
2 bulan kemudian.
Eva sudah melangsungkan wisudanya. Dan sekarang ini dirinya berada di sebuah gedung yang memiliki desain yang indah dan dekorasi yang elegan. Yup, saat ini Eva sedang memandang butiknya yang merupakan hadiah dari suaminya dan juga ayahnya.
Peresmiannya sudah dilakukan beberapa jam yang lalu, tampak saat ini para pengunjung berdatangan melihat baju-baju yang berjejeran di dalam butik miliknya. Butik Eva sendiri diberi nama JE Style, mengambil nama depan sang Mama dan dirinya.
Disaat Eva sedang memandang para pengunjung dan pegawainya yang bercengkrama menjelaskan produk pakaiannya, tangan kekar melingkari pinggangnya dari belakang. Dan kepalanya berada tepat di bahu kirinya lalu sesekali mencium pipi kirinya dengan mesra tanpa mempedulikan para pengunjung yang sedang ramai-ramainya.
Yah, kalian bisa menebaknya, dia adalah Theo Davidson. "Hubby, jangan peluk-peluk ih! Malu tau!" Ucap Eva memegang tangan suaminya yang bertengger di perutnya.
"Kenapa harus malu? Biarin aja! Lagipula aku hanya ingin terus bersama istriku dan my little peanut." Sahut Theo sambil mengelus lembut perut datar Eva. Dan sebuah kabar bahagia datang dari pasangan suami istri ini, karena saat ini Eva sedang mengandung buah cintanya bersama Theo. Dan sekarang usia kandungannya sudah memasuki Minggu ke tujuh.
Theo sudah merasakan bagaimana susahnya memenuhi ngidam istrinya yang baru hamil trimester pertama. Berbagai permintaan aneh Eva sudah Theo penuhi. Bahkan bukan hanya Theo, seluruh keluarganya juga terkena imbas efek kehamilan Eva.
"Setelah ini, kamu ada acara apalagi?" Tanya Theo.
"Emm, ah iya, jam 1 siang nanti aku akan ke bandara menjemput Grace yang sudah pulang dari Luar Negeri." Sahut Eva.
"Benarkah? Aku juga akan menjemput sahabatku ke bandara. Sekalian kita pergi bersama saja." Ujar Theo dan diangguki oleh Eva.
*
Pukul 2 siang, bandara.
Theo dan Eva menunggu sahabatnya tepat di depan pintu kedatangan internasional. Tak lama Mitha dan Yoga datang menghampiri mereka.
"Eoh! Mitha akhirnya kamu datang juga." Ucap Eva kepada Mitha.
"Hem, maaf ya agak terlambat soalnya aku sama ni human gak jelas." Ujar Mita melirik Yoga disampingnya.
"Heh, gak boleh gitu loh baby!" Yoga mencubit pelan hidung Mitha. Semua orang disana memutar bola matanya malas melihat keuwuannya.
Tak lama, orang-orang mulai bermunculan di pintu kedatangan internasional. Dan salah satunya Grace dan seseorang yang berada disampingnya sambil menggenggam tangannya erat. Keempat orang yang menunggu mereka, terheran-heran melihatnya.
"Grace!" Pekik Eva dan Mitha sambil tangannya melambai.
"Brian!" Seru Theo.
Grace tersenyum bersama dengan orang disampingnya. Ya, Grace pulang bersama seorang laki-laki dan orang itu adalah sahabat dari Theo. Brian Fernandez.
(Masih ingatkan, Brian adalah sahabat Theo yang ingin ditemuinya ketika dia baru sampai dari luar negeri).
"Yo! Theo!" Sahut Brian tersebut kearah Theo.
Eva menoleh menatap Theo. "Hubby kenal dengan laki-laki itu?" Tanya Eva.
"Ya, dia sahabatku waktu SMA." Jawabnya.
Theo dan Brian saling berpelukan sesama pria. Sementara Grace sudah dipeluk oleh kedua sahabatnya. "Grace!!! Akhirnya kamu pulang!" Pekik Eva.
Grace pun menepuk pelan bahu Eva dan Mitha. "Hey, bisa lepasin gak. Kecekek nih." Ucap Grace.
Grace menatap Yoga yang tak jauh dari ketiganya. "Ekhem! Yang udah jadian sama si Ketos." Sindir Grace dengan tatapan penuh gosip.
"Heh, aku emang udah pacaran ya. Terus kamu ngapain gandengan tangan?" Balas Mitha dengan tatapan memicing.
Grace tampak diam membisu. "Ah, i-itu perkenalkan dia-"
"Perkenalkan, nama saya Brian Fernandez, saya adalah suaminya Grace. Kalian sahabatnya Grace kan? Kalian tahu, Grace selalu membicarakan kalian." Ujar Brian memotong ucapan Grace.
"Apa!!!" Semuanya seolah tak percaya bahwa Grace dan Brian sudah menikah.
"Brian, kau menikah tapi tidak mengundangku?! Apa kau sih menganggap ku sahabatmu?" Ujar Theo, mencengkram bahu Brian.
Brian memegang tangan Theo yang mencengkram bahunya. "Tenanglah Brother, aku akan menceritakan pelan-pelan tapi tidak disini." Sahut Brian.
