Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 88 - Pengampunan



Pagi hari, terlihat sinar matahari menyingsing dari ufuk timur. Cahayanya memberikan pancaran kehidupan bagi semua makhluk yang hidup di bumi.


Netra seorang perempuan mengerjap perlahan ketika penciumannya mengendus bau yang familiar baginya. "Honey? Kamu mau kemana?" Tanya Eva mengucek matanya tatkala melihat Theo suaminya yang sudah rapi dengan setelan jasnya sedang menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya.


Theo mendekati Eva lalu duduk di tepi ranjang. Tangan kanannya terangkat menyentuh pipi kiri istrinya. "Sayang, maafkan aku, sebenarnya aku ingin sekali menemanimu di rumah. Tapi di perusahaan ada sedikit masalah sehingga membutuhkan kehadiranku. Aku berjanji setelah selesai aku akan langsung pulang." Ujar Theo.


"Tidak apa-apa, tidak usah mengkhawatirkan aku. Sekarang pergilah ke perusahaan." Sahut Eva dengan senyum yang terbit di wajah bangun tidurnya. Mungkin bagi Eva, dirinya sudah memberikan senyuman terbaiknya. Namun, jangan meremehkan Theo, dia tahu bahwa istrinya terpaksa tersenyum untuk menutupi kesedihannya.


Theo menghela nafasnya. "Baiklah, aku berangkat, jaga dirimu baik-baik." Ujar Theo.


Cup! Cup!


Kecupan singkat melayang di kening lalu bibir Eva. Membuat dirinya sedikit terkejut dengan tindakan suaminya itu.


Tak lama Eva bangkit dari tempat tidur lalu menuju kaca jendela, melihat kepergian suaminya dari atas sana.


*


*


Di perusahaan cabang Paris.


Theo saat ini menyandarkan tubuhnya di kursi empuknya, setelah seharian berkutat dengan laporan dari berbagai divisi dan perusahaannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang waktu setempat, Theo berniat pulang menikmati makan siang di rumah setelah membereskan mejanya yang sedikit berantakan.


Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk lalu salah satu asistennya masuk memberitahukan sesuatu. "Maaf Mr, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda." Ujarnya.


Theo menghela nafasnya berat niatnya ingin pulang makan siang dia urungkan. "Persilahkan masuk!" Jawab Theo.


"Baik Mr!"


Setelah asistennya pergi tak lama seseorang yang sangat familiar masuk ke ruangannya. Theo bangkit ketika melihat orang tersebut. "Tuan Davies Nicholas?" Ucapnya.


Sementara Davies hanya diam tidak menyahuti. "Silahkan duduk." Theo mempersilahkan ayah dari istrinya duduk di sofa. "Apa yang membuat anda datang kemari tuan?" Tanya Theo lagi.


Tuan Davies duduk lalu memulai pembicaraan. "Begini, aku ingin bertemu dengan Eva secepatnya. Aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini." Ucapnya to the point.


"Saya mengerti tuan, tapi saat ini keadaannya tidak memungkinkan dia masih sedikit syok. Namun, anda tenang saja tuan saya sudah berbicara pelan-pelan dengannya. Jika Eva sudah sedikit membaik maka saya akan mempertemukan anda dengannya." Jawab Theo.


"Terimakasih karena sudah mau merawat dan menjaga putriku." Ujar Tuan Davies menatap Theo.


"Tidak masalah tuan Davies, tentu saja aku akan menjaga istriku dengan baik." Jawab Theo.


"Katakan padaku bagaimana kamu bisa menikahi putriku? Bahkan usianya masih sangat muda untuk menikah bukan?" Tanya Tuan Davies yang seakan kepo mengenai urusan asmara putrinya.


"Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja, namun takdir seolah sudah menyiapkan skenario terbaiknya agar aku dapat bertemu kembali dengannya. Aku menjadi gurunya saat dia SMA, selama itu aku selalu mengawasi dan melindunginya secara diam-diam. Aku menyukainya karena kebaikan dan kerja kerasnya, aku sendiri kagum dengannya disaat remaja seusianya menikmati hidup, bermain ke mall atau jalan-jalan, Eva sendiri selalu bekerja sampingan setelah pulang sekolah dan uang yang didapatkannya ditabung untuk pengobatan ibunya."


