Losing Us

Losing Us
Menjadi Orang Tua



Arsenio tidak pernah menyangka bahwa dia akan menikmati momen harap-harap cemas ketika melihat perkembangan calon anak di rahim istrinya. Hampir tidak pernah ada bayangan soal itu di kepala Arsenio, karena sejak awal menjalin hubungan dengan Olin, mantan kekasihnya itu sudah dengan tegas mengatakan tidak ingin memiliki anak alias child free.


Trauma yang Olin terima atas tindakan pilih kasih dari kedua orang tuanya membuat perempuan itu menolak mentah-mentah ide untuk punya anak. Menurutnya, lebih baik tidak melahirkan satu anak pun dari rahimnya daripada harus menciptakan manusia lain dengan trauma seperti dirinya.


Selama bertahun-tahun, Arsenio tumbuh dengan pemikiran bahwa dia tidak akan pernah menjadi orang tua. Oleh karena itu, ketika Anara pertama kali mengabarkan soal kehamilannya, respons Arsenio refleks menolak karena itu berbanding terbalik dengan pemikiran yang selama ini dia punya.


Tetapi kini, setelah melihat secara langsung bagaimana makhluk kecil itu bergerak pelan di dalam perut Anara, Arsenio menyadari bahwa jauh di lubuk hatinya, ia memendam keinginan untuk menjadi seorang ayah.


Dokter menjelaskan banyak hal selama sesi pemeriksaan. Informasi soal jenis kelamin sang calon anak juga dibocorkan. Membuat Arsenio semakin bersemangat untuk menyambut kelahiran sang buah hati.


“Vitaminnya jangan sampai di skip ya, Bu. Dan karena Ibu punya riwayat asma, tolong lebih perhatikan untuk menghindari faktor-faktor risiko yang bisa menyebabkan asmanya kambuh.” Terang sang dokter di akhir sesi pemeriksaan.


“Iya, Dok. Terima kasih.” Jawab Anara seraya meraih kertas resep yang disodorkan kepadanya. “Kalau begitu, kami permisi.” Pamitnya kemudian.


Dokter perempuan itu turut bangkit dari kursi. Mengantarkan Anara dan Arsenio keluar dari ruang pemeriksaan dengan senyum yang terkembang.


“Terima kasih sudah menemani Ibu untuk check up hari ini ya, Pak. Semoga ke depannya Bapak makin banyak waktu lagi untuk lebih sering menemani Ibu.” Ucap dokter itu sesampainya mereka di depan pintu.


Arsenio berdeham kikuk. Salah tingkah karena seperti baru saja tertangkap basah melakukan tindakan salah. Ini seperti dirinya sedang disindir, namun dengan cara elegan yang malah membuatnya malu sendiri.


“Terima kasih sudah peduli, Dok.” Hanya itu yang bisa Arsenio katakan sebelum ia dan Anara beranjak pergi.


Omong dokter kandungan tadi terus terngiang di sepanjang perjalanan menuju basement tempat mobilnya diparkirkan. Makin diresapi, dia makin merasa malu. Berani menerima tanggung jawab untuk menikahi anak gadis orang, tapi malah membuatnya merasa sia-sia dan sendirian. Arsenio jadi berpikir, bibit berengsek yang ada di dalam dirinya ini menurun dari siapa?


“Nggak usah kamu pikirin omongan dokter tadi.” Celetuk Anara. Membuat langkah kaki Arsenio terhenti. “Aku selalu bilang kamu sibuk kerja dan nggak bisa anterin aku check up, jadi mungkin dokter tadi cuma ikut merasa senang aja karena akhirnya kamu bisa ikut ngeliat perkembangan anak kamu.”


Mengembuskan napas kasar, Arsenio kembali melangkah. “Dia kayak lagi bilang, ‘Nah, gini. Ini baru yang namanya suami.’ di telinga gue.”


“Itu kan perasaan kamu doang. Udah deh, nggak usah overthinking.” Bujuk Anara.


“Tapi,” Arsenio menghentikan langkah lagi, tepat ketika mereka tiba di basement. “Gue udah ngelakuin hal yang semestinya belum sih? Maksud gue, buat jadi suami dan ayah yang baik, usaha gue udah cukup atau masih jauh banget dari standar?”


“Cukup.” Jawab Anara bahkan tanpa perlu berpikir terlebih dahulu. “Lagian, nggak ada yang nyiptain standar kayak gitu. Jangan kebanyakan overthinking, nanti yang ada kamu malah selalu merasa kurang dan usaha-usaha yang kamu lakuin malah nggak bisa maksimal.”


