Losing Us

Losing Us
Keep This As a Secret



“Jangan kasih tahu Bunda.” Menjadi kalimat pertama yang Anara dengar hanya sesaat setelah Arsenio selesai memberi tahu alasan mengapa dirinya harus dilarikan ke rumah sakit.


Dia dinyatakan hamil. Kandungannya sudah memasuki usia 7 minggu, dan mual yang dia alami di pagi dan sore hari adalah hal yang wajar bagi ibu-ibu hamil pada trimester pertama kehamilan. Kondisi tubuhnya drop karena Anara terlalu keras kepala dengan tidak memakan apa pun selama seharian, sehingga mual yang dia rasakan pun semakin parah.


Anara menarik napas dalam-dalam, kemudian menunduk menatapi perutnya sendiri. Menjadi ibu adalah salah satu keinginan terbesarnya ketika remaja dulu. Namun, ketika hal itu akhirnya terwujud, dirinya malah tidak merasa senang sama sekali. Di kepalanya malah berseliweran pertanyaan soal: bagaimana bisa? Bagaimana bisa janin itu bisa hadir di perutnya hanya dengan sekali percobaan saja? Bahkan, dia tidak memintanya. Tuhan juga tahu kalau anak ini tidak akan diinginkan oleh ayahnya, lantas mengapa Dia masih membiarkan anak ini ada?


“Tolong keep ini untuk kita berdua aja, sambil gue cari solusinya.” Arsenio bersuara lagi.


Anara tersenyum sumir mendengar penuturan Arsenio. “Solusi? Solusi kayak apa yang kamu maksud?” tanyanya seraya menoleh ke arah Arsenio yang duduk di kursi samping ranjang. “Mengenyahkan anak ini sebelum Bunda dan Olin tahu?”


Dirinya berharap, Arsenio akan menggelengkan kepala. Karena meskipun anak ini memang tidak dikehendaki untuk ada, Anara ingin tetap meyakini bahwa setidaknya Arsenio masih memiliki sedikit saja sisi kemanusiaan untuk tidak menyakiti bayi mereka yang tidak berdosa. Akan tetapi, Anara dibuat meringis tatkala Arsenio tidak memberikan reaksi apa-apa. Seolah solusi yang ia akan tawarkan memang soal melenyapkan janin yang dikandung Anara.


“Kita enggak boleh punya anak.” Dan kalimat itu berhasil menyayat hati Anara begitu dalam, menjadikannya berdarah-darah. “Gue masih mau melanjutkan hubungan gue sama Olin, An. Dan anak itu ... anak itu bakal bikin semuanya berantakan.”


Untuk ke-sekian kalinya, Anara menarik napas dalam-dalam, memenuhi dadanya hingga menggembung sebelum mengembuskan napas dengan teramat pelan. Dari awal, memang tidak pernah ada yang membahagiakan dari pernikahan yang dipaksakan ini. Semuanya berjalan dengan keengganan, baik dari dirinya maupun Arsenio. Malam ketika mereka menjadi dekat satu sama lain secara fisik sekalipun, nyatanya tetap tidak mampu merobohkan tembok pembatas yang sejak awal sudah Arsenio bangun tinggi sekali.


“Kita—“


Bukan hal yang mudah, tetapi Anara sudah memikirkan ini sejak beberapa hari belakangan. Tidak akan ada yang bisa dipaksakan lagi dari pernikahan ini, jadi mumpung usia pernikahan mereka masih dalam hitungan bulan, dia pikir lebih baik pernikahan ini segera diselesaikan. Akan selalu ada alasan yang masuk akal untuk mengakhirinya. Dirinya pun yakin Bunda bukan orang egois yang akan tetap meminta mereka bertahan jika mereka jujur bahwa pernikahan mereka tidak berjalan dengan baik.


Entah bagaimana ke depannya, Anara akan memikirkannya nanti. Tabungan dari harta warisan yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya masih bisa untuk menghidupi dirinya dan calon buah hatinya ini sampai beberapa tahun ke depan. Setidaknya, dia bisa menggunakan itu sambil memikirkan dari mana lagi dia bisa mendapatkan uang.


“Enggak akan segampang itu, Anara. Bunda—“


“Bunda pasti ngerti.” Anara menyela. Ia menatap Arsenio intens, menyelami manik kelam yang kini penuh akan sorot khawatir yang kentara. “Aku yang akan bilang sama Bunda kalau pernikahan kita memang enggak pernah berjalan baik sejak awal.”


“Dan Bunda akan langsung menyalahkan gue.” Arsenio terkekeh, menertawai nasibnya yang selalu saja berada di posisi yang bersalah. “Lo tahu segimana Bunda lebih pro ke lo.”


“Terus kamu maunya aku gimana?” Anara sudah lelah. Rasanya, dia ingin berteriak meluapkan perasaan yang meletup-letup di dadanya. Hanya saja, dia tidak lagi memiliki energi yang cukup untuk melakukannya. “Tell me, aku harus gimana?” dan pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban karena Arsenio malah diam seribu bahasa.


Bersambung