
Beberapa bulan pun berlalu.
Saat ini semua siswa dan siswi pun sedang giat-giatnya belajar karena sebentar lagi akan diadakan ulangan kenaikan kelas.
Sama halnya yang terjadi di kelas XI MIPA 1 dimana Eva, Mita, Grace beserta seluruh teman-teman sekelasnya belajar.
Seluruh siswa yang ada di kelas tampak diam memperhatikan seorang guru killer yang sedang mengajar di depan kelas. Ya, siapa lagi selain pak Theo.
"Baiklah, yang saya ajarkan tadi adalah materi terakhir. Persiapan diri kalian untuk mengikuti ulangan kenaikan kelas Minggu depan. Belajar yang rajin, jangan pacaran mulu!." Ucap pak Theo yang diakhiri dengan menyindir siswanya.
"Baik pak!" Serempak seluruh siswa menjawab.
"Sekarang saya akan bacakan nama siswa yang memiliki nilai rendah dalam pretest dan post test maupun ulangan di pelajaran kimia." Ujar pak Theo.
"Kiki, Hana, Denny, Grace, Simon, Sisy, Gerald, dan Eva. Setelah jam pulang nanti datang ke ruangan saya!" Ucap pak Theo. Lalu meninggalkan kelas setelah merapikan buku-bukunya.
"Haishhh! Dipanggil ngapain nih?" Tanya Grace dengan perasaan lelahnya.
"Mungkin dikasih bimbingan kali." Sahut Mitha.
"Tapi, menurutku sekelas pak Theo gak mungkin hanya memberikan bimbingan deh, pasti ada sesuatu yang lebih berat." Ujar Eva yang feeling nya tidak enak.
Grace pun bergidik ngeri. "Jangan nakutin Napa! Nanti awas loh disuruh macem-macem sama pak Theo."
"Apapun itu, kalian berdua terima saja. Berpasrah lah kalian wahai anak muda." Ledek Mitha.
Eva dan Grace pun mencebik kesal. "Nyenyenye, iya deh si paling pintar kimia." Ujar keduanya.
*
*
Saat ini pun jam pulang sekolah, para siswa dan siswi pun bergegas keluar gerbang sekolah. Ada yang dijemput dan ada juga yang pulang dengan kendaraan pribadi.
Disaat semua siswa dengan senangnya pulang setelah sekolah, namun semua itu tidaklah berlaku untuk Eva, Grace dan teman yang lainnya.
Disinilah mereka semua saat ini, diam menatap pintu berwarna coklat tersebut. Mereka semua saling senggol lengan karena tidak ada yang mau membuka pintu.
Beberapa menit berlalu namun mereka masih saja dalam drama senggol dan main matanya. Sampai akhirnya pintu terbuka, memperlihatkan pria dewasa dengan kemeja warna birunya.
"Kenapa, kalian semua masih belum masuk?" Tanya pak Theo yang jengkel karena sedari tadi dia mendengar keributan di depan pintu ruangannya.
"Maaf pak." Ucap serempak, ada yang menunduk dan ada yang cengar-cengir tak jelas.
Pak Theo pun menyerahkan beberapa kertas yang di dalamnya terdapat rangkuman materi dan kumpulan soal-soal yang mungkin akan membantu para muridnya menghadapi ulangan.
"Kerjaan soal-soal ini, saya tidak mau tahu pokoknya sehari sebelum ulangan kimia tugas ini sudah ada di atas meja saya!" Ujar pak Theo.
"Ba-baik pak." Sahut semua orang, tak bisa membantah perkataan pak Theo. Membantah? Tentu saja, bayangkan soal yang tertera di kertas yang diberikan pak Theo ada sekitar 100 soal. (Puyeng gak tuh, soal kimia 100 soal).
*
Eva dan Grace pun sudah ada di tempat parkir saat ini, setelah dari ruangan pak Theo.
Grace dan Eva menghela nafasnya. "Beuhhh mengerikan. Pak Theo ngasih tugas gak ngotak, parah!" Grace menggelengkan kepalanya.
"Ya, udah ayok aku bantuin bikinnya." Ujar Mitha.
Eva dan Grace pun bersemangat. "Benarkah?! Tapi dimana kita bikinnya?" Tanya Eva.
"Tenang, ayok ke rumah aku aja. Lagipula dirumah aku sendirian, biar rame dan ada temen juga." Ujar Grace.
"Oke let's go!" Seru ketiganya lalu naik mobil Grace menuju kediamannya.
*
*
*
Saat ini para gadis tersebut sudah berada di kediaman Grace dan berada di kamarnya yang sangat luas, mereka pun sudah mengerjakan seperempat dari soal yang diberikan.
"Va, aku mau nanya nih, kok akhir-akhir ini aku liat kamu kayak jaga jarak gitu sama Yoga? Bukannya kalian teman sejak kecil?" Tanya Grace yang penasaran.
"Iya tuh, Yoga sering nyariin kamu tapi cuma sampai depan kelas." Sahut Mitha yang juga penasaran.
Eva menghembuskan nafasnya. "Sebenarnya ada satu kejadian ketika olimpiade." Ucap Eva lalu menceritakan hal yang dia alami saat olimpiade.
"Karena itu, aku memilih jaga jarak, hatiku masih sakit Grace, Mitha." Ucap Eva sendu. Kedua sahabatnya memang mengetahui bahwa Eva menyukai Yoga namun, tidak pernah diungkapkan.
"Bener-bener tuh si Yoga, berani bikin sahabat aku nangis." Geram Grace.
"Sekalinya Playboy ya gitu, awas aja tuh anak kalo ketemu sama Gue. Aku kasihan sama kamu tahu, jatuh cinta pada orang yang salah." Ujar Mitha.
Eva tersenyum, bersyukur karena diberikan sahabat yang baik dan pengertian padanya. "Terimakasih ya, kalian adalah kekuatan aku." Ucap Eva.
"Kita akan menjadi kekuatan satu sama lain." Ucap Mitha dan Grace.
Bersambung……
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haloha, inget ya jangan lupa
Like 👍
Komen💬
Vote
Kembang kopinya
minta bintangnya juga ya ⭐