
Bahkan sampai akhir pun, Olin masih menolak untuk mengucapkan salam perpisahan dengan benar. Sebagai gantinya, dia malah mengeluarkan statement yang membuat Arsenio tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima dengan lapang dada.
“I hope you’re happy, but don’t you dare to be happier.” Statement itu masih terus Arsenio ulang di kepala meski kini sosok Olin telah menghilang dari pandangan mata, tenggelam di tengah lalu-lalang manusia.
Bagaimana Olin mengatakannya dengan suara dan air muka yang tenang telah membuat Arsenio sadar bahwa memang sudah sedalam itu dia menyakiti Olin. Maka, Arsenio masih cukup bersyukur bahwa Olin tidak mengutuk dirinya, mendoakan yang jelek-jelek terutama perihal Noel putrinya.
Arsenio menarik napas dalam-dalam. Saking dalamnya, dia bisa merasakan rongga dadanya begitu penuh. Lalu sembari mengembuskan napas perlahan-lahan, ia berbisik lirih di dalam hati, “Semoga setelah ini, kamu bisa lebih bahagia, Lin. Jauh lebih bahagia daripada waktu masih sama aku dulu.”
Karena hanya dengan begitu, rasa bersalah yang Arsenio miliki bisa sedikit berkurang. Supaya dia tidak menyesali keputusannya melepaskan Olin dan membiarkan gadis itu mulai mengarungi perjalanannya sendirian.
“Mau hangout dulu nggak?” Arsenio menarik pandangan dari titik terakhir di mana Olin terlihat. Beralih pada Zein yang menyakui kedua tangan di dalam jaket.
“Langsung balik, istri gue sendirian di rumah.” Tolaknya.
Zein tidak terlihat keberatan. Lelaki itu hanya mengangguk sekilas lalu menggiring Arsenio meninggalkan posisi mereka berpisah dengan Olin.
“Udah berapa usia kandungannya?” Zein bertanya di tengah-tengah perjalanan mereka menuju area parkir.
“Dua puluh lima minggu.” Jawab Arsenio, dengan pandangan lurus ke depan.
“Jenis kelaminnya udah tahu? Udah siapin nama?”
Arsenio mengangguk, tanpa sadar tersenyum tatkala bayangan bayi mungil terlintas di kepala.
“Looks like you’ve really been waiting for that.” Komentar Zein.
Arsenio hanya mengulas senyum tipis, kemudian mempercepat ayunan langkah. Dia ingin cepat sampai di rumah, agar bisa kembali menjaga Anara dengan benar. Sejak menemukan perempuan itu pingsan pertama kali, dia sudah tidak pernah lagi membiarkan Anara sendirian. Setiap Senin sampai Jumat, Anara akan ditemani oleh ART yang dia perkerjakan dari pagi hingga menjelang malam. Sementara pada Sabtu dan Minggu, Arsenio akan full time berada di rumah untuk mengurus segala keperluan istrinya itu.
Meninggalkan Anara sendirian membuatnya gelisah, jadi makin cepat dia bisa pulang, itu lebih baik.
Ketika sampai di sisi mobil Zein, langkah Arsenio terhenti. Hanya untuk membuatnya bisa menatap lelaki itu sebentar sebelum memuntahkan isi kepala yang sejak tadi dia tahan-tahan.
“Zein,” panggilnya mengawali.
Zein berdeham, sibuk mengeluarkan kunci mobil agar mereka bisa segera pulang.
“Thanks,”
Mendengar itu, kerutan samar muncul menghiasi kening Zein. Lelaki itu urung memencet tombol pada kunci mobil, berakhir membuat benda itu menggantung di genggaman sementara matanya menatap intens pada sosok Arsenio di hadapannya.
“Lo udah selalu ada di sisi Olin di saat-saat terpuruknya, dan gue berterima kasih atas hal itu.” Jelas Arsenio, melihat kerutan yang tak kunjung menghilang dari kening Zein.
“Still, thank you.” Kekeuh Arsenio.
Zein memutuskan untuk tidak mendebat. Pintu mobil terbuka cepat hanya sepersekian detik setelah tombol ditekan. Kemudian tanpa banyak bicara, Zein mengode pada Arsenio untuk segera masuk karena mereka harus bergegas.
