
...Seperti janji othor sebelum, hari ini up 2 bab....
...Inget like sama kembang kopinya...
...udah ah...
...Lanjut~...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini terlihat seseorang sedang berlari kecil namun tidak menghilangkan kesan gagahnya menuju ke sebuah ruangan di sebuah universitas. Bersama dengan anak buahnya dan Yoga dan Mitha yang berada di belakangnya. Yap, tentu saja itu adalah Theo. Setelah mendapatkan telepon dari Mitha yang mengatakan istrinya hilang dengan cepat Theo menghubungi bawahannya untuk melacak keberadaan istrinya.
Brak!
Pintu ruangan itu dibuka dengan sangat kasar, membuat orang yang ada didalamnya terkejut karenanya. Orang yang berada didalam ruangan itu seketika terkejut ketika mengetahui orang yang mendobrak pintu ruangannya adalah orang yang sangat berpengaruh.
"Tu-tuan Davidson?" Ucapnya sedikit gugup. "Suatu kehormatan bagi saya karena kedatangan anda ke universitas kami. Apa yang membawa tuan Davidson datang ke universitas kami?" Ucap direktur universitas lalu mempersilahkan Theo untuk duduk.
Sementara Theo hanya acuh, pikirannya saat ini sangat kalut sehingga tidak berselera menyahuti basa-basi dari direktur universitas itu. "Begini pak, teman saya Eva menghilang setelah dari toilet. Saya sudah mencarinya dan mengecek cctv tapi tidak menemukan titik terang." Yoga menjelaskan menggantikan Theo.
"Cctv nya seperti sudah dimanipulasi, dan yang bisa melakukan hal seperti itu pasti sudah sangat hafal tempat dan berkuasa disini. Jadi, kami mencurigai Dion putra bapak yang melakukannya." Lanjut Yoga lagi.
"A-apa?! Bagaimana mungkin Dion yang melakukannya? Jangan memfitnahnya, aku tahu bagaimana watak putraku sendiri!" Ucapnya yakin bahwa putranya tidak melakukan hal seperti itu.
"Apakah bapak tidak tahu kelakuan putra bapak selama ini?! Dia bahkan sudah terkenal di kampus karena kelakuannya yang sangat tidak pantas! Dia selalu mengganggu para mahasiswi dan selalu mengancam dengan menggunakan jabatan bapak! Bahkan selama ini, dia selalu mengganggu dan menggoda Eva teman saya!" Ucap Mitha menggebu-gebu.
Pak direktur hanya bersikap biasa saja. "Lalu kenapa, jika Dion mengganggu temanmu? Dia masih remaja, jadi bebas melakukan apapun yang dia suka. Lagipula siapa Eva, apa istimewanya dia, apakah dia anak presiden?" Ucapnya dengan nada mencemooh dan meremeh.
Brak!
Meja kaca yang ada di dekat sofa itu kacanya retak oleh kekesalan Theo. Sedari tadi dirinya hanya diam meredam amarahnya, namun ketika melihat respon direktur universitas ini membuat amarahnya tidak dapat dibendung lagi. Theo bangkit dari duduknya lalu mendekati dan mencengkram kerah baju direktur universitas. "Orang yang kau cemooh tadi adalah istriku! Eva istriku sedang berkuliah disini si*lan! Bila terjadi sesuatu padanya maka akan aku hancurkan universitas ini!" Ucap pak Theo dengan amarahnya yang tidak dapat dikontrol.
Tiba-tiba Jo masuk ke dalam ruangan lalu mendekati tuannya yang sedang dalam keadaan marah. "Tuan, kami sudah menemukan jejak nyonya." Ucap Jo. Sedari tadi Jo sibuk melacak keberadaan Eva melalui kalung yang dipakainya karena di dalam kalung itu sudah dipasang chip pendeteksi lokasi. Walaupun sudah mengetahui keberadaan Eva, namun tetap saja itu tidak akurat maka dari itu Theo meminta diselidiki lebih.
Theo melepaskan cengkeramannya. "Ingat satu hal, jika putramu terbukti melakukan semua ini kepada istriku bersiaplah dengan konsekuensi dariku!" Ucap Theo penuh penekanan. Lalu segera pergi dari ruangan itu bersama bawahannya menuju suatu tempat yang tak jauh dari universitas.
