Losing Us

Losing Us
Regrets



Arsenio sampai di rumah ketika jam sudah menunjuk pukul 9 tepat. Sama seperti hari-hari sebelumnya, dia menemukan rumah sudah dalam keadaan sepi. Lampu-lampu utama sudah dipadamkan, tergantikan dengan lampu kemuning yang menyala di beberapa bagian rumah.


Langkahnya terhenti di ujung tangga, lalu dia mendongakkan kepala. Menatap nanar persimpangan jalan di ujung tangga lantai dua di mana dia biasanya secara tidak sengaja berpapasan dengan Anara.


Sudah beberapa hari ini Arsenio sama sekali tidak bersinggungan dengan perempuan itu. Sejak malam di mana dia menuduhnya sebagai penyebab kambuhnya alergi Olin, gadis itu sama sekali tidak menampakkan diri. Seolah dengan sengaja bersembunyi karena muak sekali jika harus berhadapan dengan dirinya.


Tarikan napas Arsenio ambil dengan begitu susah payahnya. Sesal yang tiada arti masih terus menggerogoti, ketika dia mengingat kembali kejadian malam itu. Arsenio terlampau emosi. Hingga logikanya tidak jalan dan serta-merta menyalahkan Anara tanpa mau mendengarkan pembelaan apa pun yang gadis itu berikan. Untuk kemudian, dia dibuat terpukul telak kala kembali ke kamar untuk memeriksa keadaan Olin, dan malah menemukan kekasihnya itu sedang berbicara seorang diri.


Malam itu, di dalam kamar yang masih terang benderang, Olin duduk di depan meja rias. Cermin di hadapannya dia pandangi dengan begitu saksama, hingga kemudian dia mulai berbicara—mengatakan hal-hal yang membuat Arsenio seketika lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar.


“Muka aku jadi jelek banget, bintik-bintik merah begini.” Keluh Olin malam itu, seraya memegangi wajahnya yang memerah dan sedikit bengkak.


“Tapi enggak apa-apa. Soalnya, kalau aku enggak nekat sengaja makan udang yang aku beli di layanan delivery, Gala enggak akan mungkin marahin Anara. Yang ada, dia malah akan puji-puji Anara karena udah bersedia masakin aku, kan?”


Hati Arsenio nyeri. Ingin marah pada Olin atas tindakan nekat yang membuatnya jadi meluapkan emosi kepada Anara, namun tidak bisa karena dia sadar penyebab utama mengapa Olin sampai melakukan hal nekat seperti itu adalah dirinya. Arsenio telah mengenal Olin selama bertahun-tahun, dan dia tahu gadis itu adalah orang baik. Olin tidak pernah melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain sebelumnya. Jadi, melihat Olin sampai berbuat sejauh itu, Arsenio justru merasa berdosa.


Malam itu, Arsenio hanya bisa berpura-pura tidak tahu perihal perbuatan Olin dan lebih fokus untuk mengobati alerginya yang kambuh cukup parah. Meski dengan begitu, dia harus sekuat tenaga menahan nyeri yang terasa *******-***** sampai ke ulu hati.


Sudah cukup lama berdiam diri, Arsenio beranjak. Bukan naik ke kamar, melainkan pergi ke dapur dengan masih membawa serta tas kerja yang kemudian dia letakkan di salah satu kursi kosong di meja makan. Dia sengaja tidak menyalakan lampu utama, membiarkan sinar kemuning dari lampu yang menempel di dinding perbatasan menjadi satu-satunya penerangan.


Arsenio kemudian berjalan menuju lemari penyimpanan. Mengeluarkan sebotol red wine dari sana lalu menyambar gelas berleher tinggi dari rak perabotan. Kedua benda itu kemudian dia bawa menuju meja makan. Satu kursi yang posisinya menghadap akses masuk ke dapur dia tarik dan segera duduk di atasnya.


Botol red wine Arsenio buka. Aromanya yang khas langsung menyeruak memenuhi hidung bahkan sebelum cairan pekat itu dia pindahkan ke dalam gelas. Lalu dengan begitu saja, Arsenio memulai kegiatan minum yang dia sendiri tidak tahu kapan akan selesai.


Gelas demi gelas Arsenio tandaskan seorang diri, dengan perasaan yang tidak kunjung membaik. Semakin banyak red wine yang tertelan, Arsenio merasa kalau rasa bersalah terhadap Antara justru semakin besar. Jauh di lubuk hati, Arsenio ingin secara khusus pergi menemui gadis itu untuk meminta maaf atas sikapnya tempo hari. Namun, Arsenio tidak kunjung melakukannya karena sadar tidak ada alasan yang cukup masuk akal untuk dia mengucapkan kata maaf tersebut.


Arsenio hanya merasa... jika dia meminta maaf kepada Anara, itu artinya dia harus mengakui bahwa Olin bertanggung jawab untuk apa yang sudah menimpanya tempo hari, dan Arsenio tidak mau seperti itu. Dia tidak mau menyalahkan Olin.


