
Suatu ketika, Arsenio menemukan dirinya berada di sebuah padang rumput yang luas. Hijaunya begitu memanjakan mata. Membuat Arsenio sejenak lupa pada kenyataan bahwa ia sedang berada di sebuah tempat yang asing.
Dari kejauhan, terdengar suara gelak tawa anak-anak. Riuhnya yang gembira memancing Arsenio untuk berjalan mendekat. Mencari tahu apa gerangan yang tengah anak-anak itu lakukan hingga tawa mereka meledak begitu meriah.
Semakin jauh kaki Arsenio melangkah dari tempat awal ia berpijak, semakin banyak pula yang bisa lelaki itu saksikan. Tak hanya rerumputan hijau, ia juga menemukan bunga-bunga liar berbagai macam warna tumbuh subur di beberapa titik. Warna-warni cantik itu membuat langkah Arsenio terhenti. Hanya untuk memandangi mereka satu persatu dengan kekaguman yang terpancar dari kedua bola matanya.
Riuh suara tawa yang terdengar semakin dekat menjadi alarm yang berhasil membuat Arsenio kembali tersadar. Ditinggalkannya bunga warna-warni, untuk kembali melangkah mencari tahu keberadaan anak-anak itu.
Semerbak aroma bayi menguar ketika netra Arsenio akhirnya berhasil menemukan sekumpulan anak-anak tengah bermain di pinggiran sebuah sungai. Gemercik suara airnya berpadu apik dengan gelak tawa mereka. Tanpa sadar berhasil membuat Arsenio ikutan menciptakan lengkungan di bibirnya.
Arsenio berjalan mendekat. Ingin bergabung dengan sukacita yang tengah anak-anak itu rayakan dengan cara yang begitu sederhana.
Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika menemukan satu anak perempuan yang terpisah dari gerombolan.
Anak itu duduk sendirian di bawah pohon maple berdaun kemerahan. Memeluk kedua kakinya yang tertekuk dengan wajah yang tertunduk. Tidak ada suara isak tangis yang terdengar, namun Arsenio bisa melihat bahu anak itu sedikit bergetar.
Meninggalkan sekumpulan anak-anak yang kini berlarian mengitari area dekat sungai, Arsenio membelokkan arah langkah. Dihampirinya anak perempuan yang menangis sendirian tanpa suara itu dengan perasaan yang harap-harap cemas. Entah kenapa, dia mendadak merasa gelisah.
Arsenio yakin jaraknya dengan anak perempuan itu tidak terlalu jauh, tetapi ketika kakinya sudah melangkah cukup lama, ia menemukan jarak mereka masih terbentang segitu-gitu saja. Seakan sedari tadi ia hanya berjalan di tempat. Cosplay menjadi aktor pantomim di sebuah panggung pertunjukan.
Perasaan gelisah menggerogoti Arsenio semakin hebat. Kakinya dipaksa mengayun lebih lebar hingga napasnya pun menjadi ngos-ngosan. Namun sekali lagi, ia hanya seperti berjalan di tempat.
Keadaan ini membuatnya teringat kembali pada mimpi buruk yang dia dapatkan di malam yang lalu. Ketika dia menemukan dirinya berada di lorong sepi nan gelap dan berakhir menangis tersedu-sedu.
Sedih, marah dan frustrasi menjadi satu. Arsenio masih berusaha mengayunkan langkah meski belum juga ada kemajuan. Sampai kemudian, anak perempuan yang hendak ia tuju mengangkat kepala dan menyuguhkan wajah sembab kemerahan.
Tetapi, bukan itu yang membuat Arsenio merasakan ngilu teramat sangat di dadanya. Melainkan fakta bahwa anak perempuan itu memiliki fitur wajah (terutama mata) yang sama persis dengan Anara. Anak itu terlihat seperti sosok Anara di masa kecilnya.
“An,” Arsenio berucap, namun entah apakah suaranya betulan keluar atau dia hanya mengucapkan satu kata itu melalui gerak bibirnya.
Anak perempuan itu tidak menyahut. Jarak mereka pun masih cukup jauh untuk Arsenio bisa mendengar sekalipun anak itu membalas ucapannya.
Sekali lagi, Arsenio berusaha berjalan mendekat. Sekuat tenaga dia membawa kakinya melangkah, tak peduli meski rasanya sudah lelah.
