
Eva dan Theo sampai di mansionnya tepat pukul 9 malam setelah makan besar di sebuah restoran bersama dua keluarga nya.
Baru saja membuka pintu, Eva dengan agresifnya mendorong Theo ke dinding lalu menciiumnya dengan rakus. Untung saja di mansion mewah tersebut sedang sepi karena semua pelayan sudah pergi ke rumah belakang dimana dikhususkan untuk para pelayan.
"Mph!!"
"Apa yang kamu lakukan." Tanya Theo disaat ciiuman mereka terlepas.
Eva menatap netra Theo yang sudah berselimut gaiirah namun, masih bisa ditahan. "Aku hanya ingin memberikan suamiku hadiah." Eva berucap sembari tangannya membentuk pola abstrak di dada bidang Theo.
"Hadiah? Untuk apa?" Tanya Theo.
Eva sedikit berjinjit lalu berbicara tepat ditelinga Theo. "Aku dengar ada seseorang yang sudah ingin memiliki seorang anak. Jadi karena itu aku ingin memberikannya." Bisiknya
Theo tampak terkejut, bagaimana istrinya bisa mengetahui keinginannya itu, karena Theo hanya memberitahukannya kepada sang Mommy.
"Kamu pasti berfikir bagaimana aku bisa mengetahuinya? Itu karena aku tak sengaja mendengar perbincangan mu dengan Mommy. Selain itu, sudah saatnya kita untuk memiliki anak bukan? Lagipula saat ini aku sudah lulus kuliah dan sudah siap untuk berkomitmen dan memiliki anak." Ujar Eva seolah tau isi pikiran suaminya.
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan karirmu?" Tanya Theo lagi.
Eva tersenyum. "Karir bisa aku lakukan disaat aku mengandung atau setelah melahirkan bukan? Aku hanya takut jika suamiku memiliki anak ketika dia sudah keriputan. Bayangkan saja jika orang-orang melihatmu jalan-jalan dengan cucumu padahal kamu sedang bersama anakmu." Kekeh Eva.
"Kamu ini!" Theo menggelitiki Eva sampai Eva lelah tertawa. "Walaupun umurku bertambah bukankah aku masih terlihat begitu muda? Bahkan kamu saja tergila-gila padaku." Theo berucap.
"Ish! Mana ada!" Cebik Eva.
"Ya sudah, jangan marah ya. Mari kita lanjutkan yang tadi." Theo menyunggingkan senyum yang tidak dapat diartikan.
Dengan cepat Theo meellumat bibir ranum Eva lalu perlahan-lahan menaiki anak tangga menuju kamar mereka. (Padahal punya lift loh🤭).
Dan yah, malam itu menjadi malam yang penuh semangat membara dan gairah yang tinggi bagi keduanya. Suara-suara bak lantunan lagu surgawi bagi mereka terdengar memenuhi seluruh ruangan itu, dimana kedua pasutri yang sudah menikah hampir 5 tahun itu menuntaskan hasratnya.
(Adegan selanjutnya pikirin sendiri, males bikin adegan ekhem-ekhem😪)
*
*
Keesokan harinya, tepat pukul 10 pagi menjelang siang Eva mengerjapkan matanya menyesuaikan sinar matahari yang masuk ke matanya. Diliriknya ranjang sampingnya yang sudah kosong, entah kemana suaminya setelah bangun tidur pikirnya.
Tak ambil pusing, Eva menuju kamar mandi membersihkan dirinya dengan berjalan sedikit tertatih-tatih karena hasil kegiatan yang dilakukannya semalam yang baru selesai dini hari, entahlah pukul berapa tepatnya.
Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, Eva turun ke lantai bawah menuju arah dapur. Pemandangan indah didapatkannya disaat melihat Theo dengan lincahnya menggoreng daging ayam dan membuat sup sayur bening.
"Good morning my husband." Ujar Eva memeluk Theo dari belakang.
Theo tersentak karena mendapatkan pelukan mendadak dari Eva. "Hei, aku sedang menggoreng daging. Awas kena minyak panas!" Pekik khawatir Theo.
Tak menghiraukan, Eva malah semakin menduselkan wajahnya di punggung suaminya itu. Sementara Theo hanya pasrah dan tersenyum simpul, dirinya harus berhati-hati agar Eva tidak kecipratan minyak.
Beberapa menit kemudian makanan sudah terpampang rapi di atas meja makan. Dan tanpa menunggu banyak hal Eva dan Theo pun makan dengan lahapnya.
