Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 96 - Waktu Bersama (END)



Tiga Minggu telah berlalu, Grace dan Brian sudah mengucapkan janji sucinya di hadapan tuhan dengan dipandu oleh seorang pendeta.


Pesta yang hanya dihadiri oleh beberapa orang itu terlihat sangat mewah dan berkelas. Karena bagaimanapun ini merupakan pernikahan dua keluarga terpandang yaitu keluarga Natalie dan keluarga Fernandez.


Grace sedikit merasa bersalah karena tidak bisa menghubungi sahabatnya perihal pernikahannya karena sangat sibuk.


Setelah selesai dengan segala prosesi dan pesta yang ada, disinilah Grace berada di salah satu kamar hotel presidential suite yang sudah dihias sedemikian rupa. "Ah, aku lelah!" Grace meregangkan otot nya lalu membersihkan riasannya dan menanggalkan pakaiannya menuju kamar mandi.


30 menit kemudian Grace sudah keluar dengan mengenakan handuk kimono. Dilihatnya Brian yang sudah duduk ditepi ranjang, menunggu dirinya.


"Kemarilah!" Titah Brian menepuk kasur di sebelahnya. Grace menurut lalu duduk di sebelahnya.


Brian memeluk Grace sangat erat. "Akhirnya kamu menjadi istriku. Kamu tahu aku sangat mencintaimu." Ujar Brian.


"Tapi, aku tidak mencintaimu." Jawab Grace.


Brian tersenyum. "Aku tahu. Mungkin caraku menikahimu agak sedikit memaksa. Tapi cintaku padamu bukanlah candaan belaka. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dengan segenap usahaku." Ujarnya.


"Kamu sudah memenuhi semua kriteria suami idamanku. Namun, kamu hanya perlu memenangkan hatiku ini." Grace menuntun tangan Brian menyentuh dadanya.


Glek!


Brian menelan salivanya susah payah, dia tahu Grace sama sekali tidak memancingnya namun hasrat nya sama sekali tidak bisa ditahan. Tangan Brian dengan cepat merambat masuk kedalam kimono Grace mencari dia gundukan kesukaannya. "Akh!" Pekik Grace disaat Brian sedikit meremasssnya


"Bolehkah?" Tanya Brian yang sudah diselimuti kabut gaiirah lalu menatap netra Grace yang masih terkejut.


Grace mengangguk sekilas sebagai jawaban, dengan cepat Brian merebahkan tubuh Grace di ranjang yang sudah dipenuhi hiasan bunga. Brian perlahan membuka pakaiannya lalu mengukung Grace dibawahnya. "Sungguh cantik baby."


Brian pun menciium seluruh inci wajah Grace lalu turun ke lehernya dan berakhir di deretan bukit yang menjadi tempat favoritnya. Dan begitulah malam panjang itu dilalui oleh Brian dan Grace dengan bercucuran keringat. Entahlah kegiatan apa saja yang sudah dilakukannya.


(Mweheheheh 😏).


*


Brian dan Grace pun hidup bahagia dan harmonis. Mereka menikmati momen kebersamaannya menjadi sepasang suami istri. Kini tidak ada keraguan lagi, Grace sudah memantapkan hatinya kepada Brian. Grace pun melanjutkan kuliahnya walaupun sudah menikah.


Dan ya, mereka sepakat untuk menunda kehamilan Grace karena kesibukan Grace sebagai mahasiswa.


...Flashback end....


*


Di kafe.


"Jadi, kau menikahinya dengan paksa? Bro kau sangat nekat!" Ujar Theo.


"Lalu apa bedanya denganmu? Kau menikahi muridmu padahal belum cukup umur, ck! Setidaknya aku menikahi istriku disaat dia cukup umur!" Balas Brian.


"Aku tidak menyangka, keinginan mu mencari Daddy gula menjadi kenyataan." Ujar Eva yang tampak sangat semangat mendengar cerita Grace dan Brian sedari tadi.


"Hmm, bahkan aku sekarang sedang hamil satu bulan." Jawab Grace.


"Benarkah?!" Pekik Eva dan Mitha bersamaan.


Eva tersenyum. "Wah, selamat ya. Kita barengan loh hamilnya nanti anak kita temenan aja, terus sekolahnya harus bareng!" Ujarnya.


