Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 68 - Cantik-Cantik Budeg!



Pagi hari pukul 8.


Eva mengerjapkan matanya, menyesuaikan netra indahnya terhadap sinar matahari yang sayup-sayup masuk ke kamarnya melalui celah jendela.


Disaat bersamaan, Eva mengendus bau khas yang hanya dimiliki oleh suaminya. Bau maskulin yang saat ini sudah tercampur bau keringat dari kegiatannya semalam. Blush! Seketika pipi Eva merona karena mengingat kejadian semalam. Ingatannya kembali disaat dirinya meneriakkan nama suaminya dengan mesranya.


Eva menggeleng samar, menepis segala pikirannya. Dilihatnya Theo sang suami masih tertidur dengan nyenyak nya seperti seorang bayi. Tidak ingin membangunkan suaminya, Eva menyingkirkan tangan Theo yang memeluk pinggangnya lalu beranjak bangun.


Namun, baru saja dirinya menggerakkan sedikit tubuhnya, terasa sakit yang sangat amat di sekitaran punggung dan bagian intinya. "Shhhhh!" Ringisnya menahan rasa sakit.


Perlahan Theo terbangun ketika mendengar suara ringisan dari istrinya. "Sayang, ada apa?" Tanya Theo.


"Punyaku rasanya sangat perih." Sahutnya. Mengerti akan hal itu, Theo beranjak menggunakan celananya lalu menggendong Eva menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. "Auch!"


"Tahanlah sebentar, aku akan menyiapkan air hangat agar meredakan rasa sakitmu." Theo menuju kamar mandi lalu mendudukkan Eva di atas closet. Dengan telaten dirinya mengisi bathtub dengan air hangat agar istrinya bisa berendam dan merilekskan tubuhnya.


*


Saat ini, Theo sedang mengeringkan rambut istrinya yang basah menggunakan hairdryer. Dan setelahnya menyisirnya dengan lembut. "Hubby, aku malu seperti ini, biarkan aku memakai baju terlebih dahulu." Ucap Eva, yup Eva saat ini hanya mengenakan handuk yang hanya melilit tubuhnya sampai atas paha.


"Kenapa harus malu? Bukankah aku sudah melihat semua yang ada di tubuhmu?" Theo berkata dengan santainya.


Blush!


"Udah ih, aku baru tahu suamiku ini orangnya agak mes*m!" Ucap Eva dengan wajah menahan malu.


"Mes*m nya juga sama istri sendiri." Sahut Theo lalu mengecup puncak kepala istrinya.


"Hubby apakah kita tidak akan pergi ke sekolah?" Tanya Eva. Dan Theo menjawabnya dengan gelengan kepala. "Tidak, aku ingin kamu istirahat dan karena itu aku tidak bisa meninggalkanmu. Lagipula aku sudah menelepon sekolah tadi." Ujarnya. Eva mengangguk karena tubuhnya saat ini merasa kelelahan karena mengimbangi stamina suaminya gak tidak ada habisnya.


*


*


*


Sementara di sekolah Mitha dan Grace kebingungan karena sahabatnya Eva tidak masuk sekolah. Yah, walaupun masuk ke sekolah juga tidak ada aktivitas karena mereka sebentar lagi akan meninggalkan sekolah dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi.


"Eva kemana sih? Tumben juga dia tidak masuk sekolah." Tanya Grace.


"Ho'oh, betul juga." Sahut Mitha.


Mereka pun membicarakan hal-hal absurd sambil makan Chiki yang mereka beli di kantin. Sampai akhirnya mereka pun pulang awal karena sudah diizinkan pulang lebih awal.


"Inget ya Mit, nanti ketemuan di mall jam 5!" Teriak Grace dari dalam mobilnya.


Mitha mengangkat tangannya dan mengacungkan jempolnya. "Sip!"


📞"Halo non, saya tidak bisa menjemput non sekarang. Tiba-tiba ban mobilnya bocor." Ucap sopirnya.


"Ah begitu, tidak apa-apa pak. Saya akan pesan taxi online saja." Ucapnya lalu menutup sambungan teleponnya.


Baru saja Mitha menaruh handphonenya di dalam sakunya, seseorang dengan motor sportnya datang menghampirinya, membuat wajah Mitha seketika berubah masam.


"Ada apa sih?" Tanya Mitha tak bersahabat.


Orang itu melepas helmnya. "Gw mau nawarin tumpangan, gw liat dari tadi lu nunggu jemputan tapi belum Dateng kan?" Ucap Yoga.


Yup, siapa lagi orang yang bisa membuat Mitha kesal dan menunjukkan wajah masamnya selain Yoga. "Gak usah, gw udah pesan taxi online." Ucapnya.


"Tapi bahaya loh, kamu sendirian disini." Yoga tetap kekeh.


Sementara Mitha hanya diam tidak menanggapi ucapan Yoga dan lebih memilih memainkan ponselnya. Sampai akhirnya yoga sedikit kesal lalu dengan cepat menarik tangan Mitha dan menuntunnya naik ke motornya.


"Hey apa yang lu lakuin? Biarin gw turun!" Sentak Mitha. Namun, Yoga menaruh jari telunjuknya tepat di bibir Mitha. "Shuttt! Diam dan menurutlah!" Ujar Yoga lalu segera naik dan melajukan motornya.


Entahlah ada apa dengan dirinya, bisa-bisanya dia menawarkan gadis berwajah datar itu tumpangan. Namun, Yoga sedikit menarik ujung bibirnya membentuk bulan sabit, entahlah wajah Mitha yang ketus dan marah ketika melihatnya sangatlah imut dimatanya.


"Hey, rumah lu dimana?" Tanya Yoga.


"Hah? Apa?! Gw gak denger!" Teriak Mitha.


"Rumah lu dimana?!" Tanya Yoga sekali lagi namun kali ini dengan nada yang agak keras.


"Owhh, dijalan xx, nomor xx." Sahutnya.


Yoga mengangguk lalu menggeleng pelan. "Dasar cantik-cantik budeg!" Gumamnya yang tentu saja tidak bisa didengar oleh Mitha karena angin dan suara motor yang mengganggu pendengarannya.


Tak lama mereka pun sampai di rumah Mitha. Dia pun turun dari motor sport milik Yoga. "Thanks udah nganterin pulang." Ucapnya.


"Sama-sama, by the way gw gak ditawari masuk nih?" Tanya Yoga.


Mitha mengernyit. "Ni anak dikasih hati malah minta jantung." Batinnya. "Yaudah kalau gitu masuk." Ucap Mitha.


Yoga menaikkan standar motornya lalu menyalakannya. "Gak dulu deh." Ucapnya lalu melajukan motornya. Sementara Mitha dibuat naik pitam olehnya. "Dasar playboy!" Pekiknya.


Sementara Yoga tersebut lalu menoleh ke arah spionnya dan melihat Mitha yang tampaknya sedang mengumpatnya.


Bersambung……


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...maaf ye, kemarin gak up😗😗 masih ada praktek...