Losing Us

Losing Us
Nanti



Tidak adanya telepon yang masuk ke dalam ponsel Arsenio selama berjam-jam ia pergi justru membuat lelaki tidak tenang. Berkali-kali ia mengetuk layar, memastikan ponselnya tidak dalam keadaan mode hening sehingga dering dari panggilan masuk dan notifikasi pesan tidak terdengar. Namun, seberapa sering pun ia melakukannya, Arsenio tetap tidak menemukan apa pun. Baik Bunda atau pun Anara, keduanya sama sekali tidak menghubunginya.


“Kamu kenapa sih, Gal, dari tadi aku lihat kamu ngecek hape terus?” dari arah dapur, Olin bersuara. Seharian ini, yang mereka lakukan hanyalah berbaring di atas sofa, berpelukan sembari menonton film horor yang sebagian besar adegannya tidak mereka tonton dengan baik karena sibuk bercumbu, menyalurkan rasa rindu melalui decapan-decapan halus di bibir masing-masing.


“Enggak. Aku cuma takut aja Bunda telepon, tapi akunya enggak dengar.” Ucap Arsenio apa adanya. Sebelum Olin mengambil posisi duduk di sebelah, ia sudah lebih dulu menarik lengan gadis itu, membiarkan tubuh tingginya jatuh ke pangkuan.


“Enggak usah terlalu dipikirin, bisa? Mungkin Bunda emang enggak jadi main ke rumah kamu.” Ujar Olin seraya menjelajahkan jemari lentiknya ke atas punggung tangan Arsenio yang bertaut di perutnya, membentuk pola-pola acak yang tidak ia mengerti apa maknanya.


Belum sempat Arsenio memberikan tanggapan, Olin tahu-tahu membalikkan tubuhnya. Gerakannya yang tiba-tiba membuat tubuh sang adam oleng hingga berakhir terjerembab ke belakang. Punggung Arsenio menghantam sandaran sofa sementara tubuh Olin mendarat sempurna di atasnya.


Wajah mereka hanya berjarak sedikit. Napas mereka saling beradu. Tatapan mereka saling berkejaran selama beberapa saat hingga akhirnya manik hazel Olin berhenti memaku tatap ketika ia menemukan sesuatu yang lebih menarik.


Bibir Arsenio.


Olin jelas sedang menyasar bibir kekasihnya yang sudah seharian ini dia kuasai. Jemari lentiknya bergerilya, menggerayangi bibir bawah Arsenio dengan gerak sensual yang membuat lelaki itu ingin sekali menggigit jemari lentik Olin hingga meninggalkan jejak kepemilikan—menyatakan kepada seluruh dunia bahwa Olin adalah miliknya, tidak seorang pun bisa merebutnya.


“Gal,” panggilnya, masih dengan jemari yang bergerilya.


Arsenio hanya berdeham. Tangan-tangan besarnya bergerak dari yang semula menopang beban tubuh mereka di atas sofa, berpindah menuju pinggang ramping Olin yang pas sekali di dalam tangkupan telapak tangannya. Seakan pinggang itu memang diciptakan untuk dipeluk hanya oleh dirinya seorang.


“Bibir ini ... punya siapa?” tanyanya.


Itu adalah sebuah pertanyaan yang sangat jelas jawabannya. Olin sendiri pun tahu. Namun, karena Arsenio mengerti bahwa Olin hanya sedang ingin mendapatkan validasi, maka ia menjawab “Yours.” Kemudian mendaratkan kecupan kecil di bibir Olin—sebagai barang bukti.


Senyum Olin terkembang, indah sekali di mata Arsenio. Karena memang, tidak ada yang lebih indah daripada senyum itu di dunia yang penuh drama ini.


“Kalau mata ini ... punya siapa?” kali ini, yang menjadi sasaran geratakan jemari Olin adalah kelopak mata Arsenio. Satu persatu dia sentuh, hingga membuat Arsenio memejamkan mata selagi jemari Olin masih belum meninggalkan area jajahan.


