
Keesokannya, Tuan Davies, nyonya Hanna dan tuan besar Helios datang ke sebuah pemakaman lalu menuju sebuah makam yang berada tepat di bawah pohon bunga dan terlihat rapi. Bunga-bunga yang berguguran bukannya membuat makam tersebut kotor malah sebaliknya semakin terlihat indah.
Tuan besar Helios tampak paling pertama berdoa di makam tersebut. "Nak Jessica, maafkan aku yang sudah menyakitimu dulu. Seandainya aku bisa tegas dan tidak egois maka kau tidak akan seperti ini dan putrimu tidak akan kehilangan sosok ayahnya. Aku dulu terlalu takut terjadi sesuatu kepada putriku, Hanna adalah satu-satunya keluarga yang kupunya. Sekali lagi maafkan aku dan juga putriku." Sesal tuan besar Helios.
Setelahnya tuan besar Helios bangkit lalu seorang pelayan datang menghampirinya untuk mengantarkannya ke dalam mobil.
"Kak Jessica maafkan aku, tolong maafkan aku. Aku terlalu egois, aku sudah sangat menyakitimu selama ini. Sebagai sesama wanita, aku sama sekali tidak bisa mengerti bagaimana perasaanmu. Aku menyesal telah memisahkan suami dan istri, serta ayah dan putrinya. Maafkan aku. Jadi, sebagai permintaan maaf, aku akan merawat putrimu dengan sepenuh hatiku dan juga aku akan merawatnya seperti putriku sendiri." Ujar Nyonya Hanna sedang Isak tangisnya. Tuan Davies yang ada di belakangnya memegang bahunya lalu menuntunnya untuk berdiri.
Nyonya Hanna menghapus air matanya lalu menatap suaminya. Sorot mata suaminya sangatlah penuh penyesalan ketika melihat makam Jessica, mengerti nyonya Hanna pergi dari makam tersebut membiarkan Davies mengeluarkan isi hatinya yang selama ini dipendamnya.
Tuan Davies berjongkok lalu meletakkan bunga Margot biru kesukaan almarhum istrinya. "Sayang, maafkan aku. Aku telah membuatmu sedih dan menderita selama ini. Aku akui ini adalah salahku yang kurang tegas memisahkan kehidupan pribadi dan kerja. Aku sudah melihat putri kita, dia sangat cantik seperti dirimu, terimakasih karena sudah memberinya nama yang sudah aku siapkan sebelumnya. Sekali lagi aku minta maaf karena tidak berusaha keras mencari keberadaan kalian sehingga membuat kamu kesulitan dan membuat putriku menanggung penderitaan sedari masih kecil." Tuan Davies mengelus batu nisan tersebut.
"Aku berjanji mulai saat ini aku akan membahagiakan Eva putri kita. Apapun keinginannya akan aku kabulkan selama nafasku masih ada dan jantungku masih berdetak. Dan mungkin aku sedikit serakah dan egois, tapi izinkan aku bahagia dengan Hanna, kamu tahu cintaku padamu selama ini sama sekali tidak berkurang sedikitpun. Namun, pernikahanku dengan Hanna bukanlah permainan, aku memiliki tanggung jawab untuk itu. Aku akui cara Hanna untuk memiliki diriku sangatlah licik, dan setelah bertahun-tahun aku hanya bisa memaafkannya. Karena itu, izinkan aku pria badjingan yang kamu kenal ini, mencari kebahagiaannya dari tanggung jawab yang diembannya. Aku juga akan datang menemui orang tuamu untuk meminta maaf karena telah membawa putri kesayangan mereka menikah tanpa persetujuan dan meninggalkanmu. Sekali lagi maafkan aku." Ujar Tuan Davies meneteskan air matanya.
Setelah beberapa saat, tuan Davies berdiri meninggalkan makam almarhum Jessica Dorious dengan kesedihannya. Saat ini, dirinya sudah menutup semua kenangan masa lalu, bukan berarti melupakan. Bagaimanapun Jessica adalah cinta pertamanya dan orang yang sudah menemaninya dari nol sampai sukses.
Tuan Davies menutup bab lama dan membuka lembaran baru membangun keluarga kecilnya kembali.
*
*
*
Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tak terasa sudah 4 tahun terlewati bagi Eva. Saat ini dirinya sedang disibukkan dengan kegiatan akhir perkuliahannya sebagai penentu lulus atau tidaknya dirinya.
Eva adalah mahasiswa yang cerdas, jadi dia diarahkan oleh dosennya agar tidak perlu membuat skripsi tapi dirinya harus membuat proyek fashion show yang menjadi syarat kelulusan nya.
