Losing Us

Losing Us
Tertuduh



“Nih, kamu habisin, jangan kayak Indomie yang kemarin. Jangan buang-buang makanan.” Kata Anarq seraya menyodorkan semangkuk cumi asam manis kepada Olin yang sudah duduk manis di kursi meja makan.


Seperti yang sudah bisa dibayangkan, ucapan Anara itu sama sekali tidak digubris oleh gadis yang kini mencepol rambutnya ke atas, sampai benar-benar tinggi—setinggi harapan orang tua.


Tak mau ambil pusing, Anara pun memilih pergi meninggalkan Olin. Membiarkan kekasih suaminya itu menikmati makan siangnya sambil bersorak gembira karena sudah berhasil menjadikan Anara babu sekali lagi. Lebih baik Anara kembali ke kamar dan melanjutkan kegiatan menonton drama.


Tapi, sebelum Anara lanjut menonton, dia lebih dulu mengisi perut dengan roti yang sudah dibawanya tadi pagi. Rasa cokelat keju kesukaan, dia nikmati bersama susu kotak yang lebih sering diminum oleh anak-anak remaja. Well, Anara akan menganggap dirinya juga masih remaja. Umurnya baru awal 20-an. Masih cukup muda, kan?


Hahaha... Lupakan. Itu hanya sedikit cara Anara untuk menghibur diri dari keadaan hidup yang menyebalkan ini.


“Mau lanjut nonton yang tadi, atau nyari yang lain aja ya?” gumam Anara. Drama yang terakhir dia tonton baru up sampai 3 episode.Tidak akan cukup untuk dijadikan tontonan sampai sore.


Akhirnya, Anara menjelajah lagi. Mencari judul lain yang sekiranya belum pernah dia tonton namun sudah up setidaknya sampai enam atau tujuh episode.


Berkutat selama beberapa saat, Anara berhasil menemukan satu judul keluaran beberapa bulan yang lalu. Kabar baiknya, judul itu sudah up sampai episode 16, alias sudah tamat.


“Yang begini nih yang oke.” Ucap Anara senang. Bukan hanya karena sudah tamat, tetapi juga karena ternyata aktor yang bermain di sana merupakan salah satu aktor favoritnya.


“Oke, let’s go.” Anara mengeklik tombol putar dan mulai serius menonton.


Jalan cerita yang asyik, tokoh yang menarik serta munculnya plot twist di tiap akhir episode membuat Anara tidak bisa berhenti untuk terus menonton episode berikutnya. Sampai kemudian, kantuk menyerang. Gelombangnya menyerang lebih dahsyat ketimbang keinginan awal Anara untuk tetap menonton satu episode lagi sampai habis. Tanpa sadar, gadis itu pun jatuh tertidur dengan earphone yang masih menyumbat telinga dan drama yang masih terus berputar di ponselnya.


...🥀🥀🥀...


Entah pukul berapa, Anara terbangun karena suara gedoran yang tak biasa di pintu kamarnya. Saking hebohnya, dia sampai bisa melihat pintu kamarnya seperti akan roboh jika si pelaku tidak segera berhenti.


Masih sambil mengantuk, Anara turun dari kasur setelah meletakkan earphone dan ponsel ke atas nakas lalu berjalan menuju pintu yang bergetar hebat.


Saat pintu terbuka, dia menemukan Arsenio berdiri di sana dengan raut wajah marah. Mata dan wajahnya memerah, napasnya terlihat tidak teratur.


“Lo kasih makan apa ke Olin tadi siang?!” todong Arsenio tiba-tiba, dia bahkan memotong ucapan Anara.


“Cumi asam manis, dia sendiri yang minta.” Jawab Anara jujur.


“Bohong!” sergah Arsenio. Suaranya menggema begitu keras hingga membuat dada Anara bergemuruh hebat. Arsenio memang dingin dan cenderung kasar kepada diriny selama ini. Tetapi ini adalah kali pertama lelaki itu bicara dengan nada setinggi itu dan emosi yang terlalu meluap-luap.


“Waktu gue sampai di rumah, gue nemuin Olin lagi muntah-muntah di dalam kamar mandi. Nggak cuma itu, badan dia juga pada merah-merah, dan itu jelas karena alergi dia kambuh!” Arsenio masih bicara dengan suara tinggi. “Lo pasti udah masukin sesuatu ke makanan Olin, kan? Ngaku! Lo masukin apa, hah?! Udang? Atau apa?!”


Anara menggeleng kuat-kuat sambil berusaha keras menahan tangis. Arsenio menyeramkan sekali saat sedang marah.


“Aku enggak ada masukin apa pun, Arsenio. Benar-benar cuma cumi asam manis.” Cicit gadis itu ketakutan.


Tapi sekali lagi, Arsenio tidak percaya. Lelaki itu tetap kekeuh menuduh Anara telah sengaja memasukkan sesuatu agar Olin keracunan.


“Kalau lo emang enggak mau masakin buat Olin, ya udah, enggak usah dimasakin! Enggak perlu sampai bikin Olin celaka! Sumpah, ya, lo jahat banget jadi manusia!” Arsenio berteriak tepat di depan wajah Anara. Sedangkan Anara sudah tidak punya daya lagi untuk membela diri. Terlalu takut sekaligus bingung.


“Sekarang gue tahu kenapa Tuhan ambil kedua orang tua lo sekaligus. Ya karena lo jahat. Karena lo berusaha ngerusak kebahagiaan orang lain.”


Semarah apa pun Arsenio, Anara tidak pernah menyangka lelaki itu akan bisa sampai berkata seperti itu kepadanya. Membawa-bawa perihal kematian kedua orang tua Anara adalah cara paling ampuh untuk melukai hati gadis itu secara penuh.


Maka, setelah Arsenio puas memaki dirinya dan lelaki itu pergi begitu saja, Anara tidak bisa lagi menahan diri. Tangisnya pecah. Sejadi-jadinya sementara tubuhnya longsor ke lantai.


Berkali-kali Anara memukul dadanya yang terasa sangat sesak. Namun usahanya sia-sia karena sesaknya tidak kunjung pergi dan air mata juga tidak mau berhenti mengalir hingga deras membanjiri pipi.


Tuhan... kenapa menikah dengan Arsenio membuat saya sampai sesakit ini? Ia berbisik lirih di dalam hati. Meski jawaban yang dia nanti mungkin tidak akan pernah dia dapati.


Bersambung