Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 59 - Bagai Air dan Minyak



Melewati lorong setelah berbicara dengan Yoga, ponselnya berbunyi memberikan notifikasi pesan. Dan pesan itu dari pak Theo yang menyuruhnya untuk datang ke ruangannya.


Tak lama Eva pun sudah sampai di depan ruangan pak Theo dia pun mengetuk pintu dan masuk setelah diizinkan. "Ada apa pak?" Tanya Eva.


Pak Theo bangkit lalu menuju ke arah sofa. "Duduk disini dan temani saya makan siang." Ujarnya menepuk-nepuk sofa di sampingnya. Eva menurut lalu duduk disamping pak Theo.


"Apa kamu sudah makan?" Tanya pak Theo. Dan dijawab dengan anggukan. "Oh ya, aku membelikanmu cupcake rasa coklat. Bukankah ini desert kesukaanmu?" Lanjutnya lagi lalu membuka kotak makanan yang tadi sudah dipesannya.


"Bagaimana bapak tahu kalau saya suka cupcake coklat? Bapak memata-matai saya ya?" Eva memicingkan matanya curiga.


Pak Theo terkekeh. "Anggap saja saya cenayang." Sahutnya.


"Hahahah, bapak ada-ada aja." Tawa Eva seketika pecah, mana mungkin pak Theo yang tampan menjadi cenayang.


"Kamu sangat cantik ketika tertawa." Celetuk pak Theo yang sedang tadi menatap Eva.


Blush!


"Em, ayo pak makan." Eva mengalihkan pembicaraan agar wajahnya tidak kelihatan salah tingkah. Mereka pun mulai makan sampai tak selang beberapa saat Eva kembali bersuara.


"Em pak, saya tidak menyangka bisa menikah dengan bapak. Saya berpikir kita ini bagaikan air dan minyak yang tidak mungkin dapat bersatu. Walaupun begitu saya berjanji pada bapak bahwa mulai saat ini saya akan menjadi istri yang baik untuk bapak. Namun, bapak perlu sedikit bersabar denganku, saya harus belajar memahami dan mengerti bapak terlebih dahulu dan itu mungkin butuh waktu." Ucap Eva.


"Aku juga tidak menyangka bisa menikahi murid kesayanganku. Kamu bilang kita seperti air dan minyak bukan? Tenang saja air dan minyak dapat bersatu jika ada sabun. Begitupun dengan kita jika ada cinta sebagai penengah bukan tidak mungkin bagi kita untuk bersatu." Jawab pak Theo.


*Kemampuan sabun mencampurkan air dan minyak, serta memisahkan kotoran adalah karena sabun merupakan emulgator (yang menstabilkan emulsi minyak dan air) dari jenis surfaktan, yang memiliki sisi hidrofilik (yang mengikat air) dan hidrofobik (yang menolak air dan mengikat minyak).


"Kamu harus yakin dan percaya padaku. Kepercayaan sangat penting bagi dua orang yang menjalin hubungan. Karena Kepercayaan berasal dari kata percaya, artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan." Lanjutnya lagi.


*


Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, yang artinya sudah waktunya pulang. Eva menghubungi pak Theo agar menyelesaikan pekerjaan karena mereka akan pulang bersama. Selama menunggu pak Theo, Eva menuju parkiran mobil dimana mobil pak Theo terparkir. Dengan mengendap-endap agar orang lain tidak melihatnya.


Sedikit lagi dirinya akan sampai namun, seseorang menyentuh bahunya. "Eva, ngapain kamu kesini?" Tanya Yoga.


"Em, itu…."


"Mendingan kamu pulang bareng aku, sekalian aku mau bertemu dengan kerabatmu." Yoga menarik Eva agar mengikuti dirinya dan tidak ingin tahu apa yang dilakukan Eva di parkiran guru.


Greb!


Yoga mengernyit heran, lantas berkata kepada pak Theo. "Saya hanya ingin mengajak Eva pulang bersama."


Pak Theo menoleh ke arah Eva. "Sayang, benarkah itu?" Tanya pak Theo.


Sa-sayang? Batin Yoga yang sangat terkejut.


"Ada apa ini? Kenapa bapak berkata seperti itu kepada murid bapak?" Tanya Yoga lalu menatap Eva. "Eva katakan padaku ada apa ini sebenarnya?!" Lanjutnya lagi kali ini dengan suara yang agak tinggi. Menuntut jawaban dari apa yang dia lihat dan dengar.


Eva hanya diam tidak ingin menjawabnya. Pak Theo menggenggam erat tangan Eva. "Sebaiknya kamu masuk ke mobil dulu." Ujarnya. Eva pun menurut dengan pak Theo yang menuntunnya ke dalam mobil. Namun, sebelum pintu mobil ditutup, Eva menatap netra milik pak Theo. Mengerti, pak Theo pun mengangguk pelan membalas tatapan mata Eva seolah berkata 'serahkan semuanya padaku semuanya akan baik-baik saja'.


Pak Theo pun kembali ke tempat dimana Yoga masih diam melihat gerak-gerik mencurigakan antara Eva dan pak Theo. "Katakan, bapak ada hubungan apa dengan Eva? Kenapa bapak berkata seperti itu kepada siswi bapak sendiri?!" Tanyanya.


"Seperti yang kamu lihat, saya memang memiliki hubungan dengan Eva dan itu adalah hubungan suami istri. Saya sudah menikahinya kemarin. Jadi, saya minta kepadamu tolong jauhi istri saya!" Ucap tegas.


"I-itu tidak mungkin!"


"Terserah kamu mau percaya atau tidak tapi itu kenyataannya, saya menikahinya sah dimata hukum dan agama." Ucap pak Theo memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manis tangan kanannya.


"Dan perlu saya tekankan jangan sekali-kali mendekati istri saya, karena setiap melihatmu dia akan merasa sedih karena perbuatanmu yang selalu saja membuatnya terluka. Satu lagi Eva tidak ingin pernikahan kami sampai diketahui oleh orang-orang jadi saya harap kamu dapat merahasiakan hal ini. Yang terpenting bagi saya saat ini adalah kenyamanan dan kebahagiaan Eva!" Tegasnya lagi.


Selesai berbicara dengan Yoga, pak Theo masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan kendaraan roda empat tersebut meninggalkan kawasan sekolah.


Sementara Yoga menatap nanar mobil yang baru saja pergi. "Sialan! Ini semua salah lo yang gak percaya diri dari awal. Lo lemah! Lemah! Breng*ek! Tidak berguna!" Ucapnya pada dirinya sendiri.


Sampai Mitha datang lewat di depan Yoga yang sedang menangis. "Dih, kayaknya gw salah jalan deh. Sampai liat nih mantan ketos nangis." Cibirnya lalu melangkahkan kakinya menjauh dari sana. Sementara Yoga menatap gadis datar yang barusan melihat sisi lemahnya.


...Bersambung……....


...****************...


...Pada akhirnya orang yang ragu-ragu akan kalah dengan orang maju tanpa ragu...


...By: Othor...


...****************...


jangan lupa like, komennya Yo. Apa sih susahnya mencet tombol like pake jempol 😌🤭