Losing Us

Losing Us
Restart



Percuma. Ternyata sia-sia saja usaha Olin untuk mengacaukan segalanya. Tak peduli sebanyak apa pun masalah yang dia timbulkan, dia tetap tidak bisa membuat Arsenio dan istrinya menjadi gentar. Malahan, akhir-akhir ini, dia mendapati mereka semakin solid. Seolah bayi yang ada di dalam perut Anara memiliki daya magis yang kuat hingga membuat ayah dan ibunya bersatu dengan tekad yang bulat.


Sadar bahwa usaha yang dia lakukan hanya akan membawanya pada jurang kesengsaraan yang tiada akhir, Olin memutuskan untuk berhenti. Lukanya masih basah, sakit hatinya masih terus terasa meski sudah susah payah dia rawat dengan sedemikian rupa, pengampunan pun tidak pernah ada di benaknya untuk diberikan kepada Arsenio dan Anara. Namun, dia tetap harus pergi. Dia harus menyelamatkan dirinya sendiri agar setidaknya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik.


Dengan begitu banyak pertimbangan, New York menjadi destinasi yang Olin pilih sebagai tempat pelarian diri. Di kota yang pernah ia tinggali selama beberapa tahun di masa kanak-kanak itu, dia akan memulai semuanya kembali. Tentu, dengan harapan bahwa hidupnya akan jauh lebih baik ketimbang dua anak manusia yang telah menyakiti dirinya sebanyak ini.


Hari terakhir sebelum terbang ke New York, Olin kembali mendatangi kelab tempat Zein bekerja. Seperti biasa memesan tequila dan request kepada pemuda itu untuk ditemani selama beberapa jam sebelum dirinya pulang dalam keadaan setengah sadar.


Sama seperti malam-malam sebelumnya, malam ini pun Zein melayaninya dengan baik. Membuat senyumnya bisa terbit sedikit karena akhirnya dia sadar, dunia ini isinya bukan hanya Arsenio seorang. Ada milyaran manusia dari berbagai suku dan bangsa, terlalu sempit pikirannya jika harus mengorbankan hidup yang berharga demi menangisi laki-laki yang bahkan tidak bisa dipegang omongannya.


“Besok flight jam berapa?” tanya Zein usai meletakkan segelas tequila ke hadapan Olin.


“Sebelas,” jawab Olin. Tidak seperti malam yang lalu, di mana dia akan langsung menenggak tequila sampai tandas, kali ini Olin membiarkan minuman beralkohol itu menganggur lebih lama.


“Keberatan kalau gue antar ke bandara?” tanya Zein lagi.


Olin kembali menyungging senyum tipis seraya menggeleng pelan, “Kalau mau sekalian ikut gue terbang ke New York juga nggak masalah.”


Sejenak, Zein menatap Olin dengan cara yang berbeda. Bukan hanya karena celetukan asal yang dia tahu sama sekali tidak serius, tetapi juga karena dia baru menyadari ada yang lain dengan sorot mata perempuan di depannya itu. Zein menemukan keadaan Olin terlihat jauh lebih baik, dan dia turut senang akan hal itu.


“Kenapa? Nggak mau ikut gue ke New York?” Olin bertanya ketika sadar Zein malah terpaku menatapnya.


Zein mengembuskan napas pelan, sembari tangannya bergerak mengelap permukaan meja bar yang tadi sempat ketumpahan vodka milik pengunjung lain.


“Beneran nggak mau?” tagih Olin.


Berdecak, Zein melemparkan lap di tangannya ke belakang counter, lalu menatap Olin dengan posisi tubuh yang lebih condong ke arah perempuan itu.


“Jangan suka nawarin kalau niatnya cuma basa-basi.” Zein menegaskan.


Tanpa diduga, Olin malah terkekeh. “Gue nggak basa-basi,” sahut gadis itu. Tequila yang menganggur akhirnya dia sesap juga di sela kekehan yang terdengar begitu renyah.


“Nggak basa-basi, tapi udah beli tiket duluan.” Zein mencibir. Tubuhnya kembali tegak, sementara tatapannya beralih menyapu seluruh area kelab yang mulai penuh sesak.


Zein masih ingat bahwa Olin tidak terlalu suka berada di tempat yang kelebihan manusia. Maka setiap kali gadis itu ada di sini, ia akan secara otomatis memantau situasi. Untuk kemudian segera menginstruksikan agar Olin pulang ketika situasi mulai dirasa tidak kondusif.


Beruntung, Jumat malam kali ini kelab terhitung sepi. Mungkin semesta juga sedang ingin berbaik hati. Membiarkan dirinya bisa mengobrol dengan Olin sedikit lebih lama sebelum gadis itu betulan pergi dan entah kapan akan kembali.


“You can always buy your own ticket, buat jengukin gue.” Jernihnya suara Olin kembali membuat Zein menarik diri dari dunianya. Ditemukannya gadis itu tengah menatap serius, seolah hendak menunjukkan tekad di dalam ucapan sebelumnya.


“I will,” Zein dengan cepat menyanggupi. Bukan perkara sulit untuk membeli tiket dan terbang selama beberapa jam untuk menemui gadis itu nanti. Yang jadi masalah adalah, kalau tiba-tiba saja Olin memutus akses dan dia tidak tahu ke mana harus mencari keberadaan gadis itu.


