke alam mimpi.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Perut Anara rasanya tidak nyaman. Mual yang berlebih hingga membuat cairan lambung naik sampai ke tenggorokan. Ia pun berlarian tunggang-langgang, masuk ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan cairan berwarna kekuningan.


Napasnya tersengal-sengal, peluh bercucuran membuat seluruh tubuhnya terasa dingin dan lembab. Setelah merasa kondisi perutnya lebih baik, Anara terduduk lemas di lantai lamar mandi. Closet dia tutup setelah sebelumnya selesai diflush. Kemudian, dia merebahkan kepalanya yang juga mulai terasa berdenyut di atas closet yang tertutup.


Selama beberapa lama, Anara memejamkan mata. Sambil mengingat kembali, kira-kira dia ada salah makan apa kemarin sehingga sekarang, pagi-pagi sekali, dia harus mengalami mual tak tertahankan seperti ini.


Dipikir-pikir, Anara tidak menemukan yang salah. Dia tidak memiliki riwayat penyakit mag atau asam lambung yang bisa memicu hadirnya mual seperti tadi. Pun dengan kopi, dia tidak memiliki masalah dengan minuman itu. Lambungnya baik-baik saja, bisa menerima cairan pekat itu dengan baik.


Merasa sudah terlalu lama berada di kamar mandi, Anara pun bangkit secara perlahan. Mual sudah tidak terasa, tetapi kepalanya masih terasa berat dan tubuhnya mendadak terasa lemas.


Dinding kamar mandi yang dingin menjadi tumpuan yang membantu Anara kembali ke kamar. Langkahnya yang tertatih berhasil membawanya sampai ke ranjang, dan dia langsung merebahkan diri dengan posisi meringkuk memegangi perut.


Beberapa menit dalam posisi itu, ia kembali harus bangkit karena bel di kamarnya berbunyi. Itu pasti layanan room servis, datang untuk mengantarkan menu breakfast yang memang sudah dia tuliskan di memo dan dia tempel di depak pintu kamar. Anara terlalu introvert untuk bersedia turun ke restoran hotel untuk mengambil sarapan, jadi dia memang selalu memanfaatkan layanan room service kapan pun dia menginap.


Pintu kamar dia bukan, lalu seorang pekerja hotel laki-laki berpakaian rapi dengan dasi kupu-kupu berwarna merah minta izin masuk untuk meletakkan menu makanan pesanannya. Setelah itu, si pekerja tadi langsung pamit undur diri dan Anara kembali sendirian.


Anara melirik sarapan yang diletakkan di atas meja dengan tanpa minat. Meskipun salad sayur yang disiram dengan saus khusus itu terlihat segar, dia tetap tidak memiliki selera untuk melahapnya. Sama halnya dengan sepiring nasi goreng berhiaskan telur mata sapi yang sempurna. Ujung-ujungnya, Anara cuma mengambil air mineral berukuran kecil dan menenggaknya hingga tanda.


Sarapan tidak Anara sentuh. Karena kepalanya masih belum membaik, dia akhirnya kembali membaringkan diri di atas kasus. Sementara ini, akan dia tunggu sampai nanti siang. Kalau keadaannya masih tidak membaik juga, barulah dia akan pergi keluar untuk memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat.


Bersambung