Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 39 - Peraportan



...Mau up 2 bab tapi liat like dulu lah 😬...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari peraportan pun telah tiba, banyak wali murid datang silih berganti untuk mengambil raport yang berisi nilai dari kemampuan belajar anaknya.


Bagi siswa, suasana saat ini bisa dibilang sangatlah horor. Bagaimana tidak, jika orang tua mereka melihat raportnya dan tidak sesuai ekspektasi maka habislah sudah.


Seperti diketahui di Indonesia standar kepintaran seorang anak pasti diukur melalui nilai matematikanya. Beberapa orang tua beranggapan jika anaknya mendapatkan nilai bagus dalam matematika maka sang anak akan mudah mendapatkan pekerjaan.


Padahal, pada kenyataannya anggapan seperti itu jelaslah salah besar. Seorang anak yang nilainya kecil di matematika bukan berarti bodoh, mungkin saja mata pelajaran lain nilainya tinggi. Seorang anak pasti memiliki minat dan bakatnya tersendiri. Dan sebaiknya sebagai orang tua mendukung dan memotivasi apa yang menjadi pilihan anaknya. 


Sementara Eva sedari tadi duduk sendirian di pojokan. Sang mama tidak bisa datang karena kemarin malam tiba-tiba saja kondisinya lemah dan harus dilarikan ke rumah sakit.


Eva pun menunggu namanya dipanggil oleh wali kelasnya, sesekali Eva menatap ke luar jendela melihat indahnya hari dengan langit biru, burung-burung yang terbang bebas dan angin yang menyapu dedaunan kering yang berjatuhan.


Namun, tatapannya kembali sendu ketika melihat seorang siswa yang bergandengan dengan orang tuanya. 


"Evangeline Dorius!" Panggil Ibu wali kelas.


Eva pun beranjak dari duduknya menuju depan kelas.


Bu wali kelas pun menyerahkan buku raport kepada Eva. "Perhatikan semuanya, berikan tepuk tangannya kepada teman kalian Evangeline karena mendapatkan rangking pertama di kelas dan rangking kedua seangkatan." Ujar Bu wali kelas di hadapan siswa beserta orang tua walinya.


Prok! Prok! Prok!


Tepuk tangan meriah pun terdengar menggema di seluruh penjuru kelas yang luas itu.


Semenjak Eva hanya tersenyum simpul, tak tahu harus berkata apa.


"Selamat ya nak, pertahankan prestasimu ya." Ujar Bu wali kelas.


"Terimakasih Bu." Sahutnya singkat. Lalu kembali ke tempat duduknya, ucapan selamat Eva dapatkan disaat dia akan kembali ke tempat duduknya.


*


*


Setelah selesai acara peraportan, siswa pun saat ini bebas melakukan acara apapun. Ada siswa yang sudah pulang, dan ada juga siswa yang masih tinggal entah mereka mendiskusikan apa.


Saat ini Eva, Mitha dan Grace pun sedang duduk di taman yang ada di lingkungan sekolah setelah dari kantin membeli Snack. 


"Liburan mau kemana guys?" Tanya Grace.


"Yang deket-deket aja lah, gak punya duit gue." Ujar Mitha.


Grace memutar bola matanya. "Anak pengacara masak gak punya duit sih?" Cibirnya.


Sementara sedari tadi Eva diam lalu menatap kedua sahabatnya. "Sepertinya aku gak bisa ikut liburan bareng kalian deh, mama lagi sakit." Ujar Eva.


Mitha dan Grace pun mengerti. "Kita ngerti kok, semoga Tante Jesy bisa pulih dan sehat lagi ya." Ujar Mitha.


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka. "Hai semuanya." Ujar Yoga yang datang.


Eva, Grace dan Mitha pun menoleh ke asal suara. 


"Ada apa?" Tanya Grace ketus.


Yoga mengabaikan Grace lalu mendekati Eva. "Eva enam hari lagi kamu ada waktu kan? Seluruh angkatan akan liburan ke taman di kaki bukit kota C kamu mau ikut kan?" Tanya Yoga.


Eva hanya diam. Melihat Eva yang diam Mitha memilih untuk berbicara mewakilinya. "Hei, teman macam apa kau ini! Kau mengajak Eva liburan disaat ibunya berjuang di rumah sakit?!" Geramnya.


Yoga tercekat karena tidak tahu. "A-aku tidak tahu, maafkan aku. Di rumah sakit mana Tante dirawat, aku nanti akan mengunjunginya." Tanya Yoga.


Yoga sedikit kesal karena pertanyaannya dijawab oleh Mitha. "Kau bisa diam?! Aku sedang berbicara dengan Eva." Sentaknya.


"Eva kenapa akhir-akhir ini, ah tidak beberapa bulan ini kamu seperti menghindari ku? Ada apa? Apa aku ada salah?" Tanya Yoga.


Eva menggeleng pelan sebagai jawaban. "Kamu tidak ada salah. Kalau tidak ada urusan lagi aku pulang dulu." Ujar Eva lalu berlalu pergi meninggalkan Yoga yang terdiam.


*


*


Di Halte bus.



Eva menunggu bus yang akan ditumpanginya, namun sayangnya sedari tadi sama sekali tidak ada bus yang lewat. 


Tiba-tiba mobil Avanza hitam berhenti di hadapannya, sang pengemudi pun menurunkan kaca mobilnya.


"Kenapa kamu masih diam disana?" Teriak sang pengemudi yang tak lain dan tak bukan adalah pak Theo.


Eva pun mendekat. "Lagi nunggu bus pak." Sahutnya.


"Hari ini tidak akan ada bus lewat, sopirnya sedang demo." Pak Theo memberitahu.


Eva terkejut, karena tidak tahu. "Kalau begitu saya jalan kaki saja. Mari pak." Ujarnya.


"Tunggu! Naik mobil saya, akan saya antar kamu pulang." 


"Ta-tapi pak…." Ucapan Eva terpotong ketika melihat tatapan tajam pak Theo.


Eva mendengus pelan, pada akhirnya dia pun naik ke mobil pak Theo.


Setelah Eva naik dan memastikan sudah memakai sabuk pengaman, pak Theo melakukan mobilnya. "Dimana alamat rumah kamu?" Tanya pak Theo.


"Antar saya ke rumah sakit xxx pak." Ujarnya.


"Apa, mama kamu masuk rumah sakit?" Tanya Pak Theo dan hanya dijawab dengan anggukan.


Beberapa menit perjalanan yang dalam keheningan, akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit xxx.


"Terimakasih sudah mengantar saya pak." Ujarnya lalu meraih tangan pak Theo untuk salim. Setelahnya Eva pun keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah sakit.


Sementara pak Theo masih berada di dalam mobilnya, lalu meraih handphonenya yang berada di sampingnya. "Halo, lihat pesan yang sudah saya kirim! Lakukan sesuai perintah saya!" Ujarnya lalu mematikan sambungan teleponnya.


Bersambung……..



......................


Jangan lupa


Like 👍


Komen 💬


Vote


Kembang, kopinya ye, kalau bisa ya hati atau silet 🤭🤭


Udah ah😗😗