Saat Arsenio hendak menuangkan red wine ke dalam gelas yang telah kosong, perhatiannya tercuri kala netranya menemukan keberadaan Anara di area pembatas dengan ruang tengah. Gadis itu berdiri di sana seraya memeluk botol minuman yang kemungkinan dalam keadaan kosong.


Arsenio ingin menyapa, namun suaranya hanya tertahan di tenggorokan. Bahkan sampai Anara akhirnya berjalan mendekat dan melewati tempat di mana dia duduk pun, yang bisa Arsenio lakukan hanya memandanginya dalam diam.


Suara air yang mengalir dari keran dispenser menjadi satu-satunya suara yang menjadi musik latar bagi keheningan yang melingkupi mereka berdua. Sama seperti usaha Anara untuk menghindari Arsenio selama beberapa hari terakhir, malam ini pun Anara bersikap seolah-olah dia tidak melihat keberadaan suaminya. Gadis itu asyik dengan kegiatannya mengisi botol, tak menghiraukan Arsenio sama sekali.


Hingga akhirnya, ketika Anara selesai dan hendak kabur membawa botol air yang dia peluk erat-erat, Arsenio memanggil namanya agar dia berhenti.


“Kenapa?” tanya Anara. Suaranya kedengaran asing. Karena untuk pertama kalinya, Arsenio tidak menemukan ada keramahan di sana.


“Duduk.” Titah Arsenio.


Arsenio kira, Anara akan menolak mentah-mentah. Tetapi gadis itu malah dengan patuh menuruti keinginannya. Anara menarik kursi di seberangnya, lalu duduk dan menatapnya begitu intens.


“Lo bisa minum?” tanya Arsenio seraya menuangkan red wine ke dalam gelas.


“Kalau gitu, duduk aja di situ, temenin gue minum.” Lalu Arsenio menenggak red wine dengan rakus, seperti sedang meminum air putih untuk melegakan dahaga yang menyiksa.


Anara menurut. Dia tidak beranjak dari tempatnya sampai beberapa gelas red wine lagi telah habis Arsenio tenggak. Sementara Arsenio, semakin merasakan perasaannya menjadi kelabu seiring dengan kesadaran yang kian menipis.


Di ambang batas toleransinya, Anara tahu-tahu bersuara. Gadis bertanya apakah Arsenio sudah selesai dan apakah Anara sudah boleh kembali ke kamar karena harus pergi tidur sebelum malam semakin larut.


“Don’t you dare to leave me alone.” Arsenio meletakkan gelas yang sudah kembali kosong, lalu menatap Anara lekat-lekat. “Jangan ke mana-mana.”


“Udah malam, aku enggak biasa bergadang.”


“Sebentar lagi.” Arsenio berkeras kepala. Dituangnya lagi sisa red wine di dalam botol. “Tunggu gue habisin ini dulu.”


“Kamu udah mabuk, Arsenio. Better stop karena aku enggak akan kuat bawa kamu ke kamar seandainya kamu pingsan.”


“Gue enggak akan pingsan.” Padahal kenyataannya, Arsenio mungkin akan tumbang sebentar lagi. Toleransinya terhadap alkohol tidak terlalu tinggi. Bisa dibilang, ini mungkin rekor selama dirinya hidup karena belum pingsan meski sudah menghabiskan satu botol penuh untuk diri sendiri.


Tak!


Gelas terakhir sudah habis Arsenio tenggak. Bersamaan dengan itu, kesadarannya berangsur menghilang.


“Sorry.” Gumam Arsenio, antara sadar dan tidak.


“Hmmm?” samar-samar, di dalam pandangan yang sudah mulai memburam, Arsenio melihat Anara menatap ke arahnya dengan raut kebingungan. Alis rapinya saling bertaut menandakan bahwa gadis itu tidak mengerti dengan apa yang Arsenio ucapkan.


“Sorry, An.” Ucap Arsenio lagi. Tidak ada kalimat lain yang terlintas di kepalanya, jadi dia benar-benar hanya bisa mengatakan itu.


“Maaf buat apa?”


“Sorry.”


“Ar—“


“Sorry... sorry....” Arsenio masih terus bergumam, entah akan sebanyak apa lagi. Sampai tidak lama setelah itu, kepalanya terasa berat dan dia berakhir jatuh mengenaskan di atas meja makan. Mata Arsenio memberat, lalu sepenuhnya terpejam dengan kesadaran yang direnggut dengan cepat.


Namun, sebelum kesadarannya sepenuhnya hilang, Arsenio masih sempat mendengar Anara mengatakan sebaris kalimat yang disusul datangnya sebuah sentuhan di lengannya.


Samar-samar di telinga Arsenio, gadis itu berkata, “Aku udah bilang, Arsenio, aku enggak akan kuat buat angkat kamu ke kamar.” Kemudian Arsenio tidak ingat apa-apa lagi. Dia sepenuhnya pingsan.


Bersambung