"Aku sangat menyukai saat dirinya tersenyum dengan sangat indahnya. Namun, perlahan senyuman yang tersungging diwajahnya perlahan hilang digantikan oleh raut kesedihannya. Dan itu terjadi ketika mama Eva meninggal, anda tahu aku sudah membantu biaya untuk kesembuhan Bibi Jessica namun seolah takdir berkata lain. Takut dia melakukan hal yang tidak-tidak dengan cepat aku menikahinya, anda tahu aku sangat membenci dirinya yang menangis. Walaupun sudah kuhibur namun kesedihan karena kehilangan satu-satunya orang yang disayanginya tetap saja tidak menghilang sampai beberapa hari. Tapi syukurlah sekarang dia sudah melupakannya." Ujar Theo menceritakan kepada Tuan Davies.


Tampak tuan Davies meneteskan kristal bening dari pelupuk matanya. "Sungguh aku adalah orang yang sangat bodoh. Theo bagaimana selama ini kehidupannya?" Tanya tuan Davies.


"Bisa dikatakan tidak terlalu baik dan tidak terlalu buruk. Bibi Jessica bekerja sebagai penjahit baju di rumahnya yang sederhana, dan Eva yang sudah bekerja paruh waktu dari SMP dan saat SMA dia mendapatkan pekerjaan sampingan yang tetap di sebuah toko roti." Sahut Theo.


Theo menepuk pelan bahu mertuanya itu. "Jangan terlalu merasa bersalah, aku tahu anda tidak sepenuhnya salah dalam hal ini. Terkadang disaat kita sudah merencanakan hal-hal indah dan berjalan lurus sesuai jalur yang kita buat namun tiba-tiba saja takdir membawa kita keluar dari jalur tersebut. Anda tidak salah namun, situasi dan takdir yang membawa anda ke situasi saat ini." Ujar Theo.


Tuan Davies hanya tersenyum mendengar penuturan dari Theo atau bisa dibilang pria didepannya saat ini adalah menantunya.


Puas berbicara empat mata, tuan Davies dan Theo sepakat mengakhiri pembicaraan mereka lalu pulang menuju kediamannya masing-masing.


*


*


Kediaman keluarga Helios.


Tuan Davies baru saja menapakkan kakinya di pelataran rumah mewah milik keluarga Helios. Dengan langkah gontai nya dia memasukinya walaupun raut wajahnya mengekspresikan dirinya saat ini benar-benar sangat lelah.


"Suamiku, kamu sudah pulang? Apa perlu aku siapkan air mandi atau minuman?" Tanya nyonya Hanna yang melihat kedatangan suaminya.


Tuan Davies tidak berbicara namun, memilih duduk di sofa yang terdapat di ruang tamu mewah tersebut. "Aku baru saja menemui Theo." Ucap tuan Davies.


Nyonya Hanna tampak sedikit terkejut. "Lalu bagaimana? Apakah Eva sudah mau berbicara dengan kita?" Tanyanya.


Tuan Davies menggeleng pelan. "Putriku masih belum mau bertemu denganku, Theo bilang berikan dia sedikit waktu untuk berfikir. Walaupun begitu tidak bisa kupungkiri aku sangat merindukan putriku dan ingin sekali berbicara dengannya."


Tiba-tiba tangan kanan tuan Davies digenggam oleh nyonya Hanna. "Maafkan aku, karena keegoisanku kamu harus terpisah dengan putrimu." Bersalah? Tentu saja, nyonya Hanna tampak sangat-sangat merasa bersalah.


Tuan Davies menggenggam tangan nyonya Hanna. "Jujur saja ketika aku tahu kamu yang membuat keluargaku hancur, aku sama sekali tidak bisa memaafkanmu. Namun, melihatmu yang beberapa tahun ini seakan menebus dosamu aku tidak bisa tidak memaafkan mu. Karena sejatinya tuhan saja memaafkan kesalahan umatnya lalu kenapa manusia tidak bisa memaafkan?"


Tuan Davies menjeda perkataannya lalu menghela nafasnya. "Namun, kamu harus meminta maaf kepada Jessica dan juga Eva. Pengampunan yang kamu dapatkan dari mereka mungkin bisa mengurangi sedikit dosamu." Ujarnya menasehati istrinya.


Sementara nyonya Hanna hanya menganggukkan kepalanya.


Selama ini, Davies memang pribadi yang jarang bicara, dingin, dan pekerjaan keras, namun jika sudah ada sesuatu yang mengharuskannya berbicara maka dia akan mengatakannya.


Bersambung…….


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Aiyo othor mau up 2 bab nich😗😗...


...inget Loh...


...Like 👍...


...Komen 💬...


...Vote...


...Gift...


...Jangan lupa 🔪🔪🔪🔪...