
Malam hari pukul 22.00 waktu setempat.
Saat ini Eva sudah berada di apartemen milik pak Theo. Beberapa saat yang lalu pak Theo menepati ucapannya untuk menikahinya, namun hanya pernikahan yang sah secara agama dan hanya dihadiri oleh Jo dan seorang pemuka agama, sederhana memang. Keesokannya dokumen pernikahan akan diajukan ke kantor catatan sipil.
Eva pun masuk kedalam unit apartemen yang tergolong mewah tersebut. Tempat dimana dirinya akan menghabiskan waktu bersama pak Theo nantinya. Sementara pak Theo datang dari belakang membawa koper yang berisi barang-barang penting milik Eva.
"Sayang, masuklah ke kamar itu, mandi lalu keluar makan malam. Aku tahu kamu sedari tadi belum makan." Ucap pak Theo menunjukkan arah kamar.
Blush
Dipanggil sayang oleh orang yang saat ini berstatus suaminya siapa yang tidak akan terpana bahkan pipi Eva sudah menampilkan semburat merah. Namun, sayang pak Theo mengatakannya di waktu yang tidak tepat, hati Eva sedikit lebih lega sekarang walaupun masih ada sedikit kesedihan.
Eva menuju kamar yang ditunjukkan oleh pak Theo, sungguh diluar saja sudah mewah bahkan di dalam kamarnya saat ini juga tak kalah mewah. Eva lalu membuka kopernya mencari baju untuk dirinya. Jujur saja dirinya saat ini sangatlah lelah, lelah hati dan lelah fisik. Menangis sepanjang hari sudah menguras habis energinya.
Dibukanya kamar mandi lalu menuju kaca di dekat wastafel yang saat ini menampilkan wajah dan matanya yang bengkak, matanya juga merah.
Eva menuju ke arah shower lalu membasahi tubuhnya yang sudah bebas.
Tak lama setelahnya, Eva pun keluar dari kamar mandi menggunakan piyama tidur berwarna biru lalu menuju meja makan. Saat sampai di meja makan dirinya sudah disambut oleh pak Theo yang sedang menyajikan makanan.
"Kamu sudah selesai, ayo kita makan malam sekarang." Ucapnya lalu menarik satu kursi untuk Eva duduki.
Eva hanya mengangguk dan menerima semua perlakuan pak Theo kepadanya bahkan sampai makannya pun diambilkan langsung olehnya.
"Makanlah." Ucap pak Theo.
Eva memakan makanannya sedikit tidak berselera bahkan baru lima suapan saja yang masuk ke mulutnya dan selebihnya dia hanya mengaduk-aduk nasinya tanpa berniat memakannya lagi. Sementara Theo hanya menatapnya saja karena masih memaklumi bahwa Eva masih berduka.
*
*
Saat ini Eva sudah berada di kamar dan duduk di sisi ranjang dengan tatapan yang kosong, bahkan dia tidak menyadari kedatangan pak Theo yang sudah duduk disampingnya. "Hey, kenapa bengong? Hmm?" Tanya pak Theo mengusap pelan pucuk kepalanya
"Tidak ada, saya hanya berpikir jika tidak ada bapak pasti saya akan sendirian di dunia ini. Walaupun begitu bapak pasti kesulitan bersama saya nantinya karena saya masih SMA dan belum memikirkan hal yang sama dengan bapak." Sahutnya.
"Hey, ingat ini semua yang hidup di dunia ini pasti akan mengalami hal yang namanya kematian namun waktu kejadiannya kita tidak tahu. Lalu siapa yang bilang aku akan kesulitan? Justru aku beruntung kamu setidaknya menerimaku. Kita jalani pelan-pelan pernikahan ini, kita baru saja menikah pasti akan ada penyesuaian antara satu sama lain, jadi kita hanya perlu belajar memahami masing-masing." Ujar pak Theo. Sementara Eva menyimaknya dengan serius.
"Sudah ya, sekarang kita tidur." Ucap pak Theo lalu merebahkan dirinya di kasur dengan sprei berwarna abu-abu itu. Eva tampak ragu-ragu untuk tidur disamping pak Theo itu karena dia merasa gugup harus tidur dengan orang yang notabene adalah gurunya sendiri di sekolah.
Eva yang mengerti maksud dari ucapan Theo tersenyum kecil, karena pak Theo masih bisa menunggu dirinya yang belum siap. Eva tertidur dengan nyamannya dengan berbantalkan lengan pak Theo saking nyamannya dirinya sampai memeluk Theo yang dikirimnya bantal guling.
Theo yang belum benar-benar tertidur ikut memeluk pinggang ramping siswi ah tidak istri kecilnya. Lalu memberikan kecupan selamat malam tepat di keningnya.
*
*
Pagi hari tiba, sinar matahari menerobos masuk melalui kaca jendela di ruangan yang dihuni oleh sepasang pasutri. Eva menggeliatkan badannya, namun dia merasakan ada yang mengganjal di perutnya. Dia pun menekan kesadarannya sampai akhirnya kelopak matanya terbuka perlahan. Betapa kagetnya dia ketika dirinya tidur didalam pelukan pak Theo. Untungnya dia masih ingat jika kemarin dia baru saja menikah jika tidak mungkin saja dia sudah berteriak.
Eva memindahkan tangan Theo lalu beranjak bangun menuju kamar mandi karena dirinya takut terlambat pergi ke sekolah.
"Emm, sayang kamu sudah bangun ya? Tidur saja lagi." Ucap pak Theo dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Pak, ini sudah jam 6 nanti terlambat ke sekolah loh." Ucap Eva yang sudah berada di depan kamar mandi.
"Aku sudah mengirimkan kamu surat tidak masuk dua hari. Jadi tenang dan istirahatlah. Nanti kita akan pergi ke makam ibu kamu lalu pergi ke suatu tempat." Ujar pak Theo lalu menarik Eva agar tidur disampingnya lagi.
Menurut, Eva pun kembali tidur di dekapan pak Theo. Namun, pikirannya menerawang kemana dirinya akan dibawa setelah dari makam sang mama?
Bersambung……
...----------------...
...Teater kecil pak Theo...
Othor: Ekhem udah mulai berani ya sekarang 🙄. othor sekarang dilupain 🙄
Theo: Sirik aja lu Thor 😌
Othor: Ku kira hubungan kita istimewa 😢
...----------------...
Btw mungkin hari Selasa atau Rabu bakalan gak update karena othor ada UTS nanti kamis balik lagi kok. Doain ya biar lancar utsnya 😬😗😗