
Jangan mengabaikan firasat, karena bisa jadi itu adalah pertanda yang diberikan oleh alam bawah sadar agar kita bisa waspada dan tidak terkejut ketika dihadapkan pada situasi-situasi tidak nyaman.
Seperti saat ini, Anara dihadapkan pada sosok Olin yang berdiri angkuh di depan pintu rumahnya. Raut wajah perempuan itu datar. Membuat Anara semakin tidak bisa menebak apa yang akan perempuan itu lakukan selanjutnya.
Di luar, matahari bersinar begitu terik. Panasnya sampai membuat jalanan kompleks terlihat berkilauan seperti baru saja ada yang menuangkan serpihan berlian ke atasnya. Oleh karena itu, Anara menekan sisi jahatnya untuk mengusir Olin saat itu juga dan malah mempersilakan perempuan itu masuk sebagai gantinya.
Selayaknya tamu yang tetap harus dijamu dengan baik, Anara membiarkan Olin duduk di sofa, sementara ia berjalan menuju dapur demi menyiapkan minuman dan beberapa makanan ringan meski sepertinya—perempuan itu tidak akan sudi menyentuhnya.
Beberapa lama berkutat di dapur, Anara kembali membawa satu nampan berisi segelas Lemon Tea, setoples keripik kentang dan sepiring kue bolu yang dibuatnya tadi pagi.
“Silakan diminum,” ucapnya seraya meletakkan gelas Lemon Tea tepat di hadapan Olin.
Kotak-kotak es batu yang semula mengambang di permukaan terlihat bergerak turun ke dasar saat gelas itu mendapatkan sedikit gerakan. Sama seperti kotak-kotak es batu itu pula, tatapan Olin yang semula terus terpaku pada Anara beralih pada gelas Lemon Tea di atas meja.
Tak terduga, perempuan itu meraih gelasnya. Tampak mengendus bagian ujung gelas (seperti ketika ia sedang mengendus wine mahal) sebelum menyesap Lemon Tea dingin itu sedikit.
“Not bad,” komentar perempuan itu. Lalu, kembali tatapannya jatuh pada sosok Anara yang duduk di single sofa yang lain.
Selama hampir satu menit, tidak ada yang Olin lakukan. Bibir perempuan itu pun terkunci rapat. Sedangkan matanya masih terus saja mengawasi Anara seperti seorang objek penelitian yang harus diawasi dengan ketat.
Merasa tidak nyaman, Anara melarikan tatapannya ke arah lain. Berlari-larian menyapa apa saja yang bisa dia temui di ruang tamu. Lukisan bunga matahari raksasa hadiah dari Bunda, langit-langit ruang tamu berhias lampu gantung mahal, set televisi yang padam, juga pada pintu rumah yang terbuka lebar.
Anara melarikan diri sejauh-jauhnya, hanya agar ia tidak semakin merasa terintimidasi akan tatapan Olin.
“Jadi, gimana rasanya menjalani kehidupan yang lo rebut dari orang lain?” di tengah keheningan, Olin mencetuskan pertanyaan yang semakin membuat Anara merasa terpojok.
Ragu-ragu, ia menoleh, hanya untuk menemukan Olin masih saja menatapnya dengan datar seolah apa yang perempuan itu katakan sebelumnya bukanlah apa-apa.
“Nggak sedetik pun gue hidup buat merestui kebahagiaan kalian. Gue harap, sampai akhir pun, kalian nggak akan pernah ngerasain hidup tenang.” Sambung Olin yang semakin membuat Anara tertekan.
Hanya ada jeda selama enam detik sebelum Olin kembali bicara. “Anak lo,” seraya menunjuk perut Anara. “Gue bersumpah anak itu nggak akan mendatangkan sukacita. Sebaliknya, dia yang akan jadi sumber kesakitan paling besar buat Arsenio. Supaya dia sadar, sedari awal memang dia nggak seharusnya menghendaki anak itu lahir ke dunia.”
