
Anara yakin telah menerima pemberitahuan dari Arsenio bahwa lelaki itu tidak akan pulang ke rumah semalam. Dan menurut analisanya, lelaki itu juga seharusnya masih belum akan berada di rumah hingga setidaknya tengah hari nanti. Sebab apa pun yang berhubungan dengan Olin pasti tidak akan bisa dibereskan dengan mudah. Seperti lintah yang menempel di kulit mangsa, Olin tidak akan semudah itu melepaskan Arsenio untuk kembali ke rumahnya.
Akan tetapi, kenyataan yang Anara hadapi pagi ini sungguh di luar dugaan. Bukan hanya menemukan Arsenio sudah duduk manis di meja makan dengan berbagai menu sarapan yang terhidang dan terlihat menggiurkan, ia juga menemukan keberadaan Bunda di kursi seberang. Raut wajah perempuan itu tampak riang, bibirnya melengkung lebar hingga menimbulkan kerutan di kedua sudut matanya.
“Morning, Baby.” Sapa perempuan itu, lantas bergerak menghampiri Anara yang masih berdiri mematung di ujung tangga.
Menanggapi sapaan itu, Anara hanya tersenyum formalitas. Nyaris tak ada energi yang tersisa untuk berbasa-basi sekarang. Dia betulan kelelahan. Secara fisik maupun mental.
“Bunda yang masak semua ini?” tanya Anara begitu Bunda menuntunnya duduk di kursi persis di sebelah Arsenio.
Yang ditanya menganggukkan kepala dengan bangga, senyumnya pun kian merekah bagai kelopak bunga pertama yang mekar di awal-awal musim semi.
“Kemarin malam Arsenio ke rumah Bunda, dia kasih tahu soal kehamilan kamu.” Tutur perempuan itu.
Dari sana, Anara akhirnya tahu mengapa senyum Bunda begitu merekah. Yang dia tidak mengerti adalah, kenapa Arsenio malah memilih mengabarkan perihal kehamilannya kepada Bunda di saat seharusnya mereka menjaga ini sebagai rahasia agar perceraian mereka bisa diproses dengan mulus?
Anara ingin bertanya langsung kepada Arsenio, namun lelaki itu malah menghindari tatapan matanya dengan pura-pura sibuk menyeruput teh hangat di cangkir yang masih mengepulkan asap.
“Kenapa nggak kabarin Bunda dari awal, hm? Kok main rahasia-rahasiaan gini?” Bunda bertanya lagi, kali ini sambil menyendokkan nasi ke dalam piring Anara.
“Usianya masih terlalu muda. Tadinya An niat kasih tahu Bunda kalau usianya udah sedikit lebih lama.” Ia beralasan, berharap itu cukup untuk tidak membuat Bunda semakin banyak bertanya.
“Padahal masa-masa awal itu yang paling berat loh, An. Kalau kamu kabarin Bunda dari awal, Bunda bisa bantu kamu kasih kiat-kiat, bisa juga siap siapa seandainya kamu butuh bantuan.”
“Yang penting kan sekarang Bunda udah tahu.” Itu adalah suara Arsenio. Akhirnya lelaki itu mau buka suara setelah hanya berpura-pura tuli sejak tadi.
“Ya iya, sih.”
“Clear dong masalahnya? Mending sekarang kita sarapan, keburu dingin makanannya.” Ajak lelaki itu, Bunda pun mengiyakan, pun Anara yang tak punya pilihan selain menahan diri untuk tidak menyembur Arsenio dengan berbagai pertanyaan.
Sarapan pagi itu hanya diisi dengan suara denting sendok yang beradu dengan piring, juga celotehan Bunda yang sudah berangan-angan menimang calon cucu yang belum diketahui jenis kelaminnya.
Ada sebuah tali pembatas tak kasat mata di antara mereka bertiga, memisahkan energi mereka masing-masing karena nyatanya energi mereka sama sekali tidak selaras. Bunda dengan kebahagiaannya akan menimang cucu, Arsenio dengan kekhawatirannya soal ancaman Olin, juga Anara dengan kebingungannya perihal; apa yang harus ia lakukan sekarang, agar perceraiannya tetap terjadi tanpa menyakiti lebih banyak orang?
...****************...
“Kenapa kamu malah kasih tahu Bunda?” tanpa tedeng aling-aling, Anara langsung menodong Arsenio begitu ia memiliki kesempatan.
