
Pagi datang lebih cepat dari sebelumnya. Setidaknya, itu yang Anara rasakan pagi ini. Karena semalam setelah pertemuan dengan Arsenio di dapur, ia tidak bisa tidur. Mungkin baru pukul tiga atau bahkan setengah empat ketika Anara akhirnya bisa memejamkan mata. Itu pun tanpa sengaja karena ia jatuh tertidur saat sedang mendengarkan podcast dari salah satu layanan streaming langganannya.
Anara meregangkan otot-otot yang terasa kaku, terutama otot di bagian lengan dan leher. Setelahnya, ia turun dari kasur, berjalan pelan menuju kamar mandi. Keran di wastafel ia nyalakan. Dari sana, Anara meraup air lalu membasuh wajahnya menggunakan air tersebut. Sensasi segar langsung terasa saat bulir-bulir air itu bersentuhan dengan kulit wajahnya. Mata yang tadinya terasa berat dan sedikit perih juga perlahan-lahan terasa membaik.
Setelah membasuh wajah beberapa kali, Anara meraih handuk kecil dekat wastafel, menggunakannya untuk mengelap sisa-sisa air yang menempel di wajah lalu meletakkannya kembali ke tempat semula.
Sebelum melangkah keluar dari dalam kamar mandi, Anara sempat memandangi pantulan dirinya di cermin. Ia menemukan manik kecokelatan miliknya yang biasa berbinar cerah kini tampak redup. Bibirnya juga tidak menyunggingkan senyum ramah seperti hari-hari sebelumnya—entah sudah berapa lama ia seperti itu.
Anara menghela napas berat. Padahal, baru satu minggu berlalu. Masih banyak hari yang harus dia lewati sebagai istri Arsenio, yang berarti masih banyak pula air mata yang harus dipersiapkan untuk tumpah kapan saja. Yang semalam mungkin bukan apa-apa. Anara mungkin akan menemukan alasan lain yang lebih hebat untuk menangis kalau-kalau suatu hari nanti, ia betulan jatuh cinta pada laki-laki itu.
“Enggak.” Anara menggeleng keras. Menepuk pipinya sendiri pelan. “Jangan berpikiran buruk terhadap diri sendiri dan orang lain, Anara. Siapa tahu, setelah ini, keadaan akan jadi lebih baik dan kamu bisa senyum lagi kayak dulu.” Ia harap, afirmasi itu akan cukup menjadi bekal untuk dirinya menjalani hari ini.
Tidak ingin berlama-lama memandangi pantulan diri yang tampak sedih, Anara pun beranjak. Ia sempatkan mengganti pakaian sebelum turun ke lantai satu, lebih tepatnya ke dapur untuk menyiapkan sarapan—untuk dirinya sendiri, tentu saja.
Sekarang jam 07:45, seharusnya Arsenio sudah berangkat ke kantor sehingga Anara bisa leluasa menghabiskan waktu di dapur tanpa takut lelaki itu akan mengomel. Yah, selama seminggu, mereka tidak pernah menghabiskan waktu untuk makan di meja yang sama. Selalu Anara dulu, atau Arsenio dulu. Saking enggannya, lelaki itu sampai membuat jadwal untuk memastikan mereka tidak akan bertemu di dapur saat jam makan.
“Loh?” Anara mengerutkan kening saat mendapati meja makan sudah penuh dengan berbagai macam lauk-pauk yang masih mengepulkan asap—pertanda baru selesai dihidangkan. Aroma rempah yang menguar dari salah satu masakan di meja membuat air liurnya berkumpul di dalam mulut, bergejolak seperti ombak yang siap menerjang ketika laut sedang pasang.
“Tumben udah bangun.”
Dan suara serak Arsenio menjadi sumber keterkejutan yang lain. Anara menoleh, hanya untuk mendapati lelaki itu berjalan menuruni anak tangga masih dengan mengenakan piyama motif kotak-kotak warna cokelat tua. Sebelah tangan lelaki itu dimasukkan ke dalam saku celana, satunya lagi asyik menggulir layar ponsel.
“Kamu kok masih pakai piyama? Hari ini enggak kerja?” tanya Anara heran. Ia masih terbengong-bengong bahkan sampai Arsenio sudah menarik kursi dan duduk di seberangnya.
“Ini hari Minggu, gue enggak serajin itu sampai harus masuk kerja di hari libur.” Arsenio menjawab datar. Sementara Anara baru saja merutuki kebodohannya lagi, yang bahkan lupa kalau sekarang hari Minggu. Dipikir-pikir, Anara memang sudah tidak pernah lagi memperhatikan hari dan tanggal. Yang dia tahu, kalau matahari sudah terbit, berarti hari baru sudah dimulai.
“Ngapain diam di situ? Enggak mau makan?” suara dingin Arsenio menginterupsi lagi. Anara lihat, ponsel yang sedari tadi asyik dimainkan sudah teronggok di atas meja. “Duduk, buruan.” Titahnya kemudian.
Anara mendesah pelan, namun tak urung tetap menarik kursi dan duduk. Kami duduk berhadapan, saling tatap selama beberapa detik sebelum suara deham dari Arsenio membuyarkan semuanya.
“Gue enggak tahu lo sukanya makan apa, jadi gue masak banyak.” Tutur Arsenio tanpa diminta.