Seperti saat ini dibelakang panggung Eva dan beberapa temannya sedang sibuk memakaikan dan merapikan pakaian yang Eva ciptakan sendiri untuk dipakai oleh para model. Gaun-gaun dan pakaian indah yang akan sangat indah bila dipakai oleh model dengan tubuh yang proporsional.
Eva keluar lalu melirik bangku penonton, di depannya sudah ada para dosen penguji, juri, teman-temannya dan keluarganya. Mommy Irene, Daddy David, Tuan Davies, Nyonya Hanna bahkan Tuan besar Helios datang untuk melihat fashion show pertamanya.
Hei, tunggu dulu disalah satu kursi Eva tidak mendapati suaminya disana. Seketika dirinya menjadi sedikit sedih. 'Apakah dia tidak datang? Apa karena sibuk?' Ya, Theo saat ini sedang berada di Singapura untuk menandatangani sebuah proyek, bahkan Theo sudah ada di Singapura selama 3 Minggu.
"Huft! No problem, ayok semangat!" Eva menyemangati dirinya sendiri.
Fashion show pun dimulai, para model pun keluar mengenakan gaun-gaun indah yang dikerjakan oleh Eva dan timnya. Para dosen penguji dan juri pun terkesima melihatnya. Tampak para dosen menulis sesuatu di sebuah kertas, mungkin form penilaian.
Setelah model perempuan saatnya para model pria keluar mengenakan pakaian. Pakaiannya bervariasi mulai dari jas formal sampai pakaian casual kekinian. Namun, tepat di barisan belakang para model sosok yang Eva dambakan berjalan bak profesional di atas catwalk. Memperagakan salah satu pakaian yang dibuat oleh Eva.
Seluruh keluarga tampak terkejut, yang paling terkejut ya tentunya Eva. Dengan cepat dirinya yang sudah berada di kursi penonton naik ke tangga dengan tergesa-gesa menuju panggung.
Greb!
"Hiks…. Aku kangen…. Hiks…." Tangis Eva pecah seketika. Bagaimana tidak dirinya sudah lama tidak bertemu bahkan hanya berhubungan melalui sambungan telepon dan video call.
"Shhut, tenang ya, jangan nangis sayangnya Theo. Kamu jelek loh kalo nangis. Aku kangen loh sama kamu, eh kamunya nangis." Theo menenangkan Eva yang menangis di pelukannya.
"Hiks…. "
Setelah puas berpelukan selama beberapa menit, Theo melepaskan pelukannya lalu menyelesaikan acara catwalk nya.
Dibelakang panggung, mereka melepas rindunya walau hanya sebentar karena Eva harus mendengarkan pendapat dosen dan para juri. "Jangan sedih lagi ya, nanti kalau kamu dapat nilai terbaik apapun yang kamu minta akan aku turuti." Ujar Theo lalu mengambil tisu mengelap air mata Eva yang berjatuhan dan juga mengelap sedikit ingusnya.
Eva kembali dan menuju meja para dosen dan juri. Senyumnya seketika mengembang dikala dirinya dinyatakan lulus oleh dosennya dan hanya tinggal menunggu wisudanya saja.
"Selamat ya nak." Ujar Mommy Irene dan Daddy David.
"Selamat atas kelulusannya putri ayah!" Ujar tuan Davies sembari memeluk putrinya.
"Selamat ya." Ujar tuan besar Helios dan nyonya Hanna.
"Terimakasih, Mommy, Daddy, Ayah, Bunda Hanna dan Kakek." Sahut Eva.
Untuk masa lalu yang kelam, Eva sudah sedikit melupakannya bahkan setahun yang lalu Eva sudah memaafkan Ayahnya, nyonya Hanna dan Tuan besar Helios.
Netra Eva mencari kesana-kemari sosok yang selama ini mendukungnya yaitu suaminya Theo. Dan disaat menemukannya sekali lagi dia memeluknya.
Greb!
"Terimakasih Hubby, Terimakasih banyak atas semua hal yang kamu lakukan untukku." Ucap Eva.
Theo tersenyum. "Apapun untuk kesayanganku." Sahutnya.
Dengan berani Eva menciium bahkan meellumat bibir suaminya tanpa memperdulikan sekitarnya sementara Theo hanya mengikuti alur yang dibuat oleh Eva, siswinya, istrinya.
...Tamat....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...****************...
......................
Tapi bo'ong awokawokawokawok 🤣🤣🤣🤣🤣
...Masih lanjut kok tenang aja😗...
...Bersambung……....