Bunda sedang berada di taman belakang, berkutat dengan bunga-bunga cantik yang ia tanam dan sudah lama tidak dirawat olehnya sendiri. Sementara ia dan Arsenio kini duduk bersebelahan di ruang tengah, mengabaikan siaran berita yang sejak tadi hanya seperti angin lalu bagi keduanya.
“Supaya lo nggak terus-menerus minta cerai.” Jawab Arsenio, semakin membuat Anara tidak habis pikir.
“Dan kenapa kamu lakuin itu? Bukannya cerai adalah jalan paling baik yang bisa kita ambil? Kamu bisa balik ke Olin, dan aku juga bisa mulai kehidupan baru aku sama anak ini.”
“Cerai dari lo sekalipun nggak akan bisa bikin hubungan gue sama Olin membaik.” Tutur Arsenio. Lelaki itu kemudian menoleh, menatap Anara tepat di maniknya. “Udah terlanjur banyak yang hancur, Anara. Olin dan gue udah nggak bisa jalanin hubungan kayak dulu lagi, sejak hari pertama lo datang ke kehidupan kami. Semuanya udah terjadi, udah terlambat buat mengakhiri apa pun di antara kita. Terlebih....” jeda tercipta, Arsenio menurunkan pandangan ke perut Anara yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
“Terlebih lagi sekarang udah ada anak gue di dalam perut lo.”
“Kamu bahkan nggak menginginkan anak ini sejak awal.” Anara tersenyum miris. Bukankah Arsenio bahkan pernah bilang tidak ingin anak ini lahir ke dunia, meski lelaki itu tidak mengatakannya secara gamblang? Kenapa sekarang keputusannya berubah?
“Buat kamu, mungkin.” Anara menyahut. “Karena buat aku, keputusan ini cuma akan menambah masalah baru.”
“Apa pun itu, keputusan gue udah final. Nggak akan ada perceraian.” Final Arsenio.
Antara tertawa sumbang, tiba-tiba saja dia seperti disadarkan bahwa; Arsenio memang bajingan.
“Egois.” Kata Anara, kemudian perempuan itu bergegas pergi sebelum keinginannya untuk memaki Arsenio semakin menjadi-jadi.
...****************...
“How’s the baby?”
“Good. Hari ini dia nggak nakal sama sekali.”
“Aku ramal, dia perempuan.”
Anara terkekeh mendengar kesoktahuan Aksara. Pasalnya, usia kandungannya masih benar-benar muda. Dokter pun belum bisa mengidentifikasi jenis kelamin calon bayinya. Dan Aksara malah bertingkah seperti dukun yang bisa menerawang masa depan.
“Bet me, kalau anak nanti anak kamu beneran perempuan, kamu harus mau kabulin satu permintaan aku.”
“Kalau ternyata anak aku laki-laki?”
“Gantian, aku yang bakal kabulin satu permintaan kamu.”
Sudut-sudut bibir Anara terangkat, “Apa pun permintaannya?”
“Apa pun. Asal yang masuk akal. Jangan minta aku buat pindahin menara Eiffel ke halaman belakang rumahmu, karena itu nggak mungkin.”
Anara terkekeh geli. Bahkan sekadar berkhayal pun, dia tidak pernah berharap menara Eiffel bisa pindah ke halaman belakang rumahnya. Tetapi mendengar celetukan Aksara barusan, dia malah ingin mencobanya.
“Deal, nggak nih? Kok diem-diem aja?”
“Iya, deal.”
“Yes!”
Anara kembali tergelak. Dari dulu, Aksara memang ahlinya menghadirkan suasana baik. Tak peduli seberapa besar kesedihan yang ia rasakan, semuanya akan berangsur reda bahkan hanya dengan mendengar Aksara membuat lelucon sederhana. Ia bersyukur Aksara berhasil menemukan dirinya lagi di saat hidupnya sedang tidak baik-baik saja.
“An,”
“Ya?”
“Kalau suamimu jahat, kasih tahu aku, ya. Biar nanti aku yang pukul dia sampai wajahnya jadi jelek dan dia nggak bisa bertingkah lagi.”
Bukannya menjawab, Anara malah mengalihkan pembicaraan. “Lusa kamu free, nggak? Mau anterin aku ke pantai?”
Bersambung...