Losing Us

Losing Us
Mengungsi



Menjadi tabah tidak pernah mudah, tetapi bagi Anara yang tidak punya pilihan lain selain menerima takdir yang sudah diberikan kepadanya, tabah sudah menjadi makanan sehari-hari yang harus dia nikmati. Menjadi istri bayangan dari laki-laki yang menikahinya hanya karena sebuah perjodohan juga bukan bagian paling buruk. Ketika dia harus kehilangan sesuatu yang dia junjung tinggi sebagai seorang perempuan, namun dia tidak bisa menuntut apa pun karena dia tahu Arsenio berhak mendapatkannya juga masih bukan apa-apa. Yang menjadi masalah terberat bagi Anara dari hari ke hari justru adalah perasaannya sendiri. Yang kian lama, dia rasa kian tidak bisa dipahami.


Ada momen di mana dia merasa menjadi teman adalah pilihan paling bijak untuk dirinya dan Arsenio. Namun, di hari lain, ketika dia mendapati lelaki itu masih begitu intens memadu kasih dengan pacarnya, ada satu bagian di dalam diri Anara yang seakan berteriak mendorongnya untuk meminta keadilan. Menuntut hak sebagai seorang istri, yang pantas untuk dikasihi dan dihormati dengan sebagaimana mestinya.


Namun sekali lagi, karena tabah adalah makanan sehari-hari, suara-suara itu lantas hanya bergema lantang di dalam kepala. Tidak pernah ada aksi nyata yang bisa Anara lakukan untuk menuntut haknya, terlebih ketika Arsenio mulai kembali bersikap seperti biasa; acuh tak acuh, seakan dirinya tidak ada.


Kali terakhir Olin berkunjung ke rumah ini dalam keadaan mabuk tepat enam hari yang lalu, Anara masih bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Dia mampu mengurung diri di dalam kamar selama seharian, hingga kemudian Arsenio mengabarkan kepadanya bahwa Olin sudah pulang dan dia bisa keluar dari persembunyian.


Akan tetapi, malam ini, ketika Olin datang dalam keadaan sadar, melipat lengan di depan dada dan menatapnya seperti sedang menatap seorang j*lang murahan, Anara tidak tahu mengapa keinginan untuk menampar pipi Olin jadi meningkat besar sekali.


“Gue mau menginap,” kata Olin. Mereka masih saling tatap, berdiri di depan pintu masuk yang dibiarkan terbuka lebar-lebar.


“Silakan. Kamu enggak perlu kasih tahu aku apa yang mau kamu lakukan di sini.” Balas Anara. Dia ingin segera kembali ke kamarnya, tapi sayangnya Arsenio belum pulang sehingga dia tidak bisa meninggalkan Olin yang notabene adalah tamu seorang diri sebelum memberikan sambutan yang layak.


Walaupun dongkol, walaupun rasanya dia benar-benar ingin mencakar wajah Olin yang—sialnya—cantik paripurna, Anara tetap selalu lebih mengutamakan rasa kemanusiaan di atas segalanya.


“Gue mau berduaan aja sama Gala malam ini.” Kata Olin lagi.


“Itu juga terserah. Bukannya kalian memang enggak pernah menganggap aku ada di sini?”


“The real cuma berduaan.” Tegas Olin, sontak membuat Anara menaikkan sebelah alisnya tanda tidak mengerti. “Gue mau berduaan sama Gala di rumah ini, selama dua hari ke depan. So, gue mau lo packing baju-baju lo dan cari penginapan.”


Ah... Anara sempat lupa kalau Olin itu tidak ada akhlak. Jadi tidak peduli sebagaimana baik pun dia memperlakukan perempuan itu sebagai sesama manusia, dia hanya akan mendapatkan tindasan sebagai gantinya.


