
Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau berada di luar jaktif area, cobalah beberapa saat lagi...
Entah sudah berapa banyak umpatan dan sumpah serapah yang keluar dari mulut Arsenio sejak pagi. Berkali-kali dia berusaha menelepon Anara, tapi tak satu pun dari teleponnnya yang berhasil tersambung. Perempuan itu sepertinya memang sengaja ingin menguji kesabarannya.
Subuh tadi, diam-diam tanpa sepengetahuan Olin, Arsenio sempat menyelinap masuk ke dalam kamar Anara. Niatnya hanya untuk mencari kalau-kalau ada petunjuk tentang ke mana perempuan itu pergi, lebih tepatnya, hotel mana yang menjadi tujuan staycationnya. Akan tetapi, dia malah berakhir menemukan bahwa ternyata inhaler milik Anara masih tertinggal di atas nakas. Padahal perempuan itu akan selalu membutuhkannya untuk berjaga-jaga jika asmanya kambuh kapan saja.
Makin emosi saja Arsenio dibuatnya. Ia tidak menyangka Anara akan begitu ceroboh dalam hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri.
“Udah tahu penyakitan, bukannya prepare malah ceroboh banget jadi orang.” Omelnya. Kedengaran jahat, tapi memang begitulah cara dia mengomel pada Anara biasanya. Sebab perempuan itu terlalu kepala batu dan tidak bisa diberitahu dengan cara yang normal.
“Kamu ngapain?” suara Olin menginterupsi.
Arsenio menoleh, menemukan kekasihnya berdiri di ambang pintu kamar utama seraya menatapnya penuh curiga.
“Dari semalam, aku perhatiin kamu kelihatan gelisah. Kenapa? Mikirin Anara?”
“Iya.” Arsenio menjawab jujur. “Aku harus cari dia, Lin. Dia lupa bawa inhalernya.” Ujarnya seraya menunjukkan kepada Olin inhaler milik Anara yang sedari tadi dia genggam.
Olin berdecak malas, “Kenapa kamu harus peduli, sih? Mau dia bawa alat itu atau enggak, apa urusannya sama kamu?”
“Inhaler ini penting buat dia, kalau asmanya kambuh dan enggak ada alat ini, dia bisa lewat. Dan, yah, ini urusan aku karena—“
“Karena dia istri kamu?” Olin memotong. “Karena dia istri sah kamu, makanya kamu peduli? Iya?”
“Lin,” Arsenio tampak frustrasi. Harus menjelaskan bagaimana lagi dia kepada Olin bahwa sikap pedulinya ini hanya semata-mata karena dia sudah diberi tanggung jawab oleh Bunda untuk menjaga Anara?
“Kamu udah berubah, banyak.” Olin menghakimi dengan statemennya sendiri. “Dulu enggak pernah ada yang lebih penting buat kamu selain aku, sekarang kamu bahkan enggak keberatan buat berantem sama aku cuma karena Anara.”
Arsenio mengusap wajahnya kasar, “Aku enggak pernah berubah. Aku cuma berusaha penuhin tanggung jawab yang Bunda kasih ke aku buat jagain Anara. Itu aja, Lin.”
“Terserah.” Olin enggan mendengarkan. Kalau di matanya Arsenio berubah, maka dia hanya akan menganggapnya begitu. Tidak peduli meskipun lelaki itu mengatakan yang sebaliknya. “Cari dia, aku enggak peduli. Tapi jangan salahin aku kalau pas kamu balik nanti, aku udah enggak ada di sini.” Dengan berakhirnya ucapan itu, Olin langsung balik badan. Dia masuk ke kamar utama, membanting pintu sekeras yang dia bisa untuk meluapkan kekesalannya.
Sementara Arsenio, lelaki itu dibuat terpaku di tempat. Pikirannya bercabang. Bimbang menyerang lebih parah dari hari-hari yang lalu. Dia bisa mengurungkan niat untuk mencari Anara, tetapi bagaimana jika terjadi sesuatu pada perempuan itu dan Bunda sampai tahu kalau itu semua ada hubungannya dengan Olin? Tentu Arsenio tidak ingin itu terjadi. Dia tidak ingin hubungannya dengan Olin berada dalam bahaya hanya karena dia lalai menjaga Anara.