*
*
*
Di Sebuah rumah kosong.
"Emhhh~" lenguh seorang perempuan yang perlahan membuka matanya. Matanya menatap kesana kemari menelusuri setiap inci ruangan yang ditempatinya yang mana dirinya tidak dapat melihat apapun karena tidak adanya pencahayaan. "Dimana aku? Sthhhh…." Ucapnya sambil memegang kepalanya karena sedikit pusing.
Perempuan itu, memejamkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. "Kau?!!" Pekiknya ketika sudah bisa melihat jelas siapa yang berada di depannya.
"Kenapa kau berteriak Eva sayang?" Ucapnya penuh kelembutan.
"Ck, Dion apa maumu hah?! Kenapa kau melakukan ini padaku?!" Geram Eva.
Dion mengedikkan bahunya. "Entahlah aku melakukan semua ini karena aku cinta padamu sayang. " Ucapnya dengan seringai.
Melihat senyum yang terlukis di wajah Dion seketika membuat Eva merinding. "Kau tidak waras! Gila! Ini bukan cinta tapi obsesi!" Ucap Eva.
"Heh, mau itu cinta atau obsesi itu sama saja. Intinya aku hanya mau kau menjadi milikku seorang." Ujar Dion lalu mendekati ranjang dimana Eva diletakkan di sana dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Cih, aku tahu modelan laki-laki seperti apa dirimu. Kau memiliki jiwa petualang yang tinggi. Kau dikelilingi oleh para gadis, dan ketika kau merayunya mereka tidak akan menolak dan kau akan leluasa melakukan apapun yang kau mau. Namun, kau seolah tertantang berhadapan denganku, karena setiap kau merayuku aku sama sekali tidak mempan dan menolak. Disaat kau menerima penolakan ego yang ada di dalam dirimu seakan terhina dan dipermalukan sehingga kau melakukan hal ekstrim seperti ini agar mendapatkan apapun yang kau inginkan." Ucap Eva.
"Diam!!!" Teriak Dion.
Sementara Eva menatapnya dengan tatapan tajam walaupun begitu dihatinya masih sedikit was-was. "Kau ini banyak bicara juga ya, tapi apa yang kau ucapkan itu setengah ada benarnya. Aku tertantang ingin mendapatkanmu, kau tahu dari kecil apa yang aku inginkan harus aku dapatkan. Apapun termasuk dirimu!" Tekan Dion diakhir kalimat.
Dion mendekat lalu mengambil segelas air di atas nakas, memaksa Eva untuk meminumnya. "Apa yang kau lakukan brengs*k!" Ucap Eva ketika Dion sudah selesai memberinya minuman.
"Aku tidak melakukan apapun sayang, tapi setelah ini kita akan bersenang-senang." Ucapnya lalu melepaskan kancing kemeja yang dipakainya satu demi satu, dan setelahnya kemejanya itu dibuang ke sembarang arah olehnya.
Dion pun beralih melepaskan ikat pinggangnya, dan membuka sedikit celana panjang yang dipakainya. Sementara Eva kepalanya sudah mulai pusing, penglihatannya tiba-tiba menjadi sayu. Dan seluruh tubuhnya terasa menghangat.
Dion mulai mendekati Eva melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya. Dion menyeringai lalu semakin mendekat ke arah leher Eva hendak menciiumnya.
Brak!
Pintu kamar tersebut ditendang dengan kasar oleh Theo yang mana emosinya sedang sangat tinggi. Beberapa bawahannya sudah meringkus 2 teman Dion yang bekerja sama dengannya. Dan sisanya mengikutinya. "Apa yang kau lakukan pada istriku bren*sek!" Ucap Theo lalu menghajar Dion sampai tersungkur. Seolah menggila Theo terus saja memukuli Dion dengan sangat brutal, dia menulikan telinganya ketika Dion memohon kepadanya.
Sementara Mitha dan Yoga yang mengikuti Theo di belakang sigap menolong Eva yang keadaannya sangat kacau lalu memakainya jaket.
"Sthhh…. Panas~" ucap Eva
"****!" Yoga mengumpat.
Bersambung…….
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Udah up loh jangan lupa like, komennya ya. Satu like dan komen sangat berarti bagi othor sebagai penyemangat untuk update walaupun othor dalam keadaan sibuk😗😗😗...