Tapi yang kali ini, Olin sudah keterlaluan. Tak dianggap selama perempuan itu menginap masih bisa Anara maklumi, karena sedari awal kehadirannya memang hanya sebatas pemanis semata. Namun, jika harus sampai membuatnya angkat kaki, Anara tidak bisa lagi berkompromi.


“Sorry to say, Olin. Tapi kamu di sini statusnya cuma tamu, sedangkan aku adalah istri dari pemilik rumah ini. Yang mana itu berarti, kamu enggak ada hak untuk menyuruh aku pergi mengungsi.” Seharusnya Anara memiliki kekuatan untuk mengatakan hal ini lebih awal. Agar Olin tidak kadung merasa besar kepala dan berpikir bahwa rasa bersalah dan rasa kemanusiaan yang dia miliki bisa dipergunakan dengan semena-mena. Seharusnya, dia terus mengingat apa yang dulu sering dikatakan oleh Asa. Bahwa dia boleh menjadi jahat untuk orang-orang yang tidak layak disebut sebagai manusia.


“Well, lo memang istrinya Gala sekarang, tapi lo sendiri juga tahu kalau Gala akan selalu berada di pihak gue, apa pun yang terjadi. Menjadi istrinya Gala enggak pernah bikin posisi lo jadi lebih tinggi.” Olin tersenyum miring, tampak pongah menertawakan nasib Anara yang tidak memiliki kekuatan apa-apa meski statusnya adalah sebagai istri sah.


“Gue enggak mau buang-buang waktu dan tenaga, jadi lo better packing sekarang sebelum Gala pulang. Lo pasti enggak mau kan kalau sampai suami lo sendiri yang nyuruh lo buat pergi supaya kami bisa berduaan?”


Demi apa pun, Olin menyebalkan. Tetapi sama seperti yang perempuan itu katakan, Anara pun tidak ingin menguras waktu dan tenaga untuk meladeni Olin yang keras kepala. Lagi pula, apa yang Olin katakan tidak sepenuhnya salah. Arsenio pasti akan menuruti keinginan kekasihnya, tidak peduli meski hal itu akan menyakiti istrinya sendiri.


Jadi, daripada Anara menyerap semakin banyak energi negatif dari Olin, dia memutuskan mengalah. Dia pergi meninggalkan Olin, masuk ke kamarnya untuk mengepak beberapa baju tidur yang lalu dia masukkan ke dalam tas jinjing berukuran sedang. Kemudian, dia turun lagi setelah memastikan dompet dan ponselnya sudah aman di tas yang lain.


“Aku pergi bukan karena kamu berhak untuk usir aku dari sini, Olin.” Anara mengatakan itu kepada Olin yang kini duduk santai di sofa ruang tengah sambil memainkan kukunya yang dicat warna merah terang.


“I don’t care. Intinya gue cuma mau lo pergi.” Balas Olin, acuh tak acuh.


Anara enggan menanggapi. Setelah menarik napas dalam-dalam demi membuang energi negatif yang Olin salurkan, dia melangkah pergi. Satu tangan membawa tas jinjing, satunya lagi repot memesan taksi online menggunakan ponsel. Udara dingin yang cukup terasa menusuk juga menjadi tantangan tersendiri.


Sekitar 10 menit menunggu, taksi online yang ia pesan tiba. Dia langsung masuk dan taksi itu pun lantas membawanya bergerak menembus jalanan kompleks yang sudah sepi meski waktu baru menunjukkan pukul delapan.


Sebuah hotel bintang 5 berjarak 20 kilometer dari kompleks perumahan menjadi tujuan Anara. Dia tidak tahu apakah masih ada kamar yang available di sana karena dia tidak sempat mengecek melalui aplikasi. Pikirnya, kalau yang itu tidak tersedia, dia bisa bergeser sedikit ke hotel yang lebih murah—meski itu artinya dia harus bertemu dengan para PSK yang biasa mangkal di depak bangunan hotel murah itu untuk menjajakan dirinya.