Selama beberapa saat, Arsenio terdiam. Mencerna baik-baik apa yang Anara sampaikan lalu mengakhirinya dengan mengembuskan napas pelan. Dia tidak berpikir usahanya betulan sudah maksimal. Anara hanya terdengar seperti sedang berusaha menenangkan dirinya agar ia berhenti bicara.


Tetapi pada akhirnya, yang bisa Arsenio lakukan hanya menerima. Ia akan menganggap usahanya hari ini sudah cukup. Lalu besok dan hari-hari setelahnya, dia akan melakukan yang lebih baik lagi.


“Ya udah, ayo pulang.” Ajaknya. Kembali melangkah menghampiri mobil yang terparkir beberapa meter dari tempat mereka berhenti.


...****************...


Dalam perjalanan pulang, Anara tiba-tiba ingin makan pisang. Jadilah mereka melipir ke supermarket terdekat untuk memenuhi ngidam agar si bayi tidak ileran.


“Aku nggak jadi beli pisang, mau es krim aja.” Ungkapnya pada Arsenio yang siap siaga di sampingnya.


“Oh, ya udah. Chiller ada di sana tuh, ambil aja semua rasa yang lo mau.” Sambut Arsenio.


“Oke!” Anara berseru kegirangan.


Arsenio hanya bisa menggelengkan kepala pelan seraya mengikuti Anara dari belakang.


“Aduh, aku bingung mau pilih yang mana. Pilihan rasanya terlalu banyak, sayang kalau harus beli semua padahal aku tahu nggak akan bisa habisin semuanya.” Keluh perempuan itu saat disuguhi begitu banyak pilihan.


“Ambil aja semua varian rasa dari satu merek yang sama. Es krim kan bisa disimpan di kulkas, mana tahu besok lo ngidam buat makan yang rasa lain.” Usul Arsenio.


Anara terlihat berpikir sejenak. Lalu, alih-alih mengambil beberapa varian rasa sesuai dengan instruksi Arsenio sebelumnya, perempuan itu malah hanya mencomot satu yang rasa cokelat.


“Aku beli ini aja deh satu.”


Katanya, kemauan ibu hamil harus dituruti, jadi Arsenio tidak banyak mendebat. Dia juga membiarkan saja Anara membuka bungkus es krim, menikmati isinya sedangkan bungkus kosong dioper kepadanya untuk dibawa ke kasir.


Melihat Anara yang kelihatan happy hanya karena sepotong es krim tanpa sadar membuat senyum Arsenio tersungging. Sambil menunggu antrean, dia terus mengawasi Anara yang menunggu dekat rak makanan ringan.


Antrean yang lumayan panjang membuatnya harus sabar menunggu. Belum lagi tatapan aneh ibu-ibu yang mengantre di depannya saat melihat dirinya hanya memegang sebungkus es krim kosong. Tidak seperti ibu-ibu itu yang troli belanjanya sampai penuh.


Kurang lebih 15 menit menunggu, tibalah giliran Arsenio untuk membayar. Bungkus es krim kosong dia sodorkan kepada kasir untuk di-scan, lalu dia segera membayar sesuai nominal yang tertera di layar.


“Terima kasih,” ucapnya pada sang kasir, lalu cepat-cepat menyingkir sebelum kena semprot oleh orang yang mengantre di belakangnya.


Anara masih berada di tempatnya, namun es krim milik perempuan itu sudah raib tak bersisa.


“Udah? Kepengen apa lagi?” tanyanya. Barangkali si bayi masih ingin makan sesuatu. Mumpung masih di sini. Karena kalau sudah sampai rumah, mereka biasanya akan mager untuk keluar lagi.


“Nggak ada, kita pulang aja.”


Menurut, Arsenio segera menggenggam tangan Anara. Lalu mereka berjalan keluar dari supermarket yang lumayan ramai.


Act of service yang biasanya Arsenio tahan, siang itu mengalir begitu saja seperti ia telah terbiasa melakukannya untuk Anara. Mulai dari membukakan pintu mobil, membantu memasang seatbelt, sampai menyalakan tape agar Anara tidak bosan selama perjalanan pulang.


Pada siang yang terik itu, mereka bekerja sama, membangun relasi untuk menjadi orang tua yang baik bagi calon anak mereka.


Bersambung....