
...Last...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sinilah Eva saat ini berada di sebuah universitas yang paling bergengsi dan yang paling diinginkan oleh semua orang untuk menempuh pendidikan.
Cade University
Disana Eva akan menempuh pendidikannya selama beberapa tahun kedepan. Terlihat Eva saat ini sedang mencari gedung dimana jurusannya berada. Ya, Eva saat ini sedang berkuliah dengan mencari jurusan Designer sesuai dengan keahlian dan impiannya saat masih kecil..
Kenapa Designer? Karena sewaktu kecil Eva sudah sering melihat sang Mama yang mendesain, memotong dan menjahit kain yang nantinya akan menjadi sebuah baju. Selain itu, Eva sendiri memiliki hobi menggambar tak heran jika dirinya memilih menjadi seorang designer.
*
Kembali ke 1 bulan sebelumnya.
"Hubby! Aku ingin kuliah!" Ucap Eva tiba-tiba.
"Kamu sudah memikirkan akan mengambil jurusan apa? Kalau belum, kamu bisa memikirkannya dulu." Ujar Theo.
Eva mengangguk. "Aku sudah memikirkannya!" Ucap Eva dengan wajah yang terlihat serius dan yakin akan ucapannya. Theo tersenyum lalu bertanya, "Kamu mencari jurusan apa?"
"Aku ingin menjadi desainer dan karena itu aku ingin mencari jurusan tata busana." Eva mengutarakan pendapatnya.
"Baiklah! Aku akan mengurusnya, akan kucari kan universitas yang paling bagus untukmu. Dan kau hanya tinggal menunggu waktu kamu akan mulai berkuliah." Jawab Theo.
Greb!
Dengan cepat Eva memeluk erat suaminya, membuat Theo yang kaget hampir terhuyung karena belum siap mengambil ancang-ancang. "Terimakasih, terimakasih Hubby! Kamu yang terbaik!" Ucap Eva lalu mengecup pipi Theo. Membuat empu sang punya pipi seketika merona.
Theo menguraikan pelukannya. "Hanya cium pipi saja? Disini tidak?" Ucap Theo dengan nada manja lalu menunjuk bibirnya.
Eva tersenyum, bagaimana bisa suaminya yang memiliki image galak di sekolah menjadi manja bila didekatnya. Dengan cepat Eva menci*m lalu meellumat bibir milik suaminya itu.
*
Kembali ke saat ini.
Tak lama dosen pun datang lalu menerangkan materi kepada mahasiswa baru yang masih hangat-hangatnya menimpa ilmu, dan belum merasakan bagaimana rasanya tugas numpuk, kerja kelompok, presentasi, praktek dan terbentuknya circle di saat semester bertambah. (Sedikit curhatan othor 😬).
2 jam kemudian dosen pun sudah selesai menjelaskan lalu keluar karena jam mengajar sudah selesai. Eva pun mengemasi buku dan barang-barangnya yang ada diatas meja, memasukkannya ke dalam tas. Setelahnya Eva pun beranjak untuk pulang, karena hanya ada kuliah pagi sementara untuk kuliah siang dilakukan secara online disebabkan karena dosen yang berhalangan hadir.
Eva pun berjalan di halaman di universitas nya itu, namun tidak diduga seorang seniornya menghadang dirinya bersama dua orang temannya. "Stop kau anak baru!" Ucap senior tersebut.
Eva memutar bola matanya jengah, bagaimana tidak seniornya ini selalu saja mencari masalah dengannya sejak pertama kali dirinya memasuki gerbang universitas. "Kak Dion, sebenarnya ada masalah apa lagi sih sama aku?!" Sahut Eva dengan nada malas.
Dion pun menyeringai tipis. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengetesmu saja!" Ucapnya dengan wajah tanpa dosa.
"Kalau gitu, aku permisi mau pulang." Ucap Eva lalu melangkahkan kakinya. Namun belum juga kakinya melangkah, Dion justru mencekal pergelangan tangan Eva. "Eits, tunggu dulu!" Ucap Dion.
Suasana di halaman yang begitu sepi membuat Eva tidak bisa meminta pertolongan. Walaupun dia meminta pertolongan, sama sekali tidak ada orang yang akan membantunya, karena Dion merupakan anak dari direktur di universitas tersebut.
Eva pun hendak menghempaskan tangannya yang dicekal tersebut namun, kekuatannya jelas jauh berbeda dengan Dion. Disaat Eva meronta, seseorang berteriak dari belakang. "Lepaskan dia!" Ucap seseorang.
Eva, Dion dan kedua temannya serentak berbalik melihat ke arah asal suara. "Mitha?" Gumam Eva.
Ya, yang datang menghentikan perbuatan Dion kepada Eva adalah Mitha. "Kakak itu gak gentle banget tau ga? Beraninya sama cewek! Cih! Kalau sok-sokan memperlihatkan kekuatan lebih baik adu sama cowok deh!" Ucap Mitha lalu menarik Eva ke belakangnya.
"Cih, berani sekali kau anak baru! Kau belum tau saja siapa aku!" Ucap Dion dengan angkuhnya.
"Lalu apa peduliku? Mau kau anak pengusaha, politisi atau anak presiden aku sama sekali tidak takut! Ingat disekitar sini ada cctv dan lagi aku merekam apa yang kau perbuat, bisa saja aku melaporkan kakak atas tindakan kekerasan!" Ucap Mitha dengan nada dan tatapan yang mengintimidasi.
"Bos, lebih baik sudahi saja, dia adalah anak seorang pengacara terkenal." Ujar salah satu temannya.
"Lalu apa peduliku?" Dion mengesampingkan ucapan temannya. Lalu dengan cepat mendorong Mitha. Namun, dengan sigap seseorang menahannya sehingga Mitha tidak jadi jatuh.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Yoga yang menahan Mitha yang hampir terjatuh. Dengan cepat Mitha membenarkan posisinya.
Yoga menatap tak suka ketiga senior yang berada di depannya. "Kakak senior sekalian, tolong jangan ganggu mereka, jika tidak maka senior akan menanggung akibatnya." Gertak Yoga.
Bersambung……