Kali ini, usahanya berhasil. Jarak yang terbentang mulai terkikis sedikit demi sedikit. Wajah anak perempuan itu terlihat semakin jelas di mata Arsenio, dan ia menjadi semakin sadar bahwa anak itu benar-benar mirip dengan Anara.
Ketika sedikit lagi Arsenio akan sampai di hadapan anak itu, langkahnya kembali terhenti saat sang anak membuka mulut lantas mengeluarkan sebuah suara yang berhasil membuat sebagian besar sel di tubuh Arsenio berhenti bekerja.
Dengan lirih, anak itu berucap, “Papi,” disusul gerakan bangkit dari duduknya.
Kedua lengan anak itu merentang lebar. Seperti menginginkan Arsenio untuk segera datang memeluk tubuhnya yang gemetar.
“Papi,” panggil anak itu lagi. Sementara Arsenio malah semakin merasakan tubuhnya kaku.
Arsenio masih berusaha menggerakkan tubuhnya sambil mencerna situasi. Tetapi, tak peduli seberapa keras dia mencoba, hasilnya sama sekali tidak ada.
Kemudian, Arsenio melihat anak perempuan yang mungkin usianya sekitar 6 tahun itu berjalan mendekat dengan kedua lengan yang masih merentang lebar. Bulir-bulir bening kembali meleleh dari mata cantik anak itu, membasahi pipinya yang putih mulus belum ternoda debu.
Mereka seharusnya bisa saling meraih tangan masing-masing, kalau saja sebuah bayangan hitam tidak tiba-tiba saja muncul, menyeret anak perempuan itu mundur hingga kembali ke tempat semula ia berada.
Tak cukup sampai di situ, bayangan hitam itu juga kemudian membawa sang anak perempuan semakin jauh. Terus menjauh hingga akhirnya tiba di tepian sungai dengan air yang mengalir cukup deras dari hulu ke hilir. Dan di momen itu, Arsenio baru sadar bahwa di ujung sungai bagian hilir, terdapat pintu gerbang menuju air terjun yang bermuara ke sebuah tebing.
Masih tidak ada yang bisa Arsenio lakukan ketika anak perempuan tadi menangis histeris. Meneriakkan permintaan tolong berkali-kali dengan nada putus asa.
“Papi, tolong!”
“Adek enggak mau pergi, Papi!”
“Papi, tolongin Adek!”
“Papi!!!”
Dan teriakan-teriakan lain yang berhasil membuat jantung Arsenio seperti dihujam berkali-kali menggunakan keris.
Tak berpasrah. Arsenio masih terus berusaha membawa kakinya kembali melangkah. Juga tak berhenti berdoa agar setidaknya ia bisa mengeluarkan suara untuk mencegah bayangan hitam itu menyakiti sang anak perempuan.
“Papi!!!” satu teriakan lagi, dan Arsenio akhirnya berhasil keluar dari keadaan yang membuatnya terjebak.
Seluruh tubuhnya mulai bisa digerakkan. Ia pun bergegas berlari menghampiri anak perempuan yang berada di ujung kematian.
Namun, ketika sedikit lagi kakinya sampai, bayangan hitam itu sudah lebih dulu memeluk sang anak, membawa tubuh kecilnya melayang-layang di udara sebelum akhirnya jatuh ke sungai. Terbawa arus hingga sampai ke air terjun dan jatuh ke dasar tebing.
Arsenio jatuh terduduk di tepian sungai. Berteriak kesetanan dan meratap atas apa yang terjadi. Padang rumput yang semula hijau, kini perlahan-lahan berubah menjadi hamparan tanah gersang nan tandus.
Lagi-lagi, Arsenio menemukan dirinya berada di sebuah tempat yang membuatnya merasa tidak berdaya. Teriakan dan kehilangan terasa begitu nyata. Menemani Arsenio hingga kedua mata lelaki itu perlahan terpejam dan semuanya menjadi gelap.
...****************...
Saat terbangun, yang Arsenio temukan adalah wajah panik Anara persis di atasnya. Dahi perempuan itu berkerut dan dihiasi bulir keringat. Mata cantiknya menatap penuh khawatir sedang kedua tangannya bergerak merambat mengusap kedua pipi Arsenio secara perlahan.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya perempuan itu.
