
Pak Theo mengangguk. "Tentu saja, apa aku belum bercerita kepadamu?" Tanya pak Theo yang membuat Eva sedikit kesal karena melihat wajah tanpa dosanya.
"Bapak kan belum pernah cerita." Sahutnya dengan bibirnya yang sudah mengerucut. Pak Theo yang melihatnya tentu saja sangat gemas, ingin sekali menciu* menyessaap bibir mungil tersebut namun ditahannya karena masih ada pekerjaan yang harus dilakukannya.
Sudah 35 menit Eva duduk di sofa memainkan ponsel pintarnya berkirim pesan kepada kedua sahabatnya. Tak lama karena bosan menunggu pak Theo mengurusi berkas-berkasnya dia berdiri lalu menuju kaca besar dimana memperlihatkan pemandangan kota metropolitan dari atas. Dan itu membuatnya terkagum-kagum.
Tiba-tiba lengan kekar melingkar tepat di perutnya. Ulah siapa lagi selain pak Theo. Bahkan dirinya sudah menempatkan kepalanya di bahu Eva disebelah kanan, mencuri bau mawar yang keluar dari tubuh istrinya, karena Eva menggunakan parfum beraroma mawar. "A-ada apa pak?" Tanya Eva gugup. Dan ingin melepaskan pelukan erat pak Theo.
Namun, pak Theo semakin mengeratkan pelukannya. "Biarkan seperti ini sebentar saja." Sahutnya dengan helaan nafas panjang, karena lelah mengurusi dokumen-dokumen itu. Ingin sekali Theo mengabaikannya namun dia ingat tanggung jawab yang diembannya, ada karyawan yang perlu digajinya sehingga dia harus fokus dan lebih giat lagi dalam bekerja.
Eva membiarkan pak Theo pada posisinya saat ini, namun bibir pak Theo benar-benar nakal dan tidak dapat dikondisikan. Beberapa kecupan sudah dilakukan oleh pak Theo di beberapa area leher Eva, bahkan sekarang kecupan itu berubah menjadi sessapann sehingga membuat leher Eva seperti macan tutul karena adanya bercak kemerahan. Ingin sekali Eva menghentikan tindakan pak Theo namun, entah kenapa dia merasakan sensasi aneh seperti tersengat listrik bahkan di hatinya seperti ada jutaan bunga yang bermekaran.
Pak Theo membalikkan tubuh Eva membuatnya berhadapan. Lalu merengkuh pinggangnya dengan erat. Tangan kekar pak Theo terangkat membenarkan surai Eva yang menghalangi wajahnya membawanya ke belakang telinga. Setelahnya sapuan tangan pak Theo menuju pipinya lalu berakhir di bibir Eva menatapnya dengan tajam. "Bolehkah?" Tanya pak Theo menatap bola mata Eva yang sudah tampak sayu namun, tangan pak Theo tak henti memainkan bibir mungil Eva.
Eva mengangguk sebagai jawaban, karena tak dipungkiri dirinya saat ini sudah terlena oleh kabut gairah yang menyelimutinya. Dengan cepat pak Theo menciium kedua kelopak mata Eva membuat matanya tertutup namun hatinya berdesir. Setelahnya pak Theo mencium kening, pipi kanan dan kiri dan berakhir di bibir ranum Eva. Mengecapnya dengan lembut, melummatnya atas dan bawah.
Beberapa menit berselang ciiuman pak Theo justru semakin agresif dengan cepat melummat bibir. Suara decapan tersebut menggema di seluruh ruangan. Bahkan sekarang pak Theo menggigit pelan bibir Eva, membuat si empunya sedikit menjerit. "Awstt." Lalu pak Theo melandaskan lidahnya untuk mengabsen rongga mulut Eva. Ciiuman itu terus terjadi sampai Eva menghentikannya dengan menepuk pundak pak Theo karena kehabisan nafas.
Eva mengatur nafasnya dengan cepat, meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Namun, sekarang sasaran pak Theo justru leher sebelah kirinya yang masih belum berisi tanda. Pak Theo melakukannya sama seperti dilakukannya pada leher bagian kanannya sampai timbul bekas kemerahan. Namun, aksi Theo harus terhenti karena Jo tiba-tiba saja datang tanpa mengetuk pintu.
"Tuan, ada dua dokumen lagi yang ha…." Ucapnya terhenti ketika melihat bosnya yang tengah mencumbu istrinya. Dan dengan cepat dia berbalik. "Maafkan saya tuan, saya tunggu di ruang rapat." Ujarnya lalu lari terbirit-birit. Bisa Jo pastikan kali ini gajinya pasti akan dipotong.
Eva jelas sangat malu karena perbuatannya bersama pak Theo justru dilihat oleh Jo. "Sayang, tunggu aku disini. Aku akan menghadiri rapat sebentar. Dan ya, aku sudah memesankan makanan untukmu." Ujarnya lalu mengecup singkat bibir Eva yang membengkak karena ulahnya.
Eva mengangguk. "Terimakasih Hubby!" Ucapnya tanpa sadar lalu segera menutup mulutnya.
Sementara pak Theo mematung. "Apa yang kamu katakan, aku ingin mendengarnya lagi." Ujar pak Theo yang hatinya berbunga-bunga. Namun, Eva menjawabnya dengan gelengan kepala, karena dirinya sangat malu saat ini.
Pak Theo terus mendesaknya sampai akhirnya Eva menyerah. "Hu-huby?" Cicitnya. Mendengar itu dengan cepat Theo memeluk istrinya. "Oh sayang!" Ucap pak Theo yang merasa senang.
Theo melepaskan pelukannya. "Tunggu aku disini dan jangan kemana-mana. Aku akan kembali dengan cepat!" Ujarnya lalu menghilang sekejap mata karena energinya sudah tercas full. Ingin sekali Theo menyelesaikan semua urusannya lalu pulang dan bermanja-manja dengan istrinya. Sementara Eva hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya itu.
*
*
Sementara Theo sudah selesai dengan rapatnya namun, ponselnya berbunyi lalu segera diangkatnya karena yang menghubunginya adalah sang Daddy.
"Halo dad, ada apa meneleponku?" Tanya Theo.
📞 "Dasar bocah tengik, kau bertanya kenapa Daddy menelepon mu? Itu karena mommy mu yang terus saja merengek ingin bertemu denganmu!" Ujarnya.
"I-itu….."
Tiba-tiba saja telepon tuan Davidson direbut oleh istrinya.
📞 "Hei, apakah kamu sekarang sudah merasa dewasa? Kamu sama sekali tidak memberitahu Mommy mu bahwa sudah menikah?" Mommy Irene mengomeli putranya. Bagaimana tidak mengomeli, dia sendiri tidak tahu sang putra sudah menikah dan baru tahu dari Jo yang keceplosan bicara.
"Nanti malam, Theo akan ke rumah sekaligus mengenalkan istri Theo kepada mommy dan Daddy." Sahutnya.
📞 "Benarkah? Mommy tunggu saat makan malam, mommy sangat tidak sabar ingin bertemu dengan menantu." Ujarnya begitu bersemangat.
"Iya mom."
📞 "Ingat datang! Jangan sampai telat!" Kali ini tuan Davidson yang berbicara lalu mematikan teleponnya sepihak.
Theo menatap ponselnya lalu menaruhnya di saku jasnya, agak kesal memang dengan ayahnya yang memiliki kepribadian cuek. Lalu Theo melangkahkan kakinya menuju ruangannya dimana sang istri pasti sedang menunggunya.
Bersambung……
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😘😘😘...