Losing Us

Losing Us
Sudden Attack



Usai menghabiskan waktu meratapi perubahan sikap Arsenio yang tidak bisa ditebak sama sekali—persis mood perempuan yang sedang datang bulan—Anara akhirnya menuruti permintaan lelaki itu untuk memasak makan malam. Dan berhubung dia malas kalau harus pergi keluar untuk membeli bahan makanan, Anara pun akhirnya hanya memasak dengan bahan makanan yang tersedia di dalam kulkas.


Tidak banyak. Ala kadarnya. Hanya semangkuk cah sawi dengan ekstra bawang putih cincang, sepiring besar tomat telur, beberapa keping bakwan sayur dan semangkuk kecil sambal terasi. Terserah. Anara tidak terlalu peduli apakah menu-menu makanan itu sesuai dengan selera Arsenio atau tidak. Karena, bukankah lelaki itu sendiri yang bilang terserah Anara mau memasak apa?


Beres memasak dan mencuci semua peralatan kotor bekas pertempuran, Anara naik ke kamar. Peluh yang membasahi seluruh tubuh dan wajahnya telah menghadirkan aroma tidak sedap yang tidak nyaman untuk dihirup bahkan oleh hidungnya sendiri. Jadi, Anara memutuskan untuk segera mandi.


Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Anara lebih dulu mengambil baju ganti. Itu sudah merupakan kebiasaan sejak dulu. Sebab dia enggan untuk keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk biasa ataupun bathrob, maka Anara selalu menyiapkan baju ganti dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Belum sempatnya Anara memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci membuat hanya tinggal tersisa sedikit saja baju di dalam lemari. Setelan tidur miliknya yang jumlahnya genap 6 pasang sudah semuanya berada di keranjang pakaian kotor, pun dengan baju-baju santai yang biasa dia pakai untuk pengganti baju tidur.


Hal itu menyebabkan tidak banyak pilihan yang bisa Anara buat. Gadis itu berakhir mencomot satu kaus pas badan berwarna hitam dan satu celana pendek di atas lutut. Tenang, sama sekali tidak akan kelihatan seksi karena selain badannya kurus kerempeng tak berlekuk (menurut Anara sendiri), celana pendek itu juga longgar, bukan tipikal yang pas badan seperti kaus yang dia pilih sebelumnya.


Perkara pakaian ganti sudah solved, Anara pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Satu persatu pakaian dia tanggalkan, lalu shower dinyalakan. Alih-alih dingin, air yang mengucur dari sana justru terasa hangat. Kabar baik, karena akan mengejutkan bagi tubuh yang berkeringat jika langsung bersentuhan dengan air dingin.


Seraya membasuh seluruh tubuh dari kepala sampai ke jari-jari kaki, Anara bersenandung pelan. Lagu-lagunya acak, lompat dari satu judul ke judul lain dengan mulus tanpa hambatan. Entah hanya dia, atau beberapa orang juga begitu, tetapi Anara memang cenderung hanya menyanyikan bait-bait tertentu dari sebuah lagu—sekalipun dia sebenarnya hafal keseluruhan liriknya.


Konser pribadi yang berlangsung selama kegiatan mandi berakhir ketika shower Anara matikan, dan dia bergerak mengambil handuk untuk mengeringkan seluruh badan. Segar, sudah pasti. Tidak ada lagi lengket dan bau badan yang mengganggu. Yang ada kini tubuhnya penuh dengan bau sabun beraroma mawar yang syahdu.


Cepat-cepat Anara berganti pakaian, lalu melilitkan handuk khusus kepala untuk menyerap sisa-sisa air di rambut yang dia keramasi. Kemudian, dia berjalan menuju meja rias dan segera menyalakan hair dryer untuk mengeringkan rambut.


Biasanya, kalau tidak sedang terburu-buru untuk pergi ke suatu tempat, Anara akan membiarkan rambut basahnya kering dengan sendirinya. Mamanya bilang, rambut akan menangis jika terlalu sering terkena hair dryer, jadi dia enggan untuk sesering itu menggunakannya.


Namun demikian, kendati kali ini Anara juga tidak sedang buru-buru untuk pergi ke mana pun, dia tetap memilih untuk mengeringkannya menggunakan bantuan hair dryer karena setelah ini, dia ingin merebahkan diri. Sekadar mengistirahatkan punggung dan pinggang yang terasa pegal karena berkutat dengan agenda memasak dalam waktu yang cukup lama.


