
...Yok like kembang sama kopinya, othor mau up 2 bab nieh 😌...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
'What?! A-aku agresif sama Theo, d-dan melakukannya?! Tidak mungkin kan?!!!!!" Pekiknya di dalam hati.
"Ada apa?" Tanya Theo membuyarkan lamunan Eva.
Eva menggeleng. "Tidak ada, aku hanya memikirkan hal lain." Ucapnya.
Theo mendekati Eva, lalu berbisik tepat di telinganya. "Kamu tahu istriku, aku sangat menyukai dirimu yang agresif seperti semalam." Ujar Theo dengan wajah tanpa dosanya.
Plak!
Eva memukul lengan Theo. "Jangan ngadi-ngadi! Aku kemarin seperti itu karena pengaruh obat." Ujarnya.
"Fine, fine. Now, you have to take a shower and then have breakfast together, even though breakfast time is past." Ucap Theo. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
(Translate: sekarang kamu harus mandi lalu sarapan bersama walaupun waktu sarapan sudah lewat).
Dengan telaten, Theo menggendong Eva menuju kamar mandi lalu meletakkannya di bathtub yang sudah diisi dengan air hangat. Eva pun berendam merilekskan tubuhnya selama 10 menit dan setelahnya dia pun mandi dan itupun dimandikan oleh Theo suaminya. Karena untuk berdiri saja dirinya masih sedikit kesusahan karena merasakan sakit di miliknya.
Setelahnya, Theo juga memakaikan pakaian pada Eva dan juga mengeringkan rambut panjangnya yang basah. "Selesai! Mari kita sarapan." Eva mengangguk lalu dengan cepat Theo menggendong ala bridal style.
Dengan hati-hati Theo turun ke lantai satu menggunakan lift, lalu menuju ruang makan dimana sudah terhidang banyak sekali makanan. Sementara Eva menatap sekeliling rumah yang menurutnya asing. "Hubby, kita ada dimana sekarang?" Tanyanya.
Theo tersenyum lalu mendudukkan Eva di kursinya. "Ini adalah rumah kita, mulai saat ini kita akan tinggal disini." Sahut Theo.
Eva terkejut mengetahuinya, rumah sebesar itu dan hanya ditinggali oleh 2 orang, sungguh kehidupan orang kaya yang tidak dimengerti oleh Eva. "Lalu, bagaimana dengan apartemennya?" Tanyanya.
"Biarkan saja. Sebenarnya apartemen itu adalah tempat aku tinggal sementara, karena rumah ini masih belum selesai dibangun. Dan sekarang rumah ini sudah jadi dan juga rumah ini adalah atas namamu." Ujar Theo.
Eva menganga dengan mata yang mengerjap beberapa kali. "Kamu serius?!!!" Ucapnya tidak percaya.
"Tentu saja. Sekarang lebih baik makan lalu istirahat aku tahu kamu masih capek." Ucap Theo dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya.
Setelahnya tidak ada pembicaraan lebih lanjut. Mereka makan dengan tenang dan sesekali bercanda gurau dengan topik ringan.
*
*
Beberapa hari setelahnya Eva pun masuk universitas seperti biasanya seolah tidak terjadi apa-apa. Dion dan teman-temannya sudah dikeluarkan dari kampus dan tidak diketahui keberadaannya. Begitu pula direktur universitas yang tiba-tiba diberhentikan dan digantikan oleh direktur yang baru. Mitha dan Yoga pun menjadi lebih protektif menjaga Eva agar kejadian yang lalu tidak kembali terulang lagi. Dan Eva pun sudah tau hal-hal yang terjadi di kampusnya pasti karena ulah suaminya.
Tak terasa satu semester sudah dilewati oleh Eva dengan penuh semangat. Dan saat ini Eva sedang menikmati liburannya, dengan bersantai di ruang keluarga sambil menonton drama Korea kesukaannya.
Tiba-tiba Theo datang lalu memeluk lehernya dari belakang. "Kamu mengagetkanku." Ucap Eva mencubit tangan Theo.
