Losing Us

Losing Us
The Next Morning, When Everything Get Strarted



“Nanti malam kamu pulang jam berapa?” Setelah sejak tadi tak bersuara dan terus menggelendot di lengan Arsenio, Olin akhirnya bertanya ketika langkah mereka tiba di garasi.


Arsenio sedikit menjauhkan diri. Hanya untuk membuka kunci mobil dan menyalakan mesin lalu kembali ke sisi Olin. “Jam enam atau tujuh.” Jawabnya kemudian.


“Langsung pulang, kan?” tanya Olin lagi.


Arsenio mengangguk, “Iya, langsung pulang. Kenapa? Kamu mau nitip apa?” Ia balik bertanya.


Seperti sudah menjadi candu, Arsenio menatap manik hazel Olin yang cantik. Cukup lama hingga kemudian ia mengerjap beberapa kali ketika bibirnya tiba-tiba dikecup singkat oleh Olin.


“Enggak mau nitip apa-apa, aku cuma mau kamu cepat pulang biar bisa aku peluk terus kayak semalam.” Ujarnya, disertai dengan senyum manis yang candu.


Arsenio hanya mengangguk, sebab dia pun begitu. Jika saja dia dilahirkan dengan kapasitas yang lebih besar dari yang dimiliki sekarang, Arsenio jelas akan lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama dengan Olin seharian. Ketimbang harus pergi ke kantor dan bertemu dengan orang-orang bermuka dua yang gemar merangkai kata-kata untuk naik secara perlahan dari jabatan yang sebelumnya.


Sayangnya, Tuhan tidak memberikan kepercayaan kepada Arsenio untuk bisa melakukannya. Meskipun secara teknis perusahaan itu adalah milik mendiang ayahnya, dan kelak ketika Bunda sudah angkat tangan sepenuhnya perusahaan itu akan menjadi miliknya, Arsenio tetap harus pergi ke sana untuk bekerja.


“Ya udah, aku berangkat, ya. Kamu baik-baik di rumah. Kalau bisa, jangan dekat-dekat sama Anara.” Arsenio memberikan pesan. Kekhawatirannya masih ada. Tidak mudah bagi dirinya untuk meninggalkan Olin dan Anara bersama untuk jangka waktu yang cukup lama selama ia tidak berada di sekitar.


Mendengar nama Anara keluar dari bibir Arsenio, Olin kembali merengut. “Semakin kamu bilang gitu, aku jadi semakin semangat buat gangguin dia.” Celetuknya.


Arsenio tidak tahu apakah niat itu betulan, atau Olin hanya sedang ingin memancing reaksinya. Namun, Arsenio tidak menanggapinya. Sebagai gantinya, ia menarik pinggang gadis itu, membawanya mendekat lalu mengecup puncak kepalanya dan mendiamkan bibirnya di sana selama beberapa saat. Aroma sampo menguar dari helaian rambutnya yang dibiarkan jatuh terurai. Arsenio hirup dalam-dalam aroma itu sebagai amunisi agar kuat menjalani hari.


Setelah puas, ia menarik diri. “Kalau ada apa-apa, langsung kabarin aku.” Ucapnya.


“Iya.” Olin menjawab singkat. Lalu sebelum benar-benar menjauhkan diri, dia kembali mengecup bibir Arsenio. Kali ini lebih dari satu kali, dan kecupan yang terakhir dia biarkan berlangsung cukup lama meski tidak ada pergerakan lain yang datang setelahnya.


“Hati-hati nyetirnya.” Ucap Olin lagi setelah menjauhkan diri.


“Iya, Sayang.” Lalu, Arsenio masuk ke dalam mobil dan siap untuk menjalankannya. “See you.” Kata Arsenio kemudian, lantas segera menginjak pedal gas karena waktu yang ia miliki semakin menipis.


Sekitar 200 meter dari area perumahan, Arsenio menepikan mobil. Ia lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku jas, menjelajahkan jemarinya di atas papan ketik lantas mengirimkan pesan yang telah diketik itu kepada Antara.


