
"Kamu bilang apa barusan?"
Arsenio kembali mengusak wajahnya kasar. Keputusan besar telah dia ambil dengan mengatakan yang sejujurnya kepada Olin. Tentang kehamilan Anara, juga tentang pilihan yang Bunda berikan untuk dirinya.
"Jangan bercanda, Gal. Kamu tahu aku udah stres banget mikirin hubungan kita ke depannya." Olin melesak, menarik jaket kulit yang Arsenio kenakan hingga lelaki itu mau tak mau membalas tatapannya. "Bilang kalau kamu cuma lagi prank aku."
Tetapi sayangnya, yang ia dapat malah helaan napas yang membuat hatinya semakin tersayat. Bukankah itu artinya apa yang Arsenio katakan sebelumnya adalah benar, bukan sekadar candaan semata?
Lemas. Tangan Olin yang semula mencengkeram jaket kulit Arsenio seketika jatuh ke atas pangkuan. Pun dengan tatapan kosongnya yang turut jatuh tanpa haluan.
"Kamu jahat, Gal." Lirihnya, sebab hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya. Terlalu besar kecewa yang dia rasakan, sehingga sudah tidak ada lagi bentuk cacian atau protes apa pun yang kiranya bisa dia suarakan.
Sementara di hadapannya, Arsenio menunduk semakin dalam. Wajah kusutnya sudah tidak keruan, pun dengan rambut legamnya yang sudah berantakan.
"I'm so sorry, Lin." Padahal dia tahu, seribu kata maaf pun tak akan cukup untuk menyatukan kembali apa yang sudah dia hancurkan. Kata maafnya tidak berguna, karena segalanya sudah terlanjur kacau.
"Gugurin." Tiba-tiba, Olin mengangkat wajahnya. Tak lama, menyusul Arsenio melakukan hal yang sama dengan raut wajah terkejut yang kentara.
"Lin,"
"Gugurin aja." Olin mengulangi usulannya. "Kamu bilang itu nggak sengaja, kan? Kamu lagi mabuk dan setengah sadar waktu ngelakuinnya. Gugurin aja, Gal. Kamu bisa punya anak lain nanti, sama aku."
Tadinya juga Arsenio ingin begitu. Tadinya, dia juga ingin menolak kehadiran anak itu karena dia pun belum merasa siap untuk menjadi seorang ayah. Tetapi melihat bagaimana Anara berjuang begitu keras agar anak itu tetap tumbuh di perutnya, bahkan tidak keberatan jika status pernikahan mereka harus berakhir sekalipun telah mengubah keputusan Arsenio. Ia menginginkan anak itu. Ia ingin jiwa yang tak berdosa itu tetap lahir ke dunia, terlepas dari bagaimana awalnya ia dihadirkan di dalam rahim Anara.
"Nggak bisa, Lin."
"Kenapa nggak bisa?!" sergah Olin. Bahunya naik turun, seiring dengan amarah yang membuncah menguasai diri. "Kamu bilang itu nggak sengaja?! Terus kenapa nggak bisa digugurin?!"
"Bunda udah tahu," lirih Arsenio, dan ia kembali menunduk.
Itu bukan sebuah kebohongan. Bunda betulan sudah tahu soal kehamilan Anara, sebab dia sendiri yang telah menyampaikan kabar tersebut kepada Bunda. Segera setelah dia pulang dari rumah sakit, Arsenio melajukan mobilnya ke kediaman ibunya, untuk mengatakan bahwa ia tidak akan melepaskan Anara sebab ada darah daging di rahim perempuan itu.
Bunda senang setengah mati sewaktu tahu akan memiliki cucu, dan hal itu semakin membuat Arsenio tidak tega untuk kembali mengacau.
"Aku nggak mungkin bikin Bunda sedih, Lin."
"Tapi kamu bikin aku sedih!" Olin mendaratkan pukulan ke dada Arsenio, bertubi-tubi hingga tubuh lelaki itu terdorong ke belakang dan nyaris jatuh dari sofa. "Kamu hancurin aku, Gala! Kamu ingkarin janji kamu buat tetap sama aku! Kamu jahat!"
"I know, I'm sorry." Meski tahu permintaan maaf itu tidak berguna, Arsenio tetap mengatakannya. Sebab dia tidak memiliki hal lain untuk dikatakan kepada kekasih yang hatinya sudah dia buat patah dengan cara paling parah.
Pukulan demi pukulan masih Arsenio terima, sampai akhirnya dia merasakan pukulannya mulai melemah seiring dengan tangisan Olin yang semakin pecah. Tubuh gadis itu merosot ke lantai, bahunya bergetar hebat dan isakan pilu terdengar begitu menyayat hati.