Arsenio tidak langsung menjawab. Dia malah sibuk mengitarkan pandangan. Hanya untuk dibuat sadar bahwa ia masih berada di kamar rawat Anara. Baju yang ia kenakan pun masih sama—kemeja putih yang kini sudah kusut tak berbentuk.
Ketika melirik ke arah jam dinding di atas televisi, waktu telah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Membuatnya kembali tersadar bahwa dia baru saja terbangun dari sebuah mimpi buruk yang mengerikan.
“Arsenio,”
Arsenio masih tidak menjawab. Perlahan, dia mendudukkan diri di atas sofa, lalu kembali menatap Anara lekat-lekat.
“An,” panggilnya usai hening yang berlangsung cukup lama.
“Iya, aku di sini.” Jawab yang perempuan.
“Aku mimpi buruk,” adunya.
“Mimpi apa?”
Kehilangan. Satu kata itu yang terlintas di kepala Arsenio sebelum akhirnya menjawab, “Aku mimpi ketemu sama anak kita.”
Kerutan di kening Anara bertambah banyak. Arsenio bisa melihat ada begitu banyak tanda tanya berkelebat di kepala perempuan itu hanya dengan melihat kedua matanya saja.
“Anak kita perempuan, mirip banget sama kamu. Matanya, hidungnya, bibirnya. Semua yang ada di wajah dia adalah duplikat kamu. Aku mungkin nggak menyumbang gen apa pun untuk dia,” ungkapnya.
Anara masih fokus mendengarkan. Kerutan di keningnya perlahan-lahan pudar lalu sepenuhnya menghilang.
“Awalnya aku pikir dia adalah kamu versi masih kecil. Tapi sewaktu dia teriak manggil aku papi, aku langsung sadar kalau ternyata dia adalah anak kita.”
Ada jeda cukup lama karena Arsenio sibuk mengingat kembali wajah anak perempuan yang dia temui di dalam mimpinya. Terasa begitu nyata. Terasa seperti ia betulan bisa mendengar suaranya memanggil papi dengan begitu lantangnya.
“Aku lihat dia lagi nangis sendiri di saat teman-temannya yang lain sibuk main. Karena itu, aku lari ke dia buat nanya kenapa dia nangis sendirian di sana. Tapi pas aku udah mau sampai, malah ada sosok hitam yang nyeret anak kita ke tepian sungai, terus sosok itu bawa anak itu masuk ke aliran air yang deras dan jatuh ke dalam jurang.” Sesaknya bahkan terasa nyata saat Arsenio mengingat lagi adegan jatuhnya ‘anak mereka' tadi.
“Aku ... takut, An....” cicitnya. Arogansi menghilang, tergantikan dengan ketakutan besar akan sebuah kehilangan.
“Itu cuma mimpi,” Anara berusaha menenangkan.
“Tapi rasanya nyata banget, An. Dada aku sampai sesak banget karena sedih.”
“Cuma mimpi,” ucap Anara lagi. Kali ini, ia sambil meraih tangan Arsenio lalu membawanya untuk menyentuh perut buncitnya. “Rasain, dia masih ada di sini.”
Arsenio merasakan ada gerakan kecil di perut buncit Anara. Samar-samar, tetapi cukup mampu membuatnya sedikit lebih tenang.
Beberapa lama, Arsenio terpaku pada tangannya di perut Anara. Menikmati setiap gerakan kecil yang ditunjukkan calon anak mereka kepadanya.
“Udah, ya, tidur lagi.” Suruh Anara.
“Aku besok enggak—“
“Aku tahu,” sela perempuan itu. “Meskipun enggak kerja, kamu tetap enggak boleh bergadang.”
“Aku mau tidur sama kamu, sama anak kita.” Pintanya dengan tatapan penuh harap.
Ketika Anara menganggukkan kepala, ia langsung turun dari sofa. Berjalan ke ranjang pasien membawa serta tangan Anara di dalam gandengannya.
Arsenio berbaring lebih dulu, mencari posisi nyamannya barulah membawa Anara ikut rebah di lengannya. Tubuh dengan perut buncit itu dia peluk. Dia dekap sambil melambungkan beribu-ribu harapan semoga mimpi buruk yang ia dapatkan tadi bukanlah apa-apa.
Tetap di sini sama Papi dan Mami, ya, Sayang... batinnya. Semoga sampai kepada Yang Maha Kuasa dan Dia bersedia mengabulkan permintaannya.
Bersambung....