
Masih diwaktu yang sama
"Mari kita bicarakan secara pelan-pelan. Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Theo.
Tuan besar Helios dan nyonya Hanna hanya diam membiarkan Davies yang menceritakan terlebih dahulu. Tuan Davies tampak menghirup nafas lalu tak lama menghembuskannya.
"Aku tidak tahu ingin berbicara dari mana. Mungkin dunia hanya tahu bahwa aku telah menikah dengan Hanna, padahal sebelum bertemu dengan Hanna aku sudah menikah dan itu dengan Jessica Dorious."
...****************...
...Flashback 20 tahun yang lalu....
Disebuah rumah yang sederhana, sepasang suami istri tampak sangat harmonis dan saling melengkapi. "Sayang, aku sudah mendapatkan suntikan dana untuk perusahaan ku, tidak lama lagi kita dan anak kita akan hidup mapan." Ucap Davies muda lalu mengusap perut istrinya yang masih rata karena kandungannya baru berumur 2 bulan.
"Benarkah? Aku ikut senang. Semoga apa yang kau impikan menjadi kenyataan. Aku akan selalu mendukungmu." Ujar Jessica.
Ya, mereka adalah Davies dan Jessica ketika masih muda. Kala itu Davies masih seorang pebisnis kecil dengan perusahaannya yang masih belum berkembang. Namun, mendapatkan dukungan dari istrinya sudah dari cukup baginya. Baginya Jessica adalah seorang malaikat karena selalu ada disisinya ketika dirinya masih merintis karirnya dari 0.
Mereka adalah teman SMA dan berlanjut hingga menikah. Davies dan Jessica memutuskan untuk menikah muda di usianya yang ke 21 tahun karena tidak mendapatkan restu dari kedua orang tua Jessica. Karena pada saat itu Davies adalah anak yatim piatu dan tidak memiliki keuangan yang stabil.
"Baiklah sekarang saatnya sarapan lalu kamu berangkat ke kantor." Ujar Jessica pada Davies yang menemaninya berjemur matahari pagi.
Keduanya masuk ke dalam rumah lalu sarapan bersama. "Suamiku, kau melupakan dasi mu." Ujar Jessica lalu memakaikan dasi itu ke leher suaminya.
"Terimakasih, jagalah dirimu baik-baik." Ucap Davies. Lalu mengecup kening istrinya dengan lembut.
Davies pun menuju perusahaan miliknya dengan mengendarai mobil bekas yang dibelinya. Tidak mewah memang tapi sangat berguna untuknya saat ini.
Sesampainya di perusahaan, Davies dengan langkah gontai menuju ruangannya lalu mengecek beberapa berkas. Tak lama asistennya datang dan memberitahukan bahwa sebentar lagi akan ada rapat dengan perusahaan investor yang sudah berinvestasi di perusahaan miliknya.
Davies menuju ruang rapat, menunggu orang yang belum kunjung datang. Dan tak lama orang yang ditunggu oleh Davies datang juga.
"Selamat pagi tuan Davies, maaf atas keterlambatannya, karena tadi saya terjebak macet." Ujar lembut seorang wanita.
Davies mendongak menatap wanita di depannya. Dia kira orang yang akan menemuinya adalah seorang pria tapi siapa sangka seorang perempuan. Tiba-tiba tatapan mereka bertemu.
Deg!
Wanita itu merasakan getaran aneh di hatinya. Dirinya seolah terpesona oleh kharisma laki-laki yang ada di depannya. Dengan cepat Davies memutus pandangan mereka namun, tidak dengan wanita itu.
Ekhem! Dehem Davies agar wanita didepannya kembali fokus. "Ah, maafkan saya. Perkenalkan nama saya Hanna Helios putri dari Glenn Helios." Wanita itu adalah Hanna, dia mengulurkan tangannya.
Davies membalasnya dengan sopan. "Nama saya Davies Nicholas. Senang bisa bekerja sama dengan anda. Ngomong-ngomong ada apa dengan tuan Helios sehingga membuat beliau tidak bisa datang?" Tanya Davies basa-basi.
"Ayah ada sedikit urusan di cabang Swiss jadi tidak bisa datang." Jawab Hanna.
Setelah basa-basi itu mereka fokus membicarakan mengenai proyek dan keuntungan kerja sama antara dua perusahaan. Disaat Davies menjelaskan dengan serius Hanna menatapnya tanpa berkedip. Davies mengetuk pelan meja menggunakan jarinya agar Hanna kembali fokus pada proposal yang ada di atas meja.
30 menit kemudian rapat pun selesai dan mendapatkan hasil yang cukup memuaskan dan juga menguntungkan bagi kedua perusahaan. "Selamat atas kerjasamanya, mohon bantuannya kedepannya." Ujar Hanna.
