Losing Us

Losing Us
Being Friends



Dari atas tempat tidur, Arsenio hanya bisa mengamati bagaimana Anara sibuk sekali menggelar kasur lantai untuk dia tiduri. Setelah mencapai kondisi yang menurut Arsenio sudah cukup rapi sekalipun, gadis itu masih membenahi di beberapa bagian. Tak lupa mengibaskan selimut tebal yang Arsenio berikan untuk mengempaskan debu-debu nakal yang menempel di atas kasur lantai berwarna abu-abu tua itu.


“Lo yakin mau tidur di situ?” tanya Arsenio sekali lagi. Sebelum kasur itu digelar, dia sudah lebih dulu bertanya kepada Anara tentang keyakinannya untuk menghabiskan malam di atas kasur lantai yang tidak seberapa tebal. Arsenio juga sudah berbaik hati menawarkan kepada gadis itu untuk berbagi kasur. Karena kalau dibandingkan dengan kasur di kamar tamu yang tidak seberapa besar, kasur di kamar Arsenio masih bisa muat untuk dua orang dengan memberikan jarak yang lumayan.


Akan tetapi, sama seperti jawaban yang dia berikan sebelumnya, Anara juga tetap menolak tawaran baik Arsenio dengan gelengan kepala.


“Ya udah, terserah.” Ujar Arsenio mengedik tak acuh. Toh dia sudah berusaha menawarkan. Kalau Anara menolak, ya itu pilihannya, dan segala risiko ya Anara yang akan menanggungnya.


“Kamu udah kasih tahu Olin?”


“Soal apa?”


“Bunda.” Sembari mencari posisi duduk yang nyaman untuk memainkan ponselnya, Anara bertanya demikian.


“Bukan urusan lo.” Sahut Arsenio. Sebenarnya, jawabannya adalah sudah. Tidak mungkin dia bisa duduk setenang ini sekarang kalau belum memberikan laporan kepada Olin.


Seakan sudah cukup lelah dengan jawaban Arsenio yang template, Anara menghela napas begitu berat. Setelah itu, dia tidak lagi menggunakan mulut cerewetnya yang mirip Donald Duck untuk bertanya ini itu. Dia malah sibuk dengan ponselnya, menekuri benda pintar itu seperti separuh nyawanya ada di sana.


“Lo lagi ngeliatin apaan?” tanya Arsenio kepo. Dia mengintip sedikit ke arah layar ponsel Anara untuk mencari tahu sendiri, namun Anara cepat-cepat membalikkan ponselnya dan mendelik ke arahnya.


“Bukan urusan kamu.” Timpalnya. Jelas sekali dia berusaha membalas Arsenio, dengan caranya yang menyebalkan setengah mati.


“Enggak ada pantes-pantesnya lo jadi orang galak.” Arsenio mencibir. Memang begitu kenyataannya. Anara tidak cocok menjadi antagonis, gadis itu cocoknya menjadi pemeran protagonis yang hidupnya selalu menderita dan banyak menangis.


“Aku enggak minta pendapat kamu.” Sungutnya, lalu kembali menekuri ponselnya dengan memastikan tidak ada sudut di mana Arsenio bisa mengintip.


Arsenio berdecak sebal, namun hanya berlaku selama beberapa detik karena tidak lama kemudian, dia ingat bahwa tujuannya pulang cepat dari apartemen Olin adalah untuk menginterogasi Anara. Ini soal foto-foto yang gadis itu unggah ke akun Instagram pribadinya. Arsenio ingin tahu foto-foto itu Anara ambil menggunakan ponsel atau kamera, dan bagaimana cara gadis itu mengambilnya hingga hasilnya bisa semenarik itu.


Cukup sulit untuk memulai percakapan sok akrab karena pada dasarnya mereka memang tidak akur. Namun, demi memenuhi rasa penasaran, dia berusaha menurunkan gengsi sampai level yang paling bisa dia toleransi. Berdeham menjadi template awalan yang sering dia gunakan untuk memulai sesi obrolan yang canggung, dan malam ini pun dia melakukannya.


Sisa-sisa lendir yang nyangkut di tenggorokan dan membuatnya terasa gatal luntur setelah Arsenio berdeham beberapa kali. Tidak hanya itu, dehaman Arsenio juga berhasil membuat Anara menoleh dan seketika melupakan betapa menarik isi di dalam ponselnya.


“Haus? Batuk? Minum.” Suruhnya.


Arsenio tidak menggubris. Karena kalau mulai bicara yang lain, dia pasti akan lupa pada tujuan awalnya. Jadi sebelum semuanya buyar lagi, Arsenio pun memulai sesi interogasi dengan tensi yang sesantai-santainya.


“Gue enggak sengaja nemuin akun Instagram lo tadi pagi.” Arsenio mengawali.