Pada akhirnya mereka pun berpindah tempat ke kafe yang dekat dengan bandara untuk mengobrol. Dan disinilah mereka semua, duduk di sebuah meja.
"Grace, jelaskan sebenarnya apa yang kami tidak ketahui." Tanya Eva.
Grace mengambil nafasnya dalam-dalam lalu bercerita.
*
Grace menikmati hari-harinya menjadi seorang mahasiswa di jurusan bisnis. Dia tampak serius kuliah karena ingin cepat lulus karena ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa dirinya mampu.
Suatu hari, teman sekelasnya mengadakan pesta ulang tahun dan itu diadakan di sebuah bar yang cukup mewah. Grace datang dan bergabung bersama temannya yang lain.
"Grace, ayo minum bersama kami." Ucap salah satu temannya menawarinya minuman alkohol.
"Tidak, aku tidak minum." Grace menolak halus. Sebenarnya dirinya bisa meminum minuman alkohol namun, untuk berjaga-jaga dirinya menghindari minum di bar.
"Ayolah Grace hanya satu gelas saja." Desak temannya yang kekeh ingin Grace minum.
Dengan berat hati Grace minum. "Sudah!" Grace meletakkan gelas itu dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring.
"Hanya satu saja? Kau lemah sekali Grace." Temannya yang lain mengompori.
Selanjutnya Grace meneguk minuman tersebut sebanyak 3 kali dan bila ditotal sudah 4 gelas yang diminum olehnya. "Guys, aku ingin pergi ke toilet." Ucap Grace lalu bangkit menuju ke toilet dengan berjalan sempoyongan.
Setelah selesai dengan urusannya di toilet, dirinya pun keluar. Namun, naas dirinya malah menabrak seseorang.
Bruk!
"Auch!" Grace memegang keningnya yang terbentur dada seseorang.
"Nona, jika kau berjalan seharusnya hati-hati!" Suara dingin nan berat khas laki-laki itu berhasil membuat Grace sedikit takut lalu mendongakkan kepalanya.
Kedua netranya bertemu dengan netra laki-laki yang ditabraknya. Karena masih dalam pengaruh alkohol Grace pun meracau tidak jelas. "Ah, sugar Daddy ku, kau kah itu. Ah, kau begitu tampan, apakah kau juga kaya?"
"Nona, kau sudah mabuk. Sebaiknya anda pulang." Ujar orang tersebut.
"Aku tidak mabuk! Dan aku tidak mau pulang! Tapi jika aku pulang bersamamu maka aku tidak masalah." Ujar Grace menempelkan tubuhnya. Membuat dia gundukan miliknya menempel sempurna di dada bidang laki-laki itu.
"Ah, ****!" Des**h pria itu. Bagaimanapun dia adalah pria normal. Bagaikan kucing yang bila disodorkan ikan maka tanpa pikir panjang dia akan melahapnya.
Dengan satu kali gerakan, laki-laki itu menggendong Grace bagai karung beras. Namun, Grace tidak bereaksi apapun dan hanya meracau di sepanjang jalan.
Di parkiran, sudah ada seseorang yang menunggu laki-laki itu. "Tuan, anda bersama siapa?" Tanyanya.
"Bukan urusanmu, sekarang pergi ke apartemen!" Titahnya.
Beberapa puluh menit kemudian, laki-laki itu sampai di unit apartemennya dengan Grace yang senantiasa di dalam gendongannya.
Brugh! Laki-laki itu menjatuhkan Grace di atas ranjang empuk miliknya, menatap setiap inci wajah milik Grace. "Kau sangat nakal sayang." Ucapnya sembari mengelus pelan pipi Grace.
"Ugh!" Grace yang terganggu tidurnya pun membuka matanya walaupun efek alkohol masih mempengaruhinya. "Daddyhh, dimana ini?" Tanyanya.
"Di kamarku. Bolehkah aku menyentuhmu?" Tanyanya sambil mengusap sensual bibir bervolume milik Grace.
Grace mengangguk tanpa tahu apa akibat yang akan diterimanya. Laki-laki itu dengan cepat menciium dan sesekali meellumat bibir milik Grace. Tangannya tak tinggal diam mengelus sensual leher Grace yang menjadi titik lemahnya.
"Mph!" Leguh Grace.
"Panggil aku Brian, baby." Ucap laki-laki itu.
"Ahhhh! Brian!"
Terbakar gaiirah, tentu saja! Ciumman Brian semakin turun di gundukan besar milik Grace. Brian melepaskan satu persatu kain yang menempel pada tubuh Grace bahkan sampai penutup gundukan tersebut.
Hap! Brian memasukkan salah satu gundukan itu ke dalam mulutnya dan satunya diremasss. Suara Grace dan laki-laki itu memenuhi ruangan tersebut. Dan begitulah malam itu, bukannya menikmati pesta ulang tahun temannya, Grace justru berakhir dengan menghabiskan malam bersama seorang laki-laki yang tidak dikenalnya.
Bersambung……
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Like woi like ...
...Komen🔪🔪🔪🔪🔪🔪...