
Masih flashback.
Di ruangan kelas setelah melakukan interaksi dengan siswanya, Theo pun berniat mengabsen para siswanya agar dirinya tahu nama dan semakin mengenal mereka.
"Karena tidak ada pertanyaan lagi, saya akan mengabsen kalian satu persatu. Angkat nama kalian bila disebut!" Ujarnya lalu mengambil buku absen.
Theo pun mengabsen siswanya satu persatu namun, dikala dirinya sedang mengabsen ada satu nama yang menurutnya sangat indah.
"Evangeline Dorius!" Ucapnya.
Hening. Tidak ada sahutan dari sang pemilik nama.
"Sekali lagi, Evangeline Dorius, jika tidak ada akan saya berikan alpha!" Ucap Theo penuh penekanan.
Seorang gadis mengangkat tangannya ragu-ragu, hanya sebatas kepalanya saja. "Sa-saya pak!" Ucapnya dengan buku yang masih menutupi wajahnya.
"Perlihatkan wajahmu! Bagaimana saya tahu kamu nanti." Theo udah kepalang jengkel dengan murid satu ini.
Perlahan gadis itu menurunkan bukunya, lalu mengangkat sedikit kepalanya. Tak lama kemudian pandangan mata mereka saling terkunci. "Di-dia? Ternyata namamu secantik orangnya. Kemarin aku melihat dia untuk pertama kalinya, dan jatuh cinta saat itu juga walau hanya dengan mendengar suaranya.
Dan setelah beberapa kali pertemuan aku menjadi yakin bahwa saat ini aku jatuh cinta padanya. Wajah cantiknya, perbuatannya dan ekspresinya saat marah. Aku seperti melihat seorang bidadari yang turun dari kayangan. Perasaan yang aneh dan bahagia aku rasakan saat ini." Batinnya.
Ya, gadis itu adalah Eva. Dengan cepat Eva mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sementara di depan Theo tersenyum sangat tipis, tipis sekali sampai orang yang ada di kelas tidak ada yang menyadarinya.
Theo mulai menjelaskan materi yang akan dibawakannya. "Oh, rasanya aku ingin mendengar suaranya lagi." Batinnya. Lalu menunjuk Eva untuk melanjutkan ucapan temannya yang terpotong.
Selama dikelas Theo seakan menyulitkan Eva, namun disisi lain dia sangat senang melihat berbagai ekspresi yang dikeluarkan Eva. Entahlah mungkin didalam hati, gadis itu sedang mengumpatnya.
Selama mengajar Theo selalu saja memberikan Eva sedikit pelajaran dan tugas tambahan. Dan alasan dari tindakannya tadi adalah dia ingin dekat dengan siswi cantiknya, Eva.
*
*
Bahkan disaat Eva menjadi korban bullying dari teman-temannya, Theo selalu datang membantu. Mungkin Eva tau kalau Theo membantunya terang-terangan. Tapi apakah Eva tau Theo membantunya di belakang? Jawabannya tidak.
Setelah mendengar keluh kesah Eva yang selalu dibully tentu saja Theo tidak tinggal diam. Dia mendatangi kepala sekolah.
Pak kepala sekolah yang sedang duduk membaca sentak berdiri. Bagaimana bisa cucu pemilik yayasan ini menemuinya secara pribadi, jika mau dia bisa memanggilnya ke ruangannya. "Silahkan pak, kenapa bapak tidak memanggil saya saja?" Tanya pak kepala sekolah.
"Ah, saya tidak ingin merepotkan anda. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan. Apakah bapak tidak tahu di sekolah ini terjadi kasus bullying?" Tanya Theo.
Kepada sekolah seketika berkeringat, dirinya memang tidak tahu bahwa ada yang mengalami kekerasan di sekolah. Karena guru BK sama sekali tidak ada yang melapor kepadanya.
"Saya tidak tahu, karena tidak ada laporan yang masuk." Jawab kepala sekolah dengan gugup.
Theo menganggukkan kepalanya. "Baiklah, saya mengerti. Berarti semua pengaduan berakhir di BK dan tidak ditindak. Lalu apakah bapak tahu orang yang melakukan tindak bullying ini adalah putri donatur terbesar disini yakni keluarga Olsen?" Tanyanya lagi. Sementara kepala sekolah menggeleng sebagai jawaban.
"Saya ingin Indah Olsen mendapatkan hukuman skorsing dan guru BK yang bermasalah segera diusut. Selain itu, saya ingin menjadi donatur terbesar di yayasan ini." Ujarnya.
"Bukankah yayasan ini milik keluarga anda? Kenapa anda harus menjadi donatur?" Pak kepala sekolah terlihat bingung.
"Yayasan ini memang milik keluarga saya, tapi belum menjadi milik saya bukan?" Jawabnya.
Setelahnya Theo pergi dari ruang kepala sekolah lalu pulang ke rumahnya.
Itu baru sedikit hal yang dilakukan Theo dibelakang Eva. Dan ada beberapa hal yang dilakukan olehnya, seperti menyuruh seorang bodyguard untuk melindungi Eva dari jauh karena dirinya pasti tidak akan bisa setiap saat melindunginya. Theo juga yang membayar biaya operasi mama Eva, supaya Eva tidak kepikiran.
Momen yang paling berkesan di ingatan Theo adalah ketika dia dan Eva satu tempat duduk disaat akan pergi ke kota B. Diperjalanan tidak ada satu menit pun dia tidak memikirkan Eva, walaupun dirinya duduk bersebelahan. Untung saja waktu itu dirinya bisa memendam hasrat cintanya.
Namun, hatinya kembali sakit ketika melihat Eva yang menangis karena cintanya tidak terbalaskan dan dia tahu pelaku yang membuat siswi kesayangannya itu menangis.
"Kau, bocah tengik! Tidak akan kuampuni dia jika kembali membuat Eva menangis. Berani sekali dia membuat kesayanganku meneteskan air matanya." Batinnya tak terima ketika melihat butiran bening keluar dari manik indah milik Eva bahkan tidur pun Eva selalu mengerutkan keningnya.
Bersambung……..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hey, masih ada yang stay kan nih? maaf ye gak bisa up beberapa hari ini dan sekarang aku nyempetin up walaupun masih ada pretest 🗿.
Dan kemungkinan besok gak up cuma di hari Sabtu aku bakalan crazy up kok ☺️ stay ye 🤭