Arsenio menurut. Dia berjalan memutar ke sisi penumpang. Namun sebelum dia masuk dan duduk manis di kursinya, Arsenio terdiam sebentar. Kepalanya mendongak, tepat ketika sebuah pesawat melintas rendah menuju langit dengan awan-awan putih serupa permen kapas. Pesawat itu membawa Olin di dalamnya, bersama dengan kisah mereka yang telah usai.
...****************...
Arsenio sudah curiga pada kondisi pintu depan yang tidak tertutup dengan rapat ketika ia pertama kali tiba. Namun, dia masih berusaha untuk berpikir positif. Mungkin saja Anara hanya lupa tidak merapatkan pintu karena terlalu terburu-buru untuk melakukan sesuatu.
Akan tetapi, ketika langkahnya menjelajah semakin jauh ke setiap sudut rumah dan berakhir tidak menemukan keberadaan Anara, sudah tidak ada lagi pikiran positif yang bisa dia hadirkan di kepala. Terlebih lagi saat dia mencoba menelepon perempuan itu dan menemukan ponselnya tergelak di atas nakas di kamar mereka, Arsenio rasanya sudah hampir gila.
Kilas balik kejadian ketika dia menemukan Anara tergeletak lemas waktu itu kembali terbayang jelas di pelupuk mata. Lalu ingatan soal mimpi-mimpi buruk perihal kehilangan yang beberapa kali tandang juga semakin membuat kepanikannya meningkat.
Dengan kepala yang semrawut dan dada yang bergemuruh ribut, Arsenio bergerak cepat menuruni satu persatu anak tangga. Dua ponsel ada di dalam satu genggaman, sedangkan satu tangannya yang lain menggenggam erat kunci mobil dan bersiap untuk berkelana mencari Anara.
Untuk kemudian, dia dibuat menganga tak percaya ketika sosok yang dia cari-cari muncul dari pintu depan dengan tampang polos tak berdosa.
Dalam balutan dress selutut berwarna abu-abu tua, perempuan itu melangkah masuk sambil mengunyah potongan mangga. Netranya yang menatap polos pada Arsenio sudah menunjukkan bawahan perempuan itu tidak tahu apa-apa. Benar-benar have no clue bahwa suaminya sudah hampir gila mencari keberadaannya.
“Kamu dari mana aja?!” Arsenio setengah berteriak. Kakinya melangkah lebar hanya agar bisa mencapai posisi di mana Anara berhenti lebih cepat.
“Beli rujak di depan,” jawab Anara masih dengan mulut yang penuh kunyahan mangga. Untuk memperkuat alibi, dia juga menyodorkan satu kotak mika berisi beberapa potong buah berlumur sambal kacang kepada Arsenio. Yang sekali lagi malah membuat lelaki itu menghela napas tak percaya.
“Harus banget beli rujak dengan ninggalin hape dan biarin pintu depan nggak kekunci?” cecar Arsenio, mengabaikan rujak yang tampak menggoda di depannya.
“Ya ... maaf. Tadi abangnya lewat aja gitu, terus aku buru-buru karena takut ditinggal.” Anara mencicit.
Arsenio masih ingin marah-marah, tetapi melihat raut wajah Anara yang memelas dan suaranya yang terlampau pelan, dia mengurungkan niat. Sebagai gantinya, dia berjalan lebih dekat, kemudian memeluk tubuh dengan perut buncit itu tidak terlalu erat.
“Lain kali jangan begitu,” ucapnya pelan. “Kamu nggak tahu kan seberapa khawatirnya aku sewaktu nggak ngeliat kamu ada di rumah? Aku takut kamu terluka lagi kayak waktu itu, An.”
Rasa masam dari mangga yang sedang dia kunyah seketika hilang. Sebab kini, Anara lebih sibuk meresapi perasaan asing yang menyelusup ke dalam dadanya secara perlahan. Sikap protektif yang Arsenio tunjukkan jelas hanya untuk kebaikan putri mereka, Anara juga paham itu. Akan tetapi, kenapa dia tetap tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri seperti sekarang ini? Bagaimana jika perasaannya tumbuh semakin jauh, dan dia hanya akan berakhir terluka?
“Maaf,” ucapnya sekali lagi, masih dengan suara yang nyaris hanya bisa dia dengar sendiri. Dan setelah itu, Anara sepenuhnya lupa pada bagaimana caranya dia menghadapi Arsenio ketika pelukan lelaki itu terasa semakin erat.
Bersambung...