Anara hanya mengangguk-anggukkan kepala, lalu matanya mulai menatap takjub pada piring-piring berisi lauk di hadapan. Penampilannya cantik, aromanya yang harum juga membuat Anara seketika merasa lapar.
“Aku enggak tahu kalau kamu ternyata bisa masak.”
“Gue udah biasa masak makanan buat diri gue sendiri sejak umur 13. Bunda yang ngajarin. Katanya, masak itu life skill yang harus dimiliki semua orang, enggak peduli laki-laki atau pun perempuan.”
Anara mengangkat kepala. Untuk beberapa lama, ia terdiam. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Arsenio mau bercerita tentang dirinya. Seminggu menyandang status sebagai istrinya, Anara sama sekali tidak diberi akses untuk tahu apa pun soal kehidupan Arsenio melalui bibir lelaki itu sendiri. Semuanya dia dengar melalui cerita Bunda, itu pun tidak banyak.
“Forget it, enggak penting.”
Baru saja senyum Anara nyaris terkembang, Arsenio malah mengatakan sesuatu yang membuat gadis itu menelan kembali senyum yang belum sempat terbit.
“Enggak ada satu cerita pun yang enggak penting.” Cibir Anara
“Enggak usah banyak omong, buruan makan.” Ketus Arsenio kemudian.
Hah... Tidak apa-apa, Anara tidak akan sakit hati. Cara bicara Arsenio memang seperti itu dan seharusnya ia bisa segera membiasakan diri. Barangkali, memang butuh waktu yang tidak sedikit untuk membuat manusia serupa kulkas 21 pintu ini mencair.
Menit-menit selanjutnya berjalan dalam keheningan. Hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan piring sampai makanan di piring kami sama-sama habis. Anara tersenyum setelah memasukkan suapan terakhir ke dalam mulut. Untuk pertama kalinya setelah Mama dan Papa meninggal, ia bisa menelan makanan dengan perasaan senang. Dan lagi, kalau dirasa-rasa, masakan Arsenio hampir mirip dengan masakan Papa. Sedikit mengobati kerinduannya pada lelaki idamannya itu.
“Enak.” Anara memuji dengan tulus. Tidak ada maksud lain, hanya sebagai bentuk apresiasi atas makanan yang sudah dia terima pagi ini.
Arsenio tidak berkomentar apa pun atas pujian yang Anara berikan, dan gadis itu juga tidak ambil pusing karena sedari awal ia memang tidak berharap Arsenio akan menerima pujian seperti sebagaimana seharusnya.
“Kalau hari Minggu begini, lo biasanya pergi ke mana?” tanya Arsenio tiba-tiba, setelah hening yang lumayan lama.
“Enggak ke mana-mana. Paling cuma di rumah, ngerecokin Papa yang lagi baca koran atau jahilin Mama yang lagi eksperimen bikin kue kering—yang ujung-ujungnya gagal karena Mama sama sekali enggak bakat masak.” Anara tersenyum di akhir kalimat.
Sebab ketika Anara bercerita, kolase dari kejadian manis di masa lalu sedang berputar apik di dalam kepala. Meski tak lama setelahnya, mereka pudar dan senyum Anara pun lenyap. “Sekarang udah enggak bisa lagi. Udah enggak ada yang bisa aku gangguin.” Ucap gadis itu lagi, nyaris seperti berbisik.
Lagi-lagi, Arsenio tidak bereaksi. Anara seharusnya tahu kalau lelaki itu memang tidak tertarik pada ceritanya. Ketika Arsenio bertanya Anara biasa pergi ke mana, seharusnya Anara hanya menjawab ‘tidak ke mana-mana' tanpa menambahkan apa pun setelahnya. Haha... Anara ini bodoh sekali, bukan?
Maka untuk menyudahi kecanggungan, Anara kemudian bertanya. “Kamu enggak pergi?”
“Pergi ke mana?” Arsenio bertanya balik seraya menarik piring kosong milik Anara, menumpuknya di atas miliknya.
“Ke Olin.” Kata Anara. “Kalau hari Minggu begini, kamu nggak pergi ke tempat Olin?”
Dan seharusnya lagi, Anara tahu bahwa menyeret nama Olin sudah masuk ke dalam daftar hal-hal yang tidak boleh dia lakukan. Itu dipertegas ketika Arsenio menjawab, “Bukan urusan lo.” Lalu lelaki itu berlalu membawa piring-piring kotor tadi ke wastafel dan dalam sekejap sudah kembali sibuk dengan dunianya sendiri.
Sekali lagi, jarak mereka terbentang. Dari ujung ke ujung, masih terlalu jauh untuk bisa bertemu di satu titik tengah. Bahkan hanya karena Arsenio mau bicara lebih banyak kepada Anara, itu tidak menjadi bukti bahwa langkahnya terayun semakin dekat. Bisa jadi, ia justru mengambil langkah semakin jauh, tanpa Anara sadari.
“Apa pun itu, saya tahu Engkau sudah menyiapkan yang terbaik.” Bisik Anara kepada Tuhan yang hidup di dalam hati, menemani setiap langkah yang terseok-seok setelah kehilangan pijakan selama beberapa waktu. Maka sama seperti apa yang selalu Papa katakan, Anara akan percaya bahwa apa yang ia jalani adalah skenario yang paling baik.
Bersambung