Pukul 6 kurang 15 menit, Anara selesai. Hair dryer dia matikan dan dia simpan kembali ke tempatnya, lalu dia bergerak menuju ranjang. Tapi sayang, ketika Anara baru akan mendaratkan bokong ke ranjang yang empuk nan nyaman, terdengar suara deru mobil dari arah luar.


Tadinya Anara pikir itu adalah Arsenio, dan dia tidak akan berniat membukakan pintu—karena ya untuk apa dia menyambut lelaki itu. Namun, ketika Anara menyadari bahwa suara deru mobil itu tidak disusul suara gerbang yang terbuka, dia tahu itu ternyata bukan mobil Arsenio.


Benar saja, tak lama berselang setelah suara mobil menghilang, bel di pintu depan berbunyi. Anara pun bergegas turun untuk membukakan pintu.


Ternyata, itu adalah Bunda. Well, kedatangannya sama sekali tidak aneh. Sudah beberapa kali perempuan itu berkunjung ke rumah ini di akhir pekan seperti sekarang. Tapi yang kemudian menjadi pertanyaan untuk Anara adalah, kehadiran tas jinjing berukuran cukup besar yang datang bersama dengan perempuan itu.


Biasanya, kalau datang berkunjung, mertuanya itu palingan hanya membawa tas tangan berukuran kecil yang hanya muat untuk dompet dan ponsel. Kadang juga suka membawa buah tangan berupa buah-buahan atau kue yang dia buat dengan tangannya sendiri. Tapi, tas jinjing....


“Hai, An.”


Sapaan itu membuyarkan Anara dari segala analisa. Dia pun hanya bisa menyuguhkan senyum manis serta membalas pelukan Bunda.


“Arsen ada?” tanya Bunda setelah melepaskan pelukannya.


“Lagi pergi, Bun. Bentar lagi pulang, kok.” Kali ini, tidak bohong-bohong amat. Arsenio sendiri yang bilang akan pulang sebelum jam makan malam. Jadi Anara bisa sedikit lebih tenang dan tidak perlu mencari waktu untuk menelepon Arsenio agar pulang secara sembunyi-sembunyi.


“Pergi ke mana? Perasaan dia sering banget pergi tiap weekend? Hampir enggak pernah ada di rumah waktu Bunda datang.”


Ke Olin. “Ke counter jam, Bun. Jam dia rusak, mau dibenerin.” Hahaha. Sok ide sekali Anara mencari alasan. Tapi, ya sudahlah, biarkan saja. Hanya itu yang terpikirkan di kepalanya saat ini.


“Jam dia banyak, ngapain bela-belain ke counter buat benerin di hari weekend, sih?”


“Wah, kurang tahu deh, Bun.” Anara menyengir kuda. Supaya tidak semakin menjadi-jadi, ibu mertua ini harus secepatnya diberikan distraksi. Jadinya Anara secara terang-terangan menggamit lengannya, membawanya masuk ke dalam rumah.


“Omong-omong, Bunda tumben bawa-bawa tas?” tanya Anara sembari melirik ke arah tas jinjing yang dari tadi menyita perhatiannya.


“Oh, ini baju ganti.” Malah dengan bangganya, Bunda menunjukkan tas jinjing itu hingga sejajar dada.


“Baju ganti?”


Bunda mengangguk semangat. “Bunda mau nginep, seminggu.”


Doengggg.... rasanya seperti kepala Anara baru saja kejatuhan meteor. Pusing. Pening. Panas. Semuanya berkumpul menjadi satu. Rasanya, dia mau pingsan saja kalau bisa.


“Nginep, ya?”


“Iya. Boleh, dong?”


“Hehe...” Anara tertawa canggung sambil garuk-garuk leher. “Yaa ... boleh, sih, Bun.”


Jawaban ragu-ragu Anara mengundang tatapan curiga dari Bunda. “Boleh, sih, tapi?” todongnya.


Tapi mau tidur di mana? Kamar tamu tuh An yang pakai....


...🥀🥀🥀🥀🥀...


“Hah?!!!”


Suara Arsenio yang menggelegar bak petir di siang bolong membuat Anara harus menjauhkan ponsel dari telinga. Dengung yang ditinggalkan bahkan masih tersisa hingga berdetik-detik kemudian setelah dia mengambil jeda untuk tidak dulu menanggapi teriakannya.


“Lo serius?”


Anara memutar bola mata malas, walaupun dia tahu Arsenio tidak dapat melihatnya. “Kamu pikir aku ada waktu buat bikin bercandaan kayak gini?” ucapnya memutar balik pertanyaan. Sesekali, dia masih melongokkan kepala untuk memeriksa situasi di mana Bunda kini sedang duduk anteng di atas sofa ruang tengah sambil menonton televisi. Tas jinjing milik perempuan itu sudah dia simpan di kamar tamu dengan beralasan kamar itu perlu dibersihkan terlebih dahulu sebelum dipakai tidur nanti malam.


