
Bunyi bel yang dipencet berkali-kali membuat Anara terpaksa berhenti dari kegiatannya menyiapkan makanan. Arsenio masih tidur, di kasur lantai di kamarnya karena lelaki itu benar-benar menolak untuk pindah ke kamarnya meski sudah belasan kali Anara bujuk.
Setelah mencuci tangan dan mengeringkannya menggunakan tisu, Anara berjalan menuju pintu depan untuk segera menyambut si tamu yang datang pagi-pagi sekali—baru pukul enam.
Tidak ada nama lain yang terlintas di kepalanya selain Bunda, karena memang selama hampir dua bulan tinggal di sini, hanya Bunda tamu yang ia dan Arsenio miliki. Arsenio sepertinya juga tipikal yang tidak suka menerima rekan kerja atau teman-teman satu circle untuk datang ke kediamannya. Lelaki itu tampak seperti seseorang yang menjunjung tinggi yang namanya privasi.
Sebelum membuka pintu, Anara siapkan dulu senyum andalan untuk menyambut seseorang di balik pintu itu, jika orang tersebut betulan Bunda. Tapi jika pun tidak, juga tidak masalah. Setidaknya ia tidak menyambut tamu dengan wajah yang masam.
Pintu di hadapan Anara buka. Kalimat sapaan yang ramah sudah berada di ujung lidah, siap untuk ia lontarkan. Namun, kalimat itu berujung tercekat di tenggorokan ketika yang Anara temui di depan pintu bukanlah Bunda, melainkan Olin. Iya, Olin. Kekasih Arsenio yang cantik paripurna itu. Setelah acara pernikahan, ini adalah kali pertama mereka bertemu lagi.
Tidak banyak yang berubah dari cara Olin menatap Anara. Masih penuh dendam dan kebencian seolah Anara adalah musibah paling besar yang menimpa hidup gadis itu.
“Oh, hai.” Sapa Anara kikuk. Senyum yang sudah ia setting secara natural kini berubah menjadi kaku, sebab Olin sama sekali tidak membalas senyuman itu.
Bahkan, tanpa permisi, Olin tahu-tahu menyelonong masuk, mendorong tubuh Anara yang lebih kecil darinya hingga membuat Anara terhuyung dan nyaris jatuh jika saja tangannya tidak dengan sigap berpegang pada tembok.
“Mana Gala?” tanyanya seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru.
“Masih tidur.” Jawab Anara apa adanya.
Olin yang sedang mengobservasi ruang tamu pun berbalik, memicing tidak suka ke arah Anara. “Kamar siapa? Kamar dia atau kamar lo? Atau ... kamar kalian?” todongnya.
Waduh... untuk yang ini, haruskah Anara juga menjawab dengan jujur?
“Pagi-pagi amat datangnya?” sela sebuah suara serak yang errr—seksi dari arah belakang tubuh Olin.
Arsenio muncul masih mengenakan piama. Rambut legamnya sedikit berantakan, namun wajahnya sudah tampak segar—sepertinya dia sudah sempat mencuci muka.
“Sengaja.” Sahut Olin. Dia melirik sinis lagi ke arah Anara, sebelum akhirnya berderap menghampiri Arsenio dan tahu-tahu melabuhkan kecupan mesra di bibir lelaki itu.
“Sengaja?” tanya Arsenio, ikut-ikutan melirik ke arah Anara yang masih berdiri di ambang pintu—seperti orang bodoh.
“Iya, sengaja. Aku mau ngegep-in kamu, lagi tidur sama dia atau enggak.”
Wah, ini sudah tidak bisa dibiarkan. Olin terus-menerus melirik sinis ke arah Anara hingga membuatnya merasa seperti seorang terpidana mati yang sebentar lagi akan dieksekusi. Jadi sebelum ia terlibat semakin dalam, Anara memutuskan untuk melarikan diri.
“Aku ke kamar aku dulu, call me if you need something.” Pamit Anara, lalu meluncur ke kamarnya untuk mensterilkan mata dan pikiran dari pemandangan hot yang ia dapati di pagi yang cerah ini.
...🥀🥀🥀...
Dari awal kedatangannya, Olin sudah meminta Anara untuk melakukan ini dan itu. Mulai dari yang sesederhana minta tolong diambilkan air minum, sampai ke hal-hal tidak masuk akal yang membuat Anara kemudian berpikir; apakah orang cantik memang biasanya memiliki pola pikir yang agak sengklek?
Bayangkan saja, gadis iru meminta Anara untuk memulas kuku jari tangannya yang lentik menggunakan cat kuku warna merah muda. Tidak boleh tergores sedikit pun, atau dia akan minta Anara untuk mengulanginya sampai benar-benar menjadi bentuk yang sempurna.
Oh, itu bukan yang terparah. Olin juga meminta Anara untuk membuatkan makan siang berupa berupa nasi goreng udang, tetapi dia tidak mau ada udang di dalamnya karena dia alergi, tapi dia ingin nasi gorengnya ada rasa undangnya. Bingung? Sama. Anara juga.
Anara merasa... dirinya sedang dikerjai.
“Gimana caranya aku bikin nasi goreng rasa udang, tapi enggak pakai udang?” tanya Anara. Karena barangkali, memang dirinya yang tidak mengerti kalau masakan sejenis itu memang ada.
Namun, yang Olin lakukan justru membuatnya mengelus dada. Dengan santainya, gadis itu mengedikkan bahu sembari berkata, “Mana gue tahu.” Lalu ngeloyor menghampiri Arsenio yang sedang nyantai di ruang tengah.
Sudah merasa keterlaluan, Anara pun memutuskan untuk tidak melakukan apa yang Olin minta kali ini. Dengan satu langkah berani, ia menyusul Olin untuk memberitahukan perihal keberatannya atas tugas yang Olin berikan.
Namun, Anara berujung terkena mental karena ketika ia sampai di ruang tengah, ia malah mendapati Olin sedang berada di atas pangkuan Arsenio. Kedua lengannya mengalun manja di leher Arsenio, lalu tidak lama setelahnya, bibir mereka saling bertemu. Mereka bercumbu dengan bebasnya. Seperti dunia ini adalah milik mereka berdua dan orang lain—termasuk Anara—hanya seperti debu luar angkasa yang tidak ada artinya.
Anara ingin berbalik. Segera kabur agar matanya tidak semakin terkontaminasi. Namun, Anara sadar bahwa ia perlu meneruskan niatnya untuk menyampaikan keberatan agar Olin tidak menunggu dan berharap nasi goreng rasa udang tanpa udang yang dia minta akan tersedia.
“Ekhem!” Anara berdeham keras demi menginterupsi kegiatan Olin dan Arsenio yang semakin lama semakin hot saja.
Yah, berhasil, sih. Tapi Anara juga jadi dilempari tatapan tajam yang mengerikan dari sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta itu.
“Sorry to bother you guys, tapi aku cuma mau bilang kalau nasi goreng rasa udang tapi tanpa udang yang kamu minta itu enggak mungkin bisa aku buat. So, dengan berat hati, aku minta maaf karena enggak bisa menyediakan apa yang kamu mau.” Ucap Anara panjang lebar.
Tapi, tahu apa yang ia dapatkan setelahnya? Olin hanya mengibaskan tangannya di udara, memberi tanda kepada Anara untuk segera enyah karena dia lebih tertarik untuk kembali bercumbu dengan Arsenio.
“Ya, ya, I know.” Anara menimpali seraya memutar bola mata jengah.
“Masuk kamar, nggak usah keluyuran. Gue sama Olin mau having fun tanpa ada yang ganggu.”
Ya memangnya siapa yang mau mengganggu aktivitas panas mereka, wahai Arsenio Galandra? Tidak ada! Andai Anara bisa mengatakan itu dengan lantang di depan wajah Arsenio, mungkin akan asyik juga.
Tapi sayangnya, keberanian Anara masih tidak sebanyak itu. Jadi ia hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Arsenio dan Olin. Agar mereka berdua bisa kembali bersenang-senang seperti apa yang mereka mau.
Bersambung