Setelahnya, tanpa menunggu balasan yang datang dari Anara—atau sekadar memeriksa apakah pesan yang dia kirim sudah diterima—Arsenio kembali melajukan mobil. Ia harap, tidak akan terjadi kekacauan setelah meninggalkan kekasih dan istrinya di rumah selama beberapa jam ke depan.


...🥀🥀🥀...


Sepertinya, berdiri di depan pintu kaca yang semalam menjadi saksi betapa nelangsanya ia malam tadi hanya sesaat setelah dirinya membuka mata adalah sebuah pilihan yang salah. Karena, gara-gara itu, Anara jadi bisa melihat interaksi manis lain yang terjadi antara Arsenio dengan Olin. Keduanya tampak berjalan beriringan, dengan Olin yang menggelendot manja di lengan Arsenio dan baru melepaskan diri setelah mereka sampai di garasi.


Anara pikir, semuanya akan selesai hanya pada adegan ketika mobil Arsenio mulai keluar dari halaman rumah mereka. Namun, dugaannya salah besar. Olin masih setia berdiri di tempatnya, menunggui sampai mobil Arsenio tidak tampak lagi dan barulah gadis itu mengayunkan langkahnya masuk kembali ke dalam rumah.


Anara mengambil napas cukup dalam, lalu berniat untuk meninggalkan tempatnya berdiri sejak tadi ketika ponsel yang dia genggam bergetar satu kali, pertanda adanya pesan masuk.


Arsenio.


Namanya terpampang nyata di ponsel Anara. Dari bagian pop up, tidak banyak yang bisa dia lihat karena sepertinya Arsenio menuliskan kalimat yang cukup panjang sehingga mau tidak mau, ia harus membuka pesannya untuk tahu kalimat utuh yang lelaki itu kirimkan.


Gue tinggal kerja, lo jangan macem-macem sama Olin. Kalau bisa, kalian jangan saling bersinggungan. Lo tahu segimana berartinya Olin buat gue, kan? Jadi kalau terjadi apa-apa sama Olin selagi gue enggak ada, lo akan tanggung konsekuensinya.


Untuk ke-sekian kalinya, Anara harus terima diperlakukan seperti seorang penjahat. Padahal kalau Arsenio mau membuka matanya lebar-lebar, lelaki itu akan tahu bahwa Olin lah yang selalu mencari gara-gara dengan Anara. Tetapi karena berbicara dengan Arsenio pun tidak akan mengubah apa pun, Anara putuskan untuk tidak membalas pesannya. Toh, itu juga tidak akan penting untuknya. Bukankah yang terpenting, ia hanya harus memastikan Olin tidak kenapa-kenapa sampai nanti Arsenio kembali ke rumah?


“Oke, An, setelah menjadi istri bayangan, tugas kamu tambah satu lagi; jadi pengasuh untuk kekasih suamimu.” Kata Anara kepada diri sendiri.


Tak ingin meratapi apa pun sebanyak yang kemarin, ia melangkah pergi. Ponsel miliknya ia tinggalkan di atas nakas, lalu Anara masuk ke kamar mandi setelah memastikan pintu kamar terkunci dengan benar.


Yah, Anara hanya tidak ingin Olin tahu-tahu menerobos masuk seperti semalam. Karena meskipun ini adalah rumah yang Arsenio beli, tetapi kamar ini sudah menjadi milik Anara, tempat di mana ia seharusnya bisa merasa aman dari segala hal yang ada. Anara tidak ingin siapa pun sembarangan masuk ke sini. Setidaknya, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk tahu bahwa dia masih memiliki kekuatan untuk membela dirinya sendiri.


Bersambung


🥀


🥀


🥀


Ketika menjalin hubungan dengan seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya, kamu harus siap untuk menjadi kekasih bayangan yang kehadirannya menjadi abu-abu dalam banyak kesempatan.


Pilihannya hanya dua; bertahan dengan harapan dia akan selesai perlahan-lahan, atau pergi ke tempat di mana kehadiranmu akan diterima dan dihargai dengan lebih baik.


Dalam kesempatan ini, saya memutuskan untuk bertahan, meskipun—entah sampai kapan.


Dari Aishalma Anara, kepada dirinya sendiri pada suatu pagi yang hujan di bulan Januari.