"Ah, justru saya yang harus berterimakasih karena perusahaan anda mau berinvestasi pada perusahaan kecil milik saya ini." Sahut Davies. Mereka pun berjabat tangan sebagai tanda bentuk kerja sama yang akan dimulai.
Hanna saat ini sudah memasuki mobilnya, lalu menatap tangan yang tadi digunakannya berjabat tangan dengan Davies. Tiba-tiba ingatannya berputar ketika dirinya bertemu Davies, wajah tampan, tubuh ideal dan kharisma yang sangat woah! Hanna memegang jantungnya yang berdetak kencang. "Ada apa ini? Kenapa jantungku berdetak sangat cepat? Apa, apa aku jatuh cinta pada Davies?" Gumamnya.
Sementara Davies pulang lebih cepat karena ingin memberitahukan kabar bahagia kepada istrinya. "Sayang, aku pulang!" Teriaknya ketika sudah berada di rumah.
"Perusahaan sudah mendapatkan dana! Sebentar lagi akan menjalankan proyek besar. Terimakasih sudah menemaniku sejauh ini." Ujar Davies. Jessica mengangguk mengelus seluruh wajah Davies. "Kalau begitu bagaimana kalau kita merayakannya? Aku akan memasakkan makanan kesukaanmu." Ucap Jessica.
Dan seterusnya waktu bergulir, Davies bekerja sangat keras untuk menyukseskan proyeknya. Bahkan Hanna juga selalu ada untuk memantau jalannya proyek, Hanna selalu saja menarik perhatian Davies namun selalu saja diabaikan. Justru karena itu, Hanna semakin ingin mendekati Davies.
Empat bulan kemudian, Davies sudah sukses dengan proyeknya ini, bahkan banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengannya. Davies juga sudah membeli sebuah rumah dan mobil mewah hasil jerih payahnya selama ini. Disamping itu, kandungan Jessica juga sudah memasuki usia 6 bulan dan sekitar 3 bulan lagi akan melahirkan.
Suatu hari di perusahaan, Davies bersama dengan asistennya sedang membicarakan mengenai rapat yang penting. Namun, tiba-tiba Jessica datang lalu masuk ke ruangan suaminya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Istriku? Kamu disini?" Davies terkejut melihat istrinya datang membawa sebuah goodie bag. Orang-orang yang ada di dalam sontak menoleh namun, Hanna yang paling terlihat terkejut, bahkan dirinya juga terkejut melihat Jessica yang tengah mengandung.
"Ah, nona Hanna perkenalan dia adalah istriku Jessica." Davies memperkenalkan istrinya.
Hanna mengulurkan tangannya lalu dibalas oleh Jessica. "Hanna." Ucapnya singkat.
"Untuk hari ini rapat kita sudahi dulu." Ujar Davies.
Hanna memperlihatkan wajah tidak suka. "Tapi Dav, ini belum selesai." Ucapnya.
"Aku bilang sudahi dulu." Tekan Davies membuat Hanna terdiam.
"Suamiku, kamu lanjutkan saja rapatnya, aku akan menemuimu nanti." Ucap Jessica yang tidak ingin mengganggu. "Tidak sayang, kamu tunggu disini. Lagipula rapatnya sudah selesai." Ucap Davies.
Dengan terpaksa Hanna pergi dari ruangan Davies dengan raut wajah yang tidak sedap dipandang. Jujur Hanna kesal karena tidak mengetahui sebelumnya bahwa Davies sudah menikah. Sayup-sayup dia mendengar pasangan suami istri itu sedang bersenda gurau.
*
Di rumahnya Hanna tidak henti memikirkan kejadian tadi siang. "Tidak! Wanita itu tidak boleh memiliki Davies! Hanya aku, ya hanya aku yang boleh memilikinya! Aku akan memisahkan mereka! Apa yang aku suka hanya akan menjadi milikku! Tidak ada seorangpun yang boleh memilikinya!" Ucap Hanna lalu mengatur strategi.
*
*
Kembali ke masa sekarang.
"Tiba-tiba saja Jessica meninggalkanku dan membawamu pergi. Dia hanya meninggalkan sepucuk surat yang tidak aku mengerti." Ucap Tuan Davies menatap putrinya.
"Lalu kenapa mama Eva meninggalkanmu?" Tanya Theo mewakili Eva yang sepertinya enggan bertanya karena masih tidak percaya.
...Bersambung….....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Yo, Jangan lupa...
...Like 👍...
...Komen 💬...
...Vote...
...Gift...
...Rate ⭐⭐⭐⭐⭐...