Mendengar anaknya dibawa-bawa, Anara yang sebelumnya hanya bisa pasrah menerima ucapan jahat Olin seketika tergugah. Naluri keibuannya muncul. Ingin melindungi anaknya dengan segala macam cara. Anaknya tidak bersalah, jadi kenapa ia harus menerima ujaran kebencian dari Olin?
Dengan berani, Anara akhirnya menjawab, “Mau sampai kapan kamu hidup dengan membenci takdir Tuhan?”
Detik ketika Anara kembali membuka mata, ia berkata, “Bahkan kalau bukan karena aku, kamu dan Arsenio juga belum tentu akan bersama. Siapa yang bisa menjamin kalau kalian tetap bisa menikah dan hidup bahagia?”
Olin tidak menjawab. Ekspresi wajahnya pun sama sekali tidak berubah. Anara merasa seperti sedang berbicara dengan patung. Dan jujur saja, itu jauh lebih menguras emosi dan tenaga karena semua omongannya seolah berakhir sia-sia.
“Kamu boleh mengutuk aku sampai puas, tapi jangan usik anak aku, dia nggak bersalah.” Tegasnya.
Bahkan setelah itu pun, OLIH masih tidak bereaksi sehingga Anara harus mengambil keputusan dengan cepat.
Setelah menarik napas panjang, ia bangkit dari sofa. Telunjuknya mengarah ke pintu, sedangkan matanya menatap Olin begitu lekat. “Kalau udah nggak ada yang mau kamu omongin, aku mohon dengan segala hormat, kamu pergi dari sini.” Suruhnya.
Entah apa yang ada di pikiran Olin ketika perempuan itu malah dengan santainya kembali menyesap Lemon Tea, menggigit sekotak es batu dan menyimpannya di dalam mulut sebelum akhirnya turut bangkit dari sofa.
Tidak ada kata pamit. Perempuan itu berjalan keluar dari rumah Anara seperti seseorang yang tidak pernah diajari tata krama. Langkahnya terayun begitu bebas. Melenggak-lenggok bagai model papan atas yang tengah berjalan di atas pentas.
Sampai tubuh Olin menghilang bersama mobilnya yang terparkir asal di halaman, Anara masih berada di posisinya berdiri. Emosinya meledak-ledak di dalam sana, tetapi tidak ada sesuatu yang bisa dia lakukan untuk mengekspresikan perasaannya. Akibatnya, dadanya mulai terasa sesak dan perutnya perlahan-lahan terasa keram.
Anara meringis saat keram di perutnya terasa semakin parah. Rasanya seperti ada tangan-tangan besar yang berusaha mengeluarkan bayinya dari sana secara paksa.
Semakin lama, rasa sakitnya semakin terasa menyiksa. Kaki Anara pun sudah tidak mampu lagi menapak dengan benar, sehingga tubuh kurusnya limbung dan terduduk lemas di atas lantai. Peluh mulai bercucuran, detak jantungnya semakin tidak keruan dan Anara mulai merasakan napasnya sesak.
Anara sadar ia harus segera mencari pertolongan, tetapi tubuhnya terlalu lemas untuk bisa berjalan keluar atau kembali ke kamar mengambil ponsel untuk menelepon ambulans.
Karena rasa sakit yang teramat sangat, kesadaran Anara pun sedikit demi sedikit menurun. Kepalanya terkulai di atas sofa. Matanya mulai terpejam sering dengan keringat dingin yang semakin deras bercucuran.
Sebelum kesadarannya habis, rungunya sempat mendengar suara deru mobil memasuki pekarangan. Membawa harapan baru agar ia bisa diselamatkan.
“Tolong...” lirihnya parau, lalu semuanya gelap.
Anara pingsan. Tanpa tahu siapa gerangan yang datang. Apakah benar-benar pertolongan, atau justru bencana baru yang lebih dahsyat.
Bersambung....