Anara langsung disambut oleh petugas yang standby begitu dia turun dari taksi. Dari pintu depan, ia pun juga diarahkan menuju meja resepsionis untuk melakukan transaksi.


Tak butuh waktu lama, Anara langsung menentukan pilihannya. Sebuah kamar tipe single room dia pilih untuk menginap selama tiga malam. Kenapa tiga di saat Olin hanya memintanya untuk mengungsi selama dua hari? Jawabannya adalah karena Anara ingin mengambil waktu untuk menenangkan diri. Dipikir-pikir, ada untungnya juga Olin menyuruhnya pergi, jadi dia bisa mencari suasana baru. Hitung-hitung staycation sambil menjernihkan kembali isi kepalanya yang kadung keruh gara-gara ulah Olin dam Arsenio yang nggak ada obat annoyingnya.


Usai mendapatkan kunci, Anara pergi ke kamarnya yang berada di lantai tiga degan menaiki lift. Sampai di lantai tiga, dia berjalan melewati beberapa unit hingga akhirnya tiba di kamar yang dia pesan. Kunci berbentuk kartu ia tempelkan ke pintu, lalu handle dia gerakkan dan pintu berwarna cokelat tua di hadapannya itu pun terbuka.


Anara melangkah masuk, menggantungkan acces key ke tempatnya setelah memastikan pintu sudah tertutup dengan benar, lalu dia langsung saja berjalan menuju kasur. Tas jinjing dia letakkan di sisi ranjang, tidak berniat untuk dia bongkar karena akan sangat merepotkan. Dan sebelum dia merebahkan diri di kasur single dengan sprei warna putih tulang itu, Anara lebih dulu menyemprotkan cairan disinfektan khusus untuk pakaian ke permukaan sprei, bantal dan juga selimut. Itu sudah menjadi ritual wajibnya sejak dulu. Jauh sebelum pandemi covid menyerang.


Jam baru menunjukkan angka 8 lewat 45, masih cukup sore jika dia harus pergi tidur. Jadi, Anara lebih memilih untuk bermain dengan ponselnya. Sekali lagi iseng mencari-cari akun milik Asa di beberapa media sosial lain miliknya.


Secangkir kopi yang berhasil dia seduh itu lalu dia bawa menuju ke depan jendela kaca besar yang tertutup gorden warna merah marun—yang kemudian dia sibakkan agar dia bisa melihat suasana luar. Anara juga menarik kursi, duduk di atasnya lalu menyesap kopi instan buatannya dengan khidmat sambil menikmati pemandangan malam di mana lampu-lampu dari gedung-gedung tinggi perkantoran di seberang beradu dengan sorot lampu kendaraan yang masih berjubel di jalanan.


Tentram. Untuk sesaat, Anara merasa hidup memang harusnya berjalan begini. Tenang, damai, aman.


“Kayaknya, aku harus sering-sering staycation biar enggak gila.” Ucapnya, lalu dia kembali menyesap kopinya. Berkali-kali, hingga tandas, hingga puas.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Absennya Anara membuat Arsenio bertanya-tanya. Sebab perempuan itu sama sekali tidak mengatakan apa pun kepada dirinya, meski hanya lewat pesan singkat. Anara tidak bilang dia hendak pergi ke mana, berapa lama, dan yang terpenting bersama siapa. Perempuan itu benar-benar raib dan hanya menyisakan seribu tanda tanya di kepala Arsenio.


“Waktu kamu datang, dia udah enggak ada?” tanya Arsenio lagi. Meskipun kenyataannya, Olin sudah menjawab pertanyaan itu sebelumnya.


“Kamu enggak percaya sama aku?” Olin membalas. Tatapannya sudah berubah menjadi menyelidik. Antusiasme yang tinggi untuk menikmati hari hanya bersama Arsenio seketika pudar saat dia, dengan mata kepalanya sendiri, malah menemukan kekasihnya itu tampak khawatir pada istrinya yang sama sekali tidak dia cintai.