Anara terlihat terkejut, namun dia berusaha keras menutupinya. “Terus?” tanyanya seraya membuang muka, kembali menatap layar ponselnya.


“Foto-foto yang lo ambil semuanya cantik.” Foto lo yang ada di sana, juga cantik.


“Lo ngambilnya pakai apa? Hape atau kamera?”


“Hape. Aku enggak gitu ahli pakai kamera, ribet.” Jelasnya, masih enggan menatap Arsenio.


“Sejak kapan lo suka fotografi?” tanya Arsenio lagi, semakin kepo.


Anara meletakkan ponselnya yang padam ke atas kasur lantai, lalu mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Arsenio. Dia bersila, dengan kedua tangan yang berada di antara lekukan kakinya yang saling tumpang-tindih. “Sejak SMA. Dulu ada ekskul fotografi, terus aku iseng gabung dan ternyata suka.”


“Keren.” Puji Arsenio, tulus. Tapi agaknya, ketulusan itu tidak sampai kepada Anara karena dia malah memicing curiga ke arahnya. “Serius, foto-foto yang lo ambil keren.”


“Kamu lagi perlu apa nih sama aku? Lagi butuh bantuan biar bisa tetap ketemu sama Olin meskipun Bunda nginep selama seminggu ke depan?” tuduhnya.


Kalau soal itu... Oke, itu benar. Seminggu tidak bertemu dengan Olin sama halnya dengan menyuruh Arsenio untuk tidak minum air selama seharian. Mungkin bisa, tapi pasti akan menimbulkan efek yang luar biasa. Lemah, letih, lesu, lunglai. Semuanya akan Arsenio rasakan setelahnya. Tapi, hey, tidak bisakah Anara berpikir positif sedikit?! Maksudnya, Arsenio benar-benar sedang memuji gadis itu! Tidak ada niat lain di belakangnya.


“Tuh, kan.” Anara memutuskan tiba-tiba. “Gini, ya, Arsenio. Aku enggak peduli kamu mau ketemu sama Olin berapa juta kali dalam sehari, tapi kalau aku harus bantuin kamu dengan bohong terus ke Bunda, maaf aja, aku enggak mau. Dosa aku udah banyak, jangan bikin aku jadi semakin berdosa karena bantuin kamu buat bohong.” Cerocosnya.


Terkadang, Arsenio penasaran. Apa kiranya yang dirasakan kedua orang tua Anara ketika mereka dianugerahi anak yang super-duper cerewet seperti ini? Apakah mereka tidak pusing? Karena kalau Arsenio punya anak secerewet ini, dia mungkin akan memutuskan untuk pulang hanya seminggu sekali.


“Aku yakin kamu punya banyak ide cemerlang buat bisa tetap ketemu Olin, jadi tolong jangan libatkan aku, oke?”


“Ini bukan soal Olin.” Potong Arsenio. Lama-kelamaan gerah juga mendengar nama Olin disebut terus-menerus oleh Anara.


Mulut Anara yang sudah terbuka hendak nyerocos lagi kembali terkatup. Dia diam selama beberapa detik, menatap Arsenio masih dengan sorot penuh curiga.


“Gue serius muji hasil foto lo, karena emang keren dan cantik.” Kata Arsenio sebab tatapan Anara mulai membuatnya tidak nyaman.


Pada detik setelahnya, Anara menarik pandangan seraya membuang napas pelan. “So sorry. Akhir-akhir ini aku terlalu banyak mikirin hal-hal negatif. Sekali lagi, makasih atas pujian kamu. And please forgive me karena udah lancang nuduh kamu ini itu.” Dan meskipun raut wajahnya tidak kelihatan jelas karena dia kembali menunduk, Arsenio tahu Anara sedang murung.


Benar, kan, apa yang Arsenio bilang? Anara sama sekali tidak cocok menjadi tokoh antagonis. Lembek dan terlalu cepat merasa bersalah. Padahal kalau mau, dia bisa saja membalikkan kata-kata dengan beribu macam cara. Kalau begini, Arsenio malah menjadi iba. Rasanya, dia ingin menggojlok Anara, melatih mentalnya agar tidak lembek seperti permen-permen kapas yang langsung lenyap begitu terkena air liur.


“Let’s talk more about photography. Enggak usah bahas soal yang lain, cuz I need someone to talk about my hobby so bad. Olin doesn’t care about it, and since I found that you have the same hobby as me, why don’t we just being friends so we can talk about it more?” karena sepertinya, berteman dengan Anara juga tidak ada ruginya. Dan bukankah itu lebih menguntungkan, karena setidaknya ada status yang jelas di antara mereka, yaitu sebagai teman?


Anara kembali menatap Arsenio, ragu-ragu bibirnya bertanya, “Being friends?” yang langsung Arsenio jawab dengan anggukan kepala.


“Being friends.”


Bersambung