
“Bunda hampir meninggal,” ucap Arsenio. Di sebelah, Olin masih terus merengek, mempertanyakan keputusan Arsenio untuk mengakhiri semuanya secara total.
Butuh waktu dan tenaga yang tidak sedikit untuk sampai ke tahap ini. Untuk pada akhirnya memutuskan bahwa memang harus ada yang dilepas. Arsenio akhirnya sadar bahwa ia hanya manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan. Ada banyak hal yang tidak bisa dia atasi sendiri sekalipun sudah berusaha sekeras mungkin.
Lelaki itu menunduk, menatap jemari tangan yang saling bertaut ribut. Kenangan tragedi buruk yang hampir menimpa Bunda bulan lalu membuat badannya gemetar. Beban berat di kepala bagian belakang juga nyaris membuatnya kehilangan keseimbangan.
“Ingat waktu aku bilang sama kamu Bunda lagi dalam perjalanan bisnis?” tanyanya dengan suara lirih. Kepalanya masih menunduk, tak punya kekuatan lebih untuk bersitatap dengan Olin yang sudah berderai air mata.
Meskipun tidak ada jawaban setelah beberapa saat setelahnya, Arsenio tetap melanjutkan. “Pesawat yang harusnya Bunda tumpangi hari itu hilang kontak. Beritanya juga ada tivi, kamu juga pasti udah lihat kalau semua pihak yang terkait masih berusaha mencari keberadaan pesawat itu.” Membayangkan kembali tangis pilu keluarga korban yang harap-harap cemas menanti kabar membuat dada Arsenio terasa sakit. Tidak bisa terbayangkan olehnya jika Bunda juga turut menjadi salah satu penumpang di pesawat hari itu.
“Bunda selamat karena terlambat datang ke bandara.” Lanjut lelaki itu. Berusaha keras menahan sesak agar bisa menyelesaikan cerita.
Olin masih tidak menanggapi, gadis itu masih sibuk menangis.
Jadi, Arsenio menoleh untuk memeriksa. Wajah perempuan yang masih ia cintai itu sudah basah dan memerah. Matanya sembab, air mata masih terus mengalir meski sepertinya Olin juga sudah lelah.
“Hari itu juga hari di mana Bunda menegaskan sekali lagi kepada aku untuk memilih. Kamu atau Anara. Dan aku sama sekali belum memberikan jawabannya karena melepaskan kamu memang enggak pernah masuk ke dalam opsi yang aku punya.”
“Lalu ngebayangin gimana jadinya kalau Bunda betulan jadi korban dan aku harus kehilangan beliau dalam keadaan aku masih menjadi anak yang mengecewakan bener-bener bikin aku rasanya hampir gila, Olin. Aku tahu aku nggak akan bisa maafin diri aku sendiri kalau seandainya itu betulan terjadi.” Bayangan soal pemakaman melintas di kepala Arsenio secara tiba-tiba. Membuat getar di tubuhnya kian hebat dan kendali atas diri menurun pesat.
Arsenio mengambil napas susah payah, kembali menunduk karena ternyata melihat Olin menangis begitu hebat malah semakin membuatnya merasa tidak berdaya. Bagaimanapun, semuanya harus selesai hari ini. Ia harus menerima takdir untuk tidak bersama dengan seseorang yang dia cintai, demi memberikan cinta kepada satu-satunya orang yang tidak akan pernah meninggalkannya sekalipun seluruh dunia pamit pergi; Bunda.
“Dari semua orang, kamu yang paling tahu betapa berartinya Bunda buat aku.” Lirih Arsenio. Rasanya sudah tidak sanggup untuk terus bicara, tetapi ia memaksakan diri. Apa yang dimulai harus diselesaikan dengan baik, tidak bisa berhenti di tengah jalan.
Arsenio menarik napas dalam-dalam, kemudian menoleh lagi ke arah Olin. Tangisnya sudah sedikit reda, tapi ia masih enggan berkata apa-apa.
“Lin,” panggilnya. “Dengan segala kerendahan hati, aku mohon sama kamu untuk berhenti. Lepasin aku. Kita memang udah nggak bisa bersama lagi, entah bagaimanapun caranya. Karena kenyataannya, aku nggak bisa untuk memilih orang lain selain Bunda.”
