
...Last!...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara Mitha dan Yoga yang mengikuti Theo di belakang sigap menolong Eva yang keadaannya sangat kacau lalu memakainya jaket.
"Sthhh…. Panas~" ucap Eva
"****!" Yoga mengumpat.
Yoga berdiri lalu menghampiri Theo yang masih memukul Dion dengan brutalnya. "Stop, Pak Theo!" Lerai Yoga.
"Diam, jangan ganggu saya!" Ucap Theo lalu mendorong Yoga menjauh.
"Berhenti pak! Ini mengenai keadaan Eva! Saya mohon bapak membawa Eva pergi saat ini, karena keadaannya tidak baik-baik saja. Saya rasa Dion sudah memberikan Eva semacam obat afrodisiak dosis tinggi." Ujar Yoga membuat Theo menghentikan aktivitasnya lalu berbalik menuju ke tempat dimana istrinya berada.
Afrodisiak, merupakan obat yang bisa meningkatkan libido (rangggsangan) pada wanita maupun pria. Pada beberapa negara asing aphrodisiac ini dijual bebas, namun di Indonesia masih sangat terbatas dan beberapa bahkan hanya berupa obat herbal yang keefektifannya belum terjamin.
Theo mengangkat Eva lalu melangkahkan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Namun, sebelum benar-benar pergi Theo berpesan kepada Yoga. "Tolong urus yang ada disini bersama bawahan saya!" Ucapnya dan diangguki oleh Yoga.
"Apakah Eva akan baik-baik saja? " Tanya Mitha.
Yoga tersenyum menatap Mitha. "Entahlah, bisa saja pak Theo membawanya ke rumah sakit atau menyelesaikannya secara mandiri." Ucap Yoga.
Mitha mengernyitkan dahinya. "Menyelesaikannya secara mandiri? Bagaimana caranya?" Tanyanya bingung.
Yoga mengulum bibirnya, dirinya tak kuasa ingin tertawa saat ini. Satu yang Yoga tahu saat ini, dibalik sikapnya yang cuek gadis yang bersamanya saat ini masih sangat polos. "Sudahlah jangan dipikirkan, itu adalah cara yang bisa dilakukan oleh pasangan suami istri. Kalau kamu penasaran dengan caranya, bisa aku praktekkan kok." Sahut Yoga lalu pergi mengurus Dion yang tidak sadarkan diri. Sementara Mitha hanya diam memikirkan apa yang diucapkan Yoga.
*
*
*
Di sepanjang perjalanan Eva sama sekali tidak bisa diam walaupun sudah duduk di pangkuan Theo. Eva terus saja menggelinjang kesana kemari persis seperti cacing tanah yang dibasahi dengan air garam. Perbuatan Eva itu tentu saja membuat Theo frustasi, walau bagaimanapun dirinya adalah pria normal dan didepannya istrinya terus saja bergerak membuat pusaka dan gaiiirahnya bangkit.
"Sayang, berhentilah bergerak. Sebentar lagi kita akan sampai." Ucap Theo memeluk istrinya.
"Sthhh~ aku gak kuat, panas~, gerah~." Ucap Eva dengan suara menggodanya. Setelahnya Eva justru mengendusi bau maskulin yang menguar dari tubuh Theo. Hembusan nafas Eva menyapu permukaan kulit Theo yang seketika membuatnya meremang. Eva seolah tak mendengarkan ucapan Theo, dengan cepat Eva menge*up dan menye*ap area leher Theo dan sesekali menggigitnya seperti vampir.
"Da*n!" Theo tak kuasa menghadapi godaan istrinya itu. Dengan cepat Theo memegang tengkuk leher Eva lalu menci*m bibir mungil istrinya dengan sangat kasar. Theo menggigit pelan bibir Eva lalu melesakkan lidahnya ke rongga mulut Eva, sedikit bermain-main disana.