"Apakah kamu ada kegiatan hari ini?" Theo membuka obrolan.
"Aku akan menemanimu." Theo tersenyum sembari mengambilkan Eva paha ayam goreng.
Eva mengernyit bingung. "Kamu engga kerja?" Tanyanya.
"Tidak, aku mengambil cuti." Sahutnya singkat. Eva mengangguk tanda mengerti.
*
Saat ini Eva dan juga Theo sedang bersantai menikmati tontonan di televisi yang mungkin tontonannya saat ini sangatlah tidak mendidik. Tapi tenang saja mereka nonton netplik sama diney plus kok.
Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi, Theo bangkit membuka pintu karena istrinya terlihat serius menonton sambil memakan Chiki.
Ceklek!
Pintu rumah pun dibuka memperlihatkan tiga orang datang bertamu, siapa lagi tetangganya sekaligus keluarga istrinya. "Selamat siang, apakah kedatangan kami mengganggu kalian?" Tanya Nyonya Hanna menyapa Theo yang membukakan pintu.
"Tante Hanna? Ayah mertua? Kakek?" Tanya Theo. Yup, Theo sudah semakin mengakrabkan dirinya di keluarga Helios.
"Ayo masuk, kebetulan Eva ada di dalam." Ujar Theo.
Ketiganya pun masuk ke dalam. "Ayah, bunda, kakek." Ucap Eva ketika melihat ketiganya. Tuan Davies dan nyonya Hanna duduk di sofa panjang bersama Eva. Sementara Tuan besar Helios dan Theo duduk di sebuah sofa tunggal.
Eva menyuruh pelayan membawakan minuman dan cemilan untuk ketiganya. "Ayah, bunda, sama kakek ada urusan apa kesini?" Tanya Eva kepada Tuan Davies.
"Begini, kami datang kemari ingin memberitahukan sesuatu. Kakek ingin memberikan 70% saham yang kakek miliki di HL Corp untukmu." Ujar Kakek Helios kepada Eva. Lalu menyerahkan map berwarna biru kehadapan Eva.
Eva tampak terkejut. "Apa??! Kakek serius?! Kenapa memberikannya padaku?"
"Kakek memberikannya karena perasaan bersalah terhadap masa lalu. Selain itu, kamu adalah satu-satunya cucu yang kakek punya, walaupun kamu bukan cucu kandungku tapi kakek sangat menyayangimu dengan tulus." Ujar Kakek Helios dengan suara beratnya.
Eva tampak ragu menerimanya, karena bagaimanapun dirinya bukanlah keturunan dari keluarga Helios.
Tuan Davies mengerti apa yang dipikirkan oleh putrinya. "Nak, terimalah. Tidak baik jika menolak hadiah pemberian dari seseorang. Apalagi itu adalah hadiah yang diberikan seorang kakek kepada cucunya." Ujarnya.
Eva menoleh ke arah Davies lalu kembali menatap map biru di depannya. Tangannya dengan ragu-ragu terulur mengambil map tersebut. Lalu dibacanya dokumen tersebut. Setelah selesai membacanya Eva tampak menatap Theo, Theo yang ditatap mengangguk mengiyakan agar istrinya membubuhkan tanda tangannya di dokumen tersebut.
Senyum terbit di wajah manis Eva dan tanpa perasaan ragu lagi, dirinya mengambil bolpoin lalu membubuhkan tandatangan diatas kertas yang sudah berisi materai.
Tuan Davies dan Kakek Helios kompak tersenyum ketika Eva selesai menadatangani dokumen pengalihan saham tersebut.
"Nak, bunda ada sedikit permintaan padamu." Ujar Nyonya Hanna.
Eva menoleh kearah Bundanya. "Katakan saja bunda." Sahut Eva.
"Bisakah kelak, salah satu anakmu dijadikan pewaris untuk keluarga Helios? Ah, bunda tidak menuntut itu harus anak laki-laki, anak perempuan pun boleh." Permintaan nyonya Hanna tersenyum membuat semua orang terkejut.
"Hanna!" Pekik Tuan Helios dan Davies bersamaan.
"Ayah, kakek, tenanglah. Aku mengerti permintaan bunda. Aku akan menyerahkan salah satu dari anakku kelak untuk menjadi pewaris keluarga Helios. Namun, aku tidak bisa memaksakannya, apapun yang menjadi pilihan mereka aku hanya akan mendukungnya." Jawab Eva membuat ketiganya tenang. Sementara Theo tersenyum karena sedikitnya istrinya sudah sedikit memiliki pemikiran dewasa.
Bersambung…….