
"EVANGELINE DORIOUS! KAU ADA DIMANA?!" Teriak seseorang memanggil.
Eva yang sedari tadi duduk dengan menekuk lututnya karena kedinginan pun mendongak karena mendengar ada yang memanggil namanya. Bahkan dia sangat mengenali suara yang sedang memanggilnya itu.
Tak beberapa lama teriakan pun kembali menggema memanggil namanya.
"Evangeline!" Teriak seseorang.
"Saya disini!" Balasnya dengan nada lemah.
Kali ini Eva yakin bahwa yang memanggilnya saat ini adalah Pak Theo. Namun dia pun berpikir bagaimana pak Theo bisa sampai dan menemukannya disini? Atau jangan-jangan sedari tadi hantu atau makhluk halus lainnya yang memanggil namanya membuat bulu kuduknya seketika meremang.
"Tunggulah di sana jangan kemana-mana. Jika kau bisa bernyanyi maka bernyanyi lah dengan keras agar saya bisa mengikuti sumber suaramu." Teriaknya.
"Baik!" Balasnya lalu kemudian bernyanyi. Bernyanyi lagu yang sering dinyanyikan sang mama sewaktu dirinya masih kecil.
🎶 Kupu-kupu yang lucu 🎶
🎶 Kemana engkau terbang? 🎶
🎶 Hilir mudik mencari🎶
🎶 Bunga-bunga yang kembang 🎶
Selagi Eva bernyanyi pak Theo dengan langkah kakinya yang panjang berjalan dengan tergesa-gesa menuju asal suara.
🎶 Berayun-ayun 🎶
🎶 Pada tangkai yang lemah 🎶
🎶 Tidakkah sayapmu 🎶
🎶 Merasa lelah? 🎶
"Suaranya semakin keras, aku rasa sudah dekat." Batinnya.
"Sebelah sini!" Batinnya lalu mengarahkan lampu senternya ke arah semak-semak.
"Evangeline Dorius!!!" Ucapnya dengan perasaan lega karena berhasil menemukan muridnya. Dilihatnya dengan teliti bagaimana penampilan siswi kesayangannya itu.
Baju dan rambutnya basah kuyup bahkan wajahnya yang cantik pun dihiasi dengan air mata yang sedari tadi mengalir dan tak mau berhenti.
"Hiks…. Pak Theo…. Hiks…." Dengan cepat Eva bangkit lalu memeluk pak Theo dengan eratnya bahkan tangisnya saat ini pecah semakin kencang.
Pak Theo pun membalas pelukan Eva tak kalah eratnya bahkan tangannya saat ini sudah mengusap pelan punggungnya guna menenangkannya. Jujur saja hatinya saat ini sangat sakit melihat keadaan Eva.
"Hiks…. Pak saya takut setengah mati hiks…. Ponsel saya juga rusak." Isaknya.
Pak Theo pun menguraikan pelukannya lalu menatap wajah Eva yang saat ini memerah. "Tenanglah hmm, saat ini kau aman. Perlihatkan pada saya, apa kamu ada luka?" Ucapnya sambil jarinya menghapus bulir bening yang keluar dari sudut mata Eva.
"Tidak…." Sahut Eva bergetar.
"Lalu kenapa kamu menangis? Berhenti menangis saya sudah ada disini untuk menjemputmu." Ucap pak Theo lalu melepaskan jaketnya karena melihat Eva yang kedinginan. Lalu kembali menarik Eva ke dalam pelukannya.
"Syukurlah,,, aku menemukanmu tepat waktu." Batin pak Theo.
Pak Theo berbalik lalu berjongkok di depan Eva. Sementara Eva hanya diam karena bingung apa yang dilakukan oleh pak Theo.
"Bapak ngapain?" Tanya Eva dengan suara serak sehabis menangis.
Pak Theo menoleh menatap wajah Eva. "Naik lah, saya akan menggendongmu. Ingat saya tidak suka dibantah!" Tegasnya.
Dengan terpaksa Eva naik ke punggung pak Theo, tangannya sudah dia kalungkan di leher. Lalu pak Theo pun meraih paha Eva agar menopangnya agar tidak jatuh.
Mereka pun berjalan kembali melewati hutan yang gelap gulita, sementara pak Theo menaruh senternya di kepalanya (senternya multifungsi 😅). Mulanya Eva sangat malu berada di gendongan pak Theo namun, pada akhirnya dia pun terlelap di bahu guru killer nya.
Sementara pak Theo terkejut sekaligus tubuhnya menegang, bagaimana tidak tegang dua bakpao menempel tepat di punggungnya. Rasanya seperti ada tonjolan lembut. Pak Theo dengan cepat menepis pikiran kotornya itu lalu bergegas keluar dari hutan.
*
*
Pak Theo saat ini sudah keluar dari hutan dan saat ini berada tepat di depan mobilnya. Dia orang berpakaian hitam itu pun juga sudah kembali.
"Va, bangun kita sudah kembali." Ucapnya. Namun tidak ada respon sama sekali.
Pak Theo pun mendudukkan Eva di kursi mobilnya, dilihatnya wajah Eva yang memerah dengan nafasnya yang berat. Segera pak Theo meletakkan punggung tangannya di kening Eva. Panas! Sangat panas!
"Sial! Dia demam." Khawatirnya.
"Kalian berdua kemudikan mobil ini, antar aku ke rumah sakit terdekat!" Titahnya kepada dua orang bawahannya itu.
"Baik tuan!" Sahut mereka berdua. Lalu keduanya mengemudikan mobilnya.
*
Di rumah sakit.
Saat ini Eva sedang berada di atas brankar rumah sakit tangannya diinfus supaya tubuhnya mendapatkan energi. Sedari tadi gadis cantik itu masih saja belum membuka matanya. Walaupun begitu wajahnya saat tertidur terlihat sangat damai.
Pak Theo senantiasa berada di samping Eva. Menggenggam tangan yang tidak tertancap jarum infus. Pikirannya membayangkan Eva yang menghilang di kegelapan malam dirinya pasti kedinginan dan ketakutan. "Sialan! Aku tidak akan melepaskan orang yang sudah membuatnya menjadi seperti ini!" Ucapnya dengan kemarahan.
Tiba-tiba pintu ruangan VIP itu pun diketuk dari luar. "Masuk!" Ucapnya.
"Ada apa?" Singkat padat dan jelas sekali pertanyaan dari pak Theo.
"Begini tuan, apakah kita harus memberitahu siswa yang sedang camping mengenai keadaan nona Eva?" Tanya salah satu bawahannya.
Sial, dia melupakan hal yang sangat penting yaitu memberitahu siswa yang berada di camping. Karena hari yang sudah malam dan menunjukkan pukul 9 malam, dia takut semua orang masih mencari.
"Salah satu dari kalian pergilah dan beritahu bahwa Eva sudah aman dan tidak akan mengikuti sisa kegiatan besok!" Titahnya.
"Baik tuan!" Ucapnya lalu menunduk hormat lalu pergi dari ruangan itu. Meninggalkan orang yang masih khawatir terhadap keadaan siswi kesayangannya.
Bersambung……..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah ye, see you besok, jangan lupa loh like, komennya 😴😴