Dan untuk terakhir kalinya, Arsenio memeluk Olin. Membiarkan perempuan itu melanjutkan sisa tangisnya di dalam pelukan. Sambil menikmati perih di dadanya sendiri. Rasanya begitu sesak, tetapi tak sebulir pun air mata yang berhasil jatuh dari kelopak mata Arsenio. Itu jelas bukan sesuatu yang baik. Karena semakin emosinya tidak bisa keluar, segalanya akan semakin terasa sukar.
“Maaf. Maafin aku, Olin. Maaf udah gagal nepatin janji buat selalu ada di sisi kamu.” Dan maaf, karena sudah hadir di hidup kamu menjadi sosok yang tidak punya pilihan selain melepaskan kamu pada akhirnya.
...****************...
Waktu terus bergerak, tak peduli meskipun ia harus berjalan dengan tertatih-tatih. Luka demi luka tercipta, memenuhi setiap sudut di hati hingga rasanya tidak ada lagi ruang untuk menyimpan bahagia.
Demi Tuhan, Arsenio masih mencintainya. Tidak ada sedetik pun waktu yang ia lewati dengan tidak mencintai perempuan itu. Olin masih menjadi pemeran utama, tak peduli seberapa banyak waktu yang Arsenio habiskan dengan Anara.
Tetapi sekali lagi, Arsenio sadar bahwa tidak semua cinta harus berakhir bahagia. Ia pun sadar bahwa sebesar apa pun cintanya kepada Olin, Bunda tetap menjadi pemenangnya. Bahkan jika harus kehilangan mata atau sebelah kaki agar Bunda tetap berada di sisinya, Arsenio tidak akan keberatan untuk menerima.
Kehilangan Olin membuat Arsenio nelangsa, tetapi setidaknya ia masih bisa melihat gadis itu dari kejauhan, memastikannya tetap aman dengan segala daya upaya untuk melindunginya diam-diam. Sedangkan kehilangan Bunda adalah bencana yang tidak ia ketahui bagaimana cara menanggulanginya.
“Bunda tadi ke sini.” Arsenio mengangkat kepala. Anara baru saja meletakkan segelas air ke meja makan, disurukkan ke hadapannya. Entah sudah berapa lama Arsenio duduk di sini sepulang dari apartemen Olin, dan entah sejak kapan pula Anara melihatnya seperti ini.
“Ngapain?” tanyanya. Air pemberian Anara ia minum sedikit, lalu kembali mencurahkan perhatian kepadanya.
“Nganterin beberapa barang keperluan si bayi.” Jawabnya. Merasa ada yang tertinggal, perempuan itu menambahkan. “Bunda sempat nanyain kamu, aku bilang aja kamu lagi keluar cari martabak manis buat aku.”
Arsenio mengangguk, “Makasih kerja samanya. Ini yang terakhir, gue nggak akan pergi lagi nemuin Olin.” Katanya.
Sepertinya, ucapan itu membuat Anara kebingungan sehingga alisnya menukik tajam. “Maksudnya?”
“Gue udah akhirin hubungan gue sama Olin,” jawab Arsenio. “Mulai sekarang jangan ngomongin soal perceraian lagi. Fokus aja sama kehamilan lo. Gue juga bakal fokus dalam usaha gue buat jadi suami dan ayah yang baik.”
“Kenapa? Kamu nggak perlu sampai kayak gini kalau cuma—“
“Ini keputusan gue,” sela Arsenio. “Tolong, cukup hargai dan nggak usah tanya kenapa. Gue tahu apa yang terbaik buat hidup gue, Anara.”
“Tapi Olin terluka, kamu juga.”
“Akan ada lebih banyak yang terluka kalau gue sama Olin nggak berpisah.” Tegasnya. Kali ini ia berharap Anara tidak lagi banyak tanya. Karena jujur saja, tidak mudah untuk mempertahankan nada rendah ketika Anara mulai menyebalkan.
“Gue capek, mau istirahat. Lo juga sebaiknya masuk kamar dan langsung tidur, kasihan bayinya kalau terlalu sering diajak bergadang.” Ucapnya. Kemudian Arsenio bangkit dan berlalu naik ke kamar.
Selagi kakinya melangkah, lelaki itu terus berusaha meyakinkan diri bahwa memang inilah yang terbaik. Chapter hidupnya bersama Olin sudah usai, sudah waktunya membalik halaman untuk mulai menulis di chapter yang lain. Bersama Anara, dan calon anak mereka
Bersambung...