“Buruan pulang, deh. Aku bingung harus ngapain.”


“Bawel. Gue udah sampai gerbang depan kompleks. Pokoknya lo alihin dulu aja perhatian Bunda.”


“Buruan.”


“Iya, Anara. Jangan bawel, gue jitak juga kepala lo.”


Oh, tidak ada lembut-lembutnya lelaki satu itu dalam berbicara. Super duper menyebalkan.


Anara tidak menyahut dan langsung mematikan telepon. Setelahnya, dia berjalan menghampiri Bunda sambil menyetel senyum palsu untuk meyakinkan Bunda bahwa semuanya baik-baik saja. Mari bersandiwara lagi, dan lihat langkah apa yang akan diambil oleh Arsenio kali ini.


“Udah di mana dia, An?” tanya Bunda bahkan sebelum Anara bergabung duduk di atas sofa.


“Udah sampai gerbang kompleks, Bun.” Jawab Anara jujur.


Bunda hanya mengangguk, lalu mereka terlibat percakapan basa-basi selama beberapa saat sebelum akhirnya suara deru mobil terdengar memasuki halaman rumah.


Anara bangkit lagi, sok-sokan mau menjadi istri yang baik, yang menyambut suaminya pulang ke rumah dengan senyum mereka bagai mentari di pagi hari. Padahal sudah jelas motif yang sebenarnya adalah untuk membuat rencana bersama Arsenio demi kelangsungan hidup mereka berdua.


“Bunda tunggu di sini aja, jangan ke mana-mana.” Ujar Anara, lalu berlarian secepat kilat menuju pintu depan.


Pas ketika Anara sampai, pintu itu dibuka dari arah luar. Arsenio muncul dengan raut wajah yang biasa saja, tidak ada panik—paniknya sama sekali meski di telepon tadi kedengaran heboh sendiri.


“Kita harus apa?” todong Anara langsung. Tak dia biarkan Arsenio terlalu banyak membuang waktu.


“At least biarin gue buat ambil napas dulu.”


“Kamu udah. Dari tadi, kamu udah napas.” Anara tahu itu hanya istilah, tapi istilah begitu tidak berguna lagi di saat-saat genting seperti sekarang. “Buruan, kita harus apa?”


Anara mendengar Arsenio mendengus keras, disusul perubahan pada raut wajahnya yang menggambarkan betapa sikapnya saat ini mengusik lelaki itu sangat banyak. Akan tetapi, Anara tidak punya waktu untuk menghiraukan soal itu. Langkah apa yang harus mereka ambil sekarang menentukan kehidupan mereka ke depannya, jadi tidak boleh membuang-buang waktu.


“Arsenio,”


“Lo berisik, An, kayak bebek.” Potong Arsenio seraya menggerakkan tangannya seperti sedang menirukan moncong bebek yang sedang mengoceh.


Anara memberengut. Seberisik itukah dia sampai disamakan dengan bebek?


“Kamar lo dikunci nggak?” tanya Arsenio beberapa detik kemudian, tak menghiraukan perubahan ekspresi Anara sama sekali.


“Aku kunci.”


Lalu, Arsenio menengadahkan tangan. “Mana kuncinya, gue mau masuk.”


“Mau ngapain?” tanya Anara curiga.


“Enggak usah mikir yang aneh-aneh. Gue mau mindahin baju-baju lo ke kamar gue, biar Bunda bisa tidur di kamar lo nanti malam tanpa menaruh curiga.”


Masuk akal. Tapi, kenapa bukan Anara saja yang membereskan semuanya? Kenapa harus Arsenio yang pergi?


Seperti bisa membaca pikiran, atau mungkin pertanyaan itu tergambar terlalu jelas melalui raut wajah Anara, Arsenio dengan cepat menjawab, “Karena lo lemot.” Singkat, padat, menyakitkan. Oh, ya, tentu saja. Anara tidak boleh lupa kalau lidah Arsenio ini memang banyak bisanya. BERACUN!


Merasa tak punya pilihan, Anara pun menyerahkan kunci kamar yang dia kantongi kepada Arsenio. Lalu tanpa banyak berkata, lelaki itu pergi meninggalkan dirinya, bergegas melaksanakan tugas.


“Arsenio Ngeselin Galandra.” Ucap Anara, sebelum akhirnya menutup dan mengunci pintu depan lalu pergi menyusul Arsenio.


Bersambung