Tapi kalau dia tetap nekat untuk pergi...
“Ah, enggak tahu, lah!” teriaknya frustrasi. Lalu dia tetap memutuskan pergi meskipun nanti harus kepusingan sendiri mencari cara untuk membujuk Olin. Yang terpenting sekarang dia harus tahu di mana Anara dan memastikan perempuan itu baik-baik saja.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Usai mencuci muka di kamar mandi, Anara kembali ke ranjang. Lalu, dia mengeluarkan ponsel yang sudah sedari semalam dia matikan. Sambil menunggu ponsel itu dalam proses menyala, Anara menyibakkan gorden, membuat sinar matahari yang sudah bertakhta tinggi menerobos masuk ke dalam kamar.
Begitu ponselnya menyala, dia menemukan ada banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan singkat dari Arsenio.
Anara bergidik ngeri. Sudah bisa dia bayangkan betapa garangnya wajah Arsenio saat ini. Lelaki itu pasti terlihat hendak menelannya hidup-hidup.
Belum selesai kengerian itu mendera, Anara dibuat terlonjak kala ponselnya berdering nyaring. Pelakunya sudah jelas adalah Arsenio, dan demi menghindari amukan yang lebih dahsyat, Anara pun segera menggeser log ke kanan.
“Ha—“
“Lo ke mana aja, sih?! Gue teleponin dari pagi enggak bisa-bisa! Sengaja lo mau bikin gue kalang kabut, hah?!” amarah itu dimuntahkan begitu saja, membuat Anara terpaksa menjauhkan ponsel demi menjaga kesehatan telinganya.
Bahkan ketika ponsel sudah dia bawa menjauh, suara Arsenio yang mengomel masih terdengar jelas. Lelaki itu bahkan sampai membawa-bawa nama Bunda yang otomatis membuat Anara tidak bisa berkutik.
“Share live location lo sekarang!” ulang lelaki itu. Seperti tidak khawatir pada pita suaranya yang bisa saja terluka, Arsenio masih saja terus berteriak.
“Buat apa, sih? Aku udah bilang mau staycation dulu tiga hari.” Anara berusaha mencari alasan agar Arsenio tidak datang ke sini. Dia hanya tidak ingin mencari masalah dengan Olin. No, no. Energinya sudah hampir habis, tidak bisa lagi kalau harus berurusan dengan manusia setengah iblis itu.
“Gue enggak peduli sama staycation atau apa pun itu, share live location sekarang atau gue ubek-ubek semua hotel dekat rumah dan lo gue seret di depan banyak orang kalau berhasil ketemu nanti!”
Euw, terdengar mengerikan.
“Ka—“
Tutt tutt tutt...
Anara menatap kesal pada layar ponselnya ketika telepon diputus secara sepihak. “Selalu seenaknya sendiri.” Gerutunya, lalu tak lama setelah itu, muncul pesan dari Arsenio.
Anara sampai kehilangan kata-kata melihat ancaman yang Arsenio tuliskan. Sebuah fitnah super kejam yang bisa memorak-porandakan dunia persilatan.
“Udahlah suka seenaknya sendiri, sekarang mau coba playing victim?” sambil mengomel, Anara tetap mengirimkan live location kepada Arsenio. Masa bodohlah, urusan Olin, dia akan pikirkan nanti. Yang terpenting sekarang si manusia tidak ada akhlak jilid 2 bernama Arsenio Galandra itu bisa diam dulu.
“Udah, puas kan?!” seru Anara, pada layar ponselnya yang tak berdosa. Kemudian benda pipih itu kembali dia campakkan ke atas kasur. Dia lebih tertarik untuk mejeng di depan jendela kamar, membiarkan sinar matahari menyentuh kulitnya dan membuatnya terbakar.
Bersambung