“Yours.” Jawab Arsenio lagi.


“Yours.”


“Kalau ... ini?”


Sesaat, Arsenio terdiam dengan napas yang tertahan. Telapak tangan Olin yang terasa hangat mulanya hanya mengelus pipinya pelan, namun lama kelamaan, gadis itu terus bergerak turun. Menyapa rahang, leher, dada, sampai kemudian membelai perut rata Arsenio dengan gerakan yang menggoda.


Tolong catat bahwa Arsenio adalah laki-laki normal yang sensitif terhadap sentuhan. Gerakan-gerakan seperti itu jelas membuatnya gelisah. Dan jika tidak dia cegah, tangan nakal Olin akan semakin bergerak turun untuk menemukan apa yang dia inginkan.


“Yours.” Ucap Arsenio cepat, seraya mencekal pergelangan tangan Olin tepat ketika dia hampir menyentuh ikat pinggangnya. “Semuanya yang ada di aku adalah punyamu. Jangan nanya-nanya lagi, dan jangan coba-coba godain aku karena kamu nggak akan pernah tahu bisa jadi gimana sangarnya aku kalau udah kadung beraksi.” Sambung lelaki itu.


Di bawah sana terasa sesak, dan berlama-lama dalam posisi begini dengan Olin hanya akan membuat Arsenio semakin kehilangan kewarasan. Maka sebelum semua itu terjadi, ia segera membalikkan tubuh Olin, memastikan punggungnya mendarat pelan di sofa agar gadis itu tidak kesakitan. Detik berikutnya, ia menarik diri, berdiri tegak di depan Olin yang cengengesan melihat kekasihnya kalang kabut menahan gejolak di dalam diri.


“We can do that, kalau kamu mau.” Olin menawarkan. Tapi sama seperti hari-hari sebelumnya, Arsenio menggelengkan kepala tanpa perlu berpikir lama.


Tidak ada **** sebelum menikah. Itu yang selalu Bunda katakan kepada Arsenio sejak ia mulai beranjak remaja. Alasannya hanya satu, karena mengurus administrasi untuk anak yang lahir di luar pernikahan cukup memusingkan dan mulut orang-orang di sekitar terlalu tajam untuk dihadapi dengan tenang. Ini bukan soal aturan adat ketimuran atau apalah itu, Bunda sepenuh mengajarkan kepada Arsenio bahwa having s*x adalah langkah awal untuk menuju kepada tanggung jawab yang lebih besar.


Tapi lebih dari itu, Olin berharga. Arsenio tidak akan merusak masa depannya hanya demi kepuasan sesaat. Meski itu juga bukan ide yang buruk jika mereka bisa memiliki bayi, Arsenio tetap tidak akan membuatnya sebelum mereka menikah secara sah.


“Yakin nggak mau?” Olin menaik-turunkan alisnya dengan gaya yang lucu. Arsenio pun tidak kuasa menahan gelak tawa. Namun di sela-sela gelegar tawa itu, ia tetap menggelengkan kepala. Keputusannya bulat, dan akan terus begitu.


“Nanti. Tunggu sampai waktunya tiba, baru kita making love sepuasnya.” Kata Arsenio setelah mereka sama-sama berhenti tertawa.


Olin tidak menyahuti. Gadis itu hanya menganggukkan kepala dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Kendati demikian, dari sorot matanya yang jujur, Arsenio mengerti bahwa senyum itu adalah sebuah bentuk penghiburan diri. Sama seperti Arsenio, Olin juga sedang bimbang dengan kata ‘nanti’ yang entah kapan akan tiba.


Nanti. Arsenio mengulanginya di dalam hati. Bisa jadi besok. Bisa jadi lusa. Tiga tahun lagi. Sepuluh tahun lagi. Atau malah, tidak pernah sama sekali.


Bersambung