“Gue nggak akan menghilang, lo tenang aja.” Dan seakan mengerti akan kekhawatirannya, Olin mengucapkan itu sebagai sebuah asuransi. “Temen gue sisa lo doang sejak gue pacaran dan menjadi bucin tolol. Gue nggak mau kehilangan teman lagi, jadi lo nggak perlu takut kalau gue akan memutus kontak sewaktu-waktu.”


Zein punya banyak sekali teman, tetapi yang berhasil mendapatkan tempat tersendiri di hatinya hanyalah Arsenio dan Olin. Jadi, membayangkan salah satu dari mereka akan menghilang dari radar adalah sebuah mimpi buruk yang sebisa mungkin ingin Zein hindari.


Malam itu, tidak ada lagi yang berbicara soal menghilang dan memutus kontak. Waktu yang tersisa sebelum keberangkatan Olin esok hari dimanfaatkan dengan baik untuk mengobrolkan hal-hal yang lebih berfaedah. Tidak ada andai-andai, mereka lebih banyak berbicara tentang sesuatu yang masuk akal. Tentang hal-hal yang bisa dirancang dalam kurun waktu singkat, alih-alih mengkhayal jauh ke masa depan.


Malam itu, sekali lagi, mereka kembali dekat sebagai teman.


...****************...


Sementara di bagian bumi yang lain, pertemanan yang dimulai kembali juga terjadi pada hubungan Arsenio dan Anara. Mereka sepakat untuk menekan ego kuat-kuat, bersatu padu membangun chemistry yang hebat demi buah hati yang akan lahir kurang dari tiga bulan ke depan.


Satu persatu kenangan dari masa lalu dibongkar oleh mereka setiap harinya. Ingatan yang sempat hilang dari kepala Anara juga sedikit demi sedikit mulai kembali seiring dengan lebih banyaknya yang dia dengar dari Arsenio dan Bunda.


Untuk beberapa saat, Anara merasa hidupnya akan baik-baik saja.


“Aku dapat kabar dari Zein kalau Olin bakal flight ke New York besok.” Di tengah cahaya ruang tengah yang remang-remang, Arsenio muncul membawa segelas susu hamil rasa cokelat.


Anara membetulkan posisi duduknya di sofa, lantas menerima gelas susu yang diulurkan oleh Arsenio kepadanya.


“Kamu sedih?” tanyanya. Hanya sedetik setelah bokong Arsenio turut mendarat di sofa.


Arsenio menggeleng, “Bagus kalau dia akhirnya berani mengambil langkah buat menjauh. Supaya dia juga bisa sembuh. Karena rasanya nggak adil kalau kita bisa berjalan jauh, sementara dia masih berdiri di tempat dengan rasa sakit yang sama.”


Tidak ada tanggapan dari Anara. Perempuan itu lebih memilih untuk menenggak susu hamilnya secara perlahan-lahan hingga hangat mulai merambati perutnya yang buncit dan bulat.


Sementara Arsenio, lelaki itu juga tidak keberatan meski ucapannya tidak disambut. Dia lebih tertarik memandangi bagaimana leher Anara terlihat bergerak ketika tetes demi tetes susu berhasil perempuan itu tenggak. Lalu saat gelas sepenuhnya kosong, dia dengan sigap meraihnya dan menyimpannya ke atas meja.


“Lima belas menit lagi kita tidur. Tunggu susunya dicerna dengan baik dulu.” Arsenio menarik selimut yang longsor, menaikkannya sampai kembali menutupi paha Anara.


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam dan mereka baru selesai menonton film. Itu adalah kegiatan yang mulai rutin mereka lakukan setiap weekend, sebagai upaya untuk semakin mendekatkan diri.


Anara hanya mengangguk patuh. Sedari dulu, dia memang begitu, kan? Tidak suka banyak protes kalau kondisinya tidak parah-parah amat.


Selama menunggu waktu jeda 15 menit habis, mereka berdua hanya berdiam diri. Meresapi perasaan masing-masing untuk tahu ada di tahap mana mereka menjejaki hati sekarang ini. Sudahkah berada cukup jauh, atau masih di situ-situ saja? Karena mereka sama-sama berharap, ketika Noel lahir nanti, perasaan mereka sudah sampai pada tahap yang sempurna.


Ketika waktu mereka habis, Arsenio dengan sigap bangkit lebih dulu. Berbeda dengan malam sebelumnya di mana dia akan membiarkan Anara kembali ke kamar secara mandiri, malam ini dia melakukan hal yang lain.


Hanya sedetik setelah satu kaki Anara menjejak ke lantai, Arsenio bergerak cepat menyambar tubuh perempuan itu. Membawanya ke dalam gendongan ala bridal style dan tidak memedulikan tatapan terkejut dari Anara. Lagi-lagi, perempuan itu memang tidak banyak protes.


Dengan bibir yang masih sama-sama bungkam, Arsenio menggendong Anara kembali ke kamar. Memang tidak ada percakapan yang terjadi selama perjalanan kembali, namun dari netra yang sesekali bertemu di satu waktu, mereka seolah sedang mengobrol untuk meyakinkan diri bahwa tujuan mereka kini benar-benar hanya satu; menjadi orang tua yang baik bagi Noel, putri mereka yang tercinta.


Bersambung....