"Auch! Sakit sayang." Ringisnya lalu berjalan menuju sofa yang diduduki oleh istrinya. Theo merebahkan dirinya di sana dengan kepalanya yang ditaruh diatas paha Eva yang sedang serius menonton televisi.
Tangan Eva pun dengan halus dan perlahan mengelus-elus rambut Theo yang sedikit panjang namun halus. Mungkin cocok menjadi duta shampo lain.
Eva mengangguk. "Iya, kenapa?" Tanya Eva.
"Mari kita ambil liburan ke luar negeri. Begini, aku ada urusan di perusahaan cabang Paris, jadi sekalian kita honeymoon. Bagaimana menurutmu?" Tanyanya.
"Hmm, tidak buruk. Lagipula aku belum pernah ke luar negeri. Aish, aku jadi sedikit bersemangat!" Sahutnya.
Theo terkekeh melihat istrinya yang ketika bersemangat sangatlah cantik. "Baiklah, kita akan berangkat dua hari lagi. Jadi, persiapkan barang-barang yang diperlukan saja sisanya kita beli disana." Ujar Theo.
*
*
*
Di Sisi lain, seorang gadis dengan santainya berbelanja dan berkeliling mall sendirian. Banyak laki-laki yang meliriknya dan ingin mendekatinya namun, baru saja mendekat melihat lirikan tajamnya membuat seluruh laki-laki itu enggan mendekatinya.
"Haish! Grace kuliah di luar negeri dan Eva sudah menikah, haish aku sekarang tinggal sendiri." Gerutu Mitha. Yup gadis itu adalah Mitha yang sedang berjalan-jalan tidak menentu.
Dirinya pun berjalan melihat beberapa toko, namun atensinya terhenti ketika melihat sebuah toko buku. Dengan langkah gontai dirinya memasuki toko buku yang lumayan ramai. Lalu melihat-lihat koleksi buku dari rak-rak yang ada. Mitha pun mengambil beberapa buku yang memuat pelajaran yang berkaitan dengan mata kuliahnya.
Lagi-lagi atensinya tertuju pada rak yang berisi tumpukan buku komik. Mitha mengambil lalu membaca beberapa buku komik yang dilihatnya, selain menyukai film India dia juga sangat menyukai membaca komik ketika waktu senggang. "I-ini, ini kan komik edisi terbatas itu!!" Ucapnya semangat sampai semua orang yang ada disekitarnya memberitahunya untuk jangan berisik.
Disaat dirinya fokus membaca, seseorang datang dan meletakkan dagunya tepat diatas kepalanya. "Kau sedang melihat apa?" Tanya orang itu.
"Ka-kau?!!" Pekiknya.
"Hai sayang, bagaimana kabarmu?" Tanya Yoga. Ya, orang yang bertemu dengan Mitha di toko buku adalah Yoga. Tadi dirinya juga sedang berada di mall dan tidak sengaja melihat Mitha jalan-jalan sendirian.
Mitha tidak menjawab dan memilih membaca komiknya. "Hei, ada orang tampan di dekatmu namun, kamu lebih memilih membaca komik!" Keluhnya.
Sama seperti tadi, Mitha sama sekali tidak menjawab dan memilih pergi menuju ke kasir untuk membayar buku yang dibelinya. Dengan senang hati Yoga selalu mengikutinya.
Mitha keluar dari toko buku, berjalan ke beberapa kios dan masih saja Yoga mengikutinya. Tiba-tiba Mitha berhenti dan berbalik menatap Yoga. "Apakah kau tidak mempunyai pekerjaan yang lain, selain mengikutiku?!" Tanya Mitha geram.
Yoga mengangkat bahunya. "Entahlah, saat ini kamu adalah duniaku jadi, menjagamu adalah pekerjaanku." Ucap Yoga santainya.
Bersambung……
...****************...
...Biarkan waktu berhenti, dan biarkan cinta hidup....
...Kehidupan selama ini tidak ada artinya, tapi sekarang aku ingin hidup denganmu....
...Akan kubuat perjanjian dengan hatiku, akan hidup seratus tahun demimu....
...by: othor ...
...****************...