Sementara yang di jok belakang sedang bermesraan, berciu*an mencari kepuasan. Yang mengemudi di depan tampaknya sudah panas dingin. "Sabarlah Jo, kau harus tahan mental menghadapi majikan yang sedang bermesraan. Ingat aku jomblo dan aku bangga!" Jo membatin menyemangati dirinya sendiri.
Tak lama mereka pun sampai di sebuah rumah yang cukup megah. Theo memasuki rumah tersebut dengan menggendong istrinya dan sesekali berci*man dengan istrinya tanpa mengindahkan pelayan yang sedang bekerja.
"Baiklah jika itu keinginanmu." Sahut Theo lalu melahap habis bibir milik istrinya lalu turun ke area lehernya. Puas, Theo bangkit lalu membuka pakaiannya sendiri sampai benar-benar polos lalu membuka pakaian Eva. Theo memandang area perbukitan dan lembah dengan tatapan yang sudah berkabut gaiirah.
"Ah!"
Desahhhan itu keluar dari mulut Eva ketika Theo bermain di sekitaran bukitnya. Dan tak lama suara-suara indah surgawi milik Eva terdengar memenuhi kamar bernuansa gold itu. Theo melakukan beberapa kali sampai Eva benar-benar lelah. Namun, sebagian besar yang memegang kendali permainan adalah Eva sendiri. Mungkin karena efek obat membuatnya menjadi menginginkan lebih. Mereka baru selesai melakukannya ketika waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, setelah dari sore hari sepulang kuliah.
Theo tersenyum melihat istrinya yang sudah tertidur karena kelelahan akibat aktivitas yang baru saja selesai mereka lakukan. "Good night my wife, have a nice dream." Ucap Theo lalu mengecup kening istrinya.
Dengan hati-hati Theo bangkit lalu menuju kamar mandi membersihkan dirinya. Tak lupa Theo juga mengelap tubuh istrinya dan membersihkan sisa percintaan mereka.
Setelahnya, Theo mengambil ponsel pintarnya, menjauhi ranjang menuju balkon kamarnya lalu menghubungi seseorang. "Bagaimana? Apakah kau sudah mengurus semuanya?" Tanya Theo tanpa basa-basi.
📞 "Sudah tuan, sekarang hanya tinggal menunggu perintah tuan selanjutnya saja." Ucap Jo.
"Cabut direktur universitas itu dan gantikan dengan yang lebih baik dan berkompeten. Dan ya, pastikan Dion dan teman-temannya itu mendapatkan pelajaran yang setimpal dan biarkan dia mengingat hukuman yang akan diberikan jika berani mengusik keluarga Davidson!" Tekannya.
📞 "Siap tuan!"
Setelahnya, Theo meletakkan ponselnya lalu merebahkan dirinya disamping istrinya lalu memeluknya dengan posesif. "Aku tidak akan membiarkanmu mengalami hal ini lagi!" Ucap Theo dan tak lama dia pun memasuki alam mimpinya.
*
*
Keesokan paginya, Eva terbangun karena sinar matahari yang mengusik tidurnya. Dirinya meregangkan tubuhnya. "Auchh! Kepala dan pinggangku kenapa sangat sakit." Ringisnya. Eva pun mengedarkan pandangannya, melihat ruangan yang terlihat asing baginya.
"Dimana ini?" Batinnya.
Tak lama pintu terbuka memperlihatkan suaminya yang tampan memasuki kamar tersebut, membawa nampan yang berisi sarapan. "Kamu sudah bangun? Apakah masih sakit?" Tanyanya.
Eva menggeleng. "Sudah tidak sakit. Memangnya apa yang terjadi?" Tanya Eva.
"Kamu tidak ingat? Kemarin kamu diculik lalu diberikan obat. Kemarin kamu begitu agresif membuatku sedikit kewalahan." Sahut Theo dengan senyum mes*mnya.
Tep!
'What?! A-aku agresif sama Theo, d-dan melakukannya?! Tidak mungkin kan?!!!!!" Pekiknya di dalam hati.
...Bersambung……...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Mau bikin adegan 21++ tapi takut nanti review nya lama atau ditolak 😢...