“Enggak gitu,” Arsenio berbalik, kembali menatap Olin yang bersedekap di depannya. “Asma dia habis kambuh kemarin, dan itu ketahuan sama Bunda. Aku enggak mau terjadi apa-apa sama dia, terus Bunda jadi marah-marah sama aku. Kamu tahu, lah, kenapa aku selalu mau jaga Anara tetap aman.”


“Karena kalau dia aman, hubungan kita juga akan aman.” Olin melanjutkan apa yang tidak Arsenio selesaikan.


“Exactly.” Sahut Arsenio. “Aku harus cari dia, deh, Lin. Sekadar make sure aja kalau dia aman. Boleh, kan?”


Seberapa pun Olin hendak menolak dia akhirnya tetap memperbolehkan Arsenio menelepon Anara dengan terpaksa. Dia hanya berdoa, semoga saja mulut Anara tidak lemes dan membeberkan bahwa kepergian perempuan itu adalah karena dirinya.


“Makasih, Sayang. Aku telepon Anara dulu, kamu tunggu di sini, I’ll be right back.” Tanpa menunggu jawaban, Arsenio kabur begitu saja sambil menempelkan ponsel ke telinga.


Geram. Olin rasanya ingin memakan apa saja yang ada di depan matanya saat ini untuk melampiaskan kekesalan. Kenapa harus menjauh kalau tujuan Arsenio menelepon memang hanya untuk memastikan di mana keberadaan Anara? Atau jangan-jangan, Arsenio hendak mengatakan hal-hal lain yang seharusnya tidak dikatakan.


“Enggak.” Olin menolak keras kemungkinan itu. “Gala enggak boleh kayak gitu. Aku harus make sure dia enggak terlalu berlebihan care sama Anara.” Nekat, Olin akhirnya menyusul Arsenio yang pergi ke backyard untuk menelepon Anara.


Pintu belakang yang terbuka sedikit menjadi spot bagi Olin untuk menyembunyikan diri. Sambil mempertajam pendengaran, dia nemplok di dinding untuk menguping pembicaraan.


“Lo di mana?”


“Ngapain? Kenapa enggak bilang dulu sama gue?”


“Enggak bisa seenaknya gitu, lah. Ini rumah gue, lo harus izin kalau mau keluar masuk!”


“Gue nggak mau tahu, besok pagi lo langsung pulang! Jangan mentang-mentang Bunda lagi enggak ada, terus lo bisa seenaknya, ya.”


Bip.


Begitu telepon ditutup dan Arsenio terlihat hendak kembali ke dalam rumah, Olin langsung putar balik. Kalang kabut dia melarikan diri, jangan sampai tertangkap basah oleh Arsenio sedang menguping. Bisa turun level dia nanti di mata kekasihnya itu.


Pura-pura bodoh, Olin sok-sok an terkejut saat Arsenio kembali ke ruang tengah dengan raut wajah yang suram. Dia juga sok-sokan peduli, padahal nyatanya dia sendiri yang sudah menendang Anara pergi.


“Gimana? Dia pergi ke mana?” tanyanya. Aslinya untuk memeriksa, apakah Anara sudah mengadu atau tidak. Karena yang bisa dia dengar tadi kan hanya suara Arsenio saja.


“Ke hotel, mau staycation katanya karena bosan di rumah.”


“Ohhh...” Olin manggut-manggut. Baguslah, pikirnya. Berarti Anara memang tidak mengadu. Ya, kalau dilihat dari kepribadiannya, sih, perempuan itu memang sepertinya tidak akan berani untuk berbuat macam-macam.


“Ya udah, ayo naik ke kamar. Aku capek banget mau istirahat.” Ajak Arsenio. Olin mah hayuk saja. Langsung dia gamit lengan Arsenio lalu mereka berjalan beriringan naik ke kamar utama. Tanpa peduli pada kondisi Anara yang sendirian di kamar hotel sana.


Bersambung