...****************...
Dalam pencahayaan kamar yang temaram, Anara membaringkan tubuhnya menghadap ke balkon. Lengan kanannya dijadikan tumpuan, sedangkan lengan kirinya bersemayam di atas perut, telapaknya bergerak mengusap tempat di mana janinnya sedang tumbuh tersebut.
"Aku nggak tahu apa yang terjadi, tapi kalau sama dia cuma bikin kamu sakit, lebih baik kamu pergi."
Ucapan Aksara sebelum mereka berpisah di lobi rumah sakit kembali terngiang di telinga. Rasanya begitu nyata, seolah lelaki itu betulan sedang berada di sampingnya.
"Menjadi ibu tunggal emang berat, tapi akan jauh lebih berat kalau kamu harus bertahan dalam sebuah pernikahan hanya demi membuat anak kamu memiliki keluarga yang utuh sementara diri kamu sendiri menderita."
"Percaya sama aku, An. Kalau pondasinya udah nggak baik, sekeras apa pun kamu berusaha buat bertahan, ujung-ujungnya kamu cuma akan dapat rasa sakit yang nggak terhitung. Bukan cuma kamu, tetapi juga anak kamu. Kamu mungkin nggak tahu, tapi melihat kedua orang tua bercerai kadang rasanya lebih baik daripada melihat mereka tetap tinggal di rumah yang sama, tapi udah dengan visi misi yang berbeda."
"Aku tahu, aku nggak berhak bicara banyak, apalagi kita udah lama nggak ketemu dan pasti udah banyak banget hal yang kamu alami selama itu. Tapi, An, kalau sekiranya kamu butuh sesuatu, tolong jangan ragu buat cari aku. Waktu boleh aja udah berlalu, tapi aku masih tetap Aksara yang sama, yang kamu temui bertahun-tahun lalu. Aku masih Pradipta Aksara, teman kamu yang bisa kamu andalkan."
"Andai melepas status pernikahan ini bisa semudah yang kamu usulkan, Sa." Karena pada kenyataannya, tidak ada yang benar-benar mudah. Bahkan ketika dia sudah berbesar hati untuk menawarkan sebuah perceraian, Arsenio malah membuang-buang waktu dengan terus berkata nanti.
Anara juga maunya berhenti. Dia juga maunya menjalani hidup berdua saja dengan bayinya, asalkan bisa tenang dan bahagia. Tapi sepertinya Arsenio memang tidak suka melihatnya senang. Lelaki itu mungkin sengaja menahannya lebih lama karena ingin membuatnya menderita. Semacam upaya balas dendam karena ia telah lancang masuk ke dalam hidup lelaki itu dan mengacaukan segalanya.
Dokter bilang, Anara tidak boleh banyak pikiran. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Segala hal berputar acak di kepala, membuat otaknya yang tidak seberapa besar terpaksa bekerja lebih keras mengurai hal-hal yang kusut. Hanya untuk berakhir semakin ribut.
Drrt drrt
Suara notifikasi pesan membuat Anara menoleh cepat ke arah nakas. Ponselnya menyala selama beberapa detik, mengeluarkan sinar berwarna biru sebelum kembali padam dan membuat kamarnya kembali remang.
Anara meraih ponselnya, menekan layar dua kali hingga ponsel itu menyala. Melalui pop up notifikasi, ia mendapati nama Arsenio muncul di sana. Dengan sebaris kalimat yang hanya bisa Anara baca beberapa kata saja.
Gue nggak pulang malam ini...
Tarik napas dalam-dalam, embuskan. Anara memutuskan untuk tidak membaca pesan yang Arsenio kirimkam secara keseluruhan. Toh, sepertinya dia sudah tahu apa yang Arsenio hendak katakan. Lelaki itu pasti akan menginap di apartemen Olin, itu sebabnya ia tidak bisa pulang. Memangnya, akan ke mana lagi lelaki itu pergi, kalau bukan ke tempat kekasihnya?
"Nggak apa-apa, An. Kamu nggak ada hak untuk melarang. Biarin Arsenio pergi semaunya, kamu cuma perlu mencari cara supaya perceraian kalian bisa segera diurus." Beres berkata begitu, Anara menarik selimut hingga sebatas leher. Ponsel telah dia kembalikan ke atas nakas, setelah memastikan dayanya mati agar tidak ada lagi interupsi.
Perlahan, Anara memejamkan mata, berusaha menghilangkan pikiran buruk apa pun dari kepala dan mencoba fokus hanya pada kehamilannya.
Bersambung...
Chat Arsenio yang utuh...