Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 52 - Bagai Disambar Petir



...Last!...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagi para siswa yaitu, hari dimana ujian akan diadakan. Setelah beberapa ujian sebelumnya berupa ujian sekolah dan praktek dan sekarang para siswa akan melaksanakan ujian nasional selama 5 hari dengan satu hari 1 mata pelajaran yang diujikan. Mata pelajaran yang diujikan diantaranya Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika dan Biologi dan itu tergantung jurusan yang dipilih. Sebagai penentu lulus atau tidaknya siswa dari Star International High School.


Eva, Grace dan Mitha menjawab soal-soal ujiannya dengan cermat dan teliti. Tidak ada satu soal pun yang lepas dari pandangannya. Otaknya sekarang ini berpikir sangat keras, mencari jawaban dari soal yang sebelumnya materinya pernah dijelaskan.


Sampai akhirnya, empat hari pun berlalu, Eva pun keluar dari ruangan kelas saat mata pelajaran terakhir diujikan. Perasaan takut, khawatir, lega bercampur menjadi satu. Takut dan khawatir akan nilai dan lega karena sudah mengerjakan ujian dengan sebaik mungkin.


Eva pun berkumpul dengan temannya, berbincang-bincang mengenai kesulitan dalam mengerjakan ujiannya.


"Gimana perasaan kalian setelah selesai ujian gaes?" Tanya Grace.


"Behh, mengerikan." Sahut Mitha dengan logat bicara seperti atuk dalang di serial kartun kembar botak negeri Jiran.


Eva mengangguk. "Yang lain mah gampang, cuma Kimia sama Fisika aja yang agak sulit menurutku." Ucap Eva.


Grace dan Mitha pun menyipitkan matanya dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan. "Gini nih, orang pinter, semuanya gampang." Ucap keduanya berbarengan.


Eva pun mendengus kesal dibuatnya. "Hei kalian juga pinter tuh. Kamu Grace pinter bahasa Inggris, Mitha pinter bahasa Indonesia." Cebiknya.


"Iya deh, iya. Jangan baperan Napa. Walaupun aku pinter bahasa Inggris tapi nilai bahasa Indonesia ku jebol loh." Ujarnya tak ingin sang sahabat merajuk. Tentang nilai entah mengapa nilai bahasa Inggris Grace selalu saja bagus bahkan diantara murid sekelas hanya Grace yang dirapornya tertulis nilai A. Namun, berbanding terbalik dengan bahasa Indonesia dimana nilainya selalu pas di KKM. Ini masih menjadi misteri, dimana siswa nilai bahasa Inggrisnya tinggi namun nilai bahasa Indonesianya jebol.


"Udah jangan marahan, baru aja selesai ujian. Mending sekarang kita rayakan hari terakhir ujian dengan makan restoran yang baru buka dekat mall. Grace yang bayar!!" Ujar Mitha lalu lari mengajak Eva bersamanya.


Sementara Grace berlari mengikutinya dari belakang. "Woi! Bisa-bisa bilang gw yang traktir!" Teriaknya sambil mengejar kedua sahabatnya.


Melihat Grace yang berlari di belakang mereka membuat Mitha dan Eva terkekeh. "Hahaha…."


*


*


Saat ini ketiga sahabat itu sedang berada di sebuah restoran baru yang memiliki tema masakan Nusantara. Dan tentu saja Grace yang membayarnya.


"Udah puas kan kalian?" Ucap Grace dengan wajah masam.


Eva dan Mitha pun nyengir kuda. "Hehehe makasih ya nona muda Natalie udah traktir." Ucap keduanya serempak.


Grace yang menerima pujian pun salah tingkah. "Uhuk, ya udah habiskan ya, kalau kurang nambah aja." Ujarnya, salah satu kelemahan dari Grace adalah dia akan luluh jika dirinya dipuji, walaupun sifatnya agak bar-bar.


Tiba-tiba telepon milik Eva berbunyi, dilihatnya layar ponsel yang hanya menampilkan nomor orang tidak dikenal.


Eva mengedikkan bahunya. "Gak tau nih." Sahutnya. Satu kali panggilan Eva urung menerimanya karena takut itu adalah nomor orang iseng atau modus penipuan, namun setelah beberapa kali mendapatkan telepon dari nomor yang sama Eva pada akhirnya mengangkatnya.


"Halo? Siapa ya?" Ucapnya Eva sopan.


📞 "Halo, nak Eva akhirnya tersambung juga. Ini ibu Melati, ibu mau kasih tau mama kamu tadi pingsan di depan rumah sekarang sudah dibawa ke rumah sakit.


Mendengar keadaan sang mama sekarang membuat Eva bagai disambar petir di siang bolong, tiba-tiba air matanya menetes dan telepon yang berada di genggamannya terlepas jatuh ke lantai begitu saja.


"Hiks…. Mama!" Teriaknya lalu tanpa ba bi Bu pergi meninggalkan kedua sahabatnya tanpa kejelasan. Lalu berlari keluar restoran mencari tumpangan.


"Hei, Eva mau kemana?!!" Teriak Grace lalu beranjak mengejar Eva, namun sayang Eva sudah masuk ke dalam sebuah taxi. Sementara Grace pun kehilangan jejak sahabatnya karena tidak berhasil menyusul sahabatnya.


"Udah Grace, nanti kita temui Eva. Sekarang situasinya tidak kondusif." Ujar Mitha.


"Tapi Mit," Grace ingin protes karena takut Eva kenapa-napa.


"Udah, percaya. Sekarang kita pulang beri dia waktu beberapa saat lalu pergi ke rumah Eva." Ucap Mitha lalu diangguki Grace.


*


*


*


Di Rumah sakit, Eva tampak berlarian di Unit Gawat Darurat mencari ruangan dimana mamanya mendapatkan perawatan. Eva pun sampai di depan ruangan lalu menatap tajam pintu berwarna silver itu dengan raut wajah khawatir.


Dokter pun keluar dari ruangan, setelah selesai memeriksa keadaan Mama Eva. "Dengan keluarga pasien?" Tanya dokter.


Eva bangkit lalu mendekati dokter. "Iya dok, saya anaknya. Bagaimana keadaan ibu saya?" Tanya Eva.


Dokter pun menghela nafasnya berat. "Maaf sebelumnya, keadaan ibu Jessica benar-benar mengkhawatirkan. Selain gagal ginjal ada penyakit komplikasi yang diderita oleh beliau sebelumnya dan sudah sangat lama. Dan takutnya beliau tidak bisa,,," ucap dokter menggantung tatkala melihat Eva yang berteriak histeris.


"Tidak! Mama tidak boleh kenapa-napa! Mama harus sehat! Dokter tolong selamatkan mama saya!"


"Maaf apapun yang terjadi, kami sudah melakukan sebaik mungkin namun, jika Tuhan berkehendak lain maka kami tidak bisa menentangnya." Ujar dokter yang merah jasnya sudah dicengkeram erat oleh Eva.


Eva melepaskan cengkeramannya lalu masuk ke dalam ruangan sang mama dirawat dengan berbagai alat medis yang sudah tertancap di tubuhnya.


Bersambung……