"Tentu saja! Bila perlu kita tetanggaan aja! Biar makin Deket!" Ujar Grace mendukung ucapan Eva. Sementara Brian dan Theo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sekarang tinggal Mitha dan Yoga nih. Kalian kapan nyusul?" Tanya Eva kepada dua orang yang sedari tadi hanya menyimak percakapan mereka.


"Aku, kapanpun bisa. Aku hanya menunggu Mitha siap, karena dia masih ingin meniti karirnya dulu." Ujar Yoga melirik gadis berwajah datar yang kini sudah menjadi kekasihnya.


"Awas loh, jika tidak segera diikat mungkin cepat atau lambat akan disikat." Sindir Theo.


"Saya tahu rasanya orang yang kita cintai diambil orang pak." Balas Yoga.


"Salahmu sendiri yang terlalu lambat bocah!" Sahut Theo.


"Sudah!" Ucap Eva menghentikan cekcok antara keduanya. "Kalian sudah dewasa kenapa seperti anak kecil sih?!" Geram Eva. Mitha mencubit perut Yoga dengan tatapan kesal.


*


*


Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun sudah terlewati. Dan tak terasa 5 tahun sudah dilalui. Saat ini Eva dan Theo sedang berada di mansion keluarga Fernandez untuk bertemu dengan anak dari Brian dan Grace.


"Akhirnya kalian datang juga, ayo masuk!" Ucap Brian lalu mempersilahkan Eva dan Theo masuk.


Dari dalam terdengar lengkingan suara anak kecil. "Taniaaaaa!!" Pekik seorang gadis kecil menghampiri anak sebayanya yang berada di gendongan Theo.


"Gia!" Sahutnya lalu berontak dari gendongan Papanya. Theo pun menurunkan putrinya yang ada digendongannya.


Greb! Mereka pun berpelukan dengan sangat erat. "Berpelukan!" Ucap Gia dan Thania berbarengan. Sementara Theo, Eva dan Brian hanya bisa mengulum senyum melihat kelakuan putri mereka.


"Gia, tangen cama Tania." Ucap Gia.


"Cama, Tania juga tangen cama Gia." Sahut Thania Davidson putri pertama Theo dan Eva.


"Ck! Mau campai kapan kalian peyukan?" Seorang anak laki-laki datang menghampiri mereka.


Pelukan Gia dan Thania pun terlepas lalu menatap tajam orang yang mengkritik mereka. "Bialin! Gio jelek!" Sahut Gia.


"Ayo macuk Tania. Gio udah ciapin banyak mainan." Ucap Gio lalu menarik tangan mungil Thania. Sementara Thania hanya bisa pasrah mengikuti.


"Kak Gio!!! Balikin Tania!!" Teriak Gia.


Brian terkekeh pelan. "Aku rasa kita bisa menjadi besan kelak." Ujarnya.


"Tentu, jika mereka saling menyukai." Sahut Theo. Obrolan bapack-bapack itu harus terhenti karena Eva mencubit perut Theo. Mereka pun masuk ke dalam rumah Brian.


"Eva akhirnya kamu datang juga." Ujar Grace meletakkan minuman di atas meja lalu menghampiri Eva.


"Hem, bay the way Mitha belum datang ya?" Tanya Eva. Dan dijawab gelengan oleh Grace.


"Wah sudah lama aku tidak bertemu dengan putramu. Sekarang dia sudah besar ya." Grace menoel pipi anak kedua Eva dan Theo yaitu Tristan yang berusia dua tahun.


Eva tersenyum. "Yah, dia sangat aktif."


Kembali ke bagian anak-anak.


"Kak Gio balikin boneca nya Gia!"


"Gak! Bonekanya mau aku kacih Tania!"


"Tania, gak mayu bonekanya. Itu buat Gia aja."


Mereka pun saling memperebutkan boneka dengan sengitnya. "Yaudah, nih aku kacih bonekanya. Tapi, Tania harus main cama aku!" Gio mengalah lalu menarik Tania yang sedari tadi melihat mereka berebutan boneka.


"Gak! Kakak gak boyeh main cama Tania! Tania cemen Gia!"


"Gak! Tania punya Gio!"


Dan terjadilah tarik menarik antara ketiganya. Gia menarik tangan kiri Tania dan Gio menarik tangan kanannya. Entahlah bagi kedua bocah kembar tersebut, Tania adalah orang yang sangat mereka sayangi. Karena Tania adalah anak yang periang, baik dan mudah bergaul.


Selain itu, Thania dan adiknya Tristan merupakan kesayangan dari dua keluarga besar yaitu keluarga Davidson dan Helios. Apapun permintaan mereka pasti akan dikabulkan, oleh kakek neneknya, tentunya yang paling memanjakan mereka berdua adalah Tuan besar Helios yang beruntung bisa diberi kesehatan sampai bisa melihat cicitnya.


"Gio, Gia, tangan Tania cakit. Papa tolongin Tania hiks."


Dengan cepat Theo dan Brian menghampiri anak-anaknya. Sudah hal biasa bagi mereka, melihat anak-anak akan bertengkar karena memperebutkan Tania.


"Gio, lepasin Tania ya." Ucap Brian.


"Gia juga ya, kasian Tania kesakitan." Ujar Theo.


Tiba-tiba seorang anak kecil datang lalu memeluk Thania dengan eratnya. "Eh!" Thania yang dipeluk pun kaget.


Anak kecil itu menangis sangat kencang dipelukan Thania. Anak itu tidak mau melihat Thania kesakitan. "Woi, anak siapa lagi nih?" Tanya Brian. Gia dan Gio menatap tajam anak yang memeluk Thania.


"Daddy, Tania dipeyuk cama dia hwaaaa!" Tangis Gia pecah ketika temannya dipeluk.


"Daddy, Tania nya Gio dipeyuk." Mata Gio sudah berkaca-kaca.


Seseorang pun mendekati Thania yang masih didekap oleh anak kecil itu. "Aris, sudah ya lepasin kak Thania." Ucap Yoga. Yup, anak kecil itu adalah Aris putra Yoga dan Mitha yang berumur dua tahun.


Aris menggeleng dan semakin erat memeluk Thania. "Papa, Tania cecak." Ucap Thania meminta tolong pada papa Theo.


Sementara Aris mengoceh tak jelas, namun masih bisa dimengerti oleh Mitha ibunya. "Rasanya Aris gak mau Thania direbut deh." Ujarnya.


"Cih, masih kecil saja sudah begitu. Bagaimana kalau dia sudah besar. Aku tidak ingin putriku dekat dengan putramu" Sindir Theo melirik Yoga.


"Kenapa bapak terus nyindir saya ya? Tapi, kalau Thania jodoh anak saya, bapak gak bisa berkutik loh." Sahutnya.


Seperti itulah kehidupan tiga keluarga ini, Theo dan Yoga setiap mereka bertemu pasti akan membuat keributan. Mereka pun menghabiskan waktu bersama, para ibu-ibu bersama anaknya bermain sembari memakan cemilan. Seperti biasa Thania pasti akan menjadi rebutan dari anak Grace dan Mitha, bahkan Tristan adiknya sendiri pun tersisihkan. Sementara para bapak-bapak memilih duduk di sudut membicarakan pekerjaan atau hal-hal absurd yang tidak manuk akal.


...End!...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedikit tambahan peran:


Thania Davidson -> Anak pertama Eva dan Theo (5 Tahun)


Tristan Davidson -> Anak kedua Eva dan Theo (2 Tahun)


Gia Fernandez -> Anak Brian dan Grace (5 Tahun)


Giorgio Fernandez -> Anak Brian dan Grace (5 Tahun)


Aris Hendrawan -> Anak Yoga dan Mitha (2 Tahun)


...****************...


...Terima Kasih kepada para reader karena sudah menemani othor sampai sejauh ini. Terimakasih juga buat yang udah like, komen, vote lope sekebon deh sama kalian 😘😘😘😘...


...Mungkin endingnya tidak memuaskan bagi kalian, tapi ini sudah yang terbaik menurut author.πŸ˜ͺ...


...Sampai jumpa di karya baru author berikutnya. 😊😊...


...Karya berikutnya masih dalam pembuatan kerangka cerita jadi gak tau publish nya kapan